Bab 15

1506 Kata
Suasana rumah kediaman Bu Elma tampak ramai dikunjungi oleh sanak dan saudara mereka, baik yang dari dekat maupun jauh, sebab dua hari lagi Roni akan melangsungkan pernikahan dengan Arifa. Pesta pernikahan yang ditunggu oleh keluarga Bu Elma dan Pak Hamid sejak lama. Mereka sangat merestui perjodohan Roni dan Arifa. Berbagai persiapan tengah disusun untuk menyambut acara besar tersebut. Para perempuan sibuk menghias bingkisan untuk seserahan. Ada juga kaum muda yang sedang mengurus kostum untuk pagar ayu dan pagar bagus. Pihak keluarga Arifa juga ada yang sengaja berkunjung ke kediaman Roni untuk membahas acara lusa. "Kamu mau pergi kemana sih Ron, sudah rapi begitu?" Salah seorang tantenya menegur Roni. Pemuda tampan itu terlihat memakai jaket dan kacamata hitam, hendak pergi. Roni paling malas meladeni kekepoan mereka yang membuatnya risih dan panas kuping. "Calon pengantin itu harusnya pingitan. Diam di kamar, luluran, mandi kembang tujuh rupa dan minum jamu kuat. Biar fresh besok lusa. Kalau keluyuran terus ntar jadi gosong dan berdebu." Salah satu sepupunya memberikan komentarnya. Pada umumnya memang seperti itu, sayangnya Roni tidak. Ia tak peduli dengan peenikahannya, meskipun harus gagal karena ia memang tak pernah menginginkannya. Ia sydah memiliki iatri meskipun belum dikethui oleh keluarganya. Ayah dan ibunya seoalah menyembunyikn status Roni. "Ada urusan dulu sebentar, Tante." Roni tak memperdulikan berbagai ucapan keluarganya. Ia berniat untuk mengunjungi bidadari cantik yang sangat dicintainya. Siapa lagi kalau bukan Shahnaz. Roni tak pernah lupa memberikan perhatiannya. Justru ia tak berkomunikasi dengan Arifa yang akan segera dinikahinya lusa. Gadis itu juga tak lagi mengganggunya. Entah apa yang sedang direncanakannya. "Tante heran deh, kamu tuh tak pernah ada di rumah. Keluyuran terus. Jadi pengantin itu harusnya diam. Benar kata Yoga harusnya kamu itu dipingit." Adik Bu Elma itu menyerukan keheranannya. Di antara saudara ayah dan ibunya, Tante Maya adalah Tante yang paling cerewet dan menyebalkan karena selalu ingin tahu urusan orang lain, paling pandai memberikan penilaian dan tak mau kalah kalau berdebat. Kalau ada dia, suasana rumah selalu berisik karena selalu saja ada bahan pembicaraan tak penting yang dibahasnya. "Hati-hati loh, takutnya terjadi sesuatu. Di tempat Tante pernah loh ada kasus pengantin cewek diculik karena menjelang nikah malah bepergian di malam hari."wanita bernama Maya itu mengisahkan sebuah cerita menyedihkan. "Terus ada juga yang cowoknya kecelakaan, padahal ceweknya lagi hamil, seminggu lagi mereka mau nikah. Kasihan kan pengantin ceweknya." Tante Maya makin menjadi. "Tante tidak perlu menakut-nakuti deh." Roni tak peduli. Ia tak ingin mendengar informasi apapun dari sang bibi yang terkadang selalu melebih-lebihkan dan sedikit membumbuinya. "Dengerin apa kata Tante Maya, Ron." Bu Elma mendukung semua perkataan adiknya. Roni sulit sekali dinasihati. Ada saja alasan dan Bu Elma tak bisa melarang selain pasrah karena mereka terikat perjanjian. Roni tak merespon apapun. Ibu dan tantenya sama saja mentang-mentang adik kakak. "Assalamualaikum," Ia mengucapkan salam tanpa mencium tangan para orang tua yang hadir di sekelilingnya. Ia ingin segera terhindar dari para penggosip yang meresahkan jiwa dan pikirannya. "Waalaikumsalam." Bu Elma memberikan jawabannya seraya menatap kepergiannya dengan menggelengkan kepalanya. Roni tak ingin lagi terlibat percakapan panjang bersama mereka yang tak akan ada ujungnya dan malah berakhir dengan perdebatan yang memancing emosinya. *** Roni melajukan mobilnya menuju arah butik tempat Shahnaz bekerja. Hari ini ia ingin memberikan kejutan untuk sang istri. Shahnaz susah siap pergi, begitu mendapatkan kabar Roni sudah dekat, ia menunggu suaminya di dekat pintu masuk. Tentu saja ia sudah minta izin kepada Tantenya. "Aku kangen banget sama Abang," ucap Shahnaz seraya mencium tangan Roni yang dibalas dengan kecupan dikening. Mereka tampak mesra seolah tak ada masalah apapun. "Ayo Sayang, ikut aku!" Roni merangkulnya untuk segera membawanya masuk ke dalam mobilnya. Roni membukakan pintu untuk Shahnaz dan memasangkn seat belt untuknya. Begitu kesuanya ada si dalam mobil Roni nengambil dasi miliknyanyang tergeletak di atas dashbord. "Ayo pejamkan mata!" Roni memberikan perintahnya. "Ini ada apa sih, Bang?" Wanita cantik bertubuh langsing itu tampak bingung dengan ulah suaminya yang tak biasa. Ia malah mengerutkan keningnya. "Ayo Sayang, pejamkan matamu!" Sekali lagi Roni memberikan perintahnya. Shahnaz menurut dan Roni segera menutup mata istrinya dengan dasi miliknya. "Kamu mau bawa aku kemana sih, Bang?" Shahnaz tetap mempertanyakan rencana Roni. "Kamu mau nyulik aku ya? Atau mengasingkan aku supaya ga mengganggu acara pernikahan kamu dengan Arifa." Shahnaz malah memberikan tuduhannya. "Astaghfirullah, pikirannya gitu amat sih, Yang. Ayolah kamu ikut saja." Roni menggenggam tangan istri cantiknya. Roni ingin memberikan sebuah kejutan istimewa. Pri tampan yang tengah galau itu mengemudikan mobilnya perlahan. Di tengah jalan ia berhenti sejenak. "Tunggu sebentar ya, jangan kemana-mana!" Roni turun dari mobilnya dan masuk ke dalam toko bunga untuk membeli sebuket mawar merah yang cantik. Dalam hitjngan kurang dari sepuluh menit pria bercelana jeans itu kembali ke dalam mobilnya. "Buat kamu." Roni menyerahkan buket bunga ke tangan Shahnaz. Wanita itu meraba-raba pemberian suaminya. "Ini bunga ya?" Shahnaz mencium mawar pemberian suaminya. Hati Shahnaz seketika dipenuhi kebahagiaan. Seharusnya sejak awal bertemu ia memberikannya, sayangnya toko bunga jaraknya jauh dan ia tadi sudah terlambat menjemput. " Terimakasih ya Bang, aku makin cinta sama Abang." Shahnaz mencium bunga yang diterimanya sekali lagi. "I love you too. Kamu satu-satunya wanita yang Abang cintai." Roni mengucapkan kata cintanya. "Gombal."Shahnaz mencibit paha suaminya. Tanpa aba-aba Roni menyerang Shahnaz dengan melumat bibir sang istri penuh gairah. Shahnaz mana tahu gerakan suaminya karena matanya tertutup. "Abang! malu dilihat orang." Bisiknya. "Kita sudah halal," ucapnya. Shahnaz tak lagi protes. Perjalanan keduanya berlanjut. "Sebenarnya kita mau kemana sih?" Shahnaz masih belum boleh membuka penutup matanya. "Rahasia," jawab Roni misterius. Ia tengah merwncanakan sesuatu. Roni terus melajukan mobilnya menuju sebuah tempat rahasia. Setengah jam kemudian mobil tiba di halaman sebuah rumah yang berada di komplek perumahan. "Ini dimana sih, Bang?" Shahnaz masih penasaran. "Sekarang buka matanya!" Roni memberikan perintahnya. Shahnaz melepas dasi yang menghalangi matanya. Ia mengerjap-ngerjapkan matanya. "Ini dimana Bang?" Shahnaz memandang ke sekelilingnya. "Rumah kita," seru Roni. Sudah sejak lama Roni membeli rumah untuk ditempati bersama Shahnaz. Istri siri Roni itu langsung memeluknya. "Wah bagus sekali. Pasti harganya mahal." Wanita muda berusia dua puluh tiga tahun itu tak menyangka jika Roni mengajaknya ke sebuah rumah yang bisa dikatakan mewah. "Ini uang tabungan hasil usaha Abang. Rumah ini buat kamu, Naz karena duku yang memberikan modal usaha Abang itu adalah kamu." Roni menatap istrinya penuh cinta. Shahnaz lah yang selalu menjadi motivasinya dan alasan untuk selalu giat bekerja. "Terima kasih banyak, Bang aku suka sekali." Shahnaz bersyukur atas hadiah istimewa pemberian suaminya. Desain rumahnya persis dengan ala yang pernah diungkapkan oleh Shahnaz dulu. Roni ingin membuktikan rasa cinta kepada sang istri yang begitu besar. Meskipun lusa ia akan memiliki istri lain namun hatinya tetap milik Shahnaz. Ia tak akan berpaling. Mereka berdua lantas berkeliling melihat semua ruanagn yang ada. Shahnaz tampak puas. "Ayo kita lihat kamar kita di atas!" Roni menuntun istrinya untuk menuju lntai bagian atas. Di sana terdapat empat kamar tidur, salah satuny adalah kamar utama yang nantinya akan ditempati.oleh pasangan suami istri itu. "Wah...bagus sekali aku suka Bang. Aku ga sabar ingin pindah ke sini." Sahnaz menjatuhkan tubuhnya ke atas kasur empuk yang tampak rapi. Suasana kamar membuat betah penghuninya karena semua furnitur dan design intetiornya dikerjakan oleh ahlinya. "Alhamdulillah kalau kamu suka." Roni bahagia melihat istrinya senang. Ia pun turut bergabung di atas ranjang menarik tubuh sang istri ke dalam pelukannya. Ia mengecup pipi dan leher istrinya hingga mencumbunya mesra, perlahan tapi pasti mencium bibir seksi sang istri yang dipoles gincu merah muda. Keduanya larut dalam aktifitasnya hingga tak sadar pakaian keduanya sudah tercecer. *** "Roni, perempuan kemarin itu siapa? Kalian terlihat mesra sekali." Tante Maya kembali mengintrogasi Roni. Roni tampak kaget. "Wanita mana?" Roni heran Tante Maya tahu darimana ia pergi bersama istrinya. "Itu loh yang di mobil kamu." Tante Maya memberikan petunjuk. Tante Maya yakin itu bukan Arifa. Ia sangat mengenal dengan jelas ciri fisik Arifa. "Dia istri Roni." Roni langsung menjawab dengan jujur. Sudah saatnya ia memberitahukan keluarganya jika ia telah beristri, meskipun menikah siri. Hal itu sekaligus akan menjawab keheranan mereka yang memandang Roni seolah tak peduli akan acara persiapan pernikahannya. Ia ingin membungkam mukut mereka yang sudah memberikan tuduhan yang bukan-bukan. "Apa? Istri?!" Semua yang hadir tampak tak percaya. Pandangan mereka beralih ke arah calon pengntin pria. Roni terlihat santai. "Iya, namanya Shahnaz. Kami sudah menikah siri." Tanpa rasa malu Roni mengungkapkan kebenarannya. "Roni!" Bu Elma tampak panik. Ia sengaja menyembunyikan statu anaknya, terlihat marah. "Kenapa Bunda? Bunda mau menyembunyikan masalah ini kepada keluarga. Bisa-bisa nanti Shahnaz yang dianggap orang ketiga atau pelakor. Padahal dialah wanita pertama Roni." Roni tak ingin Shahnaz jadi korban kesalahpahaman. Semua yang hadir terdiam. Beberapa ada yang berbisik-bisik. Roni tampak kesal dan memutuskan untuk keluar lagi dari rumahnya. Padahal, pada awalnya ia ingin menginap di rumah. Terlebih besok adalah acara pernikahannya. "Ron, kamu mau kemana? Jangan pergi!" Bu Elma mengejarnya. Sayangnya Roni tak menghiraukannya. Ia ingin kabur saja membatalkan acara pernikahannya besok. Ibunya keterlaluan dan terlalu ikut campur. Roni merasa dikhianati. Sekarang Roni tak lagi peduli dengan omongan orang-orang. Ia akan memiliki dua istri dan yang menjerumuskan ke jurang pernikahan poligaminya adalah orang tuanya sendiri. *** Bersambung
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN