"Iya Bang aku hamil!" Shahnaz tak kuasa menahan tangisnya. Sebulan ia menyembunyikan kehamilannya dari Roni dan itu sangat menyakitkan, ia harus melewati masa sulit selama morning sickness sendirian meskipun ada Bi Esih namun rasanya sangat jauh beda jika yang menjaganya adalah suami sendiri. Beruntung kini ia sudah jarang merasa mual kecuali jika mencium bau yang sangat menyengat. Shahnaz terpaksa harus mengalah demi kebaikannya. Rasa benci dan cinta kepada Roni sama besarnya. Namun ia memikirkan masa depan anaknya. Ia butuh pendamping untuk melewati masa kehamilan dan proses persalinannya nanti. Setelah pertemuan dengan Roni di Sumedang, serta memikirkan ucapan Bi Esih, Shahnaz banyak merenung dan memikirkan masa depannya. Hanya ada dua pilihan, ia bercerai atau melanjutkan pernika

