Bab 6 Teman

1109 Kata
Embun menutup mulutnya dengan sebelah tangan, perlahan mendekat mencoba memastikan siapa pria yang tengah berdiri di depannya. Ia meletakkan tasnya ke sofa dan perlahan menurunkan tangannya. “G-Gege? Ini kamu?” Raut kegembiraan tidak bisa Embun sembunyikan. Ia merasa bahagia karena bisa bertemu dengan orang yang mengenalnya di Indonesia selain keluarganya. Gadis itu bahkan langsung melompat dan memeluk Gama. Tingkahnya membuat pria itu sampai terhuyung ke belakang, terkejut mendapat sambutan yang tidak dia sangka akan seperti itu dari gadis yang pernah disukainya dulu. Padahal jelas bahwa dia salah satu penyebab gadis itu memilih meninggalkan sang sepupu dulu. “Kenapa kamu bisa tahu aku ada di sini?” tanya Embun setelah puas memeluk Gama. Gama tersenyum dan meraih sebuah tas kertas yang berada di sofa sebelah tempatnya duduk menunggu tadi. Ia mengeluarkan sandal kelinci milik Embun bahkan menempelkannya ke pipi gadis itu. “Ini-“ Embun meraihnya menatap sandalnya yang terlihat bersih dan berbau wangi. “Kamu-“ “Hem … aku juga berada di pesta itu, aku melihatmu terjatuh ke air.” Pipi Embun memerah seketika. Kejadian itu benar-benar sangat memalukan baginya. Ia bahkan memilih menunduk menatap sandal yang ada di tangannya. Embun tidak bisa menyembunyikan rasa kecewanya ke Rain yang dengan tega berbuat seperti itu padanya. “Apa kamu ada waktu? Bisa tidak kita mengobrol sebentar.” Gama sampai harus sedikit menunduk karena Embun belum juga mengangkat kepala. “Hah? apa? bisa-bisa.” Embun nyengir, akhirnya mereka pun berbincang di resto hotel. 💦💦💦 Hening. Embun hanya menunduk memandangi kopi di cangkirnya, sedangkan Gama jelas bingung harus mulai berbicara dari mana. Enam tahun bukan waktu yang sebentar, tapi mengingat sikap Embun saat pertama kali bertemu dengannya tadi, Gama berkesimpulan bahwa Embun sama sekali tidak melupakannya. “Bagaimana kabarmu?” Karena pertanyaan Gama pada akhirnya Embun mendongakkan kepala. Bibir tipisnya melukis senyuman manis sebelum memberi jawaban ke pria tampan dengan kemeja motif tartan di hadapannya. “Baik, kamu apa kabar?” “Aku juga baik, apa kamu ke sini untuk liburan? atau akan menetap?” tanya Gama langsung, dia terlihat begitu penasaran. “Em … entahlah, aku belum memiliki rencana. Aku ke sini untuk menjenguk kakek dan nenekku.” Bola mata Embun bergerak liar, dari pada ketahuan bahwa dia sedang berbohong, Embun memilih menatap dan meraih cangkir kopinya. Menyesap cairan berwarna hitam itu pelan. “Apa kamu sudah bertemu Bening?” tanya Gama hati-hati. “Belum, aku belum bertemu dengannya. Bahkan Rain, aku juga baru melihatnya di malam itu.” Meski Gama tidak bertanya perihal sang sepupu, tapi Embun memilih menjelaskannya terlebih dulu. Ia berpikir mungkin canggung bagi Gama menanyakan soal Rain kepadanya. Semua orang tahu dia pergi begitu saja dan memutuskan hubungannya dengan Rain secara sepihak. “Malam itu Bening juga berada di sana, karena-“ Ucapan Gama terjeda. Ponsel Embun tiba-tiba saja berbunyi dan membuat gadis itu seketika kaget. “Angkat saja dulu,” jawab Gama. Ia tersenyum dan mengangguk saat Embun meminta izin menjauh dari tempat mereka duduk untuk menerima panggilan itu. “Maaf ya! Mamiku telepon, dia pikir aku belum bangun jam segini.” Embun tertawa dan meletakkan ponselnya. Mengingat kalimat Gama yang terjeda tadi dia pun bertanya dan meminta pria itu mengulangi ucapannya. Namun, Gama menggeleng. Diiringi tawanya, dia berucap- “Aku lupa ingin bicara apa.” Embun ikut tertawa geli, hingga dia mengingatkan bahwa Gama tadi menyinggung soal Bening. “Kamu tadi bilang malam itu Bening juga ada di lokasi pesta, apa selama ini kalian masih berteman?” “Ah … ya, itu. Iya, kami masih berteman.” Embun tersenyum ironi mendengar jawaban Gama, ada sedikit rasa bahagia sekaligus sesak di dalam hatinya. Embun bahagia karena merasa bahwa selama ini baik Gama, Rain dan Bening baik-baik saja menjalani hidupnya setelah dia pergi. Dia memang tidak berarti apa-apa bagi mereka dan ini yang membuatnya merasa sedih. “Ayolah Bu, kamu terlalu percaya diri jika menganggap dirimu spesial untuk mereka,” gumamnya dalam hati. 💦💦💦 Bening mengetuk-ngetuk meja kerjanya dengan jari telunjuk lantas memejamkan mata mengingat pertemuannya dengan Embun kemarin. Gadis itu tiba-tiba saja merasa resah, entah rasa takut atau rasa bersalah hanya dirinya lah yang tahu. “Permisi Bu, saya ingin menyampaikan kalau rapat untuk menyambut hari belanja online nasional sudah siap.” Bening tersentak kaget, dia mengangguk lantas meminta sekretarisnya pergi lebih dulu.“ Tolong sampaikan! lima menit lagi aku akan tiba di ruang rapat.” Sepanjang rapat, Bening hanya diam. Dia yang dua tahun ini mengambil alih market place milik papanya nampak tidak mengikuti rapat itu dengan sepenuh hati. Pikirannya tertuju kepada Embun dan juga Rain. Gadis itu mengingat kembali tawaran mamanya beberapa saat yang lalu. Bening mengerjabkan mata, bukannya agar bisa kembali fokus dengan rapat itu, melainkan untuk mengirimkan pesan ke mamanya. [ Untuk perjodohan itu, bisakah Mama mempertemukan kami satu meja dulu? ] 💦💦💦 Malam harinya Rain tertawa hambar mendengar permintaan Bianca yang terdengar aneh di telinganya. Ia bahkan memilih tak merespon lagi saat wanita yang melahirkannya itu menyampaikan keinginan untuk menjodohkannya dengan anak koleganya. Sejak tiga tahun yang lalu perusahaan fashion milik Bianca memang bekerja sama dengan perusahaan perhiasan milik Rea-ibunda Bening. “Kami berteman, jika memang ingin hubungan yang lebih sudah sejak dulu aku mengencaninya Ma,” tolak Rain dengan ide Bianca yang ingin menjodohkannya dengan Bening. “Kamu tidak bisa mengencaninya apa karena dia saudara kembar gadis yang menyakitimu itu? untung saja wajah mereka berbeda. Mama yakin sifat mereka juga berbeda pastinya. Bening gadis baik.” Bianca berbicara sambil memingkan muka dan tak disangka Rain malah meninggalkannya. Wanita itu pun membuntuti sang putra berusaha untuk membujuk. Selama ini, Bianca benar-benar kesal ke Embun, jika bertemu lagi mungkin Bianca akan memarahi gadis itu habis-habisan karena sudah membuat putra kesayangannya menjadi seperti sekarang ini. “Apa kamu masih mengharapkan gadis yang sudah menyakitimu? Mama tidak akan setuju kamu berhubungan dengan gadis itu lagi.” BRAK Rain menutup pintu kamarnya dengan kencang, membuat Bianca menggerutu dan menendang pintu kamar itu karena kesal. Sementara itu Rain langsung merebahkan tubuhnya di atas ranjang, dia menutup matanya dengan lengan. Memori otaknya memutar kembali pertemuannya dengan Embun. Ia benar-benar tak menyangka bahwa enam tahun tidak bisa menghilangkan perasaannya ke gadis itu. Rain akhirnya menjauhkan lengan, dia menatap langit-langit kamar yang terlihat putih bersih. Otaknya masih saja tidak bisa berhenti memikirkan Embun, hingga sebuah panggilan dari Beni membuyarkan itu semua. “Ada apa Pak?” “Begini, saya hanya ingin memberitahu bahwa persiapan pembukaan lowongan pekerjaan sebagai sekretaris Anda sudah selesai. Besok pagi akan dirilis secara resmi oleh bagian HRD melalui website perusahaan dan beberapa iklan di media nasional.” “Terima kasih, kamu pasti bekerja keras untuk ini,” jawab Rain ramah. “Tidak masalah, saya akan membantu Anda sampai menemukan sekretaris yang cocok.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN