Part 10. Never Give up!

4135 Kata
  “Hahahaha really? Itu berarti Mr. Murich ingin menjadi pelanggan tetapnya?” “...” “Oh tentu, aku akan memastikan bahwa dia tidak terlalu larut dalam kesedihannya. Ah well, dia pasti sangat terkejut. Ini kali pertama untuknya. Aku dapat memahami perasaannya, tapi sebagai orang terdekat aku akan memberikan pengertian padanya.” “...” “Surely! Terima kasih banyak karena telah memberitahukannya padaku, Madeline. Oh ya, sampaikan salam ku kepada Madame Pixie. Aku sangat senang bekerja sama dengannya.” ucap Cecilia terdengar begitu riang pada percakapan telepon itu. Catherine yang sedari tadi berdiri tepat di depan kamarnya kini menggenggam erat jemarinya dengan hati yang terbakar amarah. Cecilia adalah salah satu dari manusia-manusia sialan yang menjebak dirinya. Sialan! “...” “Ya, mulai sekarang aku akan memastikan bahwa dia tidak akan kemana-mana. Aku tidak ingin Madame Pixie menyesal karena telah membayar ku dengan uang yang setara dengan lebih dari setahun gaji ku.” Cecilia tertawa semakin kencang untuk hatinya yang riang. Catherine meneteskan air matanya, dunia ini memang terlalu kejam untuknya. Terlalu memuakkan dan menyakitkan hati. Kakinya melangkah memasuki kamar dan menutup pintu itu dengan hempasan yang kuat. Blam! Tawa Cecilia seketika memudar karena dentuman pintu kamar Catherine, matanya melirik kearah pintu kamar. “Eum? Sepertinya Catherine sudah pulang...” gumamnya berbisik. “Sebaiknya kau pergi melihatnya dan membujuknya.” ucap Madeline diseberang sana memberi saran untuk Cecilia. “Baiklah Madeline, aku tutup dulu telepon nya ya...” Pip! Cecilia menggigit bibir bawahnya, berjalan dengan cemas menuju ke kamar Catherine. Tok..tok...tok! “Cath, apa kau sudah kembali?” tanya Cecilia mengetuk pintu kamar Catherine dan mencoba membukanya, namun pintu kamar itu terkunci. “Baiklah, aku akan membuat sarapan. Jika kau mau, keluar lah kita makan bersama!” teriak Cecilia lalu menghembuskan napasnya kasar saat tak mendapatkan jawaban dari Catherine. Sementara di dalam sana, Catherine bersandar di pintu kamar mandi. Menangis hingga tubuhnya merosot dilantai. Hatinya terasa sangat sakit, ingin rasanya dia mati. Tapi haruskah berakhir seperti ini? Catherine mengambil ponselnya dan menelpon seseorang yang memang harus dia hubungi sekarang. Tuut... Suara panggilan tersambung membuat bibirnya merapat sejenak, terisak dalam diam seraya menunggu panggilan itu tersambung. “Good morning, Kateline Swan disini!” sapa ramah ibunya membuat air mata Catherine menetes lagi dan lagi hingga tak memiliki niat untuk berhenti. “Halo, Catherine?” Deg! Pertanyaan sang ibu lantas membuat Catherine semakin menangis kencang, ibunya tahu bahwa dirinya lah yang menelpon, sang ibu mengenali nya tanpa perlu dia berbicara. Isak tangisnya membuat sang ibu terlalu gampang mengenali bahwa dirinya yang menelpon. “Apa yang terjadi nak? Bicara lah, baik dan buruk atau apapun itu, bicarakan lah pada ibumu ini...” ucap Kateline menangis hingga terisak sedih. Catherine menyeka air matanya, “Mom, maafkan aku...” “Tidak sayang, kau tak perlu meminta maaf padaku. Justru aku yang seharusnya meminta maaf padamu. Maaf belum bisa menjadi ibu yang sepenuhnya dapat membahagiakan mu...” ucap Kateline penuh sesal seakan mengiris hati Catherine. “Mom, aku mungkin telah banyak menyakiti hatimu selama ini...” ucap Catherine menangis hingga sesegukan dan tak mampu lagi berbicara, “A-ku...” “Oh my dear, aku sungguh tak pernah merasa tersakiti oleh mu. Malah sebaliknya, aku merasa terlampau banyak berbuat salah padamu.” “Mom, mengapa hidup ini benar-benar sangat tidak adil?” tanya Catherine dengan suara yang terdengar sangat putus asa. “Catherine, apakah sesuatu yang buruk terjadi padamu?” tanya sang ibu diseberang sana terdengar sangat khawatir. Catherine menyeka air matanya seraya menggelengkan kepalanya, “Tidak, aku hanya merasa muak hingga merasa bersalah padamu. Aku sangat merindukanmu, Mom...” Terdengar helaan napas lega sang ibu diseberang sana, “Aku juga sangat merindukanmu, nak. Kau bisa pulang kapan pun kerumah kita karena pintu rumah selalu terbuka untuk mu, nak.” “Tidak, aku tidak ingin pulang...” gumam Catherine berusaha menghentikan air matanya. “Cath, aku berjanji akan segera berhenti dari pekerjaan ku. Kembali lah bersama ku. Di dunia ini kita hanya berdua, aku hanya memilikimu. Tidak ada siapapun lagi...” Kateline berusaha membujuk Catherine, entah mengapa wanita berusia 30-an tahun itu sangat yakin bahwa putrinya sedang tidak baik-baik saja. “Mom, bisakah kita bertemu? Tapi jangan beritahukan kepada Max.” ucap Catherine dengan suaranya yang terasa sulit keluar. “Kau ingin bertemu dimana, sayang?” tanya Kateline terdengar begitu bersemangat. Air mata Catherine kembali mengalir dan tangannya dengan dingin menepis air mata cengeng itu. “Pukul delapan malam di White Horse Hotel.” “Ho-hotel?” “Ya, bukankah kita sudah berjanji untuk menginap di hotel berbintang disaat ulang tahun ke-17 ku tahun lalu? Tapi kau melupakannya dan hubungan kita terus memburuk sampai saat ini. Mom, aku ingin melakukan semua yang tertunda bersama mu...” ucap Catherine kian lirih tanpa sadar air mata Kateline mengalir di seberang sana. “Cath, bisakah aku mengatakan sebuah nasihat untukmu? Meski aku bukanlah seorang ibu yang baik, tapi aku ingin mengatakannya sekarang.” “Mom, katakanlah...” gumam Catherine pelan. Ini adalah awal dari hari minggu terburuk yang pernah dia lewati. Meski hatinya ingin melupakan semuanya, tapi semua rasa sakit hatinya terus saja memusuk tanpa ampun. Sungguh, kini dirinya harus menanggung rasa sakit yang luar biasa. “Catherine Swan putriku, mungkin kau merasa benar-benar hancur saat ini. Namun kau harus mempercayai satu hal, tidak pernah ada luka yang tidak dapat sembuh. Hari terburuk yang kita lalui adalah tempat untuk belajar, tempat untuk melihat sebuah kesalahan yang selama ini kita abaikan. Memahami dimana letak kelemahan diri sendiri. Aku ingin kau bangkit setelah lelah menangis. Karena semut pun harus berjuang untuk hidup. Semua makhluk hidup harus berjuang agar dapat bertahan. Jangan pernah menyerah, jangan menyerah seperti diriku. Karena meratapi kegagalan di masa muda ku. Aku menyesali nya setiap waktu dan hidup ku tak pernah berubah...” Catherine memukul dadanya yang terasa sangat sakit, segala amarahnya pun tumpah dalam tangis begitu saja. Apakah kini dirinya memang memetik karma atas sakit hati ibunya selama ini? “Cath, menangis lah jika itu mampu membuat sakit hatimu mereda. Walaupun tidak mengobati luka, setidaknya air mata dapat membuat mu lega...” Cukup lama Catherine menangis, cukup banyak bujukan sayang sang ibu yang mampu menenangkan hatinya. Hingga semua rasa pesimis menjelma menjadi optimis. Hingga seluruh pemikiran negatif berbuah positif. Kasih dari seorang ibu mampu mengurangi sepihan hati yang hancur terus menusuk dadanya. “Mom, aku sangat bersyukur memiliki ibu terbaik sepertimu. Catherine merasa jauh lebih baik dari sebelumnya. “Kau pasti tidak bisa tidur malam tadi, Cath. Sekarang, tidurlah...” “Ya mom, nanti akan aku hubungi lagi...” ucap Catherine dengan sudut bibirnya yang tertarik samar. “Mommy akan chek-in hotel pukul 4 sore dan akan menunggumu datang, Cath. Datanglah lebih awal, sudah lama kita tidak pergi ibadah minggu bersama.” Tersenyum seraya menganggukkan kepalanya, “Baik mom, aku akan memberitahukan padamu jika sudah akan pergi.” “Cath, love you baby...” Catherine tersenyum sedih, “Love you, Mom. See you later.” Pip! Ketika panggilan itu usai, Catherine memilih untuk membersihkan dirinya sekali lagi. Meski sulit untuk menghentikan tangisan nya saat mengingat apa yang terjadi malam tadi, namun kini hatinya jauh lebih optimis dari sebelumnya. Setelah mandi dan membereskan semua barang-barangnya, Catherine menulis sebuah surat dan memasukkannya kedalam amplop yang berisi uang 1000 dolar untuk membayar biaya sewa rumah dan semua kebaikan palsu Cecilia. Catherine pun menghempaskan tubuhnya ke tengah-tengah ranjang, menatap jauh kedepan seolah mampu menembus langit-langit kamar yang menghalangi pandangannya. Semua orang di dunia ini berkamuflase dengan cara mereka masing-masing dan semua itu terasa sangat menjijikkan. Pria itu memilihnya sebagai pelanggan tetap dan dia akan menjadi sumber uang terbesar bagi Pixie sialan itu. Catherine akan pergi sejauh mungkin dan tak ada seorang pun yang dapat menemuinya lagi. Dia tidak ingin menyerah pada keadaan dan diriya tak akan membiarkan siapun memanfaatkan kehidupannya. Baik itu Pixie, Cecilia atau siapun itu. “Ya, tidak ada siapun selain diriku sendiri...” gumam Catherine seraya memejamkan matanya dan membiarkan dirinya pergi sebentar ke alam mimpi untuk meredakan rasa sakit hatinya = Max bangkit dari duduknya saat melihat pintu rumah Cecilia terbuka, gerak wanita itu kontan terhenti karena rasa terkejut. “Max, kau benar-benar membuatku terkejut!” bentak Cecilia tak suka. “Maafkan aku, apakah Catherine ada di dalam? Bolehkah kau membuka kan pintu untuk ku?” tanya Max penuh harap. Cecilia membuang napasnya kasar, “Setahu ku, Catherine masih tidur dan dia tak ingin di ganggu siapun hari ini. Kau lebih baik pulang daripada mengganggu istirahatnya, Max.” ucapnya menegaskan. Max mengerutkan dahinya tak mengerti, “Sebenarnya apa yang telah terjadi sampai Catherine terkesan menjauhi ku? Kesalahan apa yang telah aku perbuat? Bahkan aku tak tahu sama sekali mengapa dia harus menjadi pelayan diruangan VIP tanpa memberitahukan apapun padaku.” tanyanya merasa muak dengan semua orang yang terkesan menghalangi nya bertemu dengan Catherine dan sikap Catherine yang terkesan aneh padanya. “Itu pilihannya sendiri, Max. Catherine memilih pekerjaan itu dan jika dia terkesan menjauhi mu, berarti itu juga pilihan yang dia inginkan. Menjauhlah darinya sebelum dia benar-benar muak dan menghilang darimu. Minggir, aku harus pergi sekarang!”bentak Cecilia mendorong tubuh Max dan pergi meninggalkan pria bodoh itu. Sudut bibirnya pun tertarik, tugasnya untuk membuat Catherine menjauh dari Max tidak sulit untuk dia lakukan karena gadis itu yang telah sadar diri dan ingin menjauhi Max. Catherine sungguh sangatlah bodoh dan naif. Bahkan Catherine telah mengurung diri seharian di kamarnya. “Mungkin Mr. Murich telah membuatnya kelelahan sepanjang malam. Aish, aku sangat iri padamu, Catherine Swan...” gumam Cecilia tersenyum licik. Dia juga akan pergi untuk bersenang-senang malam ini... Max menatap punggung Cecilia dengan tatapan tak mengerti, “Apa yang sebenarnya terjadi? Mengapa aku harus melupakanmu, Catherine? Sulit bagiku untuk menerimanya...” gumamnya terkesiap saat ponselnya berdering. “Ya, Cath?” jawab Max tak sabaran saat Catherine menelponnya. “Pergilah...” “Kita butuh berbicara sebentar, Cath...” “Pergi kataku! Pergi jika kau tak ingin mendengar kabar kematian ku!” Air mata Max lantas mengalir begitu saja, “Mengapa kau sekejam ini padaku, Cath? Bukankah kau telah berjanji tak akan pernah menjauh dari ku? Jika aku bersalah ataupun melakukan kesalahan yang tak termaafkan bagimu, bisakan beri aku kesempatan sekali lagi?” “Pergilah dan jangan pernah temui aku lagi. Aku benar-benar merasa muak denganmu, Max!” Max memejamkan matanya dengan tangan yang mengepal erat ponselnya, “Bagaimana pun, sampai jumpa lagi Catherine. Hubungi aku jika kau sudah tidak marah lagi padaku. Aku tidak akan pernah menyerah dengan mu...” Pip! Max menatap ponselnya yang diputuskan sepihak oleh Catherine. Bagai pecundang dia melangkah pergi dari apartemen Cecilia. Dengan hati yang hancur sekaligus optimis, Catherine pasti akan segera menghubunginya lagi dan mengajaknya berbaikan seperti biasanya. Hubungan mereka pasti akan kembali seperti sebelumnya. Dirinya dan Caherine telah mengenal untuk waktu yang cukup lama.  “Kita tidak mungkin berakhir seperti ini, bukan?” tanya Max melangkah pergi. = Sementara di dalam sana... Brugh! Tubuh Catherine lantas terjatuh ke lantai, “Tidak apa-apa...” guamnya dengan tatapan kosong. Air matanya seakan mengering dan tak sanggup lagi untuk menangis. Dering ponsel pun kembali menginterupsinya, “Yeah Mom...” “Apakah kau sudah menuju kemari, sayang?” Mengigit bibirnya dalam segala rasa bimbang yang ada, “Sebentar lagi aku kesana, Mom.” ucap Catherine mengusap wajahnya kasar. “Baiklah, tidak perlu terburu-buru. Mom akan menunggu sampai kau datang.” Catherine tersenyum tipis, “Aku akan menghubungimu lagi, nanti...” “Take care, baby. Aku selalu mencintai mu...” “Me too...” ucap Catherine mengakhiri panggilan itu, lalu ponselnya kembali terdapat panggilan masuk dari pengemudi taksi pesanannya. “Good evening Mrs. Swan. Saya sudah menunggu di lobi apartemen sesuai permintaan anda...” Menganggukkan kepalanya, “Ya, aku akan menuju ke lobi sekarang...” ucap Catherine seraya berdiri dari duduknya. Catherine berdiri dengan langkah mantap meninggalkan kamar itu dengan sengaja mengunci pintunya dari luar. Diluar kamar dia mengambil steak buatan Cecilia dan memakannya dengan cepat, bukan hanya lapar, dia sedang membuat alibi agar Cecilia meyakini bahwa dia ada keluar untuk makan dan sengaja kembali ke kamar untuk mengunci diri karena masih merasa sedih dengan apa yang terjadi. Dia merasa perlu berjaga-jaga agar Cecilia tak menyadari kepergiannya dan melaporkan kepada Madame Pixie. Sebagai ladang uang, Catherine yakin wanita serakah itu tak akan mungkin melepasnya begitu saja dengan mudahnya. Dirinya harus bermain dengan sangat rapi... Catherine mengintip ke lubang pintu dan berharap Max benar-benar sudah pergi, dia pun membuka pintu dengan berhati-hati dan keluar dari sana. Catherine berjalan menuju tangga darurat dan berniat akan menaiki lift dilantai atas. Dia sangat mengenal Max. Max tidak akan pergi dengan mudah sebelum menemukannya dan Catherine tak ingin pria tak berdosa itu mengetahui kepergiannya. Karena semua orang pasti akan mencarinya melalui Max jika dia benar-benar menghilang. Sudah cukup dia menjadi beban untuk Max selama ini. = Catherine berlari dengan begitu cepat memasuki taksi, lalu merosotkan tubuhnya saat taksi itu melewati Max yang sedang menunggu diatas motor. Max pasti memiliki keyakinan bahwa dirinya akan keluar dari apartemen itu. Cepat atau lambat... “Maafkan aku, Max...” gumam Catherine seraya menelpon ibunya. === -White Horse Hotel- “Ya sayang, aku sudah menunggu mu di lobi sedari tadi...” ucap Kateline melihat jam besar di lobi hotel itu menunjukkan pukul 18.45. “Ah well, thank you, Mom. Aku akan segera tiba disana.” Senyuman Kateline begitu merekah sempurna, telah lama rasanya dia menunggu bertemu dengan waktu seperti ini. Dapat bertemu dan menghabiskan waktu bersama putri kesayangannya. Senyuman nya pun sedikit memudar, saat pikiran akan keadaan Catherine kembali mendominasi isi kepalanya. Catherine jelas tidak baik-baik saja, tapi sebagai ibu Kateline ingin memastikan suasana hati putrinya akan jauh lebih baik setelah mereka bertemu. === Catherine memasukkan uang sebesar 100 ribu dolar yang baru saja dia tarik dari mesin penarikan uang. 1000 lembar uang pecahan 100 dolar itu hampir membuat tas nya menjadi sangat penuh. Sedikit takjub sekaligus merasa sangat miris, masih ada sekitar 1.4 juta dolar yang tersimpan didalam rekening bank nya. Uang itu adalah uang hasil menjual ke perawanan nya kepada seorang billioner muda kenamaan Amerika serikat yang mereka sebut dengan Mr. Murich. Pria pemilik senyuman psikopat yang menyeramkan dan seluruh tubuh Catherine merasa kesakitan saat mengingat wajah pria gila itu. Air matanya kembali jatuh saat menghentikan taksi lain untuk membawanya ketempat tujuan untuk bertemu dengan ibunya. “White Horse Hotel, Time Square.” ucap Catherine seiring dengan taksi itu berjalan, membawanya pergi ke tempat tujuan.  Besok dia akan ke Bank untuk mengambil semua uangnya dan membuka rekening baru, setelahnya dia akan meninggalkan Manhattan untuk selamanya. Dia akan pergi kemana saja untuk memulai kehidupan yang baru. Catherine mengusap wajahnya yang kembali dibasahi oleh air mata, “Semuanya akan berlalu dan semuanya pasti akan baik-baik saja...” gumamnya membujuk diri sendiri === “Mom!” teriak Catherine begitu memasuki lobi hotel tersebut. “Catherine!” teriak Kateline mengulurkan kedua tangannya, menerima Catherine yang berlari kedalam pelukannya. “I miss you so much...” bisik Catherine dalam lirihnya. “aku memiliki rindu yang besar darpada rindumu...” bisik Kateline membuat Catherine tersenyum dalam pelukan ibunya. “Apa yang harus kita lakukan sekarang?” ucap Kateline menahan pundak Catherine dengan mata berkaca-kaca. “Suasana nya terasa canggung dan penuh haru. Apakah kita sedang membuat film dokumenter?” kelakar Catherine membuat sang ibu kembali memeluk tubuhnya dengan erat. “Ayo pergi ke gereja sekarang...” ucap Kateline membuat Catherine menganggukkan kepalanya. Mereka terlihat begitu hangat dan akrab saat berjalan meninggalkan lobi hotel tersebut. Kateline yang begitu cantik dengan rambut pirang emas yang sedikit kemerahan miliknya dan Catherine dengan rambut pirang nya yang berkilauan. Wajah keduanya hampir mirip hanya saja iris matanya jelas berbeda, Kateline dengan mata hijau nya, sedangkan putri cantiknya memiliki iris biru laut yang sangat indah. Tubuh tinggi semampai Catherine yang mencapai 1,75 cm kontras berbeda dengan tubuh Kateline yang hanya memiliki tinggi sekitar 160 cm.  Beruntung wajah imut Catherine tak mampu melampaui usianya yang masih tergolong remaja yang akan menuju dewasa baru. “Times Square Church?” “Ya, gereja yang selalu kau kunjungi setiap berulang tahun dan kita akan menikmati makan malam yang lezat di Gallaghers Steakhouse!” ucap Kateline penuh semangat. “Aku sangat rindu memakan vanilla ice cream with berry and redbean sorbet dan Chocolate layer cake sebagai dessert kesukaan ku.” “Kau akan mendapatkan semuanya, aku yang traktir.” Kateline mengucapkannya dengan begitu sombong. Catherine pun tertawa senang, “Aku akan sangat berterima kasih padamu, Supermom!” serunya bersemangat. = Kini mereka meninggalkan Gereja tersebut dengan hati yang terasa sedikit lega, setelah berdialog dengan Tuhan, meskipun sadar diri akan dosa, setidaknya mereka memiliki keyakinan bahwa sang pencipta begitu murah hati untuk mendengar doa serta pengakuan dosa yang mereka ucap dalam hati. “Mom...” “Hem?” gumam Kate menatap Catherine penuh tanya. “Berapa kali kau berada di titik terendah dalam hidup mu?” tanya Catherine membuat Kateline mengukir senyumannya. “Awalnya aku berpikir bahwa titik terendah dalam hidupku adalah saat pria yang ku cintai meninggalkan ku yang sedang mengandung dirimu. Ternyata tidak, itu adalah titik terendah kedua yang pernah ku alami dalam hidupku.” “Kedua?” tanya Catherine membuat sang ibu menganggukkan kepalanya. Pertama kali aku merasa berada di titik terendah hingga ingin mati adalah saat aku berusia dua tahun lebih muda darimu saat ini. Saat aku berusia 16 tahun, 22 tahun lalu tepatnya. Aku terlalu naif dan bodoh, mengalami pelecehan seksual di tempat kerja ku. Sebuah kedai billiard yang kumuh di pinggiran kota Moscow, Rusia. Bertahun-tahun aku bersembunyi di sudut rumah hingga seorang teman mengatakan akan membawa ku untuk menjadi imigran ke New York.” ucap Kateline mengangkat gelas anggur nya untuk bersulang. Tring! Bunyi gelas berpadu saat Catherine menyambutnya, “Aku merasa beruntung karena masih memiliki mu di dunia ini.” gumam Catherine membuat mata Kateline berkaca-kaca seakan paham dengan apa yang putrinya rasakan saat ini. “Bertahun-tahun aku memulai hidup dengan baik, tidak sepenuhnya baik karena dimana pun wanita yang tidak memiliki orangtua maupun keluarga seperti ku ini, selalu menjadi incaran predator seks yang ingin layanan seks gratis dari pegawai nya. Begitu banyak tempat bekerja yang telah ku cicipi dan manusia biadap seperti itu selalu ada.” ucap Kateline tersenyum miris.   “Apakah itu yang menjadi sebuah alasan mengapa kau merasa enggan untuk mencari pekerjaan yang normal?” tanya Catherine membuat sang ibu mengangguk malu. “Setelah menikah aku pikir hidupku akan jauh lebih baik, namun semuanya hsnya angan belaka. Dia pergi dan meninggalkan ku begitu saja saat mengetahui kehamilan ku, pria b******k itu takut akan terikat dengan ku seumur hidupnya. Setelah melahirkan dirimu, aku ingin kembali memulai hidup lebih baik dengan mencari pekerjaan apa saja asal tidak menjadi penjaja seks. Tapi semakin kau tumbuh, kebutuhan hidup kembali mencekik ku dan lagi-lagi aku bertemu dengan majikan sialan yang akan memperkosa ku. Bahkan seorang wanita sialan menjual tubuh ku tanpa seizin ku. Aku memilih untuk menjadi pekerja seks komersial secara mandiri, tanpa di manfaatkan oleh siapapun dan aku tetap dapat memberikan kehidupan yang layak dan jaminan masa depan yang layak untukmu, Catherine...” Kisah sang ibu membuat Catherine meneteskan air matanya, “Maafkan aku, Mom...” lirihnya membuat wanita cantik itu menggenggam tangannya erat. “Kau tahu, apa titik paling terendah dalam hidup ku, Catherine?” tanya Kateline membuat Catherine menggeleng samar, “Saat kehilangan mu, aku merasa kehilangan separuh kehidupan ku...” Catherine pun menangis seraya mengucapkan kata maaf dan Kateline mengusap air mata di wajahnya dengan penuh kasih, “Aku harap air mata berharga mu ini dapat berhenti sayang...” Catherine pun mengangguk samar, “Maafkan aku...” Kateline tersenyum seraya menggelengkan kepalanya, “Aku tak akan memaafkan mu jika makan malam mewah ini tak dapat kita nikmati karena kesedihan mu...” “Ya, aku tidak akan menangis lagi...” ucap Catherine mengusap air matanya seraya tersenyum manis. “Ah aku sangat bersyukur, kau memang putri ku yang paling baik...” ucap Kateline membuat Catherine tertawa. “Aku selalu ingin menjadi putri terbaik untuk mu, Kateline Swan.” “Harus ku akui, kau adalah putri ku yang paling baik, Catherine Swan...” Keduanya saling tatap penuh haru dengan tangan yang saling menggenggam. Kateline dapat memahami apa yang sedang Catherine rasakan saat ini dan dia mengerti bahwa malam ini adalah malam perpisahan bagi mereka. === -White Horse Hotel- Mereka kembali ke Hotel dengan perasaan penuh suka cita, Catherine merasa takjub dengan suite room terbaik yang ibunya pesan untuk mereka bermalam. “Aku akan membayarkan kamar ini untuk kita, jangan khawatir, aku memiliki uang yang cukup banyak sekarang...” ucap Kateline membuat Catherine tertawa seraya menghempaskan tubuhnya di tengah-tengah ranjang besar tersebut. “Aku percaya jika kau sudah merencanakan masa depan yang baik untuk kita berdua, Mom. Maaf aku belum menjadi putri yang baik selama ini..” ucap Catherine dengan mata terpejam. “Tidak perlu untuk terus mengungkitnya, Cath. Aku yang tidak pernah berani menceritakan apapun kesulitan yang telah ku alami selama ini padamu...” ucap Kateline menepuk paha putrinya seraya duduk ditepian ranjang. Catherine lantas bangkit dan memeluk tubuh ibunya dengan erat, “Mom, terima kasih telah bertahan sejauh ini. Terima kasih telah merawat dan membesarkan ku. Aku sedang berada di titik terendah ku saat ini dan aku sangat bersyukur karena masih memiliki mu di dunia ini...” “Cath, apa yang-” “Demi apapun, aku belum ingin menceritakan nya padamu, Mom. Aku tak sanggup...” ucap Catherine membuat air mata Kateline mengalir jatuh begitu saja. “Kau bisa menceritakannya kapan pun kau merasa siap.” “Ya...” Kateline menangkup wajah cantik tak berdosa putri kesayangannya itu, “Besok, ayo kita pulang bersama kerumah...” ucapnya penuh harap. Catherine menggelengkan kepalanya seraya mengambil uang di dalam tas tangannya, “Mom, ini untuk mu...” ucapnya membuat sang ibu membelak tak percaya. “Darimana kau dapatkan uang sebanyak ini, Cath?!” tanya Kateline sedikit berteriak. Catherine meneteskan air matanya, “Tanpa aku mengatakannya, kau pasti sudah sangat memahaminya, Mom. Aku akan menceritakan semuanya padamu, cepat atau lambat. ucapnya membuat air mata Kateline turut mengalir. “Apapun rencana mu dihari esok, jika itu adalah untuk memulai hidup yang baru dengan baik disuatu tempat, aku akan mendukungmu. Perlu ku tegaskan satu hal padamu, kehidupan ini adalah tempat yang penuh perjuangan. Tapi bukan berarti kematian adalah jalan untuk menyelesaikan masalah kehidupan yang sedang kau hadapi.” Catherine menganggukkan kepalanya, “Ya, aku tidak akan berakhir sebelum meraih mimpi-mimpi ku, Mom.” Kateline tersenyum seraya menganggukkan kepalanya, “Hiduplah dengan baik dan raih apapun yang  sesuai dengan impian mu. Kelak jika kau bosan hidup dalam kesendirian,  hubungi aku, dengan senang hati aku akan menemani mu, untuk menikmati hidup di negara mana pun yang kau inginkan...” Catherine kembali memeluk tubuh ibunya dengan erat, “Kau memang ibu ku yang paling pengertian, aku harap kau dapat hidup dengan baik dan berhenti dari pekerjaan mu. Aku akan selalu mengabari mu dimana pun aku berada...” Menganggukkan kepalanya, “Aku akan selalu menunggu kabar darimu, sayang...” Catherine meneteskan air matanya, “Aku pasti akan sangat dan selalu merindukanmu, Mom. Jangan merasa lelah jika telepon mu terus berbunyi karena ku...” ucapnya membuat tawa sang ibu terdengar. “Pasti yang terjadi kebalikannya, kau yang akan merasa jenuh saat menerima telepon dari ibumu yang cerewet ini...” ucap Kateline membuat Catherine terkekeh geli. “Tentu saja tidak, Mom..” “Ya, aku mencoba untuk percaya...” ucap Kateline tertawa sejenak, “Oh ya, apakah kau tidak memberitahukan kepergian mu pada Max?” Senyuman Catherine sontak memudar, “Aku ingin Max melupakan ku, Mom...” Kerutan samar tercipta di dahi Kateline, “Bukankah itu berarti kau sama saja menghukum seseorang yang tidak bersalah?” Catherine menggeleng samar, “Max harus melupakan ku agar dapat melihat gadis yang lebih baik daripada ku, Mom...” Kateline mengangguk samar, “Tapi apa kau tahu bahwasanya perihal hati tak ada yang dapat memaksakannya?” “Ya, aku tahu. Tapi rasa kecewa dapat menghapus rasa cinta, bukan? Aku akan membuat Max melupakan ku dan menyerah pada cintanya untukku...” “Yakin, kau tak akan pernah menyesali keputusan mu ini?” tanya Kateline memastikan. Mengangguk mantap, “Max berhak bahagia, Mom. Jadi aku mohon jangan ceritakan tentang pertemuan kita malam ini dan jangan beritahukan dia tentang keberadaan ku nantinya...” ucap Catherine penuh harap. Kateline menggeleng putus asa, “Oh Tuhan Cath, ini adalah pilihan yang sangat sulit. Max juga sudah seperti anak ku sendiri...” “Oleh karena itu, kau juga harus memikirkan kebahagiaan Max. Dia berhak melupakan ku dan melihat gadis lain yang lebih baik dariku...” ucap Catherine berkeras. Kateline menangkup wajahnya penuh kasih, “Oh Catherine, kau tetaplah gadis terbaik dimata ibumu ini...” Catherine tersenyum malu, “Kau juga adalah wanita terbaik dimata ku, Kateline. Terima kasih karena telah menguatkan hatiku untuk tidak meyerah...” ucapnya membuat sang ibu kembali memeluknya dengan erat. “Sekarang kau harus tidur, semoga hari esok yang cerah akan menyertai langkah mu dan doa ku selalu menyertaimu...” “Terima kasih, Mom...” 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN