Mereka berusaha tidak melewati batas itu pada hari-hari berikutnya. Jika pulpen Zane terguling melewati garis, Rena akan mengambil kertas bekas, melipatnya menjadi sekop darurat, dan dengan sangat hati-hati mendorong pulpen itu kembali ke wilayah Zane. Zane akan terpaksa mengambilnya, dan Rena akan kembali ke dunianya.
Rena benar-benar menjaga barang-barangnya agar tidak melintasi batas, bahkan saat mengisi daya ponsel, Rena menggunakan stop kontak di sisinya yang jauh, meskipun stop kontak Zane lebih dekat. Jika ada benda yang terlalu dekat, Rena akan menggesernya kembali beberapa sentimeter ke arah sisinya sendiri.
Semua ini secara perlahan mematahkan pertahanan Zane. Bagaimana mungkin seseorang yang begitu peduli pada aturan yang ia tetapkan sendiri, menjadi ancaman? Zane mulai berpikir bahwa Rena memanglah tidak tertarik membuat masalah, sama sepertinya, dan Maew barangkali memang benar, Rena hanya ingin menjadi teman.
Malam itu, di penghujung minggu. Malam ketiga sejak garis hitam tebal itu diletakkan.
Zane menyelesaikan tugas kuliahnya. Kepalanya limbung karena kurang tidur sejak kedatangannya di Bangkok. Biasanya, rasa takut dan overthinking akan membuatnya sulit menutup mata.
Saat Zane membereskan mejanya, ia menyadari Rena sudah berbaring di ranjang.
Rena berbaring di sisi ranjangnya, menghadap dinding, punggungnya menghadap batas selotip hitam yang memisahkan mereka. Ia terlihat tidur. Pukul delapan malam.
"Rena? Dudah tidur?" tanya Zane, sedikit terkejut. Rena biasanya begadang, mendengarkan musik lembut dengan headphone hingga larut. Rena tidak bergerak. Hanya terdengar dengusan halus dari bawah selimutnya. Zane mendekat sedikit ke garis, mencondongkan tubuh untuk mendengarkan.
"Rena?" ulangnya.
"Aku kelelahan. Jangan khawatirkan aku. Selamat malam," bisik Rena setengah sadar.
Zane mundur.
Aku berlebihan. Sungguh, aku perlu minta maaf padanya suatu hari nanti. Dia sangat sensitif. Aku hampir menghancurkan pertemanan hanya karena trauma lama.
Rasa lega itu, disertai rasa bersalah, melunak di dalam diri Zane seperti lilin yang mencair.
Zane berjalan ke kamar mandi, berganti pakaian tidur, dan kembali. Dia kemudian berbaring di ranjangnya. Zane menarik napas dalam-dalam. Akhirnya, ia tidak perlu berulang kali memeriksa sudut pandangnya. Dia tidak perlu mengatur tubuhnya dalam posisi siaga. Rasa aman itu, betapapun rapuhnya, mulai merasukinya.
Ia memejamkan mata, membiarkan tubuhnya rileks sepenuhnya di atas kasur.
Hingga sensasi dingin dan basah menariknya kembali pada rasa takut itu. Rasa damai itu lenyap dalam sepersekian detik. Zane tersentak. Bukan bangun karena alarm, tapi karena syok. Ia berbaring miring, persis di posisi ia tidur. Matanya terbelalak menatap gelap. Jam digital di nakas, di sisi Rena, jauh di sana, menunjukkan pukul 03.45 pagi.
Apa itu? Sensasi basah. Dan dingin. Seluruh bagian tubuh kirinya, yang bersentuhan dengan kasur, terasa lembap. Ada rasa tidak enak, lengket, dan aroma yang sangat samar, yang tidak bisa ia kenal karena terlalu aneh.
Ia mencoba menggerakkan jari-jarinya. Lengannya, yang tertekan di bawah bantal, terasa mati rasa. Zane tidak berani bergerak, khawatir suara gesekan kecil pun akan membangunkan Rena yang seharusnya tidur nyenyak. Jantungnya berdentum kencang, memantul keras seolah mencoba mendobrak keluar dari kurungannya.
Ia menarik napas, menahan air mata. Tubuhnya menegang. Rasa aman yang ia rasakan beberapa jam lalu telah menguap. Ini bukan mimpi buruk yang disebabkan oleh ketakutannya, ini terasa nyata. Memori yang dibangkitkan di sini, sekarang, seperti bertahun-tahun lalu di kursi belakang bus sekolah.
Zane merangkak perlahan. Ia tidak menyalakan lampu, takut cahaya lampu itu akan memberitahu sesuatu yang tidak sanggup ia lihat di sisi ranjangnya, atau di ranjang Rena.
Dia hanya bisa melihat siluet ranjang Rena. Zane membalikkan tubuhnya perlahan ke sisi ranjang Rena. Punggung Rena masih menghadapnya. Sosok itu terlihat tidak bergerak, terbungkus rapi dalam selimut, persis seperti yang ia lihat sebelum tidur. Rena tidur. Sangat nyenyak.
Mustahil.
Bagaimana bisa? Dia bahkan tidak mendengar Rena bergerak, bernapas keras, atau melintasi garis. Garis itu tidak rusak. Dia tidak melihatnya melintas. Tidak ada barang yang bergeser. Hanya basah di seprainya dan rasa trauma yang memompa kembali ke dalam nadinya.
Mimpi buruk? Zane bertanya pada dirinya sendiri, mencoba mengaitkannya pada apa pun yang rasanya masuk akal. Namun, seprai basah itu, entah kenapa rasanya mustahil kalau hanya sekadar keringat. Ia jarang sekali berkeringat saat tidur. Ia mengangkat tangannya yang dingin, meraba leher dan wajahnya. Rasa jijik. Rasa terhina. Rasa takut bahwa kontrol atas tubuhnya telah direnggut lagi.
Zane bergerak turun dari ranjang. Kakinya yang telanjang mendarat tepat di samping garis hitam. Dia mengabaikan batas yang ia ciptakan itu. Dia melesat ke kamar mandi. Dia menyambar handuk dan bergegas masuk. Begitu pintu kamar mandi tertutup, Zane mengunci kuncinya. Dia memeriksa dirinya sendiri. Matanya bengkak karena rasa kantuk. Ia membuka pakaiannya. Tidak ada bukti fisik yang terlihat. Pakaiannya kering, bersih.
Dia menyalakan air hangat, membiarkan uap mulai mengisi ruangan. Zane masuk ke dalam pancuran, air hangat mengalir deras ke seluruh tubuhnya, dengan harapan konyol bahwa air ini akan membersihkan bukan hanya kulitnya, tetapi juga ketakutan dan ingatan busuk itu. Dia menggosok kulitnya dengan keras.
Siapa?
Hanya ada Rena. Tapi Rena, begitu manis tidur memunggunginya. Tidak mungkin.
Ini hanya imajinasimu, Zane. Kau sedang tertekan. PTSD. Itu yang terjadi. Kau menciptakan sentuhan ini di alam bawah sadarmu, dan kau berkeringat dingin, lalu menjadikan orang lain untuk disalahkan.
Dia mencuci dirinya tiga kali, hanya untuk memastikan. Ada rasa enggan untuk meninggalkan air hangat. Namun, fajar sudah akan menyingsing. Dia tidak bisa di sini selamanya. Dia harus kembali ke kamarnya.
Zane mengeringkan tubuhnya dengan handuk yang baru. Dia berganti pakaian yang rapi, meskipun waktu masih sangat pagi. Dia membuang handuk yang ia gunakan ke keranjang kotor, mengintip melalui celah kecil di bawah pintu. Senyap. Jam sudah menunjukkan pukul 04.30. Fajar sebentar lagi tiba.
Ia menarik napas panjang. Dia tidak boleh membiarkan Rena melihat seprai basah itu. Bukti apa pun, jika itu adalah bukti, harus dihancurkan sebelum terbit matahari. Ia membuka pintu, memastikan suaranya sepelan mungkin. Kamar itu masih remang-remang, tetapi sinar jingga muda dari luar sudah mulai merangkak masuk melalui jendela.
Namun Rena sudah bangun. Dia duduk di kursi belajarnya, di seberang garis hitam. Rena mengenakan baju tidur satin yang rapi, rambut panjangnya yang berkilauan ditata dengan sisir yang baru, tampak segar seolah dia baru saja menyelesaikan sesi yoga pagi. Sebuah buku kuliah besar dan tebal terbuka di hadapannya, pena dan stabilo sudah tertata rapi di sisinya.
Zane berdiri kaku, merasa terkejut hingga seluruh tubuhnya terasa dingin, meskipun baru saja mandi air hangat. Rena mengangkat wajahnya. Ia tersenyum, melirik jam tangannya, lalu kembali menatap Zane.
"Oh, Zane, kamu sudah bangun. Awal sekali," sapa Rena.
"Aku... iya," kata Zane. Ia melirik ranjang Rena.
Zane melirik ke arah ranjangnya sendiri. Jika Rena bangun secepat ini, kenapa Rena tidak menanyakan kondisi seprai Zane yang basah dan berantakan?
Zane melangkah ke sisi ranjang, memeriksa bagian yang ia curigai. Permukaan yang basah itu, kini, sudah menghilang. Kering. Seprainya terasa kering, bahkan dingin. Hanya lipatan dan sedikit kusut yang tersisa.
Jantung Zane semakin kencang berdetak. Apakah aku benar-benar berhalusinasi?
Rena memperhatikan gerak-gerik Zane. Rena mencondongkan tubuh sedikit di kursinya, memastikan roda kursinya tidak menyentuh garis hitam di lantai.
"Ada sesuatu yang hilang? Kenapa kamu tampak mencari-cari sesuatu di ranjangmu? Dompetmu? Ponsel?"
Zane mundur selangkah, menelan ludah. Kepalanya sakit. Dia tidak bisa memercayai sensasinya sendiri lagi.
"Tidak, Rena. Semuanya ada. Aku hanya... hanya tidak sengaja menendang bantal. Kita ada kelas jam delapan kan?"
"Tentu saja. Tapi, kamu sudah siap, berpakaian lengkap begini? Bagus." Rena tersenyum, lalu kembali fokus pada buku tebalnya. Ia memegang stabilo berwarna ungu.
"Kamu sendiri, kenapa sudah bangun? Kamu bilang semalam sangat kelelahan, aku kira kamu bakal kesiangan," ujar Zane, mencoba terdengar santai sambil mengambil handuk kecil, berpura-pura mengeringkan rambut yang sebenarnya sudah kering. Itu memberinya waktu untuk berpikir.
Rena tertawa kecil. "Ah, kamu tahu, tidur larut malam adalah kebiasaan yang buruk. Aku memutuskan untuk mengikuti saran Maew untuk mengatur pola tidur yang lebih sehat." Rena menggerakkan stabilo, menekankan pada beberapa kalimat. "Apalagi, melihat kamu membuat batas yang jelas di kamar ini, itu membuatku merasa sangat teratur. Rasanya tenang. Aku merasa bisa fokus 100%."
Fokus 100%. Tentu saja. Fokus 100% pada apa pun yang terjadi semalam, saat Zane menyerah pada kelelahannya, saat Zane merasa aman karena Rena memunggungi dirinya.
Zane menatap garis hitam di antara mereka. Jika sesuatu benar-benar terjadi, Rena melintasi garis itu dan kembali, semuanya tanpa Zane sadari. Lebih parah, Rena membersihkan buktinya. Jika seprai itu basah, dan sekarang kering, itu berarti... Rena menggantinya? Tapi Zane tidak melihat ada seprai kotor di keranjang Rena. Zane tidak mendengar gerakan apa pun.
Mustahil seseorang yang baru bangun dari tidur nyenyak di tengah malam bisa bertindak seperti itu, menghapus jejak, dan kemudian kembali tidur tanpa jejak sedikit pun, sebelum akhirnya bangun jam 04.30 dan tampak fresh.
Kecuali... dia tidak tidur nyenyak. Kecuali dia menunggu.
Ketakutan Zane memuncak. "Semalam aku… mungkin aku terlalu cemas, jadi aku bermimpi buruk," ujar Zane, mencoba memberikan penjelasan yang ia sendiri yakini. Jika ia mengakui itu adalah mimpi, maka ia juga menyangkal kemungkinan tuduhan terhadap Rena.
Rena mengangkat pandangannya.
"Mimpi apa? Aku bisa bantu? Atau aku terlalu berisik semalam?"
Zane menggeleng. "Tidak, tidak ada hubungannya denganmu. Aku… ini trauma lama. Hanya kembali datang. Mungkin kambuh."
Rena mengangguk, bibirnya mengerucut seolah ikut merasakan rasa sakit Zane. "Aku mengerti. Aku yakin kamu bisa membiasakan diri. Mungkin kamu butuh psikolog?"
Rena berdiri. Zane langsung mengambil posisi. Rena berjalan menuju meja kopi kecil, di sisinya, tempat ia menyimpan teko air panas elektrik dan sereal instan.
"Mau teh hangat? Atau kopi? Aku punya stok banyak," tawar Rena, bergerak di sisi ruangnya. Ia memastikan lengannya tidak melintasi garis pembatas.
Zane menggeleng. "Tidak, terima kasih. Aku harus mandi dulu, tadi baru basuh sebentar." Dia berbohong. Dia perlu waktu lagi di kamar mandi untuk berpikir, atau lebih tepatnya, ia perlu waktu untuk memeriksa kembali ranjangnya sebelum Rena bergerak lebih jauh. Mungkin ia tidak sadar Rena mengganti seprai saat ia ada di kamar mandi tadi.
Ia berjalan cepat, pura-pura menyambar buku di meja. Ketika Rena memunggungi dia, sibuk menuangkan air panas, Zane mengintip sekilas ke bawah ranjang Rena. Rapi. Tidak ada keranjang pakaian kotor yang penuh. Hanya ada laci plastik penyimpanan buku dan kebutuhan pribadi. Jika Rena mengganti seprai, kemana seprai itu disembunyikan dalam waktu kurang dari lima menit?
Kepalanya berputar. Zane memutuskan untuk mengisolasi dirinya lagi di luar kamar, meninggalkan barang-barang di tempatnya.