10. France [7] Confuse

1081 Kata
Prancis sudah menunjukkan pukul delapan pagi, dan baru Andine dapati Mario pulang pada pukul lima pagi. Semalaman ia tidak bisa tidur karena memikirkan keberadaan Mario, tapi setelah Mario kembali entah kenapa ada hal yang disembunyikannya. Sempat Andine bertanya, dimana ia semalam. Tapi, jawaban Mario mengejutkan hati. Mario yang ia kenal tidak pernah berbicara kasar dan membentaknya. Tadi pagi membentak dan berbicara pedas sebagai jawaban atas pertanyaannya. "Aku pusing Andine, bisakah kamu tidak banyak bicara? Jangan menuntut ku dengan berbagai pertanyaan, kamu tidak berhak tahu aku dimana dan melakukan apa saja." Bahkan ucapan Mario masih terngiang di telinganya. Rasanya sangat sakit jika mengingat itu, namun Andine tidak ingin menjadikannya masalah besar. Mungkin saja, Mario sedang dalam masalah dan dia tidak berhak untuk mengetahuinya. Cukup lama melamun, Andine terpekik keget ketika mendapatkan ciuman dipipi sebelah kiri. Ia menoleh dan mendapati sang pelaku sedang tersenyum manis kearahnya. Ah, sifatnya sudah kembali lagi. Betapa menyenangkannya dia sekarang. "Kenapa melamun sayang, kenapa kamu tidak memakan sarapannya?" tanya Mario yang kini sudah duduk disampingnya Andine. "Hmm aku menunggu mu." cicit Andine tanpa berani menatap Mario. Mario yang melihatnya, hanya dapat menghela nafas panjang. Ia tahu, ia salah. Seharusnya ia tidak berbicara seperti itu kepada Andine, tapi apa daya beras sudah menjadi bubur. "Maaf untuk yang pagi, aku tidak bermaksud berbicara seperti itu." ucap Mario membuat Andine menoleh dan menatapnya dalam. Andine menarik sudut bibirnya keatas membuat senyuman, "Tak apa, kamu banyak masalah pastinya. Mungkin tadi malam kamu keluar, karena ada urusan yang penting." Sedetik berikutnya Mario tak bisa berkata-kata, ia terdiam sampai Andine selesai mengucapkan kalimatnya. Ia tak menyangka jika Andine seperti ini, setahunya. Jika wanita dibentak atau disinggung perasannya, akan marah sampai berjam-jam. Tapi sekarang Mario sadar, jika Andine berbeda dari wanita yang lain. Mario tersenyum dan langsung menarik Andine masuk kedalam pelukannya. Ia memposisikan dagunya diatas kepala Andine, menghirup dalam-dalam aroma wangi yang berasal dari rambut istrinya. 'Bagaimana bisa aku berfikir akan melakukan hubungan terlarang dengan Sella. Tidak, aku tidak ingin menyakiti hatimu Andine. Tapi, aku tidak bisa terus-terusan egois dengan perasaan ku sendiri.' Batin Mario frustasi. Mario melepas pelukannya dan berangsur menjauh. Ia menatap Andine dengan dalam, begitupun Andine. Wanita yang berstatus nyonya Glarendra itu membalas tatapan sang suami. "Apa kamu ada rasa denganku, setelah pernikahan beberapa hari ini?" tanya Mario telak yang membuat Andine terkejut. Cukup lama terdiam, akhirnya Andine buka suara, "Iya by, beberapa hari ini aku merasa ada yang aneh saja dengan diriku. Jika pertama kali aku bertemu dengan mu, aku masih bisa mengontrol degupan jantungku. Tapi setelah kita menikah beberapa hari, degupan itu terus aku rasakan jika berada didekat mu, dan parahnya degupan itu tidak terkendali. Apalagi dengan sikapmu yang lembut dengan ku, aku sudah terbiasa dengan kehadiran mu tapi aku masih tidak bisa menyimpulkan jika itu adalah cinta." "Bagaimana denganmu by?" Mario terhenyak ketika Andine bertanya tentang perasannya. Ia bingung harus menjawab apa, mungkin sayang. Iya rasa sayang. "A..ku belum ada perasaan, tapi jika rasa sayang itu ada." jawabnya lirih. 'Jika itu mungkin, mengingat rasa cintaku yang besar untuk Sella. Pasti cinta akan mengalahkan rasa sayang untukmu.' Lanjut Mario dalam hati. Dapat Mario lihat perubahan raut wajah Andien, Mario mengerti jika Andine kecewa akan jawaban yang ia berikan. Tapi, mau bagaimana lagi, ia tidak mungkin mengatakan terang-terangan jika ia masih mencintai Sella. Itu bisa menimbulkan masalah besar. "Ya sudah ya Andine, aku harus pergi ke kantor. Masih banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan." ucap Mario dan langsung melangkah meninggalkan Andine. Andine menatap punggung kokoh Mario, sedikit ada yang aneh. Tidak biasanya Mario pergi tanpa mencium kening Andine, tapi sekali lagi Andine mengabaikannya. Mungkin saja Mario lupa, pikirnya. Dan, jadilah sekarang ia sarapan sendirian padahal ia menunggu Mario cukup lama. Tapi apa, Mario pergi tanpa menyentuh apa yang sudah terhidang diatas meja makan. "Mungkin kamu banyak pekerjaan by, jadi kau meluapkan semua karena terburu-buru." ***** Sella menatap cukup lama mansion bertuliskan 'Mario Mansion'. Dalam hatinya, ia sudah tidak sabar untuk bertemu istri kecil pria yang dicintainya. Ingin sekali rasanya Sella masuk dan langsung mencakar-cakar wajah w************n, yang sudah dinikahi Mario. Namun, jika ia melakukan itu, bukannya mendapat sumpati Mario. Tapi akan mendapatkan u*****n dan amarah Mario. Oke, Sella mencari aman. Ia keluar dari dalam mobilnya dan berjalan kearah penjaga, yang tengah berjaga di depan gerbang mansion. "Bisakah aku masuk? Aku ingin bertemu dengan nyonya Andine." Sella bertanya dengan nada sopan. "Boleh nyonya, silahkan." penjaga itu membuka gerbangnya dan mempersilahkannya untuk masuk. Sedangkan mobilnya ia biarkan masih terparkir diluar gerbang. Ia berjalan sangat anggun, dress diatas lutut dengan model sangat ketat melekat indah ditubuhnya yang langsing. Meskipun saat ini ia sedang berbadan dua. Tapi karena kandungan yang masih berusia beberapa minggu, jadi perutnya masih kelihatan rata seperti orang yang tidak hamil. Sella sampai didepan pintu dan langsung memencet bel di dekat pintu. Tak membutuhkan waktu lama, terdengar suara tapak kaki yang mendekat dan pintu mansion terbuka dengan lebar. Tampaklah Andine dengan dress putih sepanjang mata kaki. Dress itu tidak ketat seperti yang dikenakan Sella. "Sella?" Sella tersenyum sangat manis ketika Andine menyebut namanya. "Kau masih ingat dengan ku?" tanya Sella yang dijawab anggukan kepala oleh Andine. Sekali lagi Sella tersenyum. Tapi kali ini senyum menyiratkan ejekan. Ia mengejek penampilan Andine, sungguh menurutnya fashion Andine sangatlah cupu, seperti orang desa. Ia tak habis pikir, kenapa bisa orang yang dijodohkan dengan Mario seperti, orang kelas bawah. "Hmm Mario tidak ada, dia sudah pergi ke kantor." "Oh iya? Tapi aku ingin bertemu dengan mu bukan dengan Mario." Andine mengerutkan keningnya, dan sedetik kemudian ia mempersilahkan Sella untuk masuk, "Masuklah." Dengan senang hati Sella masuk, ia berjalan dibelakang Andine. Andine mempersilahkannya untuk duduk di sofa, dan ia mengangguk mengiyakan. Sella maju dan tepat didepan Andine. Ia mengibaskan rambutnya, dan menempatkannya menjadi satu dipundak sebelah kanan. Sehingga leher bagian kirinya terekspos sangat jelas, dan betapa terkejutnya Andine melihat leher Sella dipenuhi bercak merah. Andine tahu itu apa, meskipun usianya masih 16 tahun. Tapi ia tahu sangat jelas, apa yang ada dileher Sella. Itu adalah kiss mark. Tapi, untuk apa Sella memperlihatkannya. "Sella, lehermu?" tegur Andine. Ia berusaha membuat Sella menutupi lehernya dengan rambut. Sella berbalik dan menatap Andine, "Oh ini? Memang dasar Mario, keliatan merah banget ya Andine? Aku tidak tahu jika dia membuat kiss mark dileherku sebanyak ini. Aku jadi tidak enak denganmu." cetus Sella dan segera menutupi lehernya. Dapat terlihat sekarang, raut wajah Andine berubah drastis. Apa yang tadi dikatakan Sella? Mario? Maksudnya? Andine sungguh bingung dengan situasi yang terjadi. "Mario?" ulangi Andine, berjalan mendekati Sella. "Iya Mario, semalam dia bermalam di..." "Sella."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN