Matahari sudah menampakkan wujudnya. Sinarnya merambat masuk melalaui jendela, membuat wanita yang tengah tertidur itu terusik. Matanya mengerjap menyesuaikan cahaya yang masuk. Tangannya meraba diatas nakas, lalu diambilnya ponsel berwarna hitam miliknya. Awalnya hanya berniat melihat jam, namun ketika matanya menangkap notifikasi pesan, matanya langsung membola besar.
Disana, dilayar ponselnya tengah terpampang pesan yang sudah dari semalam ia tunggu-tunggu. Tak membuang waktu lama, ia langsung membuka ruang chat nya dengan Mario. Senyumnya sudah mengembang sempurna, namun ketika membaca pesan tersebut, ingin rasanya ia mengumpat kasar.
Baby (Mario)
Maaf, mungkin aku akan pulang satu bulan lagi. Kemarin, Sella kecelakaan mobil dan sekarang dia dirawat di rumah sakit. Karena tidak ada sanak saudara nya yang disini. Jadi dia meminta bantuanku. Satu bulan itu waktu yang singkat, jangan khawatir. Jika kondisi Sella sudah membaik, maka aku akan langsung pulang. Jaga diri baik-baik disana sayang.
Keterlaluan.
Kata itu yang cocok terlontar untuk Mario. Bagimana bisa Mario lebih mementingkan orang lain, ketimbang pulang dan bertemu istrinya.
Dengan pesan ini, Andine semakin yakin jika Mario memiliki hubungan dengan Sella. Tapi, Andine harus tetap bungkam karena ia belum memiliki bukti yang membenarkan tuduhannya.
Terserah.
Hanya kata 'Terserah' yang menjadi balasan Andine untuk pesan Mario. Tak perlu mengetik panjang lebar lagi, karena itu tidak ada gunanya.
Baru saja ingin kembali meletakkan ponselnya. Namun, suara dering telepon menggugurkan niatnya. Andine melihat siapa gerangan yang menelponnya pagi-pagi seperti ini.
Ah
Ternyata Mario.
Ingin rasanya ia mengangkat panggilan itu. Tapi egonya terlalu berkuasa, hingga ia membiarkan panggilan itu. Sampai dua kali ponselnya berdering, Andine masih tetap membiarkannya. Baru ketiga kalinya suara panggilan terdengar, Andine menggeser layar hijau di ponselnya.
"Ada apa?"
"Kenapa lama sekali sayang, aku hanya ingin bilang jika aku merindukan mu."
"Oh ya?"
"Iya, kamu tahu, semalam aku tidak bisa tidur nyenyak. Karena biasanya ada kamu disampingku, tapi semalam kamu tidak ada, jadinya aku tidak bisa tertidur dengan nyenyak."
"Kamu tidur dimana semalam by?"
"Rumah sakit. Aku harus menjaga Sella."
"Sudah ku duga. Hmm sudah ya by, aku pusing, aku matikan." alibi Andine dan segera mematikan sambungan telponnya.
Ia beranjak dari ranjang untuk menuju kamar mandi. Mungkin siraman air akan membuat otak dan hatinya mendingin, tidak memanas seperti sekarang. Entah kenapa ia tiba-tiba tidak suka jika Mario mementingkan kondisi Sella, apalagi sampai mengendur kepulangannya.
"Apa aku cemburu?" tanya Andine pada dirinya sendiri.
"Ya tentu saja aku cemburu. Orang yang aku cintai sedang bersama dengan mantan tunangannya." lanjut Andine. Dan kini, setetes air mata jatuh di pipi putih milik Andine.
Entah kenapa ia menjadi sensitif jika itu menyangkut Mario. Apalagi setelah kejadian yang ia lihat di toilet sewaktu itu.
●●●●●
Dilain sisi, saat ini Mario tengah sibuk mengurus Sella. Mario dengan telaten menyuapi Sella makanan yang baru saja dibelinya, karena Sella menolak makan makanan rumah sakit.
"Satu lagi Sella." bujuk Mario untuk sekian kalinya. Namun, Sella tampak acuh dan malah memilih bermain dengan ponselnya.
Karena Mario sudah geram akan penolakan Sella untuk makan, ia merebut paksa ponsel milik Sella, "Makan Sella, bukan bermain ponsel."
Sella sedikit tersentak akan nada ucapan Mario, "Kau membentakku Mario. Dan kembalikan ponselku."
"Tidak! Makan dulu, baru aku akan kembalikan ponselmu."
Karena Sella bukanlah wanita yang penurut, ia menyibak tangan Mario yang tengah memegang piring berisi makanan. Piring itu terlempar dan pecah berserakan di lantai.
"Sella kau." geram Mario menahan marah. Sedari tadi ia menahan amarahnya, ketika Sella terus saja menolak untuk makan. Tapi, apa yang sudah Sella perbuat sekarang, sudah membangkitkan amarah yang ia pendam.
"Sella, kau keterlaluan. Apa susahnya menurut kepadaku, aku menyuruhku makan juga karena bayi yang kau kandung. Aku tidak mau bayi itu kenapa-kenapa. Tapi dengan kurang ajarnya, kau membuat makanan itu berserakan di lantai. Apa sebenarnya mau mu hah, makan tidak mau, dan malah memilih bermain ponsel." bentak Mario. Ia meluapkan apa yang sedari tadi ia tahan.
"Ohh, jadi semua karena bayi yang aku kandung ini? Apa jangan-jangan cintamu untukku sudah berkurang, atau cinta mu sudah beralih pada istri mu itu." balas Sella tak kalah sengit. Bukannya takut akan bentakan Mario, ia malah membalas dengan nada yang tak kalah dari Mario.
"Kenapa kau malah mengungkit tentang cinta, tentu saja aku mencintaimu. Aku tidak mencintai Andine, sama sekali tidak." bantah Mario. Ia tidak membenarkan pernyataan Sella.
Diam-diam Sella mengulas senyum tipis, ia merasa senang dengan ucapan Mario.
"Ah sudahlah Sella. Sekarang aku akan bawakan makanan rumah sakit, kau harus makan." baru saja Mario meninggalkan Sella, namun langkahnya harus terhenti ketika Sella berbicara.
"Aku tidak mau makan, jangan berusaha menyuruhku makan lagi Mario. Lebih baik kau pergi, aku ingin sendiri." ungkap Sella. Seketika juga rahang Mario mengeras.
"Dasar wanita tidak penurut. Beda sekali kau dengan Andine." ucap Mario asal. Ia benar-benar muak dengan sikap keras kepala Sella. Beda sekali dengan Andine, istrinya. Andine penurut, dan selalu menuruti ucapannya, tidak seperti Sella.