Satu bulan 1 minggu, kemudian
Andine bergegas menuruni tangga dan tersenyum melihat siapa yang berkunjung sepagi ini. Senyumnya semakin mengembang ketika mendapat satu buket bunga mawar dari sang kakak--Rival.
"Sesuai pesanan." ucap Andine senang. Sedangkan Rival memutar bola matanya jengah.
"Cari nya susah itu, tanggung jawab waktu ku tersita banyak hanya demi mencari penjual bunga tulip. Kau pikir ini Belanda, yang sampai-sampai meminta bunga tulip segala." gerutu Rival. Andine hanya terkekeh dan menaruh bunga itu diatas meja.
"Gak ikhlas?" Andine sudah menunjukkan raut wajah yang uhh sungguh tidak enak dipandang.
"Sangat." mata Andine membola, kenapa juga sang kakak bisa sejujur itu. Kan bisa berbohong sedikit, agar dirinya senang.
"Kalau bicara asal ceplos."
"Ya iya lah. Oh iya, ini udah satu bulan lebih loh, kenapa Mario belum kembali ke Indonesia?" tanya Rival, ia tiba-tiba mengganti topik pembicaraan.
"Aku tidak tahu, mungkin dia pulang lusa atau satu minggu lagi, atau..tidak sama sekali." Rival sedikit terkejut mendengar akhir kalimat Andine.
"Maksudmu?" tanya Rival tak mengerti.
"Ah sudahlah, kembalilah ke kantor dan terima kasih untuk bunganya." ujar Andine, berniat mengusir Rival secara halus. Jika semakin lama Rival disini, semakin lama pula topik tentang Mario akan berlangsung.
"Ah Ya sudah, lagipula sebentar lagi ada rapat penting. Aku pulang dulu, jaga kesehatan mu, jangan sampai kelelahan kasihan bayi yang tengah kau kandung." Andine hanya terkekeh mendengarnya.
"Iya iya bawel, oh iya. Kalau Kalau udah pulang, sampaikan salam ku untuk nenek kak." Rival hanya menganggukan kepala dan berjalan keluar Mansion. Selepas kepergian Rival, Andine mengambil buket bunga yang sempat ia letakkan diatas meja. Seutas senyum manis terbit dibibir Andine.
Tangannya perlahan turun dan menyentuh perut ratanya. Ya, masih rata karena usia kandungan Andine masih berusia satu bulan. Andine mengetahui kalau dirinya hamil, diusia kandungannya yang baru memasuki 2 minggu.
Tepat setelah Andine dinyatakan positif hamil, Elma sang nenek menyarankan Andine untuk homeschooling, atau jika Andine menolak Andine terpaksa harus berhenti sekolah. Itu dilakukan Elma semata-mata untuk keselamatan Andine dan bayinya. Apalagi tidak ada Mario disisi Andine, membuat kecemasan Elma bertambah.
Awalnya Andine memutuskan untuk homeschooling, tetapi ketika berita pernikahannya menyebar keseluruh penjuru sekolah, Andine langsung dipanggil kepala sekolah dan harus menerima pernyataan bahwa dirinya akan dikeluarkan. Karena sudah menjadi aturan sekolah, jika yang sudah menikah mau tidak mau harus mau di keluarkan.
Memang sedih, bahkan ke dua teman Andine pun tak menyangka jika sahabatnya itu sudah menikah. Mereka terkejut ketika Andine dinyatakan dikeluarkan dari sekolah karena sudah menikah, dan mereka sempat bertanya kepada Andine sendiri. Dan mereka semakin bertambah terkejut, ternyata Andine menikah karena wasiat orang tuanya.
Dan, yang menjadi pertanyaan Andine adalah, bagaimana bisa satu sekolahan tahu mengenai berita pernikahannya. Tapi, Andine tak ambil pusing, memang benar kata pepatah, sepandai pandainya menyembunyikan bangkai, akan tercium juga baunya. Sepandai pandainya Andine menyembunyikan tentang pernikahan, suatu saat pasti akan terbongkar. Dan sekarang sudah terbongkar.
"Nyonya." panggil Merth dan membuat Andine mendongak menatapnya.
"Tuan Mario sudah dalam perjalanan pulang." ucap Merth memberutahu. Reaksi Andine sungguh terkejut, kenapa Mario tidak memberitahunya jika ingin pulang.
Ah sepertinya Andine lupa, jika selama sebulan lebih ini ia tidak berkomunikasi dengan Mario. Lebih tepatnya Mario yang sulit untuk Andine ajak komunikasi. Mungkin Mario masih marah dan salah paham tentang panggilan telponnya yang direject beberapa kali.
"Kau tahu dari mana Merth?"
"Sebenarnya semalam tuan menelpon dan bilang jika ia akan kembali malam itu, dan akan tiba sekrang sekitar jam 10 an." Merth menjelaskannya dan setelahnya izin kembali ke dapur.
"Dia tidak menelpon ku, benar-benar kekanakan kamu by. Seharusnya siang itu kamu mendengarkan penjelasanku, tidak main mematikan telpon sepihak." gumam Andine di serta raut wajah gelisah.
Dengan raut wajah lesu dan sebuket bunga tulip ditangnnya, Andine berjalan menaiki tangga berniat kembali ke kamarnya. Setelah menaruh buket bunga diatas meja rias, ia mengambil ponselnya dan melihat sekarang sudah pukul sepuluh kurang sepuluh menit. Yang artinya sebentar lagi suaminya akan pulang.
Baru saja kembali meletakkan ponselnya, dan berniat masuk kedalam kamar mandi. Suara terbukanya pintu kamar membuat Andine menikah, dan betapa terkejutnya ia melihat kehadiran Mario.
"By sudah pulang."
"Menurutmu?"
Mario langsung meninggalkan Andine dan bergegas memasuki kamar mandi. Ia butuh air dingin untuk mendinginkan pikirannya. Jika berlama-lama menatap Andine, bisa-bisa ia akan kehilangan kendali, dan berbuat yang tidak seharusnya pada Andine.
Setengah jam kemudian Mario sudah keluar, hanya dengan melilitkan handuk dipinggangnya. Andine yang sedari tadi menunggu langsung berdiri mendekati Mario, seraya menyodorkan pakaian yang sengaja ia siapkan untuk sang suami.
"Terima kasih." ucap Mario singkat.
"By aku ingin bicara, tapi jangan potong pembicaraan ku." ucao Andine membuat gerakan Mario mengeringkan rambut terhenti. Mario menatapnya dengan sebelah alis terangkat.
"Yang mereject panggilan mu itu bukan aku."
"Iya aku tahu."
"Rival itu se..." ucapan Andine terpotong dengan ketukan pintu. Dengan segera Andine membukanya, dan tampaklah wajah Merth.
"Ada apa?"
"Ada tuan Rival dibawah. Katanya bawakan nyonya makanan dari nenek nyonya." jelas Merth.
"Dia kembali lagi?"
"Iya, katanya tuan lupa ingin memberikan makanan itu. Karena terlalu kesal pada nyonya yang ingin bunga tulip." Merth sedikit terkekeh diakhir kalimat.
Mario yang mendengar nama Rival pun kembali memanas. Kenapa sampai bisa lelaki itu mengetahui mansiapnya, bahkan sudah pernah menginjakkan kaki disini.
Setelah kepergian Merth, Andine menutup pintu dan menghadap tubuh Mario, "Ikut aku kebawah by, nanti kau tahu siapa itu Rival."
Mario tidak menjawab, ia langsung mengenakan pakaian yang telah Andine siapkan dan turun mendahului Andine. Ia ingin tahu, siapa itu Rival dan bagaimana rupanya.
"Kakak." panggilan itu membuat Rival menoleh dan tentunya Mario ikut menoleh, bedanya Mario menoleh menatap Andine.
Langsung saja Andine mendekat kearah Rival dan Rival menyerahkan paper bag berisi makanan.
"Pelupa, katanya kau mau ada rapat kepada kembali lagi hanya demi mengantarkan makanan ini?"
"Jika tidak diberikan nanti aku yang menjadi santapan ocehan nenek."
Andine tertawa dan menikah kearah Mario, "By ini kak Rival, sepupu aku."
Mario langsung terkejut mendengar pernyataan Andine. Jadi, lelaki bernama Rival yang di curigainya memiliki hubungan dengan Andine, adalah sepupu Andine. Ya Tuhan, ia sunguh menyesal mengacuhkan Andine sebulan lebih ini.
"Oh ini suamimu Andine?" tanya Rival dengan raut wajah err...Tak bisa diartikan.
"Iya."
"Kapan dia pulang?"
"Baru saja." bukan Andine yang menjawab melainkan Mario.
"Oh, kalau begitu aku pamit pergi, jangan lupa dimakan makanan dari nenek." Andine berniat mengantarkan Rival kedepan, tapi niatnya itu ia urungkan ketika Mario mencekal tangannya. Alhasil Rival pergi tanpa ada yang mengantar.
"Maaf, aku kira..."
"Kamu kira aku sama kak Rival itu memiliki hubungan? Hahaha enggak by, aku bukan wanita seperti itu, aku wanita setia, dan gak akan pernah selingkuh." balas Andine disertai tawa. Mario pikir Andine akan marah kepadanya, karena tidak mendengarkan penjelasannya. Namun, nyatanya tidak, bahkan istrinya itu tertawa kecil. Tapi, satu yang langsung membuat ia tertohok, yaitu ucapan Andine yang mengucap jika ia tak akan selingkuh.
Mendengar kalimat itu membuatnya teringat hubungan dirinya dengan Sella dibelakang Andine.
"By ak.."
"Mario."
Andine dan Mario menoleh dan mendapati dua wanita tengah berdiri diambang pintu.
"Sella, mami Miranda..." lirih Mario.