Dewa berulangkali mendesah di kursi belakang dalam mobilnya yang dikemudikan oleh sopir. Ia melepaskan sesak dalam dadanya yang terasa mengganjal. Pikiranya merasa tidak enak sejak tadi seperti ada yang salah dari dalam dirinya. Sudah berulang-ulang napas melewati rongga hidungnya, akan tetapi itu sama sekali tidak mengurangi perasaan untuk terus memikirkan Keyla. Kejadian tadi, bukan karena Dewa tidak percaya pada Keyla, bukan berati mempercayai sekretarisnya. Hal sebelumnya Dewa katakan secara reflek karena ia benar-benar emosi. Sebagaimana diketahui oleh orang-orang terdekatnya, jika sudah seperti sangat sulit untuk dikontrol. Lagi pula, ada apa dengan Keyla yang tiba-tiba berubah seperti itu? Yang jelas-jelas menimbulkan kebingungan pada Dewa. Bukan menambah mengurangi lapar yang

