Bab 13

1460 Kata
TETANGGA MERESAHKAN (13) Desti menangis dipelukan ibunya, tentu saja Pak Marsuki marah atas aduan anak perempuan satu-satunya. Desti tidak hamil, dia menderita kelainan Thallassemia yang baru diketahui ketika dia menginjak usia lima tahun. Pak Marsuki dan keluarga sudah mengupayakan berbagai pengobatan mulai dari dokter hingga alternatif, sayangnya belum ada hasil, kata dokter penyakit ini memang belum ada obatnya, maka, Desti disarankan rajin transfusi darah setiap beberapa waktu. Thallassemia merupakan penyakit bawaan yang sebenarnya dapat dicegah dengan menghindari memilih pasangan hidup yang membawa gen thalassemia tersebut. Karena penyakit ini menurun, maka kemungkinan penderitanya akan terus bertambah dari tahun ke tahunnya. Oleh karena itu, pemeriksaan kesehatan sebelum menikah sangat penting dilakukan untuk mencegah bertambahnya penderita thalassemia ini. Thalassemia lebih sulit didiagnosis dibandingkan penyakit hemoglobin lainnya. Gejala utama thalassemia adalah anemia. Oleh karena itu, pemeriksaan darah komplit dan rendahnya MCV (mean corpuscular volume) dapat membantu diagnosa thalassemia. Sayangnya, hingga saat ini belum ada obat yang dapat menyembuhkan pasien dengan thalassemia. Terapi yang dapat digunakan saat ini ialah dengan memberikan transfusi darah dan tambahan asam folat, serta mempertahankan Hb-nya di atas 10g/dl, agar aktivitasnya normal dan dapat melaksanakan kegiatan sehari-hari. (Ingatkan jika salah, sumber : Google) Pak Marsuki mengasah celuritnya, Bu Menik sudah berusaha untuk menahan suaminya agar tidak terpancing dengan Umik, siapa tidak mengenal Umik, hampir seluruh kampung mengenal sosoknya yang meresahkan. Sayangnya, warga kampung masih menghormati abah sebagai seseorang yang dituakan di kampung itu jadilah mereka memilih diam atas sikap Umik yang kadang kala memang berlebihan. "Pak, sabar, kalau sampean membunuh dia, nanti sampean dipenjara, Desti sama siapa, sedangkan dia sangat sayang sama sampean," ujar Bu Menik. "Biar saja! Aku tak rela anak kesayanganku difitnah seperti itu!" Desti memeluk ayahnya, Pak Marsuki akhirnya meletakkan celuritnya. "Bapak akan tetap memberi pelajaran kepada wanita tua agar tak sembarangan berbicara," katanya. Desti dan Bu Menik bernapas lega. Pak Marsuki mengendarai motornya menuju warung tempat Umik bergosip, sayangnya Umik sudah tidak ada di tempat. Dia kemudian menuju kediaman Umik dan berteriak memanggilnya keras-keras. "Bah, Abah!" teriak Pak Marsuki. Abah yang baru saja dari musholla membuka pagar dan mempersilahkan Pak Marsuki masuk ke dalam rumahnya. "Ada apa, Mar?" "Mana Umik?" tanyanya. "Tadi ada, entah kemana, kebiasaan main ke tetangga, Cin, cari nenekmu!" teriaknya. "Nenek lagi sembunyi di dalam lemari, Kek!" jawab Cindy polos. "Ngapain?" tanya Abah. Pak Marsuki nyelonong masuk ke dalam kamar yang ditunjuk Cindy, dia menarik paksa Umik keluar kamar. Pak Marsuki menunjuk-nunjuk wajah Umik hingga semua tetangga penasaran ada apa gerangan. Bu Irma berlari paling depan karena dia tahu persis apa yang terjadi. "Tua bangka mulut dijaga! Anakku Desti tidak hamil! Jangan fitnah kamu!" "Halah, Mar, jangan ditutupi, selurih kampung juga tahu! Nanti kalau tau-tau anaknya lahir kamu yang malu, lho! Mumpung belum lahir nikahkan saja!" jawab Umik. Pak Marsuki semakin murka dia berteriak di depan Umik, dan semua orang, "anak saya itu sakit parah! Dia harus tranfusi darah setiap beberapa waktu jadi jangan lancang berkata yang tidak-tidak!" "Halah lagu lawas!" Umik mencebik. Bug! Umik terpental mendapat satu bogem mentah dari Pak Marsuki. "Eeeh! Sudah, Pak sabar!" Fahmi melerai mereka. Abah hanya mematung beberapa detik melihat istrinya terpental. "Astaghfirullah, Ya Allah, Mar, maafkan istriku, sabar-sabar kita selesaikan secara kekeluargaan!" kata Abah. "Haduh, saya laporkan kamu ke polisi, Mar!" kata Umik sambil memegangi bibirnya yang berdarah, giginya copot saking kerasnya pukulan dari Pak Marsuki. "Silahkan! Saya akan laporkan balik Umik!" kata Pak Marsuki. Bu Irma membawa Umik masuk ke dalam kamarnya sedangkan bapak-bapak menenangkan Pak Marsuki di ruang tamu. Bu Irma spontan bersin-bersin ketika masuk ke dalam kamar Umik, kasur kapuk tanpa sprai berpasir dan lemari dengan pintu terbuka dan dalamnya awutan-awutan menjadi pandangan mengerikan. Bu Irma mencari es batu untuk kompres Umik, sayangnya, kulkas Umik hanya berisi sayur sisa kemarin dan beberapa sayuran layu, serta air putih dalam botol air mineral. Bu Irma kemudian mencari baskom untuk wadah kompres, dia bergidig melihat rak penyimpanan piring milik Umik yang tidak ada satu buah benda pun yang bertengger di sana, semuanya jadi satu berenang di dalam bak kotor. "Mik, ini buat ngompres apa?" tanyanya. "Sudah kamu pulang saja, biar tak kompres sendiri! Awas kalau sampai ada orang tahu aku dilabrak Marsuki, kamu orang pertama yang tertuduh!" ancamnya. Bu Ira menghela napas kemudian berlalu pulang. Abah berkali-kali meminta maaf atas kesalahan istrinya, bahkan Abah menyuruh Umik untuk meminta maaf, sayangnya Umik bersikeras menolak keluar dari kamar. *** "Ya ampun, kenapa gak mencong aja sekalian mulutnya!" kata Sari. Dia dan Bu Irma berbincang di depan rumah Bu Irma. "Iya, harusnya strome gitu biar kapok gak bisa kemana-mana!" timpal Bu Irma. "Heran, lagian sudah tua bukannya tobat malah semakin parah!" kata Sari lagi. "Oh, ya, gimana rencana kita buat ngerjain mertua dan menantu demit itu?" tanya Bu Irma. "Gimana kalau kita jenguk dia, kita kasih makanan kadaluarsa?" tanya Bu Fitri. "Aku sih, yes, gak tahu Mas Anang," jawab Sari. "Eh, jangan nanti mati lagi dia." "Gak akan mati, dulu saja dia pernah makan bandeng yang sudah jamuran masih hidup sampai sekarang, mungkin bakteri dan kuman di tubuhnya sudah berteman akrab kali," kata Sari. "Ma, Mama ... Feby pengen beli bakso ranjau, Mama mau apa enggak?" tanya Feby putri pertama Bu Irma. Dia sudah duduk di atas jok motornya. "Titip!" jawab ketiga ibu-ibu itu kompak. Mereka tertawa jahat. "Buat jenguk dia, kan?" tanya Bu Fitri. "Jelas!" jawab Sari. Mereka menunggu Feby sambil ngobrol dibawah pohon kersen depan rumah Bu Irma. "Dasar tetangga dakjal! Tetangga sakit malah haha-hihi di depan rumah, gak ada aturan!" teriak Mulyono. "Jangan digubris, dia memang kurang seperempat!" kata Bu Fitri. Semuanya tergelak. Anak-anak bermain tanah di bawah pohon kersen dengan membawa sendok masing-masing, Cindy tak ketinggalan, dia ikut serta bersama anak-anak lainnya. "Cin, celana dalammu kelihatan itu, lho!" kata Keila. "Biarin!" jawabnya sambil terus mengaduk 'adonan' tanah miliknya. "Malu, dong! Kata guru ngaji aku dosa!" Cindy tetap cuek dan terus bermain tanah bercampur air, hingga roknya sangat kotor. Dia juga memetiki bunga milik Bu Irma, tentu saja Bu Irma menegurnya. "Cindy, jangan dipetiki bunganya! Gak boleh!" Dasar Cindy, dia malah mencabut bunga-bunga dengan jenis krokot milik Bu Irma kemudian memoteknya. "Bandel amat anak orang! Sana pulang! Jangan main di sini!" kata Bu Irma. "Huwaaa, Mama ...." teriak Cindy, dia melempar sendok bekas dia bermain tanah yang dicampur air ke celana Bu Irma. Mita keluar rumah mengenakan celana super pendek, sambil mencari sumber suara cempreng anaknya. Dia berlari menyeberang jalan kemudian menggandeng putrinya. "Kalau mereka gak mau temenan sama kamu, mending kamu di rumah saja main sama mama!" kata Mita ketus. *** Feby datang membawa beberapa bungkus bakso pesanan ibu-ibu, mereka sengaja memesan bakso ranjau kecil agar tidak perlu dipotong, kalau dipotong nanti ketahuan yang ada malah gagal. "Tunggu, ada biskuit sisa lebaran madih utuh, kira-kira exp apa enggak, ya?" tanya Bu Fitri. "Bawa aja udah!" kata Sari. Bu Fitri berlari ke rumahnya mengambil sekaleng biskuit berwarna merah dengan gambar sekeluarga tanpa bapak. "Yuk!" "Assalamu'alaikum, Umiiiik, kami datang!" teriak Bu Irma. "Waalaikumsalam, masuk!" Umik memegangi mulutnya yang membengkak seperti dientup tawon, mereka menahan tawa melihat Umik. "Bawa apa kalian?" "Ini bakso mumpung masih hangat, makan, Mik!" kata Bu Irma. "Wah, enak ini! Mit, bawakan mangkok ke sini!" teriaknya. Sebentar kemudian Mita datang membawa mangkok basah. "Lho, sendoknya mana? Masak iya harus disruput, kadang-kadang bod*h ini anak!" Mita berdecak sebal kemudian datang membawa sendok basah. Belum sempat menyuap, bakso itu direbut Cindy. "Huwaaa pedes!" teriak Cindy. "Kalian mau ngeracuni aku, ya!" kata Umik. "Enggak, Mik! Salahin tukang baksonya, kita gak tahu apa-apa!" jawab Bu Fitri. Mereka segera pamit pulang. "Aduh, misi satu gagal!" kata Sari. "Tenang, masih ada sembilan misi lainnya!" kata Bu Irma yakin. *** Yuda bersantai di teras, dia dititipi Aqil karena Sari dan Fahmi harus menjenguk teman Sari di rumah sakit. Kebetulan Bela juga ada di sana dan dia sedang mennggorengkan kentang goreng untuk Aqil. Seperti biasa Umik selalu kepo dengan Yuda, dia mendatanginya dan pura-pura menggoda Aqil sambil mencuri pandang ke bagian dalam rumah pemuda itu. "Mamanya kemana, Yud?" "Pergi jenguk orang sakit," jawab Yuda. "Tega bener anak dititipin orang dia pergi berdua, gak ada akhlak emang!" Bela keluar membawa sepinging kentang goreng dan sebotol saos sambal. Dia menghentikan langkahnya ketika melihat Umik. "Sini, Dek!" kata Yuda sambil menepuk lantai sampingnya duduk. Umik mencebik. "Kenapa bibirnya, Mik?" "Jatuh," jawab Umik. "Ya ampun, lantainya gak papa?" tanya Yuda. "Kamu kira aku batu kalau jatuh lantainya yang mlesek?" kata Umik. Yuda hanya tergelak. "Si Belek gegayaan pakek baju putih begitu, gak sekalian pakek mukenah aja ke sini!" sindir Umik. "Kalau Bela makek warna putih, bagus, Mik, cerah kayak masa depan saya, lha kalau umik yang make baju putih begini, auto dikira gapura kecamatan," jawab Yuda sambil menunjuk gapura. "Nglamak kamu sama orang tua!" Umik mencak-mencak, sebelum pulang Umik mengambil segenggam kentang goreng dan melenggang pergi. *** Jangan lupa bantu tab love agar makin semangat updatenya. ❤
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN