Bab 20 : Lapangan Baru, Hati Lama

2205 Kata

Udara pagi itu di Bochum terasa amat menusuk hingga ke tulang, sebuah rasa dingin yang membuat setiap kali Bima menghembuskan napas maka dengan cepat bertransformasi menjadi kabut putih di udara. Stadion kecil Bochum II memiliki kesan seolah telah membawa Bima ke dunia yang berbeda — hamparan rumput sintetis berkilau di bawah sorotan matahari pagi, tribun yang tetap kosong, ditemani hanya oleh suara peluit dari pelatih yang memandu sesi latihan dan teriakan para pemain Jerman dengan aksen mereka yang kental dan berat. Berdiri di pinggir lapangan, Bima merasakan sepatu cleat barunya menjejak rumput untuk pertama kalinya, dan seragam biru Bochum II yang melekat padanya terasa kaku dan belum sepenuhnya nyaman di badan. Ini adalah hari kedua dari latihan pramusimnya. Meskipun kontrak sudah d

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN