Part 13. Not Really Bad...

2174 Kata
Suara nyanyian burung terdengar begitu riuh, bergabung bersama sorak-sorai suara ombak pantai dan gesekan daun kelapa yang diterpa angin diluar sana. Catherine menggeliat saat kesadaran mulai menariknya untuk meninggalkan alam mimpi, "Selamat pagi dunia, selamat pagi diri sendiri…" gumamnya seraya meregangkan otot-otot tubuhnya. Mengusap wajahnya seraya duduk di tepian ranjang yang langsung membuatnya bertemu cermin, Catherine mengusap wajahnya kasar lalu tersenyum bodoh saat melihat matanya yang membengkak karena sisa tangis malam tadi. "Jangan menangis lagi, Cath. Tidak akan ada hal buruk yang terjadi. Semuanya akan terlewati dengan baik…" gumam Catherine meyakinkan dirinya sendiri. Menggapai gelas kosong dan menuang air mineral disana, Catherine meminum air itu dalam satu tegukan untuk pelepas dahaganya setelah mengarungi alam tidur yang cukup melelahkan. Dering ponselnya menginterupsi, dengan cepat Catherine menjawabnya. "Ya?" "Selamat pagi, Ms. Catherine Swan. Saya Sheryl dari SD Green Pacific yang di tunjuk oleh Blake Property Agent untuk mengurus unit hunian yang anda inginkan. Berkas-berkas kotrak anda akan dikirimkan siang nanti untuk di tanda-tangani. Apakah anda ingin langsung menempati rumah sewa anda hari ini?" tanya wanita itu membuat Catherine mengangguk antusias. "Tentu saja, apakah rumah siap huni untuk ku telah tersedia?" "Ya, petugas sedang mengecek peralatan elektronik dan beberapa perabotan sesuai permintaan anda, rumah itu akan siap huni. Nanti saat aku berkunjung ke tempat anda menginap, saya akan langsung mengantarkan anda ke rumah yang akan siap huni sesuai pesanan anda." "Baiklah, terima kasih banyak telah menghubungi ku secepat ini." ucap Catherine mendapatkan jawaban tak kalah ramah diseberang sana. "Terima kasih kembali, Ms. Swan. Aku akan menghubungi anda lagi sesampainya disana. Sampai jumpa, semoga pagi anda menyenangkan." Pip! Catherine tersenyum saat panggilan itu terputus dengan pipi yang merona merah karena bahagia, “Kau benar, Sheryl. Pagi ini sangat menyenangkan!!” dia berteriak seraya berlari melompati sofa empuk hotel itu bagai anak kecil. "Wohoo!! Yeay!!" "Thanks God!" teriak Catherine berakhir menghempaskan tubuhnya di sofa empuk itu menggoyangkan kakinya seraya bersenandung kecil. "Ini pagi yang indah, tidak terlalu buruk…" gumam Catherine berusaha meyakinkan dirinya sendiri. Berharap tak ada yang mengusiknya, berharap tak ada yang mengganggu hidupnya lagi dan yang terpenting tidak ada yang menyadari kepergian nya ke San Diego dengan identitas sang ibu. Catherine menatap ponselnya seraya berdecak pelan. Untuk saat ini dirinya tak bisa menghubungi sang ibu, kini dia sangat berharap ibunya baik-baik saja di New York. Mengangguk yakin, “Ya, semuanya akan baik-baik saja...” gumam Catherine menghembuskan napasnya kasar. mengetuk-ngetuk dagunya seraya berpikir, "Sembari menunggu siang nanti, bagaimana sekarang kita bermain ke pantai dan mencari sarapan yang enak?" gumam Catherine pada dirinya sendiri sembari menganggukkan kepalanya mantap. Dia pun berlari ke kamar mandi untuk bersiap, ini hari pertamanya menikmati kehidupan baru di San Diego. Tak ada yang bisa mengganggunya lagi mulai saat ini. Catherine akan hidup 1000 kali lipat lebih kuat dan bahagia mulai sekarang… "Catherine Swan adalah wanita yang kuat…" gumam Catherine tersenyum seraya menatap cermin wastafel kamar mandi itu. Membasuh wajahnya dan melanjutkan mandi, bersiap untuk bersenang-senang pagi ini. *** Gemertak gigi terdengar, mata kelam itu menatap jauh kedepan. Tanpa banyak kata, tanpa ada ekspresi yang berarti kecuali wajah seseorang yang ingin menelan seseorang lainnya hidup-hidup. Suasana hati Alexander Murich sungguh sangat buruk sejak mendapatkan kabar bahwa Catherine menghilang. Barang yang baru saja dia miliki dan sangat dia sukai. Wanita itu sungguh lancang karena berani pergi setelah dia membelinya dengan harga yang cukup fantastis. "Semua manusia memang sangat sulit diatur jika tidak diberikan pelajaran untuk patuh…" gumam Alexander dengan napasnya yang berhembus kasar. "Apakah kau ingin memelihara yang lainnya? Corgi, siberian husky, si imut chihuahua atau poodle? Ah beagle saja, lebih gampang diajar dan tidak manja. Bagaimana?" tanya Benedict Charlos tiba-tiba membuat Alexander menatapnya tak suka. "Apa yang kau lakukan disini?" tanya Alexander dingin dengan tatapan matanya yang sangat tajam nan menusuk. "Aku ingin melihat apakah kau sudah menemukannya?" tanya Benedict menyesap pipa tembakau-nya pria itu memang memiliki selera yang klasik. "Apakah kau ingin menjadi pelampiasan amarah ku sekarang?" tanya Alexander dengan rahang mengeras. "Wow, kau terlalu cepat marah dan bertindak kasar, sobat. Kau lihat, wanita yang menjadi pelampiasan mu malam tadi mengalami patah tangan. Kau benar-benar sudah gila…" ucap Benedict Charlos tak habis pikir melihat sahabatnya yang berhati dingin itu. Menatap tajam kearah rekan baiknya itu, "Apakah perlu diajarkan untuk tahu tempat saat berbicara?” tanya Alexander penuh intimidasi. “Eum, aku hanya memberitahukannya padamu apa yang telah terjadi...” ucap Benedict sedikit tergagap. “Aku memiliki satu set pisau tajam yang dapat memutuskan lidah mu dalam satu kali sayatan…" desis Alexander memancarkan aura dinginnya yang mungkin saja siap untuk membunuh. Bergedik ketakutan, "Wait, calm down ma bro!" seru Benedict menggaruk kepalanya, "Ah ya, sepertinya aku lupa menandatangani surat izin pemeriksaan. Aku pergi sekarang…" ucap pria bermata biru itu dengan segera menghilang dari hadapan Alexander yang tak memiliki selera apapun selain membunuh seseorang. Dengan rahang mengeras, dia menghembuskan napasnya kasar saat menelisik tak ada laporan apapun yang dia dapatkan pagi ini. Geraman marah seiring dengan nada panggilan tersambung yang terdengar samar, “Bagaimana?” tanya nya begitu panggilan tersambung. “Kami telah mendapatkan rekaman CCTV saat target keluar dari apartemen menaiki taksi kearah pusat Midtown. Sekarang kami sedang menunggu semua hasil rekaman CCTV jalan raya, pelabuhan dan bandara dihari yang sama dikumpulkan dan akan segera mencarinya.” jelas seseorang diseberang sana mengenai tugasnya. “Aku tunggu sampai pukul tujuh malam, jika kalian belum berhasil menemukan jejak pastinya, aku akan memerintahkan orang lain dan kau tahu apa yang bisa terjadi dengan kalian” desis Alexander memutuskan panggilan tersebut tanpa ingin berkompromi lebih banyak. Dia tak ingin emosinya telah muak dalam penantian dan siap menghabisi siapapun... Meghembuskan napasnya kasar, “Kau akan menyesal karena telah melakukan semua ini, Chatherine Swan...” desis Alexander seraya menatap layar komputerya yang memuat rekaman CCTV apartement dimana gadis lancang itu keluar melalui pintu tangga darurat di lantai 17 apartemen itu, lalu berjalan memasuki lift. Dia hanya membawa diri dan tas selempang yang bertengger manis dipundaknya. Alexander ingin berada disana dan menarik rambut gadis pirang itu untuk sadar akan aksi gilanya untuk pergi begitu saja. “Kau milik ku, Catherine Swan...” desisnya dengan amarah yang tela berada di ubun-ubun. *** “Kau milik ku, Catherine Swan...” Catherine terkesiap dari lamunannya saat suara b******n bernama Alexander Murich malam itu terngiang ditelinganya diiringi dengan malam bagai neraka waktu itu terputar diingatannya. Menggeleng kuat “Hilangkan semua nama itu dari ingatan mu, Cath!” bentak Catherine menepuk pipinya kuat, tak peduli jika pipinya yang mungkin telah memerah akan memar nantinya. Catherine meminum orange splashnya demi mewaraskan diri, dia berada di cafe yang berada ditepan Pacific Beach setelah lelah mengitari butik-butik yang berada di sepanjang Mission Blouvard dan jalanan sekitar untuk membeli beberapa helai baju dan bahan makan untuk beberapa hari kedepan saat dirumah barunya nanti. Catherine tersenyum saat seorang pria bertubuh atletis dengan papan selancar ditangannya menghampiri meja dimana dia duduk. “Hai..” sapa pria itu dengan senyuman manisnya. “Hai..” balas Catherine canggung. “Bolehkah aku duduk disini?” tanya pria tampan itu membuat Catherine menatap kesekitar seraya berpikir. “Dimana-mana penuh, semua orang sedang dengan urusan perut mereka masing-masing dan aku juga sudah sangat lapar.” ucap pria itu membuat Catherine tertawa canggung. “Duduklah...” ucap Catherine membuat pria itu dengan senang hati duduk di kursi tepat dihadapannya. Sesungguhnya dia merasa malu untuk duduk bersama orang asing, sedanglkan saat ini dia hanya memakai tanktop tanpa tali dengan rok yang sangat pendek. Terlebih dia tidak mengenakan bra karena semua orang terlihat seperti itu disini. “Oh ya, siapa namamu? Namaku Bryan” ucap pria itu dengan tangan terulur kearahnya. Masih dengan senyuman canggung yang sama Catherine menyambut uluran tangan tersebut, “Catherine...” ucapnya membuat pria itu tersenyum semakin manis seperti dibubuhi gula. “Nama yang indah seperti dirimu...” ucap pria itu membuat Catherine mengumpat dalam hati, sepertinya kini dia telah bertemu dengan buaya darat original. Bukan barang tiruan. Tersenyum tipis, “Silakan lanjutkan makan siang mu, aku harus pergi.”ucap Catherine berdiri dari duduknya. Melihat hal itu membuat Bryan berdiri dari duduknya, “Apakah aku mengganggu mu, Cath?” tanya Bryan membuat Catherine menggelengkan kepalanya. “Aku memang memiliki janji dengan seseorang selepas jam makan siang. Lanjutkan saja makan mu...” ucap Catherine hendak pergi, namun tangan pria yang memiliki netra sebiru matanya itu berhasil menangkap pergelangan tangannya. “Aku tahu kau tidak nyaman bersama dengan orang asing sepertiku, tapi jujur aku sangat senang dapat bertakdir untuk berkenalan denganmu.” ucap pria tampan itu disertai senyuman manisnya. Catherine yang terlalu naif dan polos begitu mudahnya jatuh dalam pesona pria tampan berlabel ‘baik’, senyumannya pun turut merekah tanpa menunggu. “Aku harus pergi, sekarang...” ucap Catherine merasa ingin menghilang begitu saja dari hadapan pria itu. Dia yakin, saat ini wajahnya telah memerah bagai lobster rebus yang berada di piring pria itu. “Bolehkah aku mengetahui nomor ponsel mu? Aku hanya liburan disini, aku dari Arizona dan akan menyenangkan jika memiliki seorang teman...” ucap pria tampan itu membuat Catherine menggeleng samar. “Aku juga pendatang dari, New York. Jadi, aku tak begitu tahu tempat ini...” ucap Catherine menggigit tipis bibirnya dalam bimbang. “Kita bisa menjadi teman dan aku bukan pria yang lancang untuk bertindak macam-macam dengan seorang teman wanita ku...” Catherine kembali terjebak dalam hatinya yang sedang berkompromi, “ Maaf, aku harus pergi sekarang...” ucapnya seraya menarik lepas tangannya. Catherine memutar tubuhnya dan berjalan pergi menjauhi pria itu dengan segala pesona yang terlalu menggugah minat. Catherine tidak ingin dengan mudah terikat dengan kebaikan seseorang. Dia tak ingin pada akhirnya kembali di manfaatkan dan di bodohi oleh seseorang yang bersembunyi dibalik topeng yang terlihat sangat baik. Bryan mengusap tengkuknya seraya memperhatikan Catherine yang berlalu pergi, “Apakah wajah ku terlihat seperti orang jahat?” tanyanya pada diri sendiri berakhir mendesah lelah, “Tuhan, perlihatkan takdir mu, pertemukan kamu lagi...” gumam pria tampan berambut pirang dengan mata birunya yang secerah langit siang ini. *** “Baik, terima kasih. Pembayaran tunai darimu telah saya terima.” ucap wanita itu menjabat tangan Catherine yang membalas jabat tangannya. “Apakah kau ingin minum sesuatu?” tanya Catherine memperhatikan wanita itu membereskan berkas-berkas kedalam tas map nya. “Terima kasih, Ms. Swan. Saya sudah cukup meminum kopi saat di hotel tadi. Baiklah, saya harus bertemu dengan klien lainnya, saya harap anda betah disini dan jangan sungkan untuk menelpon jika anda merasa butuh bantuan dari saya.” ucap wanita Latin itu membuat Catherine tersenyum senang. “Ya, tenang saja. Aku sangat dengan rekomendasi unit yang kau pilihkan. Pemandangan laut yang cukup menyenangkan diruang bersantai dan kamar ku. Tempat ini sungguh sangat sempurna...” ucap Catherine seraya menelusuri seluruh pintu kaca rumah itu seolah tanpa lelah mengulang ucapannya. “Kepuasan klien adalah kepuasan mutlak bagi kami. Saya akan pergi sekarang...” ucap wanita bernama Sheryl itu begitu Catherine membukakan pintu rumahnya. “Take care, Sheryl!” teriak Catherine melambaikan tangannya pada saat mobil wanita itu menghilang dari pandangan matanya. Catherine tersenyum senang seraya memasuki rumahnya, “Aku sangat menyukai rumah ini...” gumamnya berjalan dengan senandung bahagia ke dalam kamarnya. Dia akan tidur sebentar sebelum mengemasi pakaiannya kedalam lemari dan memasak makan malam untuknya. Catherine menghempaskan tubuhnya seraya menatap langit-langit kamar, “Sudah begitu banyak hal yang telah ku lalui dalam waktu singkat. Sejak pertengahan September hingga awal bulan Oktober. Pahit dan manis kehidupan telah dia temui. “Aku harap ini adalah tempat terakhir dimana aku berlari. Aku ingin membangun sebuah hidup baru yang menyenangkan disini, Tuhan tolong lindungi kami...” ucap Catherine mengepal tangannya dalam doa hingga air matanya menetes begitu saja. Dia berharap kali ini takdir Tuhan tak mematahkan harapannya... *** Trak! Trak! Benedict mengerenyit waspada saat mendengarkan bunyi peregangan tulang leher Alexander, “Apakah kau berniat membunuhnya?” tanyanya berhati-hati. Alexander melemparkan tatapan tajam kearahnya, “Apakah menurutmu seseorang wanita tak tahu beruntung yang melarikan diri setelah mendapatkan uang ku harus menikmati hidupnya tanpa sedikit pun rasa menyesal?” tanyanya dingin. “Kau bahkan sudah tahu bahwa dia itu hanya seorang gadis tak berdosa yang di jebak oleh Pixie. Dia menjual dirinya padamu bukan atas kemauannya, tapi Pixie yang menipu dan menjualnya. Wajar saja dia ingin lari, setelah kehilangan kesempurnaan dirinya, apa kau pikir dia hanya akan seperti kedelai dungu yang di rantai kakinya dan di perbudak hanya demi uang. Dia tak memiliki ambisi untuk uang yang banyak jika kau kembali menyeretnya dalam jerat mu, dia pasti akan kembali menghilang.” ucap Benedict membuat Alexander tertawa. “Ya hahahaha!! Kau benar-benar pintar, Ben. Bagaimana aku juga memberikan shock therapy untuknya nanti?” tanya Alexander berdiri dari duduknya saat ponselnya berdering. “Ya, aku akan segera ke lokasi...” ucap Alexander memutus panggilan itu sepihak. Benedict berdecak kesal, “Kau selalu bertindak seperti monster saat ingin memiliki sesuatu. Semoga Sang pencipta melindungi mu, Cath...” gumamnya tak memiliki kuasa untuk menghentikan Alexander dengan segala keinginannya. Pola didik orangtuanya yang salah dan masa lalu yang menyakitkan telah membuat Alexander Murich tumbuh menjadi sosok monster yang sangat menakutkan...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN