"Safira?" Safira menghapus air matanya secepat mungkin ketika mendengar seseorang memanggilnya. "Beneran Safira?" Langkah kaki itu terdengar semakin dekat. Safira berusaha mengatur napas nya, berusaha untuk bersikap seperti biasanya. Safira tidak ingin orang-orang melihatnya dalam keadaan menangis seperti ini. Safira ingin selalu terlihat tenang. Safira tidak ingin di kasihani. "Hi Safira. Ini gue Bonar. Lo ngapain malam-malam disini?"Safira merasakan kursi yang sejak tadi dia duduki sendiri bergerak pelan. Bonar duduk disampingnya. Pria itu juga terlihat memegang satu cup kopi yang asap nya masih terlihat mengepul. "Hi mas Bonar." Safira mengangkat kepala. Dia tersenyum sebaik mungkin. "Gue memang sering datang ke sini kalau lagi kangen tempat ramai. Mas Bonar sendiri ngapain ke sini?

