Prancis menunjukkan pukul tujuh malam, yang artinya belum terlalu malam untuk keluar. Tapi, sepertinya Mario tak ada niatan mengajaknya keluar berkeliling Prancis. Dan hal itu membuat Andine bersedih.
"Sayang." tiba-tiba terdengar suara yang sangat familiar ditelinga Andine.
"Mario. Ada apa?" tanya Andine ketika Mario sudah berada dihadapannya.
"Ayo keluar, sekalian membeli mantel. Niatnya tadi aku mengajak mu, tapi aku lupa." ajak Mario dengan senyuman yang sangat manis. Dan hal itu membuat Andine ikut tersenyum.
"Baiklah, aku ganti pakaian dulu."
"Tidak perlu Andine, kau pakai saja mantel milikku." ucap Mario seraya menarik lengan Andine.
Andine menatap Mario dengan mengerutkan kening, "Dan kau memakai apa?"
"Ada jaket, kau tenang saja. Ayo nanti keburu malam Andine."
"Hmm iya."
Tanpa Andine duga. Ternyata Mario meraih tangannya dan menggenggamnya dengan erat. Mereka keluar kamar dan berjalan beriringan menuruni tangga.
"Kau urus pekerjaan ku dulu, aku akan keluar bersama istriku." perintah Mario kepada orang kepercayaannya. Yang kebetulan lewat.
"Baik tuan, saya akan menyiapkan mobil untuk Anda." ujarnya yang dengan cepat Mario tolak.
"Aku akan berjalan kaki saja. Lagi pula jarak menara Eiffel dari mansion tidak terlalu jauh."
Ya Tuhan...
Ternyata Mario ingin membawa Andine mengunjungi menara Eiffel?
Betapa bahagianya Andine.
"Bukankah kita ingin membeli mantel, tapi kenapa ke menara Eiffel?" bisik Andine yang hanya bisa Mario dengar.
Bukannya menjawab, Mario malah semakin menggenggam erat tangan Andine dan segera menarik Andine agak mengikuti langkahnya.
"Ayo."
Mereka berjalan keluar mansion, dengan tangan Mario yang tak lagi menggenggam tangan Andine. Melainkan tangannya sudah berada di pinggang Andine.
"Kita perginya dengan berjalan kaki, apa kau tidak keberatan sayang?" kini berganti Mario yang bertanya. Namun, pertanyaan yang diajukan Mario membuat Andine mendesah. Bagaimana tidak, Mario bertanya tepat ditelinga Andine, dan sedikit menggigit daun telinga Andine.
"Ehmm tidak apa-apa Mario." jawab Andine gugup.
Mario yang tahu jika Andine gugup dan salah tingkah, ia tak lagi menggodanya. Dan mereka kembali melanjutkan perjalanan.
******
Takhenti-hentinya Andine mengagumi keindahan menara Eiffel. Ini seperti mimpi bagi Andine, mengunjungi menara Eiffel dan bersama lelaki yang kini berstatus sebagai suaminya.
Bahagia?
Satu jawaban Andine
IYA
"Terima kasih Mario." ucap Andine dengan senyuman manis. Sedangkan Mario hanya menatap matanya saja.
"Apa kau akan terus memanggil ku dengan nama? Lebih tua aku dari pada dirimu, kesannya kau tidak menghormati diriku jika kau memanggil aku masih menggunakan nama." kata Mario panjang lebar. Sebenarnya ini sudah ingin Mario katakan sejak pertama kali menikah. Tapi, baru sekaranglah dapat Mario katakan.
Mario menatap Andine yang terdiam, "Kenapa Andine?"
Andine tak menjawab wanita itu malah semakin mengeratkan mantel yang baru saja dibelinya.
Sebelum mengunjungi menara Eiffel, Mario dan Andine terlebih dahulu membeli mantel.
"Aku harus memanggilmu apa kalau begitu?" Andine mengangkat wajahnya yang menunduk.
"Terserah, apa saja. Asalkan jangan nama. Sayang, baby, cinta dan masih banyak lagi. Kau tinggal memilihnya sayang." usul Mario yang membuat Andine membulatkan matanya.
'Bukankah itu terlalu berlebihan?' batin Andine.
"Iya by." setelah mengatakan kalimat itu, Andine berlari menjauhi Mario.
Sedangkan Mario yang masih terkejut, tidak mengejar Andine. Tapi, sedetik kemudian Mario tersadar dan langsung berlari mengejar Andine.
"Sayang tunggu." teriak Mario yang diabaikan oleh Andine.
"Sayang jangan berlari, awas kau sayang."
Andine terus berlari menghindari kejaran Mario. Tapi, karena kelelahan Andine berhenti sejenak dan berfikir bahwa Mario masih jauh dibelakangnya.
"Kau kena sayang." pekik Mario karena berhasil memeluk Andine dari belakang.
"Aww..ak.."
Ucapan Andine terpotong ketika Mario mengucapkan sesuatu.
"Kau tadi bicara apa sayang sebelum kau lari hem?"
"Hmm aku bicara iya."
"Setelah kata iya?" Mario terus saja memancing Andine agar mengatakan sesuatu. Tapi Andine terdiam cukup lama, dan setelahnya. "Baby."
"Good my love."
Blusss
Pipi Andine seketika merona mendengar kalimat yang dikatakan Mario.
"Tapi kenapa kau lari setelah mengatakan itu?" tanya Mario disengaja, ia ingin menggoda istri kecilnya ini. Marilah itu semakin mengeratkan pelukannya dan menciumi leher jenjang Andine, dari belakang.
"Aku malu by." Mario tersenyum mendengar panggilan khusus Andine untuk dirinya.
"Aku suka kau memanggilku seperti itu." ucap Mario seraya mengentikan kecupannya dan beralih menggandeng tangan Andine.
"Kita akan kemana by?" tanya Andine yang mulai membiasakan diri memanggil Mario dengan kata 'by'
"Restauran, aku lapar. Aku yakin kau juga lapar kan?"
"Iya."
Mereka berdua berjalan dengan masih bergandengan tangan. Dan hal itu mencuri perhatian banyak orang, terutama para wanita yang berpapasan dengan Mario dan Andine.
Mereka semua merasa iri dengan Andine, karena bisa berdampingan dengan Mario, yang sangat tampan itu.
"By kenapa semua orang yang berpapasan melihat kamu seperti itu?"
Mario langsung menolehkan kepalanya, bukan untuk pertanyaan Andine. Melainkan pada kata 'kamu'
"Baiklah sekarang kita akan menggunakan aku kamu."
Andine mengerutkan keningnya bingung. Tapi sedetik kemudian Andine tersadar bahwa dirinya telah mengucapkan 'kamu' ketika berbicara dengan Mario.
Ya Tuhan malam ini banyak yang berubah.
'Malam ini banyak yang berubah antara aku dan Mario. Dan aku harap perubahan ini bisa menguatkan rumah tangga ku.' Batin Andine seraya tersenyum.