Ini sudah sekian kalinya Mario menghubungi Andine, namun setiap ia meñelpon selalu saja panggilannya di reject. Entah ada apa dengan istri kecilnya itu, apa Mario telah melakukan kesalahan?
Tak kehabisan akal, Mario langsung beralih menelfon Elma--nenek Andine. Pasti telponnya akan diangkat, dan akan diberikan ke Andine.
"Hmm, nenek sedang bersma Andine?" tanya Mario seesopan mungkin. Ketika panggilannya diterima.
"Tidak, oh iya Mario. Andine akan menginap di rumah nenek beberapa hari, lagipula kau kan belum pulang. Nenek takutnya Andine kesepian."
"Iya tak apa nek. Tapi dimana Andine sekarang?" tanya Mario lagi.
"Sedang pergi berada Rival."
"Pergi? Dengan Rival?" Mario tampak terkejut dengan ucapan Elma. Jadi, Andine sekarang ini sedang pergi dengan Rival. Maka dari itu Andine selalu mereject panggilannya. Sekiranya itulah yang dapat Mario simpulkan.
"Ya sudah nek, aku matikan."
Sambungan telpon terputus, dan sekarang terlihat jelas raut wajah Mario yang geram. Ia tengah menahan amarah, ia tak habis pikir dengan Andine.
"Jadi kau mereject panggilan ku, karena sedang bersama Rival. Kesimpulannya kau tidak mau terganggu oleh panggilan ku, istri kurang ajar kau Andine." kesal Mario, ia menyapu semua benda yang berada di meja kerjanya, hingga semua benda itu berserakan di lantai.
Ya, setelah perdebatan kecilnya dengan Sella, Mario memutuskan untuk ke kantor menenangkan diri. Ia tidak ingin terus-menerus berdebat dengan Sella.
"Siapa laki-laki bernama Rival itu, apa dia memiliki hubungan dengan Andine?" tanya Mario sendirian.
Tak tahu mengapa Mario tak terima ketika mengetahui jika istrinya jalan berdua dengan lelaki bernama Rival. Ditambah lagi, dengan panggilannya yang selalu di reject oleh Andine. Sungguh, saat ini Mario sedang diliputi oleh amarah.
"Aku kecewa kepadamu Andine."
●●●●●
Ini sudah kesekian kalinya Rival mereject panggilan yang masuk di ponsel Andine. Ia tak akan membiarkan suami sepupunya itu mengganggu acara jalan-jalannya dengan Andine.
Sudah cukup tadi pagi Andine diberi luka oleh suaminya itu, tidak untuk sekarang dan mungkin selamanya.
Ya, Andine menceritakan apa yang tadi pagi terjadi antara dirinya dan Mario. Andine mengungkapkan jika ia kecewa, sakit hati, dan tentunya cemburu.
Semua Andine ceritakan pada Rival, karena Rival adalah orang yang paling dekat dengannya. Rival adalah wadah curhat Andine, Rival adalah pahlawan Andine. Intinya, Rival orang yang selalu menjadi tujuan utamanya jika ia sedang ada masalah. Dan Rival adalah orang yang paling mengerti dia.
"Kak jangan di reject panggilannya, siapa tau itu penting." keluh Andine pada Rival.
"Tidak ada yang penting dari dia Andine."
"Kak, siapa tau dia butuh aku."
"Butuh apa?"
Andine terdiam tak dapat menjawab pertanyaan Rival. Dalam lubuk hatinya yang paling dalam, ingin sekali ia mengangkat panggilan dari Mario. Tapi apa daya Andine, ketika Rival sudah bersikukuh melarangnya.
"Andine." panggil Rival kemudian.
Andine yang masih terdiam dengan sebelah tangan yang memegang ice cream pun menoleh, "Apa?"
"Jika kau sudah mengetahui kebenaranya, apa yang akan kau lakukan?"
"Kebenaran apa?" tanya Andine pura-pura tidak mengerti.
"Hubungan suamimu dengan perempuan yang bernama Sella itu."
"Lihat nanti saja kak, sekarang ini aku hanya ingin tahu, apa hubungan Mario dengan Sella. Apa mereka menjalin hubungan dibelakang ku, atau selama ini yang aku yang terlalu curiga." sungguh jawaban yang membuat Rival menghela nafas panjang.
"Baiklah, semua keputusan ada ditangnmu. Dan jika nanti kau ingin berpisah dengan Mario, makan hubungi aku. Aku akan membantumu."
"Kalau bicara jangan sembarangan kak, ucapan adalah doa. Jika aku dan Mario bercerai sungguhan, bagaimana?" kesal Andine. Ia langsung membuang ice cream yang berada ditangnnya.
"Ya, tidak apa-apa. Nanti aku akan carikan pengganti Mario."
Lagi dan lagi, balasan Rival membuat Andine kesal. Kenapa lelaki disampingnya ini sangat memperlihatkan ketidaksukaannya terhadap Mario.
Cukup lama mereka terdiam, hingga suara Andine memecah keheningan yang sedang terjadi, "Berikan ponselku." pinta Andine dengan mengulurkan tangannya kearah Rival.
"Untuk Apa kau ingin ponselmu?"
"Menghubungi Mario, apa lagi."
"Tidak Andine. Lebih baik tidak usaha menghubunginya, lagipula kau tadi bilang kan, jika sewaktu Mario menelpon mu, jawabanmu sangat singkat. Jadi, lebih baik sempurnakan acara cuek mu itu, tidak usah menelponnya."
Sebenarnya Rival juga geram akan kelakukan Andine. Jika saja Andine tidak melarangnya mengurusi rumah tangga mereka dengan lebih dalam, mungkin saat ini Rival sudah berada di Prancis menyusul Mario, dan memberikan pelajaran kepada lelaki seperti Mario.
"Kak, aku mohon berikan ponselku." pinta Andine sekali lagi.
"Kak, ponselku."
"Ck kau ini." Rival menyerahkan ponsel Andine dengan kasar. Andine yang sudah mendapatkan ponselnya pun, langsung menjauh dari Rival. Andine akan menelpon Mario.
Dering pertama dan kedua tidak diangkat. Namun, ketika dering ketiga, Mario mengangkatnya.
"By."
"Sudah puas jalan-jalannya, kenapa sekarang menelpon ku? Tidak takut acara jalan-jalanmu itu terganggu."
Andine terdiam, ia terus berfikir darimana Mario tahu jika ia sedang jalan-jalan. Tapi, apakah Mario tahu jika ia sedang bersama Rival?
"By, kamu bicara apa?"
"Bicara apa? Mereject panggilanku berkali-kali, masih bicara apa?"
Andine tersadar, seharusnya ia langsung merebut ponselnya dari tangan Rival, agar tidak timbul masalah seperti ini. Pasti saat ini Mario sedang marah padanya. Itulah yang dipikirkan Andine.
"Bukan aku yang mereject panggilannya."
"Lalu siapa? Apa lelaki bernama Rival yang mereject panggilan dariku? Wow bahkan kau membiarkan ponselmu dipegang lelaki lain."
"Bukan by, bukan begitu."
"Sudahlah Andine, aku kecewa dengan mu. Bisa-bisanya dirimu disana keluar berdua dengan lelaki bernama Rival. Apa sebenarnya hubungan mu dengan dia, apa dia selingkuhanmu?"
Sungguh pedas kata-kata yang terlontar dari mulut Mario.
"By bu..."
Tut tut tut...
Sial, Mario memutuskan panggilannya. Belum apa-apa sudah timbul masalah antara dirinya dan Mario.
'Ya Tuhan, Mario sudah salah paham.' Batin Andine, berteriak gelisah.