Part 15. Gotcha!

1139 Kata
New York City -JFK International Airport- Didalam ruangan tunggu itu kini didominasi dengan kepulan asap dari rokok hitam yang berada diantara sela jari tengah dan telunjuk pria itu. Ditemani rum hitam bersama es di dalam gelas kristal yang terlihat sangat mahal dan berkilauan, semua itu seolah menjadi teman yang dapat membuat hatinya yang panas menjadi sedikit waras. Alexander merasa tak tahan lagi ingin menemukan Catherine dan memberikan pelajaran untuk wanita nakal itu karena telah berani membodohi dan mempermainkannya. Bagaimana bisa wanita senaif itu dapat mengelabuhi semua orang dengan begitu rapih termasuk dirinya? Tangannya lantas mengepal erat saat memikirkan gadis itu bukan hanya mirip dengan Anne Marie, tapi juga sangat pintar dalam mengelabuhi dan menghilang darinya. Alexander tak ingin lagi kehilangan barang yang telah dia miliki. Catherine harus berada di dalam kuasanya. Alexander Murich memang pria gila kontrol yang tak pernah ingin kehilangan barang yang sudah menjadi miliknya, apapun itu... “Uhuk! Uhuk! Woaah kau membuat polusi udara disini...” ucap Benedict Carlos n membawa berkas-berkas ditangannya. “Jangan kemari jika kedatanganmu hanya untuk mengusik ku...” desis Alexander Ben berdecak kesal. “Aku kemari dengan tujuan mulia untuk membantumu, tidak bisakah kau berterima kasih?” tanya Ben membuat Alexander berdecak kesal. “Dia sudah membuang waktu ku selama berjam-jam disini.” “Bagaimana bisa kau yakin dia berada di bandara dan terbang ke suatu tempat sedangkan rekaman cctv sampai detik ini belum selesai di telusuri...” ucap Benedict membuat Alexander menghembuskan napasnya kasar. “Dia hanya sedang beruntung karena bagian cctv bandara ini sedang mengalami gangguan, tapi aku tak akan pernah membiarkan keberuntungan itu terus menyertai langkahnya...” desis Alexander seraya menyesap habis rum hitam itu hingga tak bersisa seraya berakhir memejamkan matanya. Hasil penelusuran cctv jalan raya menunjukkan bahwa terakhir kali Catherine terlihat keluar dari salah satu bank swasta dan menaiki taksi menuju bandara. Pengemudi taksi itu juga mengatakan bahwa gadis itu bersama dengan wanita yang mirip dengannya, hanya sedikit lebih matang. Mata Alexander lantas terbuka dan merugas menegapkan tubuhnya menatap Benedict, “Siapa nama ibunya?” Pertanyaan tiba-tiba Alexander membuat kinerja otak cerdas Benedict seketika macet, “Ibu siapa?” tanyanya membuat Alexander berdecak kesal. “Tentu saja ibu Catherine Swan!” teriak Alexander membuat Benedict berdecak kesal. “Tidak perlu berteriak, sebentar...” gumam Benedict melihat catatan berkas-berkas Catherine pada ponselnya. “Namanya Kateline Swan...” gumam Benedict membuat Alexander bertepuk tangan. “Gotcha!” Benedict menderita dahinya melihat Alexander yang kini sibuk menelpon seseorang dengan ponselnya. “Tolong cek nama penumpang di waktu yang sama, 7 Oktober penerbangan pukul sepuluh, Kateline Swan...” ucap Alexander tergambar seringaian iblis dari wajahnya. Benedict hanya sanggup mengutuk dirinya, bagaimana jika Alexander benar-benar menemukan gadis itu hanya untuk menyiksanya? Sebagai sesama manusia hati kecilnya terketuk, namun dia tak dapat menghentikan kegilaan Alexander. “Kami menemukannya, penerbangan dihari yang sama pukul 10.49 dengan nama Kateline Swan tujuan San Diego...” Wajah kelam Alexander yang awalnya muram kini berubah cerah, “Baiklah, sekarang kalian bertugas pergi ke kediaman Kateline Swan dan sekap dia...” desis Alexander membuat Benedict membelak tak percaya. “Mengapa kau ingin menyekap ibu Catherine?” tanya Benedict membuat Alexander berdecak kesal. “Itu pelajaran bagi seseorang yang telah berbohong padaku, persiapkan jet pribadi untuk ku terbang ke San Diego.” “Kapan?” tanya Benedict seperti orang bodoh. “Tahun depan, tentu saja sekarang...” desis Alexander kesal membuat Benedict segera menghubungi petugas penerbangan pribadi Alexander. “Apakah aku boleh ikut denganmu?” tanya Benedict setelah dia meminta jadwal penerbangan itu. “Untuk apa?” tanya Alexander malas. “Aku ini seperti radar untukmu, lihatlah kedatangan ku membuatmu menemukannya...” ucap Benedict membuat Alexander mendengus pelan. “Kapan penerbangannya?” tanya Alexander membuat Benedict sadar diri bahwa dia tak memiliki ruang untuk pergi dengan pria pemarah itu. “Penerbangan akan siap sekitar pukul sepuluh malam. Jadi, aku tak boleh ikut denganmu?” tanya Benedict masih mencoba untuk berusaha. Setidaknya dia bisa memastikan bahwa Alexander tak akan menyiksa gadis tak berdosa itu dengan keji. Sahabatnya ini bukanlah manusia yang memiliki hati, rasa simpati pun sepertinya pria itu tak punya. Menggeleng tegas, “Kau hanya perlu duduk diam disini dan urus pekerjaanmu...” desis Alexander berdiri dari duduknya seraya meninggalkan Benedict yang hanya dapat mengusap wajahnya kasar. “Catherine Swan yang malang, aku harap kau dapat bersembunyi dimana pun itu...” gumam Benedict bergedik takut saat mengingat bagaimana tersiksanya dulu mantan kekasih Alexander untuk lepas dari pria yang gila kontrol itu. Alexander selalu memperlakukan manusia  lainnya dengan seenaknya seperti barang yang dia miliki. - Alexander keluar dari ruangan tunggu itu seraya menghubungi orang kepercayaannya, “Garry, kerahkan tim mu untuk ikut denganku ke San Diego. Aku menunggumu di gate  keberangkatan khusus...” ucapnya seraya memutuskan panggilan tersebut. Supir menyambut kedatangannya dengan membungkuk sopan, “Antarkan aku ke gerbang keberangkatan khusus...” “Baik, Mr. Murich...” ucap supir itu seraya membukakan pintu untuk Alexander yang tanpa mengulur waktu memasuki mobil tersebut. “See you soon, Catherine. Kau harus membayar semua lelah ku saat ini...” desis Alexander dengan evil smirk yang tercipta di wajah tampannya. *** San Diego -Catherine’s House- Hembusan napas berat itu kembali tercipta, Catherine memakan makan malamnya tanpa selera. Dia kembali bermimpi buruk tentang pria bernama Alexander itu dan seketika rasa takut kembali menghantuinya. “Apakah aku harus pergi ketempat lainnya yang lebih jauh dan lebih terpencil?” gumam Catherine berakhir menggelengkan kepalanya. “Tenanglah, kau hanya ketakutan sekarang. Kau sudah menyewa rumah ini untuk beberapa tahun kedepan. Pria itu tak akan semudah itu menemukanmu, Catherine. Kau akan baik-baik saja...”gumam Catherine seraya mengangguk antusias. Kini dia melanjutkan makan malamnya dengan sangat lahap, bukan menikmati, melainkan menelan semua rasa stress yang memenuhi kepalanya. “Mom, are you okay? Apakah kau sudah makan malam?” tanya Catherine seraya tersenyum sedih disela kunyahannya. Sesungguhnya dia sangat kesepian disini, tak ada yang menjadi temannya berbicara. Tak ada siapapun yang bersamanya. Hanya pikiran-pikiran berlebih dan ketakutan tidak masuk akal yang menghantuinya. Membuang napasnya kasar, “Bukankah aku bisa menghubungi Mom dengan nomor sekali pakai?” tanya Catherine pada dirinya sendiri. Senyumannya pun terbit, “Setelah makan, ayo kita pergi berkeliling membeli isi kulkas dan nomor telepon sekali pakai...” gumam Catherine berusaha menyemangati dirinya sendiri. “Apakah sesekali lebih baik aku menghubungi, Max?” Catherine sontak menggeleng samar. Meskipun dia sudah terbiasa melakukan dan bercerita apapun itu dengan Max meskipun dia sangat rindu ingin berbicara dan bertemu dengan pria itu, tapi dia tak boleh egois dan mementingkan dirinya sendiri. Max harus bahagia dengan jalannya sendiri dan dirinya harus terbiasa untuk berhenti bergantung dengan Max. “Begini sudah jauh lebih baik, Max. Aku harap kau segera melupakan ku, melupakan perasaan mu padaku. Agar saat kita bertemu lagi ngngiy, tak ada lagi rasa canggung yang tercipta karena rasa cinta itu. Catherine berharap takdir berhenti untuk menyiksa dan mempermainkan hidupnya... 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN