Max menghembuskan napasnya lelah, sudah lebih dari 2 hari dia tidak bekerja, duduk termangu tanpa kata dan terus memikirkan Catherine bagai tak kenal lelah.
Semuanya terkesan aneh dan tak masuk akal, terlebih sikap Catherine padanya. Apakah dia melakukan sebuah kesalahan ataukah Catherine melakukan kesalahan yang tak boleh dia ketahui?
Perilaku Cecilia yang terkesan tak biasa dan kini menghilang tanpa jejak sama sekali, apalagi kini setelah perdebatan mereka kemarin, Kateline padanya yang menjadi dingin dan tidak bersahabat. Dirinya benar-benar bingung apa yang sebenarnya telah terjadi.
Flashback on
Sore itu tidak seperti biasanya, Max pulang setelah bekerja berinisiatif membelikan pastrami sandwich kesukaan Kateline. Sejak Catherine menghilang, menjadi sebuah kebiasaan bagi Max mengunjungi Kateline demi mendapatkan kabar tentang gadis itu.
Kateline mengatakan Catherine menghubunginya dan gadis itu baik-baik saja, hanya membutuhkan waktu untuk menyendiri beberapa waktu. Dari kabar itu, Max optimis beberapa waktu kedepan, dia pasti akan menemukan Catherine.
Dahi Max lantas berkerut saat melihat rumah Kateline tertutup rapat dan tak ada tanda-tanda siapapun yang berada disana. Dia pun menghembuskan napasnya pelan seraya melihat bungkusan makanan ditangannya, berharap Kateline ada dirumah dan makanan yang dia beli tak akan terbuang sia-sia.
Tok!
Tok!
Tok!
“Kate, apa kau ada dirumah?!”, seru Max diiringi dengan ketukan pintu.
“Kate, aku membawa sandwich untukmu!” teriak Max lagi dengan tangan yang masih tetap konsisten mengetuk pintu rumah itu.
“Ya, sebentar!” teriakan Kateline membuat Max tersenyum lega. Wanita paruh baya itu ada dirumahnya.
Cklek! Krieet...
“Ah ternyata kau sudah pulang bekerja Max. Dia anak tetannga ku...” ucap Kateline tersenyum hambar pada pria-pria berperawakan tinggi besar dengan setelan jas serba hitam yang mereka kenakan.
“Kami akan kembali lagi jika kau-”
“Ah ya, aku sudah bilang bahwa sekarang kalian adalah pelanggan tetap ku, silakan telepon aku jika kau memerlukan ku...” ucap Kateline dengan senyuman genitnya.
Max tertegun sejenak melihat keadaan Kateline yang bepeluh dan sedikit berantakan, apakah Kateline kembali menerima tamu?
“Max, aku bertanya padamu!” seru Kateline membuat Max terkesiap dari lamunannya.
“Ah ya, apa yang kau tanyakan, Kate?”
“Apa yang membuatmu datang kemari?” tanya Kate membuat Max menyodorkan bungkusan sandwich ditangannya.
“Pastrami sandwich, kita bisa memakannya sambil menikmati kopi dan mengobrol...” ucap Max membuat wanita paruh baya yang masih sangat cantik itu tertawa dengan begitu renyah.
“Okey, kau memang terlihat kehilangan teman bermain mu, Max. Aku akan menemanimu...”
-
Mereka menikmati kudapan yang gurih dan lezat itu dalam obrolan ringan nan menyenangkan.
“Aku sangat merindukan Catherine...” gumam Max berharap membuat senyuman Kateline memudar saat mengingat siapa tadi pria-pria suruhan yang mencari keberadaan Catherine dengan memberikan ancaman padanya.
“Aku juga sangat merindukannya...” gumam Kateline dengan tatan yang jauh kedepan.
Senyuman lantas merekah sempurna diwajah tampan Max, Bagaimana jika kita menghubunginya sekarang?” tanya Max membuat Kateline meletakkan sandwich ditangannya.
“Kita tidak bisa mengganggu Cathy untuk sementara Max, berikan dia waktu untuk sendiri.” ucap Kateline membuat Max menghembuskan napasnya kasar.
“Apakah Cathy memang sedang menghindariku?” tanya Max membuat Kate menghembuskan napasnya kasar. Apakah kau tak mengerti bahwa Catherine sedang membutuhkan waktu untuk sendiri?” tanya Kate membuat Max mendesah lelah.
“Sejak kemarin aku sudah berusaha untuk bersikap sabar dan memaklumi Cathy yang terkesan enggan untuk berhubungan denganku lagi. Aku hanya merasa perlu tahu bahwa Catherine tidak marah dan pergi karena ku...”
“Bukan kau penyebabnya, Max. Catherine tak pernah melakukan apapun karenamu. Jadi ku harap untuk sementara waktu ini kau berhenti mencari Catherine. Berikan dia waktu dan ruang untuk menyelesaikan me time nya dengan baik...” ucap Kateline membuat Max menghembuskan napasnya kasar.
“Apa kau lupa betapa naifnya putrimu? Catherine yang polos dan murni sendirian diluar sana. Dia bisa saja tersesat dan salah memilig jalan tanpa ada siapapun disisinya!” ucap Max merasa kesal dengan Kateline yang menanggapi kepergian Catherine yang entah kemana dengan sangat santai.
“Cathy sudah cukup dewasa untuk menentukan baik dan buruk jalan hidupnya Max, kau tidak bisa menjadi seseorang yang menentukan baik dan buruk untuknya!”
“Lalu bagaimana denganmu? Kau merasa bebas dengan kepergian Catherine?” tanya Max tajam membuat Kate kontan menatap padanya.
“Apa yang kau maksud, Max?” tanya Kate membuat Max tersenyum miris dalam semua kekesalannya, “Kau sudah tahu apa yang menyebabkan Catherine pergi dari rumah hingga bekerja menjadi pelayan di club itu, tapi lihatlah apa yang kau lakukan sekarang, daripada berusaha membujuk Catherine untuk pulang, kau malah bersenang-senang dengan para tamu mu dirumah ini. Apa kau sudah tidak waras, Kate?!” seru Max bersambut ayunan tangan Kateline hingga menampar keras pipinya.
Plak!
“Jangan sok menghakimi ku jika kau tidak tahu apa-apa, Max!” bentak Kateline marah.
“Makanya beritahukan apapun itu agar aku dapat memahaminya!” teriak Max tak mau kalah.
“Pergi dari rumah ku dan jangan pernah coba-coba datang lagi!”
“Kate, sorry...” gumam Max saat menyadari bahwa dirinya telah bertindak diluar batas.
“Tutup mulut mu dan pergi dari sini, pergi!!!” teriak Kateline membuat Mac tak memiliki jalan lain selain meninggalkan rumah itu.
Flashback off
Menghembuskan napasnya kasar, “Aku selalu berharap kau ingat untuk menghubungi ku, Cath. Aku sungguh sangat mengkhawatirkan mu...” gumam Max seraya memejamkan matanya dalam helaan napas putus asa.
***
-JFK Internasional Airport-
Rahang tegas pria itu terlihat mengeras, “Apakah kalian belum menemukannya?” tanya Alexander membuat pria berjas hitam itu menggeleng samar.
“Maafkan kami, Mr. Murich. Dalam pencarian database komputer kami tidak menemukan satupun penerbangan di waktu yang sama dengan nama penumpang Catherine Swan. Petugas sedang mengecek catatan manifest pada waktu itu dengan cara manual...” ucap pria yang bertugas dalam pencarian itu dengan wajah yang pucat ketakutan saat Alexander menggeram marah.
“Bagaimana bisa dia membodohi ku hanya dengan uang beberapa juta dolar? Dapatkan dia dengan cara apapun itu. Aku ingin hasilnya hari ini...” desis Alexander merasa ingin menangkap wanita sialan itu dan meremukkan tubuh mungilnya dalam satu genggaman.
"Baik, tuan!" ucap pria itu seraya pergi mencari tim nya yang sedang berpencar mencari nformasi di bandara ini.
“Kau benar-benar kurang ajar, Catherine...” desis Alexander semakin gusar saat melihat jam yang sudah menunjukkan pukul 20.45 pm.
Dia benar-benar ingin menemukan Catherine dan membuat hidup wanita itu bagaikan mimpi buruk karena telah bermain-main dengannya...
“Perempuan sialan...” desis Alexander sinar matanya yang semakin kelam.
***
-San Diego-
“Catherine, pada akhirnya aku menemukanmu...” desis suara kelam itu membuat Catherine terkesiap dari tidurnya.
Dengan napas terengah-engah Catherine mengusap wajahnya kasar, “Oh Tuhan, aku ketiduran...” desis Catherine melihat kini waktu telah menunjukkan tepat pukul 17.45 pm. Dia ketiduran setelah lelah mengemasi rumah barunya dan memimpikan Alexander Murich menemukannya.
Sungguh benar-benar mimpi yang sangat buruk...
“Aku benar-benar akan menjadi paranoid sekarang...” desis Catherine menggeram kesal seraya menghembuskan napasnya kasar.