Bab 2 Parfum

1094 Kata
“Bungkus untukku!” perintah Rain ke pelayan toko tanpa mengalihkan pandangan dari wajah Embun. Sorot matanya begitu tajam dan dingin. Ia menerima parfum itu dan keluar dari toko. Tanpa mengeluarkan satu patah kata pun, dan tanpa menyapa Embun yang masih terkejut dengan apa yang baru saja terjadi. “Mbak,”panggil pelayan toko. Mereka sampai harus memanggil Embun berulang kali karena gadis itu membeku. “Mbak, maaf, tapi Mas yang tadi ….“ Pelayan toko itu terdiam mendapat pelototan tajam dari Embun, gadis itu benar-benar marah karena baru saja mengalami sesuatu yang paling dia benci dalam hidupnya, yaitu ketidakadilan. “Kenapa kalian memberikan parfum yang seharusnya menjadi milikku ke dia?” bentak Embun murka. “Apa hal seperti ini wajar terjadi di negara kalian? Ha!” Pelayan toko itu ketakutan, bahkan salah satu dari mereka merasa tenggorokannya kering dan tidak bisa mengeluarkan kata-kata. Keduanya mengamati penampilan Embun dari atas sampai bawah. Wajah gadis itu tidak terlihat seperti orang asing, tapi kenapa bertanya seolah tidak tahu kebiasaan yang terjadi di negara 62. Mereka pun hanya bisa meminta maaf dan menjelaskan bahwa Rain salah satu pemilik kartu VVIP di pusat perbelanjaan itu. Keistimewaan anggota VVIP, mereka bisa menggunakan kartu itu untuk membeli apapun di sana, intinya setiap toko yang berada di pusat perbelanjaan itu harus memberikan barang yang diinginkan oleh anggota VVIP karena mereka memiliki dana tertinggal layaknya saldo uang elektronik di sana. “Di mana aku bisa mendapatkan kartu seperti itu?” tanya Embun yang masih belum bisa meredam amarah. Meski begitu, dia sebenarnya sedang berusaha menutupi perasaan karena pertemuan tak terduganya dengan Rain barusan. “Rain, dia- apa dia tidak mengenaliku? Apa mungkin aku semakin cantik hingga dia tidak sadar itu aku?” *** Rain masuk ke dalam mobil dan meletakkan tas kertas berisi parfum yang dia rebut dari Embun tadi. Sementara Embun bingung memikirkan apa mungkin Rain tidak mengenalinya, pria itu malah yakin seratus persen bahwa yang dia temui tadi memang lah Embun-gadis yang pernah sangat dia cintai tapi mencampakannya begitu saja. Rain mencengkeram erat kemudi-geram, gadis yang sudah menghancurkan hatinya tiba-tiba saja muncul dalam kondisi baik-baik saja, dan malah terlihat semakin mempesona. “Sejak kapan dia kembali ke Indonesia?” Rain menyandarkan punggung dan sejenak menutup mata. Mengingat bagaimana saat remaja dulu dia begitu tergila-gila pada Embun. Hingga gadis itu meninggalkannya begitu saja tanpa alasan yang jelas dan bisa dengan mudah dia pahami. Embun bahkan menghilang bak di telan bumi. Memilih untuk tidak memikirkan Embun lagi. Rain membawa mobilnya pergi dari pusat perbelanjaan. Namun, tak dia duga saat berbelok di tikungan parkiran, sebuah mobil menabrak bagian belakang mobil yang dia kendarai. Tubuh Rain bahkan sampai mengayun ke depan karena dia lupa memakai sabuk pengaman. Ia pun bergegas turun dari mobil, mendekat ke arah pintu pengemudi mobil yang menabraknya dan ingin memaki. “Turun!” perintah Rain dengan raut muka kesal. Ekspresi keterkejutan nampak jelas di wajahnya saat si pengemudi mobil menurunkan kaca jendela. “Kamu.” Rain membuang muka, apa yang ada di dalam hatinya sekarang jelas hanya dia yang tahu. “Sorry,” lirih pengemudi mobil yang tak lain adalah Embun. Gadis itu kemudian menjulurkan kepala untuk melihat bagian belakang mobil Rain yang baru saja dia tabrak. *** “Rain,” panggil Embun saat mereka berdua keluar dari kantor polisi. Rain bergeming seolah menganggap Embun mahkluk tak kasatmata. Setelah perdebatan sengit di parkiran pusat perbelanjaan tak menemui jalan tengah, Rain menggelandang Embun ke kantor polisi yang berada tidak jauh dari sana. Pada akhirnya, petugas menerima niat baik Embun untuk memberikan ganti rugi perbaikan mobil, tapi Rain menolaknya mentah-mentah. “Rain, aku tahu kamu pasti mengingatku. Aku yakin kamu tidak mungkin melupakanku.” Teriakan Embun sukses membuat langkah kaki Rain terhenti. Meski begitu, Rain masih tidak mau menjawab. Sekadar menoleh menatapnya pun enggan. Tak patah semangat, Embun kembali meneriaki pria itu. “Rain, berikan aku nomor ponselmu! Atau berikan nomor rekeningmu aku akan memberikan ganti rugi. Aku benar-benar tidak sengaja,” cerocos Embun yang sepertinya harus menelan pil pahit. Rain sama sekali tak peduli, pria itu bahkan masuk ke dalam mobil dan membanting pintu. Menginjak pedal gas dalam-dalam dan pergi menjauh dari halaman kantor polisi. Pertemuannya dengan Embun hari ini membuat ingatannya tertarik jauh ke belakang. Tepat enam tahun lalu saat pria itu kehilangan sosok Embun dalam hidupnya. “Rain sampai kapan kamu mau seperti ini hanya karena seorang gadis?” Skala sampai jauh-jauh datang ke Jogja karena sang keponakan yang tinggal satu apartemen dengan Rain mengabari bahwa putranya itu sudah berhari-hari mengurung diri di kamar dan tak mau berbicara. Dia hanya keluar untuk mengambil makanan yang kadang tidak dia habiskan lalu kembali masuk. “Papa sebenarnya tidak ingin mengatakan ini karena pasti terdengar kejam di telingamu, tapi kamu harus tahu sebagai seorang laki-laki kamu lemah jika sampai seperti ini hanya karena seorang gadis. Ayolah! masih banyak gadis lain di luar sana.” Skala tersentak, mulutnya mengatup seketika karena Rain menoleh dengan sorot mata elang. Pria itu menyugar rambut dan menoleh ke arah istrinya-Bianca yang sejak tadi hanya bisa menahan air mata melihat keadaan putranya yang begitu kacau hanya karena diputuskan oleh seorang gadis. “Papa akan membelikanmu tiket ke Australia! Susul dia! Atau perlukah Papa pesankan jet pribadi untukmu sekarang juga?” tanya Skala yang frustasi. “Tidak usah disusul, untuk apa?” bentak Bianca yang sejak mendengar putranya ditinggalkan begitu saja oleh Embun menjadi murka. “Kamu laki-laki Rain, masih banyak gadis yang mau sama kamu. Dia ninggalin kamu artinya sudah tidak punya perasaan lagi ke kamu, untuk apa kamu meratapinya sampai seperti ini?” Gama-sepupu Rain yang sejak tadi menguping dari dalam kamar merasa bersalah. Sejatinya Gama juga terluka karena gadis yang juga membuat Rain terluka. Embun. Ya, namanya Embun. Gadis periang yang sudah membuatnya jatuh cinta. Gadis yang dia kenal dari sebuah aplikasi berbalas pesan, gadis yang dia susul sampai ke Jogja, tapi sayangnya, Embun malah lebih dulu berpacaran dengan sepupunya sendiri. “Papa dan Mama tidak perlu khawatir, aku besok akan sekolah lagi,” ucap Rain sambil berdiri lantas masuk ke dalam kamarnya. Setelah melihat punggung putranya menghilang Bianca dan Skala berbalas pandang, saling memberi kode. Dengan bahasa kalbu mereka sepakat tidak perlu kembali membahas soal itu dengan sang putra. Skala pun mendekat ke arah Bianca dengan kedua tangan berada di pinggang, berniat ingin membicarakan Rain lagi, tapi dia lebih dulu dikagetkan dengan kedatangan sang putra yang tiba-tiba keluar dari dalam kamar. “Ponselku rusak, bisakah Papa membelikannya yang baru?” Rain memperlihatkan benda pipih di tangannya yang sudah mati dengan layar pecah. Ia membanting benda itu setelah Embun berkata bahwa cinta mereka hanyalah cinta monyet.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN