***
Segala hal itu memiliki waktu baiknya dan pagi ini adalah waktunya gue berkenalan secara resmi dengan Safira Pramesti
***
Pagi ini Bonar ikut bergabung lari pagi bersama dengan Bondan dan Latifa karena dua adik kesayangannya itu menyeretnya untuk berlari bersama.
“Bang ayo buruan!” seru Latifa ketika jaraknya dan Bonar sudah cukup jauh, pria itu terlihat sedang mengatur napasnya yang sudah memburu.
“Fa, lo duluan aja deh, Fa, engap gue!” seru Bonar dengan napas yang cukup tersenggal. Latifa menggelengkan kepalanya kemudian berlari ke arah Bonar.
“Tifa bilang juga apa, Bang, Abang itu harus rajin olahraga dan atur pola makan, kasihan banget gue lihatnya kalau engap begini, kalau di biarkan terus menerus Abang bisa sakit sih terus nanti yang kasih jajan Tifa siapa dan yang bayarin sekolah Tifa siapa?” tanya Latifah, dia menggandeng tangan Bonar kemudian mereka berjalan dengan santai.
“Abang janji akan baik-baik aja, Fa dan akan memastikan segala kebutuhan lo terpenuhi,” ucap Bonar sambil tersenyum dan mengacak rambut Latifa, adik perempuan kesayangannya.
“Mulai besok Abang bener-benar harus memperhatikan pola makan dan olahraga dengan teratur supaya sehat, ganteng terus nemu jodoh,” ucap Latifa, dia menggenggam tangan besar Bonar lalu berlari pelan bersama sedangkan Bondan sudah terlihat sangat jauh dari pandangan mereka, Bondan itu memang sudah sangat terbiasa berolahraga.
“Di depan kata abang Bondan ada bubur ayam yang enak banget biasanya orang-orang yang habis lari pagi di sini pasti akan makan bubur ayam di sana,” ucap Latifa.
“Gue sama Rindu juga pernah makan di sana, Fa, waktu beberapa kali ikut event perusahaan walau gue sama Rindu duduk doang sih jadi penonton event!” seru Bonar, napas pria itu benar-benar sudah memburu, keringat bercucuran di wajahnya, benar-benar terlihat sekali sangat kelelahan.
“Ini mbak Rindu beneran pindah ke Jogja, Mas?” tanya Latifa, Bonar hanya mengangguk saja sebagai jawabannya karena dia benar-benar kesulitan mengatur napasnya.
“Fa berhenti dulu deh Fa, gue engap banget asli kaki gue juga pegel!” seru Bonar, dia menarik Latifa untuk menepi dan duduk di kursi yang ada di sana. Latifa meringis menatap Bonar, sungguh pria itu terlihat sangat memprihatinkan sekali.
“Tarik napasnya pelan-pelan terus hembuskan, gue nggak mau dengar kalimat mager olahraga lagi dari mulut lo setelah ini,” ucap Latifa sembari mengipas-ngpas wajah Bonar dengan tangannya.
***
“Gimana Fa?” tanya Bondan setelah akhirnya dia dan Bonar sampai di tempat tukang bubur ayam yang benar-benar ramai, banyak sekali orang-orang yang memakai pakaian olahraga memenuhi meja-meja yang ada di sana. Latifa langsung duduk di salah satu kursi di sana, Bonar juga melakukan hal yang sama.
“Payah banget, Bang, harus sering-sering lo ajak olahraga sih bang Bonar, nggak ngerti lagi lah gue sama dia!” seru Latifa sembari mendengus pelan. Bondan terkekeh pelan mendengar ucapan Latifa kemudian menatap Bonar yang masih asik mengatur napasnya.
“Gimana, Bang?” tanya Bondan dengan geli.
“Berisik, Dan, gue lagi engap, mending lo pesan buburnya sekarang, laper gue!” seru Bonar. Bondan tertawa cukup keras kemudian beranjak dari kursinya untuk memesan tiga porsi bubur ayam.
“Makanya, Bang, mulai hari ini kalau Emak marah-marah di dengarkan, kasihan banget kan ketampanan lo tertutup oleh lemak seperti sekarang, Emak juga bilang kok wajah lo itu mirip banget sama wajah gue, ganteng!” seru Bondan.
“Ntar gue glowup lo iri!” seru Bonar sambil menepuk lengan Bondan.
“Mana ada, Bang, gue iri, yang ada gue bersyukur banget malah siapa tahu lo melepas status jomlo lo sepanjang hidup, Emak mau punya mantu tuh, Bang!” seru Bondan.
“Setuju tuh gue, masa kalah telak lo, Bang sama kita, Tifa aja mantan udah dua, bang Bondan udah tiga masa lo yang duluan brojol belum ada, kurang nikmat itu hidup lo!” seru Latifa ikut mengompori. Bonar hanya menatap kedua adiknya itu dengan pasrah, Bonar sudah sangat terbiasa sekali dengan mereka.
“Nanti juga bakal ketemu jodoh gue, kalian pernah dengar kalimat manusia di lahirkan berpasang-pasangan berarti gue juga sudah punya jodoh!” seru Bonar dengan santai.
“Iya sih iya, Bang, tapi tetap aja setidaknya lo harus punya usaha untuk memperbaiki diri lo yang pertama kesehatan, nanti dengan lo yang terus seperti ini dan kesehatan lo akhirnya terganggu tapi amit-amit sih jangan sampai terus siapa yang akan menjaga istri dan anak lo, siapa hah?” tanya Bondan. Bonar terdiam untuk sejenak, tapi memang benar juga apa yang di katakan oleh Bondan, nanti jika Bonar jatuh sakit semua orang akan menjadi sangat kerepotan.
“Gue jadi ngeri banget gila sih kalian, mulai hari ini gue benar-benar akan diet dan olahraga dengan benar,” ucap Bonar dengan penuh sungguh-sungguh kemudian mereka mulai menikmati bubur ayam yang baru saja di sajikan dengan teh tawar hangat.
“Lo memang harus melakukannya, Bang. Nggak boleh buang-buang waktu lagi, lo itu udah punya umur kalau lo lupa,” ucap Latifa. Bonar kini mengangguk dengan cepat. Dia akan mulai bersngguh-sungguh mulai hari ini.
“Dan gimana, kuliah aman?” tanya Bonar di sela-sela waktu sarapan mereka. Bondan langsung mengangguk.
“Aman kok, Bang, gue janji akan lulu tepat waktu,” jawab Bondan dengan penuh keyakinan, tentu saja Bondan akan mengusahakan itu, dia ingin membantu Bonar untuk menghidupi keluarga mereka, membahagiakan emak Jule dan Latifa.
Bonar menatap Bondan dengan bangga, dia sangat bersyukur karena memiliki adik yang sangat pegertian dan tahu apa yang harus mereka lakukan, “Tifa udah mulai cari-cari kampus belum?” tanya Bonar, Bondan juga ikut menatap ke arah Latifa.
“Bang, seumpanya Tifa nggak keterima di salah satu kampus negeri di Jakarta nggak papa dan Tifa harus ngekos nggak papa?” tanya Latifa, terlihat sekali ada keraguan di matanya.
Bonar dan Bondan saling tatap kemudian tersenyum pada Latifa, “boleh asal bisa jaga diri dengan baik, bener nggak Bang?” tanya Bondan pada Bonar.
“Iya benar, Tifa boleh kuliah di manapun yang Tifa mau dengan satu syarat bisa jaga diri dengan baik,” ucap Bonar, senyum Latifa langsung melebar dan menatap kedua kakak laki-lakinya itu dnegan mata penuh biar.
“Memang Abang terbaik!” seru Latifa dengan mengangkat kedua jempolnya, Bonar dna Bondan terkekeh, mereka sangat bersyukur masih bisa sekompak sekarang dan saling mendukung satu sama lain walau mereka hidup dengan sederhana
“Bondan!” seruan itu membuat ketiga orang yang ada di meja itu langsung menoleh, Bondan lansung melambaikan tangannya ke arah gadis yang tersenyum lebar pada Bondan. Bonar hanya bisa terdiam dan merasakan detak jantungnya semakin kencang ketika gadis yang memanggil Bondan itu melangkah mendekat dengan menggenggam tangan seorang gadis yang sangat Bonar kenal. Itu adalah Safira Pramesti, Bonar sekarang benar-benar tidak tahu harus bersikap seperti apa.
“Tsana, gue kira lo bohongan doang lari paginya!”’ seru Bondan menyambut gadis itu sembari bertos ria. Gadis yang di panggil Tsana itu hanya terkekeh.
“Ya kali gue bohongan, ini kebetulan tetangga gue lagi ngajak lari pagi juga,” ucap Tsana sambil menunjuk Safira yang terlihat sangat fashionable dengan pakaian larinya. Sungguh gadis tu tidak pernah gagal soal fashion, semuanya cocok ketika di pakai oleh Safira.
“Gabung duduk aja, Tsan, sekalian nih kenalan sama abang dan adik gue,” ucap Bondan dengan ramah.
“Makasih Dan, kenalin ini kak Safira Pramesti, tetangga gue,” ucap Tsana dengan sangat ramah. Safira terlihat langsung tersenyum dengan begitu cantik, gadis itu menatap satu persatu penghuni meja.
`“Salam kenal kak Safira,” ucap Bondan sembari mengulurkan tangannya, Safira menyambut tangan itu dengan ramah dan tersneyum pada Bondan.
“Salam kenal Bondan,” ucap Safira. Bondan mengangguk.
“Kak Safira dan Tsana kenalin ini abang sama adek gue,” ucap Bondan, dia kemudian meminta Bonar dan Latifa berkenalan dengan dua gadis cantik itu.
“Salam kenal kak Safira dan mbak Tsana, gue Latifa,” ucap Latifa, dia mengulurkan tangannya pada Safira dan Tsana bergantian, dua gadis itu menyambutnya dnegan begitu ramh dan itu tidak lepas sedikitpun dari perhatian Bonar, dia pikir Safira itu adalah orang yang akan sangat jaga diri maksudnya tidak akan mau berkenalan dengan orang seperti mereka namun gadis itu tanpa segan untuk menyambut tangan Latifa bahkan dengan senyum terbaiknya, tidak ada raut canggung atau enggan.
“Ini Ifa yang bentar lagi mau masuk kuliah itu bukan, Dan?” tanya Tsana, kalau dari raut wajah dan pembawaan gadis itu, Bonar sangat yakin, Tsana adalah teman dekat Bondan dalam organisasi, tidak ada cangungnya sama sekali seolah gadis itu memang sudah sangat terbiasa berbicara di hadapan orang banyak.
“Bener banget, bagus juga ternyata ingatan lo,” ucap Bondan, Tsana langsung tersenyum dengan bangga, kemudian tatapan gadis itu beralih pada Bonar.
“Dan ini bang Bonar?” tanya Tsana sembari menunjuk Bonar, Bonar langsung mengangguk dan berusaha keras untuk menunjukkan senyum terbaiknya. Pria itu kemudian mengulurkan tangannya pada Tsana.
“Kayaknya Bondan banyak cerita tentang gue dan Tifa sih, salam kenal Tsana,” ucap Bonar. Tsana nyengir.
“Salam kenal bang Bonar!” seru Tsana dengan sneyum lebar, tatapan Bonar kemudian beralih pada Safira yang ternyata menatapnya.
“Salam kenal Safira,” ucap Bonar dengan sedikit cangung, kini kening Safira terlihat berkerut sebelum akhirnya menyambut uluran tangan Bonar.
“Salam kenal mas Bonar,” ucap Safira, ada senyum yang terukir di bibir gadis itu namun juga terlihat ada seraguan seolah dia sedang berusaha keras mengingat sesuatu. Bonar di buat salah tingkah sendiri ketika Safira tidak melepaskan tatapan darinya padahal tangan mereka sudah terlepas.
“Mas yang kemarin minjamin saya payung bukan?” tanya Safira sembari menatap Bonar. Kini Bonar menjadi pusat perhatian apalagi Bondan dan Latifa, tatapan keduanya menjadi penuh selidik karena seingat mereka Bonar itu tidak gampang meminjamkan sesuatu pada seseorang apalagi seorang gadis dan apalagi kemarin jelas hujan dan Bonar pasti memerlukan payung itu. Senyum penuh arti langsung terukir dengan kompak di bibir kakak beradik itu.
“Iya, Mbak” jawab Bonar dengan cepat. Safira terlihat mengangguk.
“Pantesan dari tadi saya ngerasa kayak nggak asing, panggil Safira aja mas Bonar, nggak nyangka juga sih ketemu orang kantor di sini,” ucap Safira dnegan sangat santai. Bonar langsung mengangguk cepat.
“Payungnya saya balikin senen ya, Mas, nggak bawa hari ini,” ucap Safira lagi membuat Bonar lagi-lagi langsung mengangguk.
“Santai aja Fira,” ucap Bonar.
“Jadi mas Bonar sama kak Fira satu kantor?” tanya Tsana dengan penasaran begitu juga dengan Bondan dan Latifa, mereka menatap Bonar dan Safira bergantian, sua orang itu langsung mengangguk dengan kompak.
“Gue baru ketemu mas Bonar kemarin sih,” ucap Safira.
“Gue beberapa kali nggak sengaja lihat Safira di lantai lima saat lagi keliling kantor, anak Arsi, Fir?” tanya Bonar dengan pura-pura b**o nan t***l, nggak papa lah basa basi dikit, yang penting punya bhan obrolan dan nggak ketara banget bahwa Safira adalah gadis impian.
“Benar, Mas, lo anak divisi mana?” tanya Safira sembari menatap Bonar.
“Keuangan,” jawab Bonar berusaha kalem dengan maksimal padahal mah udah mau salto, Safira terlihat mengangguk paham kemudian gadis itu beranjak untuk memesan bubur ayam.
Pagi itu Bonar untuk pertama kalinya berkenalan dengan Safira secara personal dan pagi itu juga Bonar bisa mendengar suara Safira dengan begitu nyata dan mengobrol dengan gadis itu walau lebih tepatnya Bonar hanya lebih banyak menjadi pendengar sedangkan yang mengobrol adalah Tsana, Latifa, Bondan dan Safira. Tapi demi apapun ini adalah pagi terbaik yang Bonar miliki bisa bersama dengan gadis yang dia suka.
***