bc

Identitas Asli Teman Sekamar

book_age18+
30
IKUTI
1K
BACA
revenge
dark
HE
opposites attract
friends to lovers
arranged marriage
curse
badboy
drama
bold
loser
campus
cheating
love at the first sight
friends with benefits
like
intro-logo
Uraian

"Bagaimana rasanya jatuh cinta pada satu-satunya orang yang paling kau benci di dunia?"

.

Zane Marliana terbang ke Bangkok dengan tujuan melarikan diri. Ia ingin menghapus jejak trauma masa SMA yang menghancurkan mentalnya. Di kota asing itu, ia berharap menemukan ketenangan di balik kamar asrama yang sepi. Namun, takdir punya selera humor yang kejam untuk perempuan malang itu.

.

Teman sekamarnya, Rena (Renaldi Tan), adalah definisi sempurna. Seorang crossdresser yang sialnya lebih cantik dari wanita tulen, lembut, dan satu-satunya orang yang bisa menembus tembok pertahanan Zane tanpa memicu serangan paniknya. Di dekat Rena, Zane merasa 'sembuh'.

.

Namun, Zane tidak tahu bahwa kenyamanan itu adalah ilusi. Di balik wajah cantik Rena, bersembunyi Renaldi—sosok monster dari masa lalu yang menjadi penyebab hancurnya hidup Zane. Rena sedang mencoba menebus dosa dengan merawat korbannya.

.

Ketika topeng itu akhirnya retak, apakah Zane akan melihat cinta yang tulus, atau manipulasi terkejam yang pernah ada?

.

[Novel hanya diterbitkan author di Dreame dan Innovel]

Peringatan: Novel ini ditujukan untuk pembaca 18+, mengandung tema hubungan intim, permainan psikologis, dan dinamika relasi yang tidak konvensional.

.

Cover Ilustrasi by f.b. Yong Haeul Clever

chap-preview
Pratinjau gratis
Bab 1
"Siku itu!" Tangan Zane refleks terangkat, menepis sikut tebal yang hampir menyentuh pinggulnya di tengah kerumunan imigrasi yang mendesak, tepat setelah gerbang kedatangan Suvarnabhumi. Ia bahkan tidak melihat siapa pemilik lengan itu. Refleksnya cepat, didorong oleh alarm yang selama ini ia kunci rapat di dalam tulang rusuknya. Laki-laki Asia dengan ransel neon oranye di belakangnya tampak terkejut. Ia mengangkat bahu dengan bingung dan segera berpaling. Zane tidak peduli. Ia hanya menarik napas. Matanya menatap tajam mengikuti instruksi visual‘Tarik Koper’, ‘Cek Tanda Pintu Keluar’ tanpa benar-benar memproses lautan manusia di sekelilingnya. Ini Bangkok. Kota tempat ia berharap bisa menciptakan ulang dirinya. Kota tempat sejarah, rasa sakit, dan bayangan di lorong sekolah menengah tidak bisa lagi mengejarnya. Namun, di dalam kebisingan gema bandara internasional ini, otaknya berkhianat. Kekuatan dari trauma itu begitu nyata, dan ia merasakannya, sedikit dingin, meskipun keringat mulai menetes dari belakang telinganya. Itu hanya sesaat, tidak lebih dari kilatan dalam sekian detik. Ia kembali ke kursi bus sekolah berwarna hijau mint. Lampu sore hari yang kuning menembus jendela yang kotor, berbau permen karet mint yang basi dan bau badan yang asam. Tubuh di sebelah Zane tidak bergerak. Ia tahu ada orang lain di sana, tetapi ia tidak berani menoleh. Mati rasa itu muncul, mekanisme pertahanan yang diprogram tubuhnya ketika batas-batas dirinya dilanggar. "Zane!" Kilatan itu padam. Zane tersentak. Ia melihat nomor antrean di depannya. Tubuhnya masih berdiri kaku, koper hitamnya bergulir dua senti di depan ujung sepatu ketsnya yang putih. Cukup. Jangan. Jangan di sini. Tekad untuk menutup diri itu bertumpu dalam jantungnya. Bangkok hanyalah wadah untuk isolasi dari masa lalu. Tidak ada teman baru, tidak ada ikatan. Nol risiko. Setelah urusan imigrasi selesai dengan sedikit kendala bahasa yang menguras energi, Zane menyeret koper yang terasa dua kali lipat lebih berat menuju pintu. Telepon selulernya berdengung, menampilkan nama Rendi. Zane melangkah ke area yang lebih sepi, dekat pilar beton yang dingin. "Aku sudah sampai," katanya. Suara Rendi, kakaknya segera menyambutnya. "Astaga, Zan! Akhirnya. Gimana? Penerbangan lancar?" "Lancar. Hanya sedikit ramai di bandara." Zane menggigit pipi bagian dalamnya. Ia tidak akan menceritakan tentang insiden kecil dengan sikut tadi. Rendi akan panik, akan memaksanya kembali ke psikiater, atau lebih buruk lagi, ia akan menyalahkannya karena bersikap terlalu defensif. "Ya ampun, kamu harus biasakan diri. Bangkok kan pusatnya. Aku tahu kamu suka yang tenang-tenang. Tapi ingat ya, looser rules, better exposure." Rendi terkekeh ringan. Zane tahu apa yang dimaksud Rendi. Rendi dan Perl, kekasihnya, yakin bahwa paparan terhadap dunia yang lebih terbuka adalah obat terbaik bagi PTSD dan sifat introversinya yang akut. "Aku sudah sampai di titik penjemputan," potong Zane, mengabaikan ceramah ringan itu. "Bagus. Maaf banget, aku nggak bisa jemput, Zane. Urusan beasiswa ini gila, tumpukan proposal di hari pertama. Perl juga lagi sibuk. Tapi sopir yang kutugaskan namanya Khun Suthep. Dia pegang plang dengan nama kamu. Pastikan ya, Zane. Jangan sembarang ikut orang!" Rendi menekankan, masih saja khawatir. Zane memejamkan mata sebentar. Ia merasa lelah bukan karena perbedaan zona waktu, tetapi karena harus menangkis harapan dan kecemasan orang lain. "Aku akan pastikan. Kamar asramanya?" "Ah, kamar. Oke, ini yang harus kamu dengarkan baik-baik." Nada bicara Rendi sedikit menurun. "Kos yang kita dapat itu bagus banget, Zan. Dekat kampus, fasilitasnya lengkap, harganya miring karena... karena ini kamar untuk dua orang." Zane mendengarkan. Otot-ototnya langsung kaku. Asumsi Zane, kamar untuk dua orang berarti dia harus membayar dua kali lipat untuk menjadikannya kamar tunggal. Itulah rencana awalnya. "Maksudmu, aku harus sekamar dengan orang asing?" Zane bertanya. Rendi terdiam sesaat. Di balik sana, terdengar suara bisik-bisik, mungkin Perl atau teman kampus yang lain. "Kau akan nyaman. Aturannya juga ketat. Tak akan ada yang melukaimu. Jam malam, kebersihan, privasi. Lagipula, ini Bangkok. Adaptasimu akan lebih mudah jika ada yang membimbing." Hati Zane menciut. Ia tahu betapa sulitnya menemukan akomodasi tunggal di dekat universitas dengan harga yang ramah di kantong mahasiswa. Ia juga tahu Rendi pasti sudah berjuang keras untuk mendapatkan tempat ini. Dan yang paling penting, dia sudah menyusun rencana untuk menghindari interaksi, bukan memulainya. "Aku akan... aku akan bayar dua porsi agar kamar itu milikku seutuhnya, Kak. Tolong. Aku butuh sendiri." "Kita coba dulu, ya. Anggap saja ini tantangan untukmu." Zane merasakan dinding pelindungnya runtuh sedikit demi sedikit, tetapi ia memaksa diri untuk menariknya kembali. "Baik. Aku akan mencoba." "Ingat, jangan terlalu tertutup juga. Thailand itu... sedikit berbeda. Oke, aku harus pergi, Zan. Telepon aku lagi kalau kamu sudah sampai di kamar, oke?" "Oke," jawab Zane, singkat. Rendi sudah mematikan panggilan bahkan sebelum Zane sempat berpamitan. Zane menyimpan ponselnya. Sekamar dengan orang asing. Kepercayaan diri yang sudah ia kumpulkan di sepanjang penerbangan kini runtuh. Ia menarik napas panjang. Tidak ada pilihan lain. Ia harus segera mencapai tempat tujuannya. Khun Suthep ditemukan dengan plang berhuruf Thailand yang kasar. Ia adalah seorang pria paruh baya, yang membantu Zane menyeret kopernya keluar dari gerbang bandara. Saat melangkah keluar dari area pendingin udara ke panas terik Bangkok yang mendidih, Zane merasa seperti baru saja melompat ke dalam sup kental. Matanya butuh beberapa detik untuk menyesuaikan diri. Lalu, kejutannya dimulai. Di pinggiran tempat parkir, seorang perempuan cantik dengan rambut panjang ikal yang mengilap dan gaun pendek ketat berwarna neon hijau sedang tertawa lepas bersama seorang pria tua. Mereka berpegangan tangan tanpa sungkan. Zane cepat-cepat mengalihkan pandangan. Lalu ia melihat lagi. Ada pasangan yang terlihat sangat muda, gadis dengan rok mini dan pria yang hampir tidak mengenakan baju, hanya tank top yang sobek. Di sisi lain, beberapa orang dengan pakaian yang... terbuka. Di sini, kebebasan terasa tidak dibatasi, terbuka seperti uap. Zane berasal dari lingkungan yang terstruktur dan tertutup. Kebebasan visual ini langsung memicu rasa waspada. Terlalu banyak yang dilihat. Terlalu banyak yang bisa dijangkau. Saat Khun Suthep membimbingnya menuju van berwarna putih yang tua, Zane melirik lagi. Ia melihat dua orang yang berjalan bergandengan tangan, keduanya terlihat seperti wanita, mengenakan riasan sempurna. Namun, saat salah satunya berbicara, memberondong, dan Zane tersentak. Ia ingat cerita-cerita tentang Thailand. Tempat yang merayakan identitas yang berbeda, yang memeluk kaum Kathoey, transgender, sebagai bagian integral dari budaya mereka. Ia menghargai toleransi itu. Tetapi, pada tingkat emosional dan trauma, semua kebebasan ini terasa seperti area perang. Di mana garis batasnya? Bagaimana ia tahu kapan harus merasa aman, jika batas-batas sosial tampaknya kabur dan lentur? Ia menarik kopernya dan bergegas masuk ke dalam van. Perjalanan dari bandara ke area kampus memakan waktu lebih dari satu jam. Jantung Zane berdebar tidak sinkron dengan ketukan lalu lintas di luar. Khun Suthep mencoba berbicara dengannya dalam bahasa Thai dan beberapa patah kata bahasa Inggris, tetapi Zane hanya menjawab dengan senyuman kecil. Setidaknya di asrama, ia akan memiliki kunci, memiliki empat dinding beton, dan, yang terpenting, memiliki hak untuk menolak. Hak untuk mengisolasi diri. Itu satu-satunya kendali yang ia miliki di dunia yang kacau balau ini. Van itu akhirnya berhenti di depan sebuah bangunan modern berlantai lima, berwarna abu-abu muda, dengan jendela-jendela besar yang ditutup tirai tipis. Gedung itu terlihat bersih dan aman, sangat melegakan. "Huan-pak," kata Khun Suthep, menunjuk ke papan nama dalam aksara Thai yang tidak bisa Zane baca. "Kos." Mereka membawa barang-barang ke lantai tiga. Kos tersebut menggunakan kunci kartu elektronik. Khun Suthep membantu memasukkan koper-koper Zane, memberi isyarat bahwa kamar Zane berada di ujung koridor, bernomor 305. Kamar terakhir, jauh dari kebisingan. Syukurlah. Setidaknya aku jauh dari lalu lintas dan interaksi lorong. Setelah memberikan tips, Zane mengucapkan terima kasih pada Khun Suthep, yang segera pergi. Zane berdiri sendirian di depan pintu kayu bernomor 305. Ia menarik napas lagi. Ini adalah gerbang masuknya. Kehidupan baru, dengan batasan yang dibuat sendiri. Sebuah ruang di mana tidak ada yang bisa menyentuhnya tanpa izin. Zane memasukkan kartu. Lampu hijau menyala, dan ia mendorong pintu. Kamar itu lebih besar dari yang ia bayangkan. Dua ranjang tunggal dengan seprai putih yang rapi berada di kedua sisi. Di tengah, sebuah meja belajar ganda membagi ruang. Jendela besar menghadap ke jalanan kecil yang sepi. Baik. Tidak ada yang salah di sini. Lalu Zane menyadari, ranjang di sebelah kanan sudah terisi. Sebuah boneka beruang kecil berwarna merah muda duduk rapi di atas bantal. Di atas meja di sisi itu, terdapat tumpukan buku catatan bersampul lucu, pensil warna, dan beberapa produk kosmetik yang tertata sempurna. Sisi Zane kosong. Menanti barang-barangnya. Ia meletakkan ranselnya di lantai, koper-kopernya jatuh di dekat kaki ranjang yang belum ia klaim. Ia membuka salah satu koper besarnya. Itu berisi buku, laptop, dan perlengkapan mandi. Lebih dari segalanya, itu berisi baju-baju. Baju-baju yang rapi. Semuanya dilipat secara diagonal, teknik melipat ala militer yang Rendi ajarkan padanya. Ia bergerak cepat, tanpa berpikir, menaruh bantal dan gulingnya. Ranjang yang dipilihnya berada paling dekat dengan dinding dan jauh dari pintu. Jika ada tamu, teman sekamarnya akan menghadapinya terlebih dahulu. Secara logistik, itu posisi yang paling aman. Ia mengeluarkan pakaian dan mulai menyusunnya di dalam lemari ganda yang tersedia. Kaos dimasukkan ke dalam laci paling atas, celana panjang dilipat menggantung di gantungan baju. Ia bahkan menyusun botol-botol sampo dan sabun di rak kamar mandi, membuat jarak antara barangnya dan barang lain yang sudah ada di sana. Saat ia mengeluarkan buku-buku tebal untuk kuliah, ia menyadari ia belum memisahkan ruang belajarnya. Meja belajar mereka panjang, menyatu di tengah-tengah kamar. Zane berjalan mendekat. Ia membuka koper lain, selembar kain gelap untuk menutupi matanya saat tidur, satu set headphone kedap suara yang berat, dan… kotak perkakas kecil yang Rendi hadiahkan sebagai candaan perpisahan. Di dalamnya, ia menemukan sebatang spidol hitam tebal. Spidol permanen. Bukan itu yang ia cari, tetapi ini akan berguna untuk sekarang. Zane meletakkan spidol di tengah meja belajar. Ia menarik napas, melihat batas tak terlihat yang harus ia wujudkan. Ia mulai bergerak dari tepi kanan mejanya, memegang spidol di antara ibu jari dan jari telunjuknya. Spidol itu mengeluarkan suara decitan halus saat ia menarik garis lurus, tebal, dan hitam di atas permukaan meja putih yang mulus. Garis itu memanjang ke seluruh meja, dari tepi depan hingga tepi belakang, membagi meja menjadi dua bagian simetris yang jelas. Ia meletakkan spidol dan berdiri tegak, menyilangkan tangan di d**a, memandangi hasil karyanya. Lalu, Zane mulai menarik kopernya ke tengah ruangan, mengambil kabel-kabel pengisi daya, dan mulai menyusun segala perabotan miliknya, meletakkannya hanya di sisi kirinya— Tepat pada saat itu, kunci elektronik di pintu berputar. Zane mundur satu langkah.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
15.9K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
234.5K
bc

TERNODA

read
199.6K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
190.2K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
31.8K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
73.5K
bc

My Secret Little Wife

read
132.5K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook