***
Gue semakin percaya bahwa setiap orang itu memiliki kesempatan yang sama jika berani memulai semuanya dan berani berbicara
***
“Bang!” seruan itu membuat Bonar yang sedang rebahan di kasurnya, menikmati sisa weekend-nya langsung menatap ke arah pintu, di sana Latifa berdiri.
“Kenapa, Fa?” tanya Bonar, dia merubah posisi tidurnya menjadi duduk di kasur sedeharna miliknya, sungguh kamar Bonar benar-benar sederhana sekali, tidak ada ranjang di kamarnya, kasur Bonar langsung nempel di lantai, kemudian ada satu lemari plastik tempat pakaian yang jumlahnya tidak seberapa kemudian ada cermin kecil di dinding ah satu bantal untuk tidur dan juga guling, hanya itu isi kamar seorang Bonar Ardhiyasa. Sungguh sangat sedehana yang terpenting bagi Bonar, setiap dia istirahat di kamar ini, dia bisa mendapatkan waktu tidur yang berkualitas karena menurut Bonar itulah yang sangat penting.
“Lo beneran Bang satu kantor sama kak Safira?” tanya Latifa, gadis itu juga terlihat memakai pakaian rumahnya sekarang, kaus dengan celana training, fashion kecintaan dan sangat di junjung tinggi oleh Latifa karena pakaian itu sangat nyaman.
“Benar, kenapa lo tiba-tiba nanya itu bukannya tadi udah di bahas waktu di tempat bubur ayam?” tanya Bonar, gadis itu mengangguk namun dia tetap menatap Bonar dengan penasaran.
“Iya sih, tapi seriusan deh Bang, gue mau nanya,” ucap Latifa, dia bersandar di pintu kamar Bonar, tatapannya tidak lepas dari kakak laki-lakinya itu.
“Mau nanya apa?” tanya Bonar, pria itu mengacak rambutnya, sebenarnya ini belum larut malam, mereka baru beberapa menit yang lalu selesai makan malam bersama namun biasanya setiap weekend seperti ini mereka memang selalu istirahat lebih awal supaya benar-benar fit kembali di hari senen.
“Lo suka sama kak Safira?” tanya Latifa dengan santai namun berhasil membuat Bonar salah tingkah sendiri, pria itu terkekeh dengan sangat konyol sambil mengibas-ngibaskan tangannya di udara seolah sedang mengatakan pada Latifa bahwa yang di pikirkan oleh adiknya itu tidak benar sama sekali. Padahal kenyataanya mah benar banget!
“Bagaimana lo bisa nanyakayak gitu sama gue, Fa?” tanya Bonar, masih dengan ekspresi wajah yang super konyol sekali yang berhasil membuat Latifa semakin merasa curiga.
“Menurut pengamatan gue dan bang Bondan, lo benar-benar kelihatan suka sama kak Safira, lo bukan orang yang akan meminjamkan apa yang lo miliki pada orang lain apalagi nggak kenal di saat situasi lo juga membutuhkan benda yang lo pinjamkan itu. Untuk apa lagi lo melakukan itu kalau bukan karena lo suka sama kak Safira,” ucap Latifa, gadis itu bersidekap d**a, matanya sekarang memicing pada Bonar, penuh dengan selidik. Kalau Latifa sudah seperti itu berarti sudah saatnya Bonar menyerah, dia tidak akan lepas sedikitpun dari adik perempuannya ini. Latifa memang sangat sulit sekali di bohongi. Entah karena mereka terlalu dekat sejak kecil atau karena hal lain, Bonar juga tidak tahu. Pokoknya baik dia ataupun Bondan tidak akan bernah berhasil berbohong atau menutupi apapun dari Latifa.
“Suka kan lo sama kak Safira, Bang?” tanya Latifa lagi. Bonar pada akhirnya langsung menganggukkan kepalanya membuat Latifa langsung bersorak gembira seolah berita yang baru dia dengar adalah berita yang sangat-sangat dia tunggu selama ini.
“Benar-benar suka? Sejak kapan, Bang? Yaampun terimakasih ya Allah akhirnya bang Bonar jatuh cinta, bang Bonar hatinya masih baik-baik aja, nggak mati rasa!” seru Latifa dengan sangat gembira. Bonar menggelengkan kepalanya melihat tingkah Latifa.
"Gue normal pake banget Fa dan sekalinya suka sama cewek yang modelannya kayak Safira pula, kurang normal apa lagi gue, udah di luar batas maksimal malah!" seru Bonar dengan nada super sarkas namun terdengar lebih ke pasrah dan tersiksa membuat Latifa langsung ngakak parah dan menatap Bonar dengan geli.
"Lagian lo, Bang, selama ini nggak ada suka-suka sama cewek, nggak ada cerita-cerita sama gue atau bang Bondan, bagaimana gue nggak meragukan kenormalan lo!" seru Latifa. Bonar menarik napasnya, menatap adik perempuannya itu dengan sangat lekat.
“Udah kan lo kepo-nya, sana tidur, Fa, besok senin, lo harus berangkat sekolah,” ucap Bonar. Latifa mengerucutkan bibirnya.
“Tapi nanti Abang harus janji sama Tifa kenapa bisa suka sama kak Safira, bagaimana progres mendekati kak Safira sampai hari ini. Walau gue ngerti banget sih, orang secantik kak Safira itu sangat mudah untuk di sukai, gue aja yang cewek suka banget liat wajahnya, nggak ngebosenin sama sekali. Kalau sampai lo sama kak Safira jadi sih, Bang, gue yakin emak Jule bahagia lahir dan batin!” seru Latifa dengan sangat bersemangat. Bonar menggelengkan kepalanya mendengar seruan Latifa. Bonar tidak mengerti mengapa gadis ini begitu semangat bahkan Bonar baru bilang suka sama cewek bagaimana nanti kalau Bonar punya pacar mungkin Latifa akan mengumumkannya di mesjid.
“Tidur Fa,” ucap Bonar lagi, Latifa mengedipkan sebelah matanya kemudian barulah gadis itu meninggalkan kamar Bonar. Bonar beranjak dari kasurnya kemudian pria itu menutup rapat pintu kamarnya.
Safira. Entahlah Bonar merasa gadis itu sangat-sangat mustahil sekali untuknya.
“Gue punya nilai plus apa ya untuk menarik perhatian Safira selain hati yang tulus?” tanya Bonar sembari menatap langit-langit kamarnya. Bayangan bagaimana cara dia dan Safira menjalankan kehidupan membuat Bonar merasa langsung kena mental dan di tampar kenyataan.
Contoh sederhananya adalah tadi saat mereka tidak sengaja bertemu di tukang bubur ayam. Harga outfit yang Bonar pakai dan Safira pakai jelas sangat-sangat jomplang sekali. Bonar modal kaus yang di belikan oleh Emak Jule di pasar loak sedangkan Safira jelas belinya di salah satu store pakaian olahraga yang brand-nya sudah mendunia.
“Gue hanya perlu percaya, tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini, semua orang pasti memiliki kesempatan yang sama,” ucap Bonar. Pria itu kemudian memejamkan matanya, harapan Bonar selalu sama dari waktu ke waktu. Di selalu berharap hari esok akan lebih baik dari hari ini. Bonar ingin Emak Jule dan kedua adiknya hidup bahagia. Hanya seperti itu.
***
“Mas Bonar!” seruan itu membuat langkah terongoh-pongoh Bonar terhenti ketika dia ingin masuk ke dalam ruang divisinya. Divisi keuangan sekarang sedang sangat sibuk apalagi kursi yang biasanya di tempati oleh Rindu masih kosong membuat pekerjaan mereka banyak yang tertunda. Bapak Winata yang terhormat benar-benar berhasil membuat mereka tersiksa akibat keegoisannya. Staf keuangan yang baru yang akan menggantikan Rindu baru akan masuk minggu depan sesuai dengan informasi yang Bonar dapatkan dari bu Marwah yang sebentar lagi juga dirumorkan akan pensiun.
“Ya?” tanya Bonar dengan sedikit tergagap apalagi melihat seorang yang berdiri dengan jarak beberapa langkah darinya di tambah lagi dengan senyum menakjubkan itu membuat Bonar merasa semakin ketar-ketir sendiri. Sungguh ini luar biasa sekali. Seorang Safira Pramesti yang cantik dan wangi banget berdiri di hadapannya.
“Gue mau mengembalikan payung lo, Mas,” uca Safira sambil mengangkat payung yang pernah di pinjamkan oleh Bonar padanya cukup tinggi, Bonar yang seolah baru saja menyadari sesuatu langsung mengangguk sambil mengusap mengkuk belakangnya. Salah tingkah.
“Terimakasih, Safira,” ucap Bonar, gadis itu terlihat tersenyum kemudian terkekeh, sungguh itu pemandangan yang luar biasa sekali. Bonar merasa Tuhan sekarang benar-benar berbaik hati padanya. Dia bisa mengobrol dengan sangat santai dengan Safira seperti ini, dengan jarak yang benar-benar dalam jangkauan.
“Seharusnya gue yang bilang makasih sama lo, Mas. Makasih ya untuk payungnya sore itu, lo menyelamatkan desain-desain gue dan gue bisa istirahat lebih awal di rumah,” ucap Safira dengan sangat-sangat ramah dan lagi-lagi Bonar di buat takjub. Safira benar-benar gadis yang sangat ramah sekali.
“Sama-sama Safira,” jawab Bonar dia kemudian melirik ke arah ruang divisinya, semua staf terlihat sangat sibuk sekali.
“Mas Bonar punya waktu nanti setelah jam kantor selesai?” tanya Safira membuat Bonar terbatuk kemudian menatap Safira dengan bingung. Bonar sangat-sangat yakin di aterlihat seperti orang t***l sekarang di hadapan Safira, sungguh Bonar tidak bisa sedikitpun untuk stay cool.
“Memang kenapa Saf?” tanya Bonar dengan kelabakan tentu saja, sungguh Bonar tidak tahu lagi bagaimana cara bersikap sekarang.
“Mau gue ajak makan bareng sebagai ucapan terimakasih sih, Mas. Bisa?” tanya Safira. Bonar bergantian menatap ruang divisinya dan juga Safira.
“Nanti gue kabarin lagi Saf, lagi hectic parah divisi gue karena kurang orang. Bisa minta nomor ponselnya?” tanya Bonar, pria itu menyodorkan ponselnya pada Safira, gadis itu terlihat langsung mengangguk, mengetikkan nomor ponselnya kemudian tersenyum pada Bonar setelah melakukannya.
“Kabarin gue lo kapan bisanya ya, Mas,” ucap Safira, gadis itu kemudian pamit pada Bonar karena dia juga memiliki pekerjaan yang harus di selesaikan.
Bonar menatap punggung Safira dengan lekat kemudian menatap nomor Safira yang sudah tersimpan dengan sangat rapi di ponselnya. Entahlah, sepertinya Bonar benar-benar memang sangat beruntung di tengah kesibukannya kali ini. Udah di samperin Safira, di senyumin, di ajakin makan bareng dan sekarang mendapatkan nomor ponsel gadis itu, sungguh nikmat mana lagi yang Bonar dustakan?
Dengan langkah super riang dan senyum yang sangat lebar Bonar melangkah masuk ke dalam ruang divisinya, tatapan heran dan penasaran staf-staf keuangan langsung menyambut Bonar namun yang di lakukan oleh Bonar adalah tersenyum sok misterius, kapan lagi kan dia bisa bertingkah seperti ini di tambah lagi tidak ada Rindu, Bonar semakin bisa bertingkah sok misterius.
Pria dengan hati yang sedang berbunga-bunga itu kini bekerja dengan begitu semangat, Bonar seolah benar-benar ingin menyelesaikan semua pekerjaanya dengan cepat. Bayangan dia akan menghabiskan beberapa waktu berduaan dengan Safira sambil menikmati makanan itu luar biasa sekali, Bonar benar-benar ingin merasakannya . Dia harus makan bersama dengan Safira.
“Gue harus banget pamer sama Rindu ini mah nggak boleh enggak!” seru Bonar, dia mengambil ponselnya dan mengetikkan pesan untuk Rindu yang Bonar yakin sekarang sibuk belajar karena gadis itu sudah mengabarinya bahwa kuliah Rindu sudah mulai sejak minggu lalu.
“Sekarang gue semakin percaya bahwa setiap orang itu memiliki kesempatan yang sama jika berani memulai semuanya dan berani berbicara,” ucap Bonar setelah dia berhasil mengirim pesan pada Rindu. “Dan gue berharap ini adalah langkah yang baik untuk gue,” lanjutnya kemudian Bonar kembali fokus pada pekerjaanya.
***