Shahnaz kini berada di ruangan ayahnya, sebuah ruangan khusus yang tak sembarang orang bisa masuk menjenguk pasien. Shahnaz pun harus memakai pakaian khusus warna biru yang steril. "Pi, bangun Pi, ini Shahnaz!" Shahnaz menangis tersedu melihat kondisi ayahnya yang mengenaskan. Berbagai peralatan medis terpasang di sekujur tubuhnya. Di saat ia butuh seseorang untuk memberikan semangat, orang yang diharapkan bisa menjaga dan melindunginya malah terkena musibah. Tadi malam ayahnya menabrak pohon besar saat hujan turun dengan lebat. Kemungkinan besar Pak Ruslan menyetir dalam keadaan mengantuk. Ia tak menyangka kondisi ayahnya akan seperti ini. Pak Ruslan diam tak bergerak. Menurut keterangan dokter beberapa tulangnya ada yang patah. Kepalanya pun kena benturan. Dijadwalkan hari ini akan di

