15. Indonesia [Rival Wijaya]

687 Kata
Pesawat yang ditumpangi Andine mendarat di bandara internasional Soekarno-Hatta. Tepat pada pagi,  pukul sepuluh lebih dua belas menit. Sebelum keberangkatannya ke indonesia, Andine menyempatkan diri menelfon sang nenek untuk menjemputnya. Dan kini, Andine tinggal mencari keberadaan neneknya. Sekitar tiga menit mencari, akhirnya Andine mendapati sang nenek berdiri lima meter dari tempatnya sekarang. "Nenek." seru Andine ketika sudah berdiri dihadapan neneknya--Elma. "Dimana suami mu sayangku.?" tanya Elma yang tak mendapati keberadaan menantunya--Mario. Ya, Andine tidak sempat memberitahu jika dirinya akan kembali seorang diri. "Aku sendirian nenek, Mario masih menetap disana. Sebenarnya kepulanganku seminggu lagi, tapi karena aku merindukan nenek, jadinya aku pulang duluan dan Mario menyusul pulang seminggu atau dua minggu lagi." jelas Andine pada Elma. Sang nenek hanya mengangguk pertanda sudah paham, akan apa yang dijelaskan Andine. "Kalau begitu ayo pulang. Kau tinggal saja dirumah nenek sementara waktu ya, nenek sangat merindukan mu." pinta Elma yang disanggupi lalu Andine. Mereka berdua berjalan keluar bandara dan sang nenek menariknya sampai tiba didepan mobil sport berwarna putih. Andine mengerutkan keningnya, ia bingung Mobil siapa ini dan kenapa nenek nya membawanya ke sini. Baru saja ingin bertanya, tapi pertanyaannya sudah terjawab dengan keluarnya sang pemilik mobil sport itu. Sedikit tercengang, Andine menarik sudut bibirnya untuk tersenyum. Ia terkejut dengan adanya dia didepannya. "Hai." sapa orang tersebut. "Ha-y juga." jawab Andine sedikit kikuk. "Sudah, sudah. Ayo segera pulang, pasti Andine sudah sangat kelelahan karena perjalanan yang cukup jauh." potong Elma membuyarkan acara sapa-sapaan Andine dengan pria didepannya. "Ah, baiklah nenek. Ayo." pria itu membukakan pintu untuk Elma dan juga Andine. Elma mengambil duduk dibelakang, sedangkan Andine duduk disamping pengemudi. Selama perjalanan pulang tidak ada yang bersuara. Elma--neneknya tertidur dan hanya tinggal dirinya dan pria di sebelahnya. "Kata nenek kau menikah beberapa minggu yang lalu. Lalu sekarang, bagaimana hubungan rumah tangga mu dengan suamimu Andine?" tanya pria disampingnya--Rival. Andine tidak menjawab pertanyaan Rival, ia masih sibuk dengan acara melamunnya. Sedangkan Rival yang tidak mendapatkan jawaban atas pertanyaan nya pun, menoleh dan menatap Andine. Ia berdecak kesal ketika melihat Andine sedang melamun, dengan matanya yang menatap kejalanan. "Andine." panggil Rival. Seraya tangannya memegang punggung tangan Andine. "Ah iya kak, ada apa?" tanya Andine ketika terbauyar dari lamunannya. "Aku tanya bagaimana hubungan rumah tangga mu dengan suami mu." ulangi Rival. "Oh, ya baik-baik saja." Rival mengangkat satu alisnya, "Dia selisih sembilan tahun dengan kan, apakah tidak ada rasa canggung?" "Kenapa banyak tanya?" bukannya menjawab, Andine malah balik bertanya. "Ck, kau ini ya." decak Rival kesal. "Hahaha, mangkanya jangan banyak tanya. Oh iya kak, kapan pulang dari Belanda?" "Dua minggu yang lalu." "Disini mengurus perusahan eyang?" tanya Andine lagi. "Kenapa banyak tanya." celetuk Rival menirukan ucapan Andine. "Kak, aku serius." "Aku juga, Andine ku sayang." Andine tidak menjawab, membuat Rival menghela nafas panjang, "Iya aku disini mengurus perusahan eyang." "Oh." Sudah tidak ada percakapan lagi antara Rival dan Andine. Rival Wijaya. Anak dari Rudi Wijaya, Rudi Wijaya adalah anak dari Elma Wijaya, kakak ayah nya Andine. Hubungan Rival dan Andine dikatakan cukup dekat, mereka seperti saudara kandung pada umumnya, meskipun sebenarnya hubungan mereka adalah sepupu. "Dimana suami mu, kenapa kau kembali sendirian?" tanya Rival memecah keheningan. "Masih ada pekerjaan disana, sudahlah kak jangan bertanya lagi." "Oke baiklah." Sesuai ucapan Rival, ia tidak bertanya lagi. Tapi, ada sesuatu yang mengganjal dipikirkannya, ia sedikit curiga dengan hubungan Andine dan suaminya. Pasalnya, setiap ia bertanya yang berhubungan dengan suami atau rumah tangga Andine. Wanita itu selalu menampakkan wajah yang gelisah. Entah apa yang sebenarnya terjadi antara Andine dan suaminya. Jika Andine tidak bahagia dengan pernikahannya, maka ia sebagai sepupu sekaligus kakak untuk Andine. Akan membuat Andine terbebas dari ikatan pernikahannya. Ia sangat menyayangi Andine, dan ia tidak akan membiarkan Andine terjerat dalam hubungan yang dipaksakan. "Kak." panggil Andine membuat Rival menoleh ke arahnya. "Ada apa?" "Kak, jika aku butuh bantuan mu. Apakah kau mau membantu ku kak?" "Kenapa kau bicara seperti itu Andine, kau sudah aku anggap seperti adikku sendiri. Jadi, jangan sungkan-sungkan untuk meminta bantuan. Omong-omong kenapa kau meminta bantuan?" "Tidak apa-apa." Rival tidak membalas. Ia bungkam tapi pikirannya berkelana dimana-mana. Sekarang, kecurigaannya semakin menjadi-jadi, ia semakin curiga bila ada sesuatu yang terjadi diantara Andine dan suaminya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN