Author Pov...
Hari yang di tunggu-tunggu untuk para calon santri baru, dimana hari ini adalah waktu PSB (Penerimaan Santri Baru). Banyak santri yang daftar untuk masuk pesantren ini, namun tidak semua lolos ujian.
Masuk pesantren itu tidak mudah, selain kemauan kuat, maka perlu persiapan yang hebat juga. Mungkin bisa kita bayangkan, ketika kita ingin masuk salah satu universitas atau tempat kerja yang sangat kita harapkan, lantas kita masuk dan diterima, bahagianya luar biasa. Begitu pun para santri baru ini, mereka terlihat bahagia dengan wajah penuh semangat.
Syila nampak sedang duduk termenung diatas tempat tidurnya, menunggu siapa yang akan menjadi temannya di pesantren ini. Sudah satu hari syila berada di pesantren. Namun belum ada satupun seseorang yang akan menempati hujrohnya. Hari inilah tepat dimana semua santri baru datang ke pesantren.
Syila kaget tiba-tiba ada tiga orang datang ke kamarnya dengan membawa banyak barang. Syila melihat ada seorang ustadzah menghampirinya.
"Assalamualaikum syila! perkenalkan mereka bertiga ini yang akan menjadi teman sekamar kamu selama di asrama." ucap ustadzah yang tidak syila kenali namanya.
"Wa'alaikumussalam ustadzah, baik terimakasih!" jawab syila ramah.
"Baiklah kalo begitu ustadzah pamit dulu masih banyak santri yang lain di luar yang harus ustadzah bimbing. Silahkan kalian berkenalan saja. Ustadzah pamit ya Assalamualaikum" ucap ustadzah dan berlalu pergi meninggalkan empat orang di ruangan itu. Dan mereka menjawab salam dengan bersamaan.
Syila yang bingung harus memulai dari mana, dia nampak menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Sedangkan tiga orang di depannya hanya terdiam dan memandangi syila yang sedang kebingungan. Baik syila ataupun ketiganya tidak ada yang memulai pembicaraan hanya canggung yang menyapa mereka. Sampai akhirnya syila lah yang mencairkan suasana.
"Hmmm kenapa kita malu-malu kaya gini ya, kita sekarang sahabat. Perkenalkan aku syila"
"Namaku gadis, dari bandung nya teh!" ucap seseorang yang memakai kaca mata.
"Perkenalkan aku sisil dari jakarta." ucap seseorang yang berbadan kurus.
"Hehe, kalau aku sintia putri irawan binti Muhammad irawan wijaya, panggi saja aku sintia aku dari jakarta." ucap seseorang yang berbadan besar dan memegang makanan. Terlihat dia memang doyan makan.
"Ok, kalau begitu sekarang kita sahabat, ini tempat tidurku jadi sekarang silahkan kalian pilih tempat masing-masing dan bereskan barang kalian soalnya sebentar lagi kita akan mengikuti kegiatan penerimaan santri baru. Mungkin akan banyak sekali kegiatan" ucap syila kepada sahabatnya.
"Ok syilaaaa" ucap mereka serempak.
*************
Nampak seorang pemuda telah berkutik dengan pekerjaannya. Siapa lagi kalo bukan Ustadz hafizh, sang ustadz yang menjadi idola kaum hawa di pesantren ini. Selain memiliki wajah tampan, dia juga terkenal dengan kecerdasan serta pasih dalam membaca Al-Qur'an. pantas saja jika para ustadzah dan santriyyah disini mengaguminya.
Di sisi lain syila dan teman-temannya yang telah siap mengikuti kegiatan telah bercanda ria di koridor asrama putri. Sintia yang memang suka makan serta sisil yang memiliki sifat sedikit lambat juga gadis yang lucu dengan bahasa sundanya membuat syila pusing, sekaligus bahagia tersendiri dengan sifat kawannya itu.
"Syil liat tuh ustadz itu tampan ya?" Ucap sisil pada syila dan di setujuii oleh kedua temannya.
"Ohh itu, sosok halu itu memang tampan." ucap syila.
"Lalu?" Ucap mereka bertiga.
"Ya gak lalu lalu." ucap syila enteng.
"Ih syila kamu ini, terus kamu suka gak sama ustadz itu?" ucap sintia dengan makanan penuh di mulut.
"Biasa aja tuh!" ucap syila.
"Ahh si teteh mah pasti bohong nya, coba itu teh apaan kertas di saku, pasti surat cinta kanggo si akang ustadz nya?" Ucap gadis dan kertas tersebut di ambil oleh sisil membuat syila mencoba meraih kertas dari tangan sisil. Sisil yang berlari menjauh dan syila mengejarnya. syila kehilangan jejak sisil di balik lorong koridor asrama. Syila mencoba Mencari sisil, dia yakin kalau sisil telah bersembunyi di balik tiang di belokan koridor itu.
Syila berinisiatif berjalan pelan dan akan mengambil kertas itu kembali sebelum sisil membuka dan membacanya.
Syila nampak melihat tubuh sisil di balik tiang dia terus berjalan dengan perlahan.
Satu !
Dua!
Tigaaaaaa
"Duaaaaaarrr. akhirnya aku menemukanmu. Ayoo mana kertasnya heeeeem." ucap syila dengan membelakangi orang tersebut dan menggerakan tangannya sebelah tepat di depan muka orang tersebut seperti meminta-minta.
Seseorang itu terlihat kaget dengan kedatangan syila serta suara syila yang membuat dia istighfar di dalam hati.
Syila yang merasa tidak ada respon membalikan badan dan betapa terkejutnya dia.
"A--a-- hmm kak halu kenapa jadi kakak." ucap syila.
"Apa halu? Afwan ukhty nama ana itu hafizh." ucap orang tersebut yang ternyata hafizh.
"Hmm terserah mau nama kakak itu apa tapi aku akan panggil kakak dengan sebutan kak halu. Karena suka ada dimana-mana seperti halusinasi saja." ucap syila tanpa tau malu.
"SYILAAAAA، HEYYY SINI!" terdengar teriakan orang-orang ke arah syila yang ternyata itu sisil,gadis dan sintia.
Syila yang merasa malu cepat-cepat pergi dan meninggalkan hafizh yang sedang mempersiapkan tempat untuk pembukaan PSB. Hafizh menggelengkan kepalanya melihat tingkah gadis yang satu itu. Entah seperti apa gadis itu sesungguhnya, namun terkadang hafizh di buat kesal dan geli tersendiri dengan tingkah gadis tersebut.
Syila berlari menjauh dari hafizh dan Mendekat ke arah teman-temannya.
"Syila kamu ngapain kok sama si ustadz tampan itu?" Tanya sintia dengan memainkan dua alisnya mencoba menggoda.
"Aku kan tadi kejar sisil tapi kehilangan jejak, aku kira si sosok itu sisil." ucap syila malu.
"Yahh kamu mah alesan aja ah" ucap sisil.
"Serius hey aku gak bohong kata bunda juga gak boleh nanti Allah marah" ucap syila dengan nada manja.
"Iya deh iya, eh syila ini kertas milik kamu kayanya ini penting. Aku kira itu surat cinta ternyata-----" ucapan sisil terhenti karena kini mulutnya telah ditutup oleh tangan syila
"Sisil jangan bilang-bilang" ucap syila lemas.
"Maaf kita bertiga sudah membukanya" ucap sintia, dan di balas anggukan oleh syila. Mereka berjanji tidak akan membocorkan rahasia itu pada siapapun demi syila sahabat baru mereka. Akhirnya mereka berpelukan.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.