Andine sudah rapi dengan kemeja putih, dan celana jeans panjangnya. Rambut coklatnya diurai hingga menutupi bahunya.
Sama halnya dengan Mario, ia juga sudah siap dengan setelan formal nya. Kemeja putih, dan jas hitam membungkus tubuh atletisnya.
"Andine apa kau sudah siap?" tanya Mario seraya memasangkan jam tangannya.
"Iya sudah." jawab Andien.
"Baiklah ayo kita berangkat sayang." ujar Mario keluar kamar meninggalkan Andine.
Sedangkan Andine wajahnya sudah merah padam mendengar sebutan Mario untuknya.
Andine segera keluar dan menemui Mario, yang sudah didepan mobil Lamborghini berwarna hitam pekat.
Mario membukakan pintu mobil untuk Andine, dan berlari kecil untuk memasuki mobil.
Mobil di lajukan dengan kecepatan sedang, memang bukan Mario yang mengendarainya. Melainkan bodyguardnya, ia akan bermain-main dengan istri kecilnya, sampai tiba di bandara.
Tangan Mario merayap hingga ke punggung Andine, membuat Andine ke gelian. "Mario tanganmu." suara Andine mengecil.
"Kenapa dengan tanganku?" tanya Mario dengan tangan yang masih mengusap punggung Andine.
"Mario jangan, didepan ada anak buah mu." peringat Andine, tapi Mario mengabaikannya.
"Hey kau jangan menoleh kebelakang, fokus saja kedepan. Jangan ganggu kami!" ucap Mario kepada bodyguardnya.
"Baik tuan."
Mario mengangkat tubuh Andine, dan mendudukkannya di pangkuannya. Ia menarik tubuh Andine agar berhadapan dengannya. Tangannya terangkat untuk mengelus pipi mulus milik Andine, "Cantik."
Andine diam saja tak menanggapi pujian Mario. Yang pasti, kini wajahnya sudah semerah tomat. Ah sungguh memalukan.
"Mario..." cicit Andine.
Mario mamajukan wajahnya, sehingga tak ada lagi jarak antara ia dan Andine. Ia mendekat dan memberi ciuman di kening Andine cukup lama. Lalu ciuman itu turun ke pipi dan berakhir dibibir.
Andine yang sudah bisa membalas ciuman, langsung membalas ciuman Mario. Ciuman itu semakin panas, hingga tak sadar jika kurang beberapa menit lagi ia akan sampai di bandara.
"Khemm."
Bodyguard Mario berdehem, seolah memberitahu bos nya, jika mereka sudah sampai di bandara.
Mario langsung melepaskan ciumannya, beralih menatap Andine.
"Perbaiki penampilan mu sayang." sebelum memperbaiki penampilannya sendiri, Mario sempat mengecup bibir Andine.
Dengan gerakan cepat Andine membenahi dirinya sendiri, dan turun dari mobil ketika Mario membuka pintu mobil untuknya.
"Terima kasih."
"Sama-sama sayang."
Mario berjalan dengan merengkuh pinggang Andine secara possessive. Ia ingin menunjukkan Andine hanya miliknya.
"Duduklah, setengah menit lagi kita kan naik ke pesawat." ucap Mario. "Aku ingin membeli minum dulu."
Mario melenggang pergi dari hadapan Andine. Ia berjalan mencari restauran untuk membeli minuman.
Hanya butuh waktu lima belas menit saja, Mario kembali dengan dua botol minuman dingin.
"Ini untukmu sayang." Mario menyodorkan botol minuman yang dibelinya tadi.
"Terima kasih Mario."
"Hm." Mario ikut terduduk disebelah Andine.
Keduanya sama-sama sibuk dengan benda pipih nya. Apalagi jika bukan ponsel. Andine sibuk dengan sosial medianya, sedangkan Mario sibuk membalas email yang masuk.
"Andine waktunya naik kepesawat. Ini sudah hampir setengah jam." ucap Mario tiba-tiba.
"Baiklah." Andine berdiri dan menaruh ponselnya didalam tas kecilnya. Sebelum menaruhnya Andine tak lupa mematikan nya.
"Ayo." Mario kembali merengkuh pinggang Andine.
*****
Cham de Mars, Prancis
Setelah menempuh kurang lebih tujuh belas jam perjalanan. Mario dan Andine tiba di negara tujuan, yaitu Prancis. Dapat Mario lihat jika Andine sangat menyukai tempat ini. Karena sedari tadi Andine hanya berdecak kagum.
Dengan posesif nya, Mario menarik pinggang Andine dan memeluknya dengan sangat erat, "Disini dingin, lebih baik nanti kita beli mantel untukmu." ajak Mario yang diangguki oleh Andine.
"Ayo Andine, mobil sudah menunggu didepan bandara."
Dengan senyum mengembang, Andine mengikuti langkah Mario. Mereka berjalan beriringan dengan tangan Mario yang memeluk pinggang Andine, secara possessive yang seolah-olah menunjukkan bahwa Andine adalah miliknya.
"Bonsoir, M. Mario. " ucap salah satu pria dengan logat Prancis yang kental. Dan yang berbicara itu, Andine yakini adalah anak buah suaminya.
"La nuit pour toi aussi. " balas Mario dan segera menuntun Andine masuk kedalam mobil, ketika anak buah Mario membuka pintu mobilnya.
Mobil yang mereka tumpangi melaju dengan kecepatan rendah, karena jalan di Cham de Mars cukup licin karena salju yang mulai mencair.
Didalam perjalanan pun tak ada yang bersuara baik Mario maupun Andine. Mereka saling berdiam diri, tetapi penyatuan tangan tak pernah terlepas.
Dua puluh menit kemudian, mobil yang ditumpangi Mario dan Andine berhenti tepat didepan bangunan yang sangat megah. Oh tunggu...itu seperti istana, Andine tak habis pikir melihatnya.
"Wow, seperti istana Mario." puji Andine pada bangunan yang dilihatnya.
"Hmm, ayo kita turun."
Dengan sangat manisnya, Mario keluar dari mobil dan langsung membukakan pintu mobil untuk Andine, "Terima kasih."
"Sama-sama sayang."
"Ayo kita masuk."
Andine menerima uluran tangan Mario, dan mengikuti Mario untuk berjalan masuk kedalam bangunan megah ini.
"Ini adalah mansion milikku, selama kita di Prancis kita akan tinggal di mansion ini." jelas Mario ketika mereka berdua benar-benar sudah masuk kedalamnya.
"Baiklah, oh iya Mario. Dimana letak kamar mandinya, aku mau buang air kecil." tanya Andine yang entah kenapa membuat Mario tersenyum manis.
"Diatas ada dan dibawah pun ada. Tapi sebaiknya di atas saja, didalam kamar kita." jawab Mario mejelaskan.
Mario segera menarik tangan Andine dan menggandengnya menuju kamar mereka. Ahhh... betapa tidak pekanya Mario akan kemaluan Andine.
Sebenarnya sekarang wajah Andine sudah sangat memerah karena kelembutan Mario. Tapi, sepertinya Mario tidak peka akan rasa malunya, dan sekarang Andine hanya bisa pasrah karena ia juga menyukai sikap Mario yang manis dan meskipun kemanisan itu membuatnya malu dan merona.