Arifa berjalan meninggalkan rumahnya, dengan langkah panjangnya ia bergegas ingin menemui Roni untuk membahas rencana pernikahan mereka yang tinggal menghitung hari. Tak lupa di tangannya ia menjinjing sekotak makanan kesukaan calon suaminya, klepon super spesial yang dibuat dengan tangannya sendiri. Hari ini ia harus berhasil bertemu dengannya.
"Sore, Bi Ikah, Roni ada?" Begitu tiba di halaman rumah calon suaminya, Arifa menyapa ART keluarga Roni yang tengah sibuk menyiram tanaman.
"Oh, ada. Masuk saja, Non." Wanita paruh baya yang sudah sangat akrab dengannya itu mempersilakan Arifa ke dalam dengan sopan dan penuh hormat
"Oke, makasih ya Bi." Arifa yang sudah terbiasa berkeliaran di rumah Roni sejak ia masih balita langsung berjalan menuju teras rumah dengan penuh rasa percaya diri.
"Assalamualaikum." Gadis berdress merah muda itu mengucapkan salam saat masuk ruang tamu yang pintunya terbuka lebar. Pandangannya mencari sumber suara
"Waalaikumsalam." Terdengar suara Bu Elma dari arah ruang tengah.
"Hai Ifa, kebetulan banget Roni sudah pulang." calon ibu mertuanya itu langsung mendekat dan menyambutnya seraya memberikan kabar tentang kehadiran putranya.
"Iya Alhamdulillah, Ifa memang sengaja mau ketemu Roni. Kami sudah janjian, kok." Arifa memberitahukan maksud kedatangannya sore ini. Senyuman indah terukir di bibir seksinya. Tekadnya sudah bulat ingin merebut hati Roni.
"Ini ada kue klepon buat Roni, Bund." Arifa menunjukkan buah tangan yang dibawanya. Ia memeng tekenal pandai memasak dan membuat kue.
"Makasih banyak Ifa, kamu pandai sekali bikin kue. Kamu memang calon istri yang baik." Bu Elma memberikan pujiannya. Ia belum mengenal Shahnaz dengan baik sehingga dalam hati dan pikirannya hanya mengakui Arifa saja.
Tanpa diperintah, ia langsung menuju arah dapur untuk memindahkan kue-kue yang dibawanya ke atas piring saji.
Ia meletakkan satu di atas meja dan satunya lagi masih ia pegang untuk langsung diberikan kepada Roni.
"Roninya mana, Bund?" Arifa menanyakan keberadaan pemuda berusia dua puluh lima tahun itu.
"Ke atas saja. Dari tadi dia mendekam terus di kamarnya. Sekalian bawa kue nya. Roni pasti senang." Bu Elma memberikan perintahnya. Wanita cantik itu selalu bersikap ramah dan hangat kepada Arifa karena ia merupakan menantu idamannya.
Arifa berjalan dengan anggun menaiki satu per satu anak tangga. Meskipun perasaannya dipenuhi rasa khawatir akan penolakan Roni seperti yang sudah-sudah, ia tetap akan berjuang menahan rasa malu dan kesal di depan Roni demi mendapatkan perhatiannya.
Tampak Roni tengah duduk santai di balkon. Sepertinya ia tengah merenungkan sesuatu. Hidup yang dijalaninya akhir-akhir ini lumayan berat.Sebentar lagi ia akan menjadi.pria beristri dua.
"Hai Ron. Apa kabar?"Arifa mendekat. Ia berusaha bersikap hangat meskipun respon Roni sangat datar dan bisa dibilang terkesan dingin.
"Ifa, ada apa kamu mau menemui aku?" Roni langsung menanyakan kepentingan calon istri mudanya. Sebenarnya ia enggan terlalu banyak berinteraksi dengan wanita yang berprofesi dosen bahasa tersebut. Khawatir tergoda oleh pesonanya yang ia akui memang cantik dan supel. Sejak kecil Arifa selalu berhasil merayu dan meluluhkan hatinya. Roni selalu tak tega membuatnya sedih.
"Aku bikinin klepon kesukaan kamu." Arifa memperlihatkan makanan yang dibawanya. Tampak cantik dan menarik. Ia meletakkan piriny yang dibawanya di atas meja yang terletak di pojok.
Roni meliriknya sekilas. Aroma ketan dan pandan serta gula merah tercium sangat wangi dan menggoda, memggugah seleranya. Perutnya memang sudah meronta minta diisi, dirinya saja yang sedng tak berselera makan.
Sudah lama Roni tak menikmati kue tradisional kesukaannya itu.
"Ayo, dimakan enak loh." Arifa mencomot satu buah dan menggigitnya penuh perasaan seolah tengah promosi memperlihatkan ekspresi berlebihan.
"Oke, makasih. Nanti saja, aku masih kenyang." Roni berpura-pura tak menginginkannya. Gengsinya terlalu besar untuk menerima pemberian gadis yang dianggapnya sebagai duri dalam rumah tangganya bersama Shahnaz.
Hal lainnya, Roni khawatir jika makanan itu diguna guna seperti kejadian yang ada di tayangan film horor, bukan hal yang mustahil jika Arifa meminta bantian dukun atau paranormal meminta pelet pengasihan. Terlalu banyak menonton film horor membuat pikirannya berkelana kemana-mana.
"Mumpung masih anget, gula jawanya lumer banget, enak loh." Arifa terus menerus menggoda Roni supaya mau mencicipinya.
Roni memang suka. Ia sering membelinya di toko kue Tripple N Cake & Bakery milik istri Chef Dany Hadiwijaya.
Melihat Roni yang tak bereaksi apapun, Arifa menghentikan aksinya. Percuma saja ia promosi habis-habisan, jangankan dicicipi disentuh pun tidak. Padahal, dulu pria di hadapannya itu paling sering minta dibuatkan kue.
"Sebenarnya apa yang harus dibicarakan?" Roni ingin langsung membahas pokok permasalahan yang ingin disampaikan oleh Arifa. Ia tak mau membuang waktu. Ia sengaja bersedia meluangkan waktunya karena mengira ada hal penting.
"Jika tentang persiapan pernikahan, semua sudah diurus oleh orang tua kita dan hanya menunggu hari H," lanjut Roni. Tak ada yang harus dibicarakan lagi. Mereka hanya tinggal menunggu wajtu.
"Sebetulnya ada hal lain yang ingin disampaikan. Aku lupa sesuatu. Tentang kesepakatan kontrak yang aku tandatangani waktu itu." Arifa menatap Roni lekat. Rasa sesal karena terlambat hadir dalam kehidupan pemuda di hadapannya. Seandainya waktu bisa diputar, ia akan dengan berani menyatakan persaan cintanya. Sayangnya, semua itu hanyalah khayalannya saja. Nyatanya, itu hanyalah masa lalu. Roni malah dipertemukan dengan gadis lain.
"Tentang apa?" Roni memberikan tatapan tajamnya. Tak ada lagi Roni yang senang bercanda. Ia berubah menjadi Roni yang dingin dan sulit disentuh. Hatinya milik wanita lain jadi ia selalu menjaga jarak dan membentengi dirinya.
"Aku setuju semua permintaan kalian, tapi aku mohon beri aku keringanan. Maksudnya saat berada di tengah keluarga kita, kita harus berpura-pura bersikap romantis dan mesra seprti kebanyakan pengantin baru." Arifa memberikan penawarannya.
"Mereka pasti curiga kalau sikap kita seolah seperti orang asing." Gadis cantik itu memberikan penjelasan lebih lanjut.
"Baiklah, nanti akan aku bicarakan dengan Shahnaz agar dia tak salah sangka. Aku tidak mau dia cemburu." Roni setuju dengan syarat.
"Aku tunggu jawabannya secepatnya." Arifa memberikan tatapan penuh permohonannya.
Sebetulnya ia tak puas dengan respon calon suaminya. Namun apa boleh buat, ia harus mengalah dulu.
"Kalau kamu sudah selesai bicara kamu boleh pulang." Roni merasa terganggu akan kehadiran Arifa. Maka dari itu ia menghendaki sahabatnya segwra berlalu dari hadapannya. Emosinya sedang tak stabil.
"Kamu ngusir aku?" Arifa menatap Roni tak percaya.
"Iya." Roni mengangguk. Ia serius dengan ucapannya.
"Tega sekali ya?" Arifa menggelengkan kepalanya.
"Iya." Sekali lagi Roni mengangguk.
Arifa menuruti keonginan Roni daripada harus ribut dan memperburuk hubungan mereka berdua.
"Jangan lupa dimakan ya! Aku udah cape-cape." Sebelum berlalu pergi ia mengingatkan Roni akan klepon yang ada di atas meja.
Pria muda berkaos club liga Inggris itu terdiam. Setelah Arifa tak terlihat barulah ia meraih piring berisi kleplonnya. Setelah itu ia memanjatkan puji dam syukur. Dengan ucapan bismilah ia raih piring berisi klepon itu lalu merafalkan doa-doa sebelum menikmati kue berwarna bijau muda itu dengan bahagia.
****
Bersambung