12. France [9] Appointment?

752 Kata
Hari sudah malam, tapi Mario belum juga menampakkan batang hidungnya. Padahal, siang tadi Mario menelfonnya dan berniat mengajaknya makan malam. Tapi, sampai sekarang tidak ada tanda-tanda kepulangan Mario. Sudah sekian kalinya Andine menghembuskan nafas panjang. Ia lelah menunggu Mario dari jam lima sore sampai jam sembilan malam. Hatinya sudah terlalu kecewa, bisa-bisanya Mario mengingkari janji yang dibuatnya sendiri. Apakah sesibuk itu Mario. Andine tidak tahu, ia bangkit dari duduknya dan melangkah menuju kamarnya. Sudah cukup baginya merasakan kecewa, ia tak ingin merasakan yang lebih lagi jika ia, masih tetap ingin menunggu Mario pulang, tapi pada kenyataanya orang yang ditunggu-tunggu tak kunjung pulang. Atau berniat tak ingin pulang. Andine menutup pintu kamar sedikit keras, mungkin itu pelampiasan nya. Sudah tak ingin memikirkan apa apa lagi, Andine langsung saja merebahkan tubuhnya diatas ranjang dan menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut. Tapi, baru beberapa menit. Suara isakan tangis terdengar, diiringi dengan bergetarnya bahu Andine. Yups, Andine menangis. Wanita cantik itu menangisi suaminya, menangisi janji suaminya. "Kamu jahat by, kamu yang membuat janji tapi kamu sendiri yang mengingkarinya by. Asal kamu tahu, aku sudah sangat senang dengan janjimu itu, tapi kenapa kamu mengingkarinya by." gumam Andine, dengan isakan yang semakin terdengar keras. Wanita itu terus menangis, sampai-sampai pintu terbuka pun, ia tak menyadarinya. "Aku kecewa sama kamu by, kamu jahat." gumam Andine sekali lagi. Dan seseorang yang baru memasuki kamar, menghentikan langkahnya ketika mendengar ucapan bernada lirih itu. "Kamu jahat by, kamu jahat." isakan Andine semakin terdengar keras. Wanita itu semakin meringkukkan tubuhnya didalam selimut. Perlahan orang itu mendekat, dan berhenti tepat didepan wanita yang sedang bergelung meringkuk dibawah selimut. Dahinya mengerut, ia berfikir jika sang istri sudah tertidur. Namun, suara isakan tangis memberitahunya jika istrinya belum tertidur, melainkan menangis. Tapi apa yang ditangisinya. Pikir Mario. Ya, orang itu Mario. Siapa lagi yang bisa masuk kedalam kamar Andine, jika bukan Mario. "Sayang, kau menangis?" Mario menyentuh kepala Andine yang tidak sepenuhnya tertutupi selimut. Sedangkan yang ditanyai, terkejut bukan main. Langsung saja Andine mengusap air matanya, sebelum membuka selimutnya dan memperlihatkan wajahnya kepada Mario. "Andine." panggil Mario kala Andine belum merespon. "Ada apa by?" suara itu terdengar begitu lembut digendang telinga Mario. Bersamaan dengan Andine menyingkirkan selimut dari tubuhnya. Mario terkejut melihat mata Andine yang memerah, ia yakin bila istri kecilnya ini habis menangis. Tapi karena apa. "Kamu habis menangis sayang?" Mario berjongkok seraya menggenggam tangan Andine. Andine hanya menggeleng sebagai jawaban. Ia tak ingin Mario tahu jika ia habis menangis, tapi matanya yang memerah tak bisa berbohong lagi. "Kamu menangisi apa sayang, jangan menangisi hal yang tidak penting." ucap Mario dengan senyuman manis. Tapi, apa yang baru saja Mario ucapkan, malah membuat tangis Andine kembali pecah. Sungguh, betapa entengnya Mario berbicara seperti itu. "Aku menangis karena kamu, kamu menelfonku dan berjanji mengajakku makan malam. Tapi apa by, kamu mengingkarinya. Dan dengan entengnya kamu bilang, jangan menangis hal yang tidak penting." papar Andine. Ia meluapkan semuanya. Sedangkan Mario, ia terdiam setelah mendengar penuturan Andine. Dan ia baru ingat, dengan janji yang sempat ia berikan kepada Andine. "Sayang, ma.." "Sudahlah by. Kamu sungguh membuatku kecewa." "Sayang ak.." "Apa by, jangan berusaha memberi alasan by." potong Andine cepat sebelum Mario mengucapkan sesuatu. "Aku ingin pulang ke indonesia by, aku ingin pulang besok!" tiba-tiba Andine berucap seperti itu. Dan itu membuat Mario langsung berdiri tegak, dan menatap Andine nyalang. "Tidak Andine, pekerjaanku disini masih banyak. Lagipula kita disini kurang satu minggu lagi, tunggu satu minggu lagi lalu kita kembali ke indonesia." ucap Mario mencoba memberi pengertian. "Jangan seperti ini, hanya karena aku mengingkari janji sayang. Maaf, aku akui aku melupakan janji itu, maaf sekali lagi." lanjut Mario. Andine sejenak menatap Mario yang tengah tersenyum manis kepadanya. Jika seperti ini terus, Andine bisa-bisa luluh pada Mario dan melupakan kekecewaan nya. "Mario." cicit Andine. Mario menatapnya dengan senyuman, dan sedetik kemudian Andine langsung menghambur ke pelukan Mario. Jika saja Mario tidak memiliki ketahanan tubuh, pasti sekarang Mario sudah terjungkal kebelakang dengan Andine diatasnya. "Hahaha kenapa sayang?" kekeh Mario dengan tingkah laku istrinya. Bukankah Andine sedang marah dan kecewa dengannya, lalu kenapa sekarang wanita itu memeluknya sangat erat. Ah, Mario lupa. Jika ia menikahi anak kecil, dan pastinya sifatnya sangat labil. Mudah marah dan mudah luluh serta memaafkan. "Sekali lagi aku minta maaf sayang, dan bagaimana jika malam ini aku mengganti semua rasa kecewamu." tawar Mario yang diangguki oleh Andine. "Tapi menggantinya dengan apa?" tanya Andine dengan kening berkerut. "Dengan ini." tangan Mario beralih pada kancing baju yang dikenakan Andine. Dan membukanya satu persatu. "Dasar m***m!" maki Andine, dan dibalas kekehan kecil oleh Mario.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN