♣️Roxanne Club♣
Pria tampan bermata hijau itu menghembuskan napasnya kasar kala melangkahkan kakinya masuk kedalam klub tersebut. Dia tahu bahwa Catherine sangat tidak suka jika dirinya tiba-tiba datang tanpa memberitahukan gadis itu sebelumnya. Tapi saat perjalanan pulang, ada sebuah perasaan yang mengganggunya.
Seperti sebuah firasat buruk...
“Aku hanya ingin melihatnya sebentar, setelahnya aku akan pulang...” gumam Max seraya menganggukkan kepalanya demi meyakinkan dirinya sendiri.
Dia menjenjangkan lehernya, melihat ke setiap penjuru ruangan demi menemukan gadis pirang kesayangannya, namun netra hijaunya tak kunjung menemukan sosok Catherine.
Hingga ia memilih duduk tepat dihadapan meja bar, Max tersenyum saat Alinski menangkap kehadirannya.
“Hey bro, ingin cocktail atau mocktail?” tawar pria berkulit gelap itu dengan senyuman manisnya.
“Berikan aku moctail seperti kemarin saja...” ucap Max canggung seraya meletakkan uangnya di meja itu.
Alinski mengambil uang itu dengan senyumannya, “Kau akan segera mendapatkannya”
Max kembali menjenjangkan kepalanya berusaha mencari keberadaan Catherine di bar ini, bahkan suasana klub yang cukup ramai dengan musik yang dentuman musik electro yang terputar tidak dapat menganggunya. Saat ini Max hanya ingin melihat Catherine dan memastikan bahwa gadis itu baik-baik saja.
“Enjoy your night, bro!” teriak Alinski seraya menyodorkan gelas mocktail itu beserta uang kembalian kepada Max.
Max pun tersenyum ramah, “Thanks bro!” balas nya singkat dan tak sempat bertanya perihal Catherine karena Alinski terlihat sangat sibuk melayani pengunjung.
“Hei Al, aku kembali!” teriak Luke membawa barel minuman bersamanya.
“Aku sudah membuatkan daftar cocktail pesanan untukmu dan Ferdinand telah membuatnya sebagian.” ucap Alinski disela kesibukannya.
“Baiklah, ah hari ini kita sibuk sekali...” ucap Luke sambil memulai pekerjaannya.
“Bukankah setiap hari kita sibuk seperti ini?” tanya Alinski menyengir geli melihat Luke yang tertawa kesal.
“Tapi sialnya kita tak kunjung juga kaya raya...” ucap Luke dengan tawanya yang khas.
Lalu tawanya terhenti saat menyadari kehadiran pria yang dia tahu adalah pacarnya Catherine, “Hei, ternyata kau disini... Eh Alinski, siapa namanya aku lupa.” ucap Luke dengan tampang bodoh nya.
“Max, nama ku Max” ucap Max tersenyum geli melihat tingkah pria itu.
“Ah ya Max, tumben kau kemari. Apakah kau sudah berjanji akan menjemput Catherine malam ini? Tapi ini masih terlalu awal untuk dia pulang.” ucap Luke seraya melihat arloji nya yang masih menunjukkan pukul 0o.53 am.
Max tersenyum malu seraya menyugar rambutnya, “Aku hanya ingin mengunjungi Catherine, oh ya dimana dia?” tanya nya membuat air muka Luke berubah.
“Apa kau tidak mengetahuinya?” tanya Luke kontan membuat dahi Max berkerut tak mengerti.
“Maaf, maksud mu apa? Dimana Catherine? Dia tak memberitahukan apapun padaku.” ucap Max sontak merasa khawatir.
Luke mencondongkan tubuhnya hingga mendekati Max untuk berbisik, “Kau tahu? Malam ini Catherine menerima pekerjaan untuk melayani tamu VIP.”
“Maksud mu?” tanya Max kian penasaran dengan dadanya yang berdebar kalut dalam rasa takut.
“Catherine melayani tamu VIP, pelayan untuk tamu VIP biasanya sudah pasti memberikan pelayanan ekstra seperti menemani minum, menari, bernyanyi, bahkan melayani urusan seks pelanggan VIP sesuai kesepakatan dan bayaran yang telah dia terima.” ucap Luke mengusapkan jari jempol pada telunjuknya.
Max mengerutkan dahinya, “Ini pasti ada kesalahan, Catherine tidak mungkin menerima pekerjaan itu, dia bahkan masih gadis, Luke!” teriaknya merasa tak terima dengan pekerjaan yang Catherine ambil.
“Aku tidak tahu, Max. Akupun mengetahuinya karena Alinski mendengarkan percakapan Stacey dengan Madeline. Memang terlalu aneh jika mereka langsung membuat Catherine yang baru saja seminggu bekerja langsung melayani tamu VIP. Apakah Catherine tidak memberitahukan padamu tentang hal ini?”
Menggeleng tegas, “Catherine tidak mengatakan apapun padaku, bahkan kami pergi makan malam bersama dan aku mengantarkannya tadi.” Max berusaha menjelaskan kepada Luke.
Luke menganggukkan kepalanya, “Itulah mengapa ku bilang kita disini tak tahu apapun. Siapa tahu demi uang Catherine meminta secara langsung kepada Madeline untuk melayani tamu VIP dan menyembunyikan semuanya darimu karena tak ingin kau menghalanginya.”
“Catherine tak mungkin seperti itu Luke! Aku yakin terjadi sesuatu yang tak beres disini...” ucap Max membuat Luke mendesah lelah.
“Tapi kita tak tahu apapun, Max. Kau hanya bisa menunggu disini sampai Catherine selesai bekerja dan bertanya yang sejelas-jelasnya pada Catherine apa yang telah terjadi.” ucap Luke membuat Max menggelengkan kepalanya.
“Bisa kau tunjukkan aku dimana ruangan VIP?” tanya Max membuat Luke tersenyum kesal.
“Kau pikir kau bisa dengan bebas memasuki ruang VIP? Kau lebih baik menunggu disini sampai pekerjaan Catherine selesai, Max. Aku harus mengurus pekerjaan ku.” tegas Luke kesal dengan Max yang terkesan keras kepala dan tak mau mendengarkan ucapannya.
“Tolong bantu aku Luke, dimana aku dapat menemui Madeline. Aku harus bertemu dengannya dan menanyakan keberadaan Catherine.” ucap Max merasa yakin bahwa wanita itu tahu dimana Catherine sekarang dan apa alasan Catherine menerima pekerjaan itu.
Luke menghembuskan napasnya kasar, “Lewati saja lorong ini. Begitu kau bertemu dengan belokan lorong pertama, ruangan Madeline disebelahnya.”
“Terima kasih, Luke!” teriak Max lantas beranjak dari tempat duduknya.
“Tapi kau harus ingat, Max. Jangan buat keributan atau tubuh mu akan binasa oleh para bodyguard disini.” ucap Luke memberikan peringatan untuk Max.
Max menganggukkan kepalanya, “Akan ku pastikan itu. Sekali lagi, terima kasih atas kebaikan mu, Luke.” ucap Max seraya berlalu.
Luke mengusap wajahnya kasar, “Apakah aku sedang membuat masalah?” tanya nya dalam gumaman.
“Sepertinya informasi yang ku dapatkan membawa masalah...” gumam Alinski membuat Luke menganggukkan kepalanya.
“Firasat ku mengatakan sesuatu yang buruk memang sedang terjadi...”
“Kita hanya bisa berharap serumit apapun itu, semuanya akan baik-baik saja. Terutama keadaan Catherine.” ucap Alinski menimpali.
Luke tercenung seraya mengusap dagunya, “Tapi jika ku pikir-pikir bukankah ini aneh?”
“Maksud mu?” tanya Alinski menjadi sangat penasaran.
“Rasanya tidak masuk akal jika Catherine tidak tahu posisi pekerjaannya minggu ini. Bukankah besar kemungkinan dia mengetahuinya dan menyembunyikan semua itu dari sahabatnya?”
“Apakah kau sedang berlagak menjadi detektif, Luke?”
“Tidak begitu bodoh, semua kemungkinan bisa saja terjadi.”
“Diamlah, kita semua tahu bagaimana polos nya Catherine. Jangan menuduhnya.” Alinski menekankan ucapannya dengan kesal.
Berdecak kesal, “Aku tidak menuduhnya, bodoh!”
“Jika kau membuat kemungkinan dan kemungkinan di kepala mu, sama saja kau secara tidak langsung memberikan tuduhan padanya.”
“Hei-yak! Sampai kapan kalian akan terus berdebat, hah? Ayolah bantu aku, pesanan yang masuk sudah sangat banyak!” omel Ferdinand kepada mereka.
Luke berdecak kesal, “Ya Alinski, berhenti mengajak ku berdebat. Pekerjaan kita jauh lebih penting.” ucap Luke berlalu seraya mengangambil lembar pesananan minuman beralkohol dan segera membuatnya.
=
Sementara di dalam sana, Max menatap daun pintu itu dengan canggung setelah mengetuk nya sebanyak dua kali.
“Siapa?!” teriak suara wanita dari dalam sana membuat Max berpikir sejenak.
“Aku perlu bertemu denganmu sebentar, bisakah aku masuk?” tanya Max lalu senyap kemudian.
Wanita itu tak memberikan jawaban sama sekali, Max pun berniat mengetuk kembali pintu tersebut, namun pintu itu terbuka.
Cklek! Kriiieeet...
Wanita berkacamata itu menatapnya dengan seksama, menatapnya dengan penuh penilaian dan hal itu membuat Max merasa sangat canggung.
“Maaf, menganggu anda...”
“Anda siapa dan ada keperluan apa mencari ku?” tanya Madeline dingin membuat Max meneguk ludahnya kasar.
“Nama ku Max Swan. Aku adalah saudara Catherine.” Max memperkenalkan diri dengan memalsukan sedikit memalsukan identitasnya.
Madeline sedikit terkejut, namun dia berusaha menyembunyikan semua rasa terkejutnya dengan membenarkan kacamata nya.
“Ada keperluan apa kau kemari?” tanya Madeline datar.
“Aku harus bertemu dengan adik ku, Catherine. Aku harus menyampaikan informasi penting tentang kesehatan ibu kami.” ucap Max berbohong dengan begitu lancar.
“Catherine sedang tidak bisa ditemui sekarang.” tegas Madeline.
Max membelak tak percaya, “Mengapa Catherine tak bisa ditemui? Bukankah dia hanya bekerja sebagai pelayan disini?” tanya nya dengan nada marah.
“Catherine memang sedang bekerja dan dia tak bisa ditemui. Itu sudah ketentuan dari pemilik tempat ini!” tegas Madeline mulai merasa kesal.
“Apakah karena kau sedang menjual Catherine kepada p****************g di dalam sana?” tanya Max dengan suara yang semskin meninggi.
“Sebaiknya kau menjaga sikap mu, Max! Sudah ketentuan disini bahwa pelayan untuk tamu VIP tidak bisa meninggalkan pekerjaannya sebelum tamu kami pulang.”
“Tamu VIP? Apa kau yang memaksa Catherine melayani tamu VIP mu?”
Rahang Madeline kontan mengeras, “Sebaiknya kau menjaga ucapan dan tingkah laku mu disini, atau pihak keamanan akan menyeret mu keluar!” teriak Madeline marah.
“Katakan aku dimana ruangan VIP itu, hah? Kalian pasti telah memaksa Catherine untuk melayani tamu VIP kalian!” teriak Max membuat Madeline mendengus kesal.
“Catherine sendiri yang meminta bagian itu pada Madame Pixie. Kau bisa tanya sendiri padanya saat dia pulang nanti!”
Mencengkram kerah blazer yang wanita itu kenakan, “Aku tidak ingin menunggu! Aku hanya perlu bertemu dengan Catherine sebentar saja!”
“Hentikan,sialan!” teriak Madeline menarik tangan Max hingga terlepas dan mendorong tubuh pria itu, lalu secepat kilat menutup pintu ruangannya.
“Hei Madeline! Buka pintu mu! Beritahukan padaku dimana ruangan VIP itu atau aku akan mencarinya sendiri! ” teriak Max penuh ancaman seraya menggedor-gedor pintu ruangan kerja wanita licik itu.
“Pergi kau dari sini, sebelum petugas keamanan menyeret mu keluar!” teriak Madeline dengan terburu-buru menelpon pihak keamanan.
Max menendang pintu ruangan wanita itu dan berlari kedalam Klub tersebut untuk mencari keberadaan Catherine. Namun, belum jauh dia berlari, seseorang menarik kerah bajunya dan menghantam wajahnya dengan tinjuan dan memukul tubuhnya bertubi-tubi.
Duak!
Dugh!
Brugh!
“Hentikan! Aku hanya ingin mencari Catherine!” teriak Max membuat beberapa pria bertubuh tinggi besar itu terus memukulnya tanpa henti.
“Kau tidak bisa membuat keributan disini, anak muda!” teriak seorang pria paruh baya bertubuh tinggi besar menyeret tubuh Max keluar.
Max hanya pasrah dengan wajahnya yang terasa sangat kebas. Pria itu melemparkan tubuhnya ke jalanan sepi tepat diarea parkir klub tersebut.
“Bukankah kau Mr. Brooke yang biasanya berbicara dengan Catherine? Aku harus menemukan Catherine, mereka mungkin saja telah memaksa Catherine secara sepihak untuk melayani tamu VIP mereka.” ucap Max masih berkeras dengan apa yang dia yakini.
“Pulang lah, Max. Pekerjaan diruangan VIP selalu terjadi atas kesepakatan pekerja dan Madame Pixie. Aku sudah berhasil menyeret mu keluar dari kebrutalan para penjaga keamanan lainnya. Jika kau masuk kedalam, aku tak tahu apa yang akan terjadi denganmu.”
“Tapi aku harus memastikan keadaan Catherine Mr. Brooke!” teriak Max berkeras.
“Ini bukan waktunya untuk menjadi keras kepala, Max. Jika kau membuat pemilik tempat ini marah, bisa saja semu itu akan berdampak buruk bagi Catherine.”
“Bagaimana jika mereka memang sedang melakukan hal buruk terhadap Catherine di dalam sana?” tanya Max masih dalam keadaan emosi yang memuncak.
“Dan apa kau tidak berpikir, bagaimana jika sesuatu yang buruk terjadi padamu? Catherine pasti akan terluka karena merasa bersalah padamu. Semua tukang pukul disini tak pernah main-main jika kau membuat mereka marah. Dengarkan aku, lebih baik kau pulang dan saat bertemu dengan Catherine, aku akan menyuruhnya untuk menghubungimu.” ucapan Mr.Brooke terlihat berhasil menasehati Max.
Dengan perasaan bimbang dan langkah terseok, Max meninggalkan tempat sialan itu. Demi apapun, Max akan meminta Catherine meninggalkan pekerjaannya ini sesegera mungkin.
Brooke mengusap wajahnya kasar, hanya ini yang bisa dia lakukan. Dirinya pun terkejut saat mendengar kabar bahwa Catherine melayani tamu nomor satu di klub ini yang tak lain dan tak bukan adalah Alexander Murich.
Entah apa yang terjadi dengan Catherine saat ini. Tidak ada yang mengetahuinya...
===
Pagi hari pun menyapa...
“Bahkan kita tak melihat Catherine lewat sama sekali...” gumam Luke membuat Alinski mengangguk setuju.
“Apakah dia sudah pulang melalui jalan lain?”
“Segalanya terasa sangat aneh...” gumam Luke pelan.
=
Catherine masih terlelap dalam semua kehancurannya malam tadi. Tubuh ringkihnya yang tertidur dalam keadaan kotor tana sehelai benang pun kini terbalut selimut dengan rapi.
Perlahan tapi pasti, Catherine pun menemukan kesadarannya dalam geliat tubuhnya yang terasa tak berdaya diseluruh bagian.
“Sialan...” gumam Catherine mengusap matanya dengan punggung tangannya.
Rasanya dia tak ingin bangun dan ingin mati saja secepatnya. Dirinya dan hidupnya telah hancur dalam jebakan yang dibuat oleh Madame Pixie. Catherine bersumpah tak akan menginjakkan kakinya sekalipun disini. Tempat terkutuk yang telah menghancurkannya.
Membawa tubuhnya yang terasa begitu berat untuk bangkit, Catherine mengusak rambutnya kasar. Rasa perih dipusat tubunya pun terasa megitu nyata. Dia pun memeluk lututnya erat dan menangis sekeras-kerasnya yang dia bisa.
Semua hinaan yang ibunya terima dulu, kini seolah-olah dapat terdengar untuknya sendiri. Wanita jalang yang kotor dan tak memiliki masa depan. Catherine meremas tangannya erat, mengapa dia harus menerima klaim sialan yang mengatakan bahwa dirinya tak memiliki masa depan?
Dia sudah melangkah sejauh ini, bahkan sudah terlalu jauh. Dia tak ingin kalah dengan takdir sialan yang terus berusaha membuatnya jatuh dan terpuruk.
Catherine beringsut bangun, dapat dia lihat barang-barangnya terletak di meja. Dia akan membersihkan diri dan meminta uangnya atas pekerjaannya malam ini. Catherine akan melarikan diri dengan uang itu.
Dahinya pun berkerut saat menemukan sebuah amplop yang terletak di meja itu, Catherine segera membukanya. Sebuah buku tabungan bank dan sebuah kartu atm, matanya pun membelak setelah mengetahui nominal fantastis yang tertera disana. Dia pun menemukan secarik surat di dalam amplop itu.
Terima kasih telah melayani Mr. Murich dengan baik, Caherine. Dia memberikan bayaran yang cukup besar, bayaran itu kita bagi sama besarnya. Aku berinisiatif membukakan kau rekening tabungan dengan uang muka yang dia berikan di awal dan pembayaran sisanya adalah milik ku. Kau bisa pulang dan beristirahat tanpa perlu datang bekerja. Aku akan menghubungimu jika Mr. Murich membutuhkan mu lagi. Aku akan mengirimkan uang muka yang dia berikan melalui rekening bank mu.
Best regards, Pixie J
“Dasar psikopat gila...” desis Catherine mengatai wanita gila itu.
Sudut bibirnya pun tertarik samar dalam kesedihannya saat melihat kembali nominal yang tertera dibuku bank nya. 1,5 juta dolar adalah angka yang sangat besar, bahkan bertahun-tahun dia bekerja tak akan mungkin dia kumpulkan uang sebanyak ini dalam setahun.
Catherine mengusap air matanya, air mata tak akan memperbaiki apa yang telah terjadi. Dengan uang ini dia akan pergi memulai hidup baru di Los Angeles, dia pun berniat akan mengirimkan kepada ibunya secara berkala.
Catherine pun memilih untuk mandi agar dapat segera meninggalkan tempat terkutuk ini. Bukan karena dirinya yang terlalu matrealistis, begitu melihat uang langsung merasa baik-baik saja. Catherine hanya ingin bertindak secara realistis.
===
“Catherine?!” teriakan Max membuat Catherine terperanjat kaget saat dirinya keluar dari taksi.
“Max?” gumamnya tak percaya.
Max menahan pundaknya dan menelusuri tubuhnya dari atas sampsi bawah, “Apa kau baik-baik saja, Cath?”
Catherine berusaha menahan air mata bodohnya seraya menyentuh pipi Max yang terlihat lebam, “Apa yang terjadi dengan mu, Max?”
“Aku yang seharusnya bertanya padamu, Cath. Mengapa kau mengambil pekerjaan seperti itu?” tanya Max membuat Catherine meneguk ludahnya kasar.
“Kau mengetahuinya?” tanya Catherine membuat Max mengangguk.
“Mengapa kau memilih untuk bekerja menjadi pelayan untuk tamu VIP? Kau baik-baik saja, kan?” tanya Max meneteskan air matanya.
“Aku baik-baik saja, Max. Melayani tamu VIP tidak jauh berbeda dengan menjadi pelayan bar. Hanya saja bayarannya lebih besar...” ucap Catherine berusaha untuk tersenyum seperti biasanya.
“Apakah uang menjadi begitu penting bagimu?” tanya Max menatap Catherine dengan tatapan kecewa.
“Tentu saja Max, aku membutuhkan uang untuk meninggalkan kota sialan ini...” ucap Catherine berusaha untuk tidak menangis meski hatinya merasa sangat sakit saat melihat air mata Max yang jatuh.
“Tega sekali kau tidak memberitahukan nya padaku, Cath.” ucap Max dengan air matanya yang tak henti jatuh.
“Mengapa aku harus memberitahukan segalanya padamu, Max?” tanya Catherine dengan mata berkaca-kaca.
“Hatiku merasa tak nyaman, Cath! Aku mengunjungi klub agar dapat bertemu dengan mu dan memastikan kau baik-baik saja. Tapi apa yang ku dapat, Luke bilang Alinski mendengarkan percakapan Stacey dan Madeline bahwa kau bekerja menjadi pelayan tamu VIP. Semua orang berpikiran negatif tentang mu, aku berusaha mencarimu dan mendatangi ruangan Madeline, tapi dia tak membiarkan ku menemukan mu dan menyuruh keamanan untuk memukul ku! Mungkin jika tak ada Mr. Brooke aku sudah mati sekarang...”
Catherine meneteskan air matanya, “Mengapa kau seperti ini Max? Mengapa kau membahayakan dirimu sendiri?!” teriaknya kesal.
“Aku mengkhawatirkan mu, Cath! Apa sulit bagimu untuk mengerti?” tanya Max membuat Catherine menggelengkan kepalanya.
“Kau membuatku takut, Max...” gumam Catherine membuat Max membelak tak percaya.
“Mengapa kau harus takut dengan ku, Cath? Kau seharusnya merasa takut dengan semua orang yang ada di klub itu, bisa saja mereka menipu dan menjual mu kepada p****************g!” teriak Max kini merasa kesal dengan Catherine.
“Ini hidup ku, Max! Berhenti mengaturku!”
“Aku mencintaimu, Cath. Aku ingin selalu menjaga dan melindungi mu...” ucap Max membuat Catherine menolak tubuh Max.
“Berhenti mencintaiku, Max!” bentak Catherine kesal.
“Mengapa kau selalu bertindak menyalahkan ku, Cath?” tanya Max tak mengerti.
Catherine menggeleng samar, “Hentikan perasaan mu, Max. Kau benar-benar sudah membuatku muak...” ucapnya melangkah mundur dari Max.
“Cath...”
“Pergi dari sini, Max dan jangan temui aku lagi!” teriak Catherine berlari pergi meninggalkan Max.
Max membeku ditempatnya, otaknya seakan macet untuk memikirkan apa kesalahan yang telah ia perbuat hingga Catherine merasa pantas untuk memarahinya.
Max menepis air matanya, mungkin sekarang Catherine sedag begitu Emosional padanya. Nanti pasti gadis itu akan kembali berbaikan dengannya. Yang paling penting sekarang adalah dia telah memastikan bahwa Catherine baik-baik saja.
Dengan air mata yang tak henti mengalir, Catherine memasuki lift yang terbuka untuknya. Di lift kosong itu, Catherine menyandarkan tubuhnya dan membiarkan tubuhnya merosot jatuh di lantai. Dia pun menangis sekencang-kencangnya.
Memukul dadanya yang terasa sakit, menenangkan hatinya yang telah hancur kini menjadi semakin hancur karena harus melukai Max. Lagi dan lagi. Mungkin mereka memang tidak ditakdirkan untuk bersama. Max layak mendapatkan gadis yang sempurna dan lebih baik.
Sekarang dirinya hanya bisa menata kembali hidupnya yang telah hancur, meninggalkan semuanya dan memulai segalanya seorang diri.
Apa yang telah terjadi tak akan mungkin dia ubah dan apa yang telah hancur tak mungkin dia perbaiki. Dia hanya bisa membenahi diri untuk menjadi apa dirinya di masa depan. Catherine ingin Max melupakannya, melupakan gadis bodoh yang hanya mampu melukai pria yang sangat mencintai dan menyayanginya.
Max tidak layak untuknya...
Lift berdenting dan terbuka berulang kali karena dia tidak menekan tombol apapun disana. Hingga seorang wanita paruh baya memasuki lift tersebut dan bertanya padanya, “Nona, apa kau baik-baik saja?”
Catherine mengangkat kepalanya, menatap wanita itu dengan mata sembabnya. Dia pun menyebutkan dimana lantai apartemen Cecilia berada dan wanita itupun menekankan tombol lift untuknya.
“Aish, anak muda zaman sekarang memang rentan depresi karena pergaulan tanpa batas...” gumam wanita itu begitu Catherine meninggalkan lift tersebut.
Catherine tersenyum miris, selalu tidak ada orang yang benar-benar peduli terhadap orang lain di dunia ini. Mungkin termasuk dirinya sendiri juga pernah memperlakukan orang lain seperti itu. Ya, dirinya selalu memperlakukan ibunya seperti itu, tidak peduli apa alasan ibunya memilih menjadi pekerja seks komersial sebagai jalan untuk mencari uang. Dirinya bahkan berada di barisan yang sama dengan orang-orang yang selalu mencemooh ibunya.
Apakah yang dia alami saat ini merupakan sebuah karma yang sedang berlaku untuknya?
Catherine menepis air matanya, “Aku benar-benar sangat menyesal karena selalu menyakitimu, Mom...” gumamnya dengan langkah lunglai menuju ke apartemen Cecilia.
Dia akan membayar Cecilia dan meninggalkan apartemen wanita itu, seburuk apapun perangai atau pribadi Cecilia, wanita itu juga telah berperan baik dalam pelariannya selama beberapa minggu ini.
Waktu berjalan begitu lambat, namun telah banyak cerita baik dan buruk yang telah terjadi padanya. Ternyata, sejatinya kehidupan sungguh sangat menyeramkan.
Entah takdir kelam apalagi yang harus dia hadapi beberapa waktu kedepan. Catherine hanya dapat berserah pada takdir.