3. Serve You

983 Kata
Andine berjalan menuruni tangga, ia berniat ke dapur untuk membantu Merth memasak. Kebetulan Andine pandai memasak, ia bisa memasak semua masakan Indonesia. "Pagi Merth." sapa Andine ramah kepada Merth. "Pagi juga nyonya." "Hari ini kau memasak apa Merth?" tanya Andine yang sudah berada di samping Merth. "Seperti biasa. Memasak masakan khas Belanda, karena saya tidak bisa memasak masakan Indonesia." ucap Merth. "Bagaimana jika aku yang memasak?" tanya Andine hati-hati, takut Merth tak memperbolehkannya. "Tapi nyonya." "Tak apa Merth." "Baiklah kalau begitu, jadi apa yang bisa saya bantu?" tanya Merth yang sudah siap dengan pisau ditangannya. "Potong ini Merth. Ini namanya bawang mombay." jelas Andine. "Dipotong seperti apa nyonya?" "Begini." Andine memberi contoh kepada Merth hingga Merth mengerti. Dan Andine kembali fokus kepada apa yang ingin ia masak. "Kau sedang apa Andine?" terdengar suara bariton dari belakang, membuat Andine menoleh dan mendapati sosok tampan dibelakangnya. "Ah i...tu aku sedang memasak." "Apa yang kau masak?" tanya Mario dan berjalan maju. "Makanan." jawab asal Andine. "Anak kecil juga pasti akan tahu Andine, jika yang dimasak adalah makanan. Maksud ku kau memasak makanan apa?" "Hmm ayam lada hitam dan juga gurami." ucap Andine sambil menunduk. Mario menaikkan dagu Andine dan menatap mata Andine dengan dalam, "Jika aku berbicara padamu maka tatap aku, bukan malah menatap ke bawah." "Ya." Sedangkan Merth sudah tidak ada disana. Ia sudah pergi setelah memotong bawang, ia tak ingin mengganggu majikannya. "Kalau begitu lanjutkan memasak mu." ucap Mario tanpa pergi dari hadapan Andine. "Hm apa kau tak pergi bekerja?" tanya Andine yang mulai gugup karena Mario sedari tadi menatapnya. "Tidak." jawab Mario singkat. Andine berbalik dan mulai fokus memasak, tapi ke fokusa nya buyar ketika tangan kekar memeluk perutnya dari belakang. "Mario." ucap Andine pelan. "Hem." "Lepaskan tanganmu, aku sedang memasak." pinta Andine tapi tak Mario dengarkan. Ia tetap memeluk Andine dan pelukannya semakin erat. "Biarkan seperti ini, dan lanjutkan saja memasakmu." ucap Mario dan menumpuhkan dagunya dibahu Andine. "Ya." pasrah Andine dan melanjutkan kegiatan memasaknya. "Andine." panggil Mario dengan suara beratnya. "I...iya ada apa?" tanya Andine gugup setengah mati. "Besok kita akan pergi ke Prancis." ujar Mario yang semakin mengeratkan pelukannya. "Lepaskan." pinta Andine tapi tak digubris oleh Mario. "Kita menatap di Prancis sekitar sebulan." ucap Mario lagi. Kali ini topik pembicaraannya berbeda. "Uhh kenapa kita ke Prancis? Dan kapan berangkat?" Andine masih berusaha menjauhkan tangan Mario yang melilit perutnya. "Urusan bisnis dan besok kita akan berangkat." ucap Mario seraya meniup daun telinga Andine. "Uhh Mario lepaskan." pinta Andine dan menghiraukan jawaban Mario. "Biarkan Andine, kau istriku biarkan aku memelukmu." ucap Mario santai namun bernada tak terbantahkan. "Ya." hanya itu kata yang keluar dari mulut Andine, dan ia kembali ke kegiatan memasaknya. "Setelah sarapan pagi segeralah kemasi pakaianmu, dan pakaianku!" perintah Mario. "Iya, tapi Mario aku masih bersekolah. Jika aku ikut denganmu maka aku akan bolos sekolah. Aku tidak mau itu." ucap Andine, berbalik menatap Mario setelah mematikan kompornya. "Apa aku tak boleh bersekolah dan aku harus putus sekolah?" tanya Andine dengan raut wajah penasaran, akan jawaban yang diberikan Mario nantinya. "Ya kau tetap bersekolah, dan aku sudah mengizinkan mu kepada pihak sekolah bahwa selama sebulan kau tak bisa masuk, dan mengikuti pelajaran." jawab Mario dengan santainya, dan masih setia tangannya meremas b*******a Andine. "Kapan kau mengizinkannya, dan apa kau menelfon pihak sekolah?" "Baru saja." "Apa yang mereka katakan? Apa mereka tahu jika aku sudah menikah?" "Mereka bertanya alasan, dan aku menjawab jika kau sakit lumayan parah dan harus dirawat di dokter yang handal. Aku mengatakan akan membawa mu ke Prancis untuk pengobatan." jelas Mario dengan santainya. Sedangkan Andine yang mendengarkan penjelasan Mario membulatkan matanya, "Alasan macam apa yang kau berikan itu. Parah sekali kau Mario, bagaimana jika nanti aku sakit beneran? Ucapan adalah doa Mario, apa mereka percaya perkataan mu? Dan pasti mereka bertanya siapa kau kan? Kau jawab apa?" Celotehan Andine dan pertanyaan bertubi tubi Andine, membuat Mario tersenyum. Baru kali ini ia merasa terhibur, hanya dengan mendengarkan celotehan wanita kecil didepannya. "Jawab Mario." "Mereka percaya, dan aku mengatakan jika aku saudara jauh mu. Aku tahu peraturan sekolah mu, jika ada yang sudah menikah maka konsekuensinya dikeluarkan dari sekolah." jawab Mario dan tangannya sudah keluar dari blouse Andine. "Kenapa begitu mudahnya mereka percaya, dan apa mereka tidak bertanya aku sakit apa, sampai separah itu?" "Karena aku yakinkan, dan untungnya mereka tidak banyak bertanya." "Dan bagaimana jika aku sakit beneran?" tanya Andine dengan wajah polos. Yang membuat ia kelihatan lucu. "Tidak akan. Bahkan jika kau sakit, aku akan merawat mu." ucap Mario dan pipi Andine langsung merona, kala mendengar akhir dari kalimat suaminya itu. "Hmm Mario." cicit Andine. "Ya? Ada apa?" "Apa aku akan selamanya menjadi istrimu?" spontan kalimat itu yang keluar dari mulut Andine, dan membuat perubahan pada ekspresi wajah Mario. Mario terdiam cukup lama, sebelum menjawab pertanyaan bodoh istri kecilnya itu. "Ya SELAMANYA." jawab Mario dengan penekanan di kata selamanya. "Yakin?" tanya Andine lagi. "Ya." jawab Mario sangat singkat. "Kenapa?" "Kenapa kau banyak bertanya Andine?" kini Mario semakin geram terhadap istrinya. "Aku takut kau akan mencampakkan ku, ketika kau menemukan wanita lebih cantik, sexy dan juga seumuran dengan mu." kata Andine dengan menundukkan kepalanya. Mario mengangkat dagu Andine, karena Andine terbiasa menunduk jika berbicara. Dan itu membuat Mario tak suka. "Dengar Andine sayang, aku akan selamanya menjadi suamimu. Aku tak akan membiarkan lelaki lain memiliki kesempatan untuk menjadi suamimu. Dan bicara soal wanita cantik, sexy dan juga seumuran denganku. Aku merasa istri kecilku lebih cantik, lebih sexy buktinya saja bisa membuat ku berolahraga 4 ronde. Dan juga seumuran denganku, aku lebih menyukai wanita seperti mu, lebih kecil dariku." papar Mario panjang lebar membuat Andine tertegun. "Kau." Andien tak meneruskan perkataannya. "Apa sayang?" Mario mulai menggoda Andine yang sedang merona. "Tidak." elak Andine dan berlari keatas, meninggalkan masakannya, yang setengah jadi itu. Ia sudah gugup dan bercampur malu. Bisa-bisanya dia bertanya seperti itu kepada Mario. Dan sontak pertanyaan yang ia ajukan membuatnya merutuki dirinya sendiri. Sungguh sangat bodoh Andine. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN