Andine mengunci dirinya didalam kamar. Setelah sampai dirumah Elma--neneknya. Ia langsung masuk kedalam kamar dan belum keluar sampai jam menunjukkan pukul lima sore.
Tak ada yang dilakukan Andine didalam kamar selain menangis. Ia berkali-kali menatap layar ponselnya, berharap sang suami menelfon atau mengirimnya pesan. Tapi, itu hanya angan-angannya saja, sampai sekarang pun tak ada pesan atau telefon dari Mario.
Tak ada niatan juga untuk menelfon Mario duluan, ia sudah terlanjur kecewa dengan suaminya itu. Perlahan ingat malam sebelum ia kembali ke indonesia berputar di kepalanya, bagikan kaset rusak. Dimana ia melihat dengan mata kepalanya sendiri, Sella yang sedang mendorong masuk Mario kedalam kamar mandi. Dan selanjutnya terdengar suara desahan yang menjijikkan.
Flasback on
Andine bangkit dari duduknya. Ia berniat menyusul Mario ke kamar mandi, karena ini sudah hampir sepuluh menit Mario belum juga kembali.
Andine menghiraukan makanan pesanannya yang baru saja datang. Ia langsung berjalan menuju kamar mandi pria. Tapi, alangkah terkejutnya ketika dirinya melihat Sella juga berada disana. Dan lebih terkejut lagi, ketika melihat Sella mendorong Mario untuk kembali masuk kedalam kamar mandi.
"Ya Tuhan, apa yang aku lihat itu tidak salah? Sella? Mario? Ada apa sebenarnya?" tanya Andine sendirian. Ia semakin berjalan mendekat kearah kamar mandi yang berisikan Sella dan Mario didalamnya. Dan sial, semakin mendekat suara menjijikkan itu semakin terdengar, digendang telinganya.
"Mario." lirih Andine dengan air mata yang sudah berjatuhan.
Tak ingin merasakan sakit, ia berjalan cepat untuk kembali ke meja makan nya. Andine berniat menutupi apa yang ia lihat dan yang ia dengar. Ia akan mencaritahu lebih lanjut apa sebenarnya hubungan Mario dengan Sella.
30 menit kemudian. Mario kembali dengan senyum yang mengembang, dan dibelakangnya ada Sella yang berpura-pura bermain ponsel.
Andine hanya tersenyum kecut melihatnya. Mereka bertiga juga menghambiskan makanannya dalam suasana hening. Dan hanya suara sendok dan garpu yang saling bersahutan.
Flasback off
Dengan gusar Andine beranjak dari atas ranjangnya. Sebelumnya ia membenarkan tali piyama sebelum keluar dari dalam kamar, untuk menemui sang kakak--Rival. Kebetulan Rival tinggal dirumah Elma, untuk menghilangkan kesepian.
Tapi, baru saja ia membuka pintu, kehadiran Rival didepan kamarnya membuatnya terlonjak kaget.
"Kakak, sejak kapan kau disini? Mengejutkan saja." gerutu Andine dengan tatapan tidak suka.
"Hahaha, maaf Andine. Aku baru saja berdiri disini, baru ingin mengetuk pintumu, tapi kau keburu membukanya." ucap Rival memberi penjelasan.
"Ada apa?" tanya Andine dengan satu alis terangkat.
"Mencari teman ngobrol." jawab Rival dengan kekehan kecil.
"Aku juga ingin bicara dengan mu kak. Tapi, kau harus janji jangan langsung naik pitam." ucap Andine sekaligus menasehati.
"Memangnya apa yang ingin kau bicarakan sehingga akan membuatku naik pitam?"
"Tentang rumah tangga ku, dan tentang Mario."
"Baiklah, bicara didalam kamar mu saja." putus Rival. Ia masuk kedalam kamar Andine yang bernuansa putih biru ini.
Sebelum mengikuti Rival yang duduk diatas ranjang nya. Ia berbalik dan mengunci pintu kamarnya.
"Kak, aku mencintai Mario." ucap Andine lirih, setelah ia duduk disamping Rival.
"Lalu?"
"Tapi aku tidak tahu, dia mencintaiku atau tidak." ucap Andine dengan tangan yang meremas piayamanya.
"Tanya langsung ke dia. Dia mencintaimu atau tidak, terkadang kaum hawa harus berbicara duluan dan melupakan egonya. Jangan hanya menunggu si pria mengungkapkan isi hatinya. Iya, jika pria itu gentlemen yang langsung mengungkapkan perasaannya pada wanita yang dicintainya. Jika pria itu pengecut, dan takut mengungkapkan, bagaimana? Lupakan ego dan tanya pada Mario tentang perasaanya terhadap dirimu." Andine terdiam tak bisa membalas ucapan Rival. Ia terus menundukkan kepala.
Namun, terdengar helaan nafas gusar dari Andine, "Aku sudah pernah bertanya. Dan jawabannya, dia belum mencintaiku tapi dia hanya menaruh rasa sayang."
"Dan yang menjadi masalah saat ini adalah wanita itu kak. Mantan tunangan Mario."
"Maksudmu?" tanya Rival tak mengerti.
"Sebelum menikah dengan ku, Mario sudah bertunangan dengan wanita bernama Sella. Mario sangat mencintainya kak, dan pertunangan itu harus kandas karena perjodohan yang dilakukan mendiang orang tua Mario. Kata Sella, Mario tidak rela pertunangannya kandas, karena Mario dan Sella saling mencintai. Tapi mau bagaimana lagi, Mario harus menjalani perjodohan itu disaat hatinya masih milik Sella." jelas Andine panjang lebar.
"Dan mereka kembali bertemu ketika di Prancis. Awalnya aku cuek, dan tidak terlalu memikirkan Sella dan juga Mario. Tapi, setelah aku melihat dan mendengar suara itu, rasanya ada sesuatu yang tidak beres. Aku yakin mereka ada hubungan lagi, tapi karena aku tidak punya bukti, aku putuskan tidak membicarakannya dengan Mario." lanjut Andine.
"Apa yang kau lihat dan apa yang kau dengar? Katakan!"
Andine mengusap wajahnya frustasi sebelum menjawab pertanyaan Rival.
Andine menceritakan dari awal, jika mereka bertemu direstauran. Dan Andine juga menceritakan tentang sikap Mario terhadap Sella saat itu. Dan tak lupa, menceritakan apa yang dilihat dan didengarnya dikamar mandi.
"Kau yakin itu Mario?"
"Aku yakin kak."
"Kalau kau mengatakan iya, aku tidak bisa membantah lagi. Tapi, jika suara itu, mungkin saja suara dari bilik lain Andine. Atau bisa saja itu suara lain, bukan suara desahan yang kau maksud." Rival mencoba berfikir positif. Sebenarnya ia sudah ingin marah mendengar cerita Andine. Namun, ia ingat janjinya, agar tidak naik pitam.
"Aku tidak tahu kak. Dan terima kasih mau mendengarkan curhatanku."
Rival tersenyum sebelum ia bangkit dan berpamitan kembali ke kamarnya.
"Aku harap, kecurigaanku tidaklah benar Mario."
"Karena aku mencintaimu, dan aku belum siap sakit hati dengan apa yang sebenarnya terjadi." gumam Andine.
"I love you Mario. Entah kenapa aku bisa mencintaimu, mencintai pria asing yang kini sudah berstatus sebagai suamiku."