bc

Mengejar Cinta Mantan Kekasihku

book_age18+
339
IKUTI
2.6K
BACA
family
HE
second chance
badboy
sweet
kicking
city
office/work place
childhood crush
like
intro-logo
Uraian

"Rain Rain go away come again another day."

Embun selalu menyanyikan lagu itu untuk meledek Rain saat remaja dulu. Namun, siapa sangka lagu itu bagaikan mantra dan Rain benar-benar pergi jauh dari hidupnya.

Hingga suatu hari, Embun sadar hatinya masih menyimpan nama Rain dan merindukan sosok pria itu.

Bagaimana bisa, seorang Embun Sky Jordan menjadi sekretaris Aksara Rain Prawira yang dinginnya melebihi freezer kulkas dua pintu?

Bagi Rain, patah hati karena cinta pertama merubah hidupnya. Kini gadis pembuat luka itu datang kembali dengan segala tingkah yang membuatnya gila, mungkinkah Rain akan luluh? Atau sebuah pembalasan yang sama menyakitkannya sudah dia siapkan untuk Embun?

"Cita-citaku menjadi DPR."

"Lalu kenapa kamu malah berakhir melamar pekerjaan menjadi sekretarisku?"

"Kan sudah aku bilang, aku ingin menjadi DPR, Diperistri Pak Rain." ~ Embun

chap-preview
Pratinjau gratis
Bab 1 Pertemuan
“Dia sengaja menabrakkan mobil saya, Pak, tidak bisakah Anda garis bawahi se-nga-ja. Berapa kali saya harus menjelaskan supaya Bapak mengerti?” Suara gebrakan meja meruntuhkan khayalan seorang gadis yang sedang duduk di bangku kayu berwarna cokelat dengan bau pelitur yang masih sedikit menyengat. Gadis itu hanya bisa melihat dari samping wajah pria yang sejak datang bersamanya terus saja marah-marah. “Dia kesal karena tidak mendapatkan barang yang dia inginkan, dia sengaja mengejar saya dan menabrakkan mobilnya.” Pria muda dengan kemeja putih tergulung sampai siku nampak berkacak pinggang. Ia tidak mau duduk kembali meski petugas sudah berulang kali memintanya. Sementara itu, seorang gadis terlihat mengedipkan matanya berkali-kali, kepalanya seolah berputar mengingat kenangan terakhirnya bersama pria yang sedang marah-marah itu. Aksara Rain Prawira. Ya, Rain. Pria berumur dua puluh empat tahun yang menjabat sebagai direktur pemasaran di PG Factory yang merupakan perusahaan milik orangtuanya sendiri itu terlihat murka. Sementara, seorang gadis yang dia gelandang ke kantor polisi beberapa menit yang lalu nampak duduk diam dan terus memandanginya. “Mbak ada KTP?” tanya polisi ke Embun yang melamun. Ia tersentak kaget, matanya bertubrukan dengan mata Rain, tapi pria itu seketika membuang muka seolah tak sudi melihat wajahnya. Embun pun mengeluarkan sebuah kertas dari dalam tas yang sejak tadi dia pangku, meski terlihat cuek Rain diam-diam mencuri pandang ke arahnya meskipun hanya menggunakan ekor mata. “KTP saya belum jadi Pak,” jawab Embun ragu. “Lihat ‘kan Pak! saya yakin dia juga belum punya SIM,” ketus Rain dengan sorot mata penuh amarah. Embun mengerucutkan bibir, dia mencoba membalas tatapan sinis Rain dengan kedipan mata genit. Tanpa berniat mengingkari masa lalu, dia sadar sudah mematahkan hati pria itu. Embun yang awalnya merasa sangat percaya diri jika bertemu lagi dengan Rain menjadi berkecil hati. *** Beberapa jam yang lalu. Suara kucuran cairan dan aroma kopi yang menyeruak memanjakan indera penciuman seorang gadis cantik, tubuhnya ramping, rambut panjangnya dengan bagian bawah bergelombang dia ikat sembarangan. Ia membawa secangkir kopi yang dia buat dan berjalan menuju sisi ruangan. Embun membuka gorden jendela kamarnya yang berada di lantai dua belas sebuah hotel bintang lima. Sudah dua minggu ini gadis bernama lengkap Embun Sky Jordan itu tinggal di salah satu kamar di hotel itu. Sebagai anak pengusaha terkenal, wajar baginya mendapat sebuah kemewahan. Salah satunya adalah hotel yang dia tempati sekarang. Kamar hotel itu menjadi tempat tinggal bagi Embun, dia bahkan memiliki pantry lengkap dengan sebuah kompor listrik. Bukannya tidak mampu membelikan rumah atau apartemen, orangtuanya bahkan memiliki rumah di kota itu, tapi bukan Embun namanya jika memiliki keinginan seperti manusia biasa, dia memang ingin tinggal di sana. “Bu, kakek bilang kamu tidak mengunjunginya lagi sejak pertama kali datang ke Indonesia. Apa yang kamu lakukan? Mereka semua mencemaskanmu, mami sudah bilang kamu tinggal saja di rumah kakek atau di rumah paman. Kenapa malah memilih tinggal di hotel?” Embun tersenyum kecil dan menatap ponsel di nakas yang baru saja dia geser tombol hijaunya. Jojo-sang mami menelepon dan memberondongnya dengan banyak pertanyaan. Gadis itu melirik angka di sudut benda berbentuk persegi panjang itu. Sekarang hampir pukul sepuluh pagi, itu berarti sang mami sedang meneleponnya sekitar jam dua siang waktu Australia. “Mami tidak tidur siang?” tanyanya santai. “Tidak usah menanyakan hal lain ke Mami!” Bentakan Jojo malah membuat Embun geli, dia meletakkan cangkir kopinya di atas meja lantas duduk dengan santai di sofa. Kini, dia meraih ponsel, mematikan mode pengeras suara lantas menempelkan benda itu ke telinga. “Aku sibuk mengurus beberapa dokumen penting. Mami tahu ‘kan seperti apa birokrasi di sini?” Embun membela diri. Beberapa detik tak mendapat respon dari sang mami, Embun pun kembali berucap,”Mi, aku sedang berpikir. Bagaimana kalau aku mencalonkan diri sebagai presiden? Aku ingin mengubah tatanan negara ini.” “Halu!” sembur Jojo. Di seberang sana wanita itu menggelengkan kepala mendengar ocehan sang putri yang menurutnya mengada-ada. Suara tawa Embun membuatnya sedikit lega. Namun, Jojo tiba-tiba menggigit bibir bawah, dia ragu ingin menanyakan sesuatu ke putrinya. “Bu, apa kamu sudah bertemu dengan Mama Rea dan Bening?” Karena pertanyaan itu, tawa seketika sirna dari bibir Embun. Sejak enam tahun yang lalu Embun seolah memutus tali silaturahmi. Dia sakit hati dengan Rea–wanita yang melahirkannya dan Bening–saudara kandungnya. “Belum, karena aku belum ada waktu,” jawab Embun. Ia takut terkena omelan Jojo. Meski ibu sambungnya itu tahu dia kembali ke Indonesia untuk mengelola bisnis hotel sang papi, tapi jelas Jojo juga ingin Embun memperbaiki hubungan dengan Rea dan Bening. Jojo sadar pasti berat untuk Embun. Ia bahkan harus terus memantau perkembangan mental putri tirinya itu. Pasalnya enam tahun yang lalu saat masih duduk di bangku SMA, Embun pernah mengalami kejadian yang sangat menyedihkan. Ia begitu terpukul mengetahui fakta perihal kelahirannya. Embun terlahir karena perkosaan yang dilakukan Axel-papinya ke Rea, dan satu hal yang membuat jiwa Embun semakin terguncang adalah pengakuan Rea, bahwa dia sama sekali tidak mengharapkan kehadirannya. Sebelum mengetahui sejarah kelahiran mereka yang memiliki satu ibu tapi berbeda ayah. Bening-saudara kembarnya begitu menyayangi Embun, hingga seorang pria hadir dan membuat rasa persaudaraan itu memudar. Kecemburuan Bening dan kelabilan jiwa remaja membuat gadis itu menjadi jahat, rasa iri menggerogoti hati, dan berujung melukai. Salah satu hal yang membuat Embun sangat terluka adalah ucapan Bening, gadis itu berkata menyesal dilahirkan sebagai saudara kembarnya. “Bu, bagaimanapun Rea mama kandungmu dan Bening adalah saudaramu, kamu bukan anak kecil lagi. Bisa ‘kan kamu mengesampingkan ego?” ucap Jojo hati-hati, dia tidak ingin menyinggung perasaan sang putri. “Bu, Mami yakin, Bening juga pasti merindukanmu,” imbuhnya. Ya, selama enam tahun ini Embun menutup diri, dia sama sekali tidak mau berhubungan dengan keluarga ibu kandungnya. Embun berlagak tak peduli tapi diam-diam mencari tahu tentang kehidupan mereka. “Em … mungkin lusa aku akan mencoba menemui mereka,”jawab Embun datar, sekadar melegakan hati sang mami. “Lalu Rain, apa kamu sudah bertemu dengannya?” Embun terdiam saat Jojo menyebutkan nama itu. Rain, Ya, Rain. Sosok yang sebenarnya paling ingin dia temui melebihi keinginan bertemu dengan mama dan saudara kandungnya sendiri. “Sudah,” lirih Embun. Jojo menegakkan punggung, dia begitu antusias mendengar jawaban sang putri hingga bertanya lagi. “Bagaimana dia sekarang? Apa dia semakin tampan? Apa dia sudah punya pacar atau malah dia sudah memiliki istri?” “Kalau itu aku tidak tahu karena aku hanya mencarinya di gulugulu, aku melihat profilnya di internet.” Jojo menekuk bibir kesal, dia jauhkan ponselnya dan mengepalkan tangan ke depan layar. “Dasar!” “Aku tahu Mi, Rain bekerja di perusahaan papanya, dia menjabat sebagai direktur di sana.” “Apa kamu berniat menemuinya?” tanya Jojo penasaran. Embun terdiam cukup lama hingga pengingat di ponselnya berbunyi. Hari itu, sebuah toko parfum merek kesukaannya meluncurkan koleksi parfum edisi terbatas. Dia berniat mendapatkannya, meski banyak jasa titip bertebaran, dia ingin membelinya sendiri. Sayangnya, hanya ada satu toko yang menjual merek parfum itu di Indonesia dan Embun berniat mendapatkannya dengan usahanya sendiri. “Ya, ya, Mi, aku pasti akan menemuinya.” Embun berdiri mengambil baju ganti dengan tergesa-gesa, dia mengapit ponsel di antara telinga dan pundak, meminta izin ke Jojo untuk mengakhiri panggilan karena dia harus buru-buru menuju pusat perbelanjaan di mana toko parfum itu berada. *** Embun pikir hanya dirinya yang menginginkan parfum edisi terbatas itu, nyatanya antrian di toko parfum lumayan mengular. Gadis itu mencoba menghitung urutan, dia heran melihat orang-orang di barisan depan dan berpikir jam berapa mereka datang, padahal pusat perbelanjaan itu baru buka pukul sepuluh pagi. “Kita nikmati saja,” gumam Embun sambil menggoyangkan pundaknya. Dengan santai gadis itu duduk bersila hingga membuat orang-orang terheran. Toko itu seharusnya buka tepat saat pusat perbelanjaan buka, tapi karena peluncuran produk parfum edisi terbatas, pihak toko memutuskan membukanya pukul sebelas siang. Melihat Embun yang santai duduk lesehan, beberapa orang yang mengantri akhirnya melakukan hal yang sama. 20 menit kemudian, toko pun dibuka. Orang-orang yang duduk termasuk Embun langsung berdiri. Mereka diminta masuk ke dalam toko sesuai barisan, pihak toko lantas memberi pengumuman bahwa setiap orang hanya boleh membeli satu botol parfum saja. Gurat kekecewaan nampak jelas di wajah calon pembeli. Beberapa dari mereka bahkan protes dan mencoba memprovokasi yang lain, tapi tidak dengan Embun. Gadis itu menyombongkan diri dan tersenyum miring. Keputusannya untuk tidak membeli parfum edisi terbatas itu di jasa titip ternyata tepat. Embun semakin jemawa, berpikir bahwa prasangkanya tentang beberapa hal di hidupnya tidak akan pernah meleset. Setelah sabar menunggu giliran sampailah Embun di antrian terdepan. Ia menoleh pelayan toko yang tiba-tiba saja mendekat. Pelayan itu memberitahu orang yang mengantri tepat di belakangnya, bahwa parfum edisi terbatas itu sudah habis. Meski kecewa dan sempat marah-marah, orang yang berbaris di belakang Embun hanya bisa pasrah lalu membubarkan diri, dan lagi-lagi Embun bersorak kegirangan di dalam hati, dewi keberuntungan seperti terus berpihak kepadanya. Hingga saat dia hampir meraih botol parfum edisi terbatas yang tinggal satu-satunya di toko itu, sebuah tangan menyambarnya lebih dulu. Embun pun terkejut dan menoleh. “Hai, that is mine, Dude!” ucapnya. Embun yakin tukang serobot itu berjenis kelamin laki-laki melihat dari jam tangan yang dikenakan. Pelayan toko juga kaget. Mereka menyenggol lengan satu sama lain mendapati siapa yang merebut jatah parfum itu dari Embun. Pria itu mengeluarkan sebuah kartu. Dan seperti tersihir, pelayan toko itu malah meraihnya. “Hei … apa orang tuamu tidak pernah mengajarimu sopan santun?” Embun dengan berani menarik lengan pria itu agar menoleh ke arahnya. Awalnya dia berniat melihat seperti apa wajah pria yang seenak jidatnya merebut parfum jatahnya. Namun, pada akhirnya Embun malah terperanga. Rain. Ya Rain. Cowok yang enam tahun lalu dia tinggalkan begitu saja kini berdiri tepat di hadapannya. “Rain …,” batin Embun membeku. Hanya menatap tanpa bisa bicara sosok pria yang ada di hadapannya saat ini.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

B̶u̶k̶a̶n̶ Pacar Pura-Pura

read
155.8K
bc

TERNODA

read
198.8K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
233.9K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
30.6K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
188.9K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
61.8K
bc

My Secret Little Wife

read
132.1K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook