11. France [8] Heart & Logic

703 Kata
Mario mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang, ia sudah setengah jalan menuju kantor. Tapi, sepertinya ada sesuatu yang ia lupakan. Ia menolehkan kepalanya ke samping dan tidak menemukan dokumen yang sempat ia siapkan, untuk rapat 2 jam yang akan datang. "Ya Tuhan, aku lupa membawanya." ucap Mario, ia refleks menepuk jidatnya. Dengan terpaksa Mario putar balik arah. Ia mempercepat laju mobilnya, agar cepat sampai mansion. Hanya membutuhkan waktu sekitar setengah jam an, mobil milik Mario sudah tiba didepan gerbang mansion. Ia tak memasukkan mobilnya kedalam, ketika matanya melihat mobil sport kuning yang terparkir manis didalam mansion. Mario tahu itu mobil siapa, dan dengan cepat ia keluar mobil tanpa menghiraukan sapaan dari penjaga. Perasaan Mario sungguh tidak enak, ia takut semuanya akan terungkap saat ini juga. Ia tak akan sanggup melihat Andine terluka, ia tak akan sanggup! Tinggal beberapa langkah lagi, Mario sampai diambang pintu. Tapi, suara perempuan yang sudah familiar baginya, terdengar. "Iya Mario, semalam dia bermalam di..." Dengan cepat Mario masuk dan memotong ucapan Sella. "Sella." Kedua perempuan yang semula berbincang itu menoleh kearahnya, dengan tatapan terkejut. Apalagi Sella, rasa gugup tiba-tiba menjalar keseluruh tubuhnya. Ia tak habis pikir, kenapa bisa Mario berada disini dan mendengar apa yang ia ingin katakan kepada Andine. "Hm Andine, berkas yang akan aku perlukan untuk rapat tertinggal dikamar. Bisa tolong ambilkan?" Andine mengangguk meskipun ada sedikit keraguan, antara menuruti atau mengabaikan. Andine segera berjalan meninggalkan Sella dan Mario. Meskipun pikirannya sedang kalut, ia akan tetap menuruti permintaan Mario. Sedangkan Mario, ia menatap Sella layaknya ingin menerkam. Ia tak habis pikir dengan wanita di depannya ini, bisa-bisanya ingin mengatakan semuanya kepada Andine. "Aku keterlaluan Sella, kenapa kau ingin memberitahukan kejadian semalam pada Andine." tanya Mario dengan nada mengintimidasi. Sella yang mendapat pertanyaan itu tak langsung menjawab. Ia memilin jari-jari tangannya, dan bola matanya yang bergerak gelisah. Sungguh, aura yang diperlihatkan Mario saat ini, sungguh menakutkan. "Jawab Sella. Apa kau ingin pernikahan ku dan Andine berantakan?" bentak Mario yang membuat Sella melonjak kaget. "Mario bukan itu maksudku, tapi..tapi...ta." ucapan Sella terpotong ketika Mario menyela, dengan kalimat yang membuat Sella naik pitam. "Jangan jadi pelakor dalam rumah tangga ku Sella!" Detik itu juga Sella menatap Mario nyalang, enak saja ia dikatakan pelakor dalam rumah tangga orang. "Enak saja mulut mu itu mengatakan aku pelakor. Aku bukan pelakor Mario, camkan itu." teriak Sella tanpa memperdulikan ia berada dimana sekarang. "Jika kau bukan pelakor, kenapa kau berusaha memberi tahu Andine hah? Jika saja aku tidak datang telat waktu, mungkin sekarang rumah tangga ku sudah hancur bodoh." Tidak ada reaksi yang diberikan Sella, atas ucapan Mario. Tapi tiba-tiba ia tertawa sangat keras. "Mario, sebenarnya yang merusak rumah tangga mu itu, kau sendiri Mario. Kau melakukan tindakan yang akan mengakibatkan rusaknya pernikahan mu dan Andine. Dan aku, aku adalah orang yang akan mempercepat rusaknya pernikahan mu dan dia." ucap Sella menjabarkan semuanya. Sejenak Mario berpikir, apa yang baru saja Sella ucapkan ada benarnya juga. Apa yang semalam ia perbuat dengan Sella adalah bibit kerusakan pernikahannya dengan Andine. Dan parahnya ia sendiri yang menabur itu. Tapi, sekali lagi hati dan logikanya bertolak belakang. Hatinya menyuruh ia melupakan Sella dan cintanya itu. Tapi, logikanya terus menginginkan Sella, tanpa memikirkan perasaan Andine. "Sella, aku tidak tahu harus berbuat apa. Aku menginginkan kita tetap berhubungan, tapi disisi lain aku tidak ingin pernikahan ku dan Andine hancur." suara Mario berubah menjadi lirih, ia benar-benar bingung dengan situasinya saat ini. Sella yang melihatnya hanya tersenyum miring, "Keinginan mana yang lebih menggebu Mario. Tetap bersamaku atau pernikahan mu dengan Andine?" Mario mendongak menatap Sella dengan dalam, "Dirimu." Tanpa mereka berdua sadari, Andine sudah berdiri di anak tangga yang terakhir. Andine semakin dibuat bingung ketika gendang telinganya mendengar suara Mario. Dirimu Maksudnya? Memang, Andine tidak mendengar keseluruhan percakapan Sella dan Mario. Hanya kata 'Dirimu' saja yang terdengar sangat jelas. "By ini berkasnya." ucap Andine, membuat Sella dan Mario menolehkan pandangan. Andine berjalan mendekat dan memberikan berkas yang ia bawah, ketangan Mario. "Kamu sejak tadi berdiri disana?" tanya Mario. "Tidak by." Mendengar jawaban dari istrinya, Mario menghembuskan nafas lega. Ia lega jika Andine tidak mendengar percakapannya dengan Sella. Bagaimanapun ia belum rela kalau pernikahannya dengan Andine harus berakhir secepat ini. Meskipun hatinya menginginkan dengan Sella. Tapi sungguh, ia belum siap pernikahan ini berakhir.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN