Malam ke sekian di Bangkok, setelah ia selesai memasang seprai bersih, Zane memutuskan mengirim pesan pada Rendi bahwa ia akan menelepon. Rena saat itu sedang ada kelas malam, cukup memberinya ruang privasi yang sangat ia butuhkan.
Rendi menjawab video call-nya dari Jakarta, langsung terdengar pula bising kecil dari suara Perl yang tertawa. Rendi tampak lelah, mungkin baru pulang dari kampus.
"Zane! Bagaimana kabarmu? Thailand asik, kan? Sudah dapat teman kencan belum? Kamu harus lebih terbuka di sana."
Zane mencoba tersenyum.
"Aku baik. Bangkok… sedikit membingungkan. Tugasnya banyak. Dan aku harus membagi kamar dengan seseorang."
"Teman sekamar? Oh, iya, si ‘Rena’ itu ya? Cewek Thailand? Ibu kosmu yang cerita."
"Bukan cewek, tapi dia baik. Dia... sangat tertutup. Aku cuma agak capek buat adaptasi. Akhir-akhir ini sering susah tidur."
"Tidurmu kenapa?" tanya Rendi, dan Zane merasakan jantungnya mencelos.
"Kadang. Tapi ini lebih karena stress. Mungkin. Aku sudah mencoba olahraga dan teh hangat," ujar Zane, berbohong lagi. Ia tidak bisa menyebutkan fakta bahwa ia bangun dalam kondisi syok setiap pagi, atau bahwa ia yakin Rena memberinya sesuatu di malam hari.
"Jangan minum obat tidur sembarangan. Nanti kamu jadi tidak waspada."
Tidak waspada. Ironi yang menyakitkan.
Sekaranglah saatnya. Suatu kesempatan yang baik untuk berteriak, "Aku rasa ada yang menyentuhku setiap malam."
Meskipun demikian, suatu hal muncul di benaknya, tentang wajah Rendi yang panik, suara telepon ke Ibu Kos, dan tiket pesawat kembali ke Indonesia yang akan memaksanya untuk mengubur traumanya.
Zane tahu dia harus tinggal. Dia harus melawan teror ini di sini. Jika dia kembali, dia akan selamanya menjadi korban, korban yang tidak bisa berjuang sendiri.
"Aku hanya ingin tahu, Kak. Kamu sendiri bagaimana?" tanya Zane, mengalihkan pembicaraan, menyembunyikan paniknya. "Kamu dan Perl… kelihatannya baik-baik saja."
Rendi tertawa, tidak menyadari betapa dalam luka adiknya.
"Kami baik, kok. Sangat baik. Kenapa? Jangan cemas, Zane. Perl bahkan menyarankan agar kamu sering menelepon agar tidak merasa kesepian. Jadi, intinya, jangan takut beradaptasi. Semua orang mengalami seperti itu."
Rendi memberikan petuah-petuah klise yang sama sekali tidak membantu mengatasi fakta bahwa Zane mungkin sedang dilecehkan saat ia tidur.
Zane hanya mengangguk, memaksakan senyum di wajahnya. Dia harus menjaga rahasia ini. Jika Rendi tahu, kepanikan Rendi akan membuat Zane sendiri juga semakin panik. Dia sudah terlalu merepotkan. Dia datang kemari agar bisa melatih diri untuk tidak ketergantungan pada Ren
"Terima kasih. Aku akan berusaha," kata Zane.
"Sekarang, tidurlah yang nyenyak, oke? Jangan sampai stres. Jika ada hal lain yang mengganggu, sekecil apa pun itu, telepon aku lagi. Janji?"
"Aku janji," kata Zane, suaranya parau karena menahan tangis yang tiba-tiba datang dari rasa kasihan pada dirinya sendiri. Aku berbohong, Kak. Dan aku tidak tahu apakah aku cukup kuat untuk menangani ini sendirian, tetapi aku tidak punya pilihan selain ...bertahan dan mencari tahu.
Zane menjadi sangat lelah di perpustakaan kampus dua hari kemudian. Dia mencoba mengembalikan energi yang hilang dari aktivitas tengah malam dengan memejamkan mata selama 30 detik di atas buku tebalnya. Mengangkat kepalanya, dia melihat Rena duduk di meja di depannya, mengerjakan tablet grafisnya.
Zane secara naluriah menarik diri. Tiba-tiba, ada seorang senior dari jurusan arsitektur menghampiri Rena, seorang pria berbadan besar dengan kumis tipis.
"Oh, Rena," sapa pria itu dengan nada mengejek, suaranya terdengar terlalu keras di ruang studi yang tenang. "Kamu masih berkeliaran di area laki-laki? Sudah puas dengan gelar ‘Gadis Kampus’?"
Zane menegang. Dia telah menyaksikan perundungan sebelumnya, kasus-kasus kecil pelecehan sosial di kampus Indonesia, tetapi tidak dengan cara seperti ini.
Wajah Rena pucat pasi. Rena tidak membalas. Dia hanya menundukkan kepalanya, tubuhnya sedikit gemetar di kursinya, berusaha keras untuk fokus pada layarnya.
"Kau harus berhenti berlagak bodoh, Rena. Desainmu yang ‘feminin’ itu hanya menipu juri yang bodoh," kata pria itu, kini menyentuh ujung rambut panjang Rena dengan jarinya. "Kembalilah ke asrama putri, tempat kau seharusnya berada."
Bagi Zane, sentuhan itu seperti sengatan listrik. Mengingat sentuhan yang tidak diundang, rasa jijik dari bus sekolah, dan ketakutan tanpa sadar di malam hari, membuatnya bereaksi.
Terlepas dari fakta bahwa Rena adalah tersangka utama dalam mimpi buruk Zane, dia hanyalah korban perundungan di sini. Setelah otaknya memberikan perintah, Zane tanpa sadar berdiri dan kakinya bergerak.
Zane tidak perlu mengatakan apa pun. Pria itu berhenti begitu dia tiba-tiba berada di belakang kursi Rena. Zane berdiri tegak, tingginya melebihi rata-rata orang Asia Tenggara.
"Minggir," ujar Zane. Itu bukan permintaan. Itu perintah. Perintah yang datang dari naluri seorang pelindung, meskipun ia sedang melindungi seseorang yang ia takuti.
Pria senior itu mendengus, kaget karena ada orang asing yang mencampuri. Ia menatap Zane dari atas ke bawah, mencari perlawanan.
"Oke. Santai," kata senior itu, mengangkat bahu dan tertawa kecil, mundur, tampaknya tidak ingin membuat keributan yang menarik perhatian petugas perpustakaan. "Cuma bercanda."
Ketika senior itu menghilang, Rena masih gemetar. Zane kembali duduk di kursinya, jantungnya berdetak kencang karena adrenalin yang tidak diinginkan. Ia benci menjadi pahlawan. Ia benci perhatian. Tetapi yang paling ia benci adalah merasa tidak berdaya, dan saat melihat Rena diperlakukan seperti itu, itu memicu sesuatu dalam dirinya yang telah lama mati.
"Terima kasih, Zane," bisik Rena.
"Aku hanya tidak suka ribut." Zane berbohong, membalik halaman bukunya dengan cepat, menolak menatap Rena. Rena bangkit dan berjalan menuju tempat Zane. Dia berdiri di samping Zane, tetapi tetap menjaga jarak. Tangannya menggenggam tas ranselnya erat-erat.
"Dia selalu begitu. Kami adalah angkatan pertama yang mengizinkan identitas third gender, dan masih banyak yang tidak terima. Itu melelahkan. Aku hanya ingin diterima. Itu saja."
Zane menghela napas, menutup bukunya.
"Aku harus pergi," kata Zane.
"Tunggu, Zane," panggil Rena, langkahnya maju satu langkah, tangannya kini menyentuh lengannya.
Zane membeku. Sentuhan. Dia bisa merasakannya di kulitnya, rasa panik itu muncul, tetapi kali ini, sentuhan Rena terasa begitu rapuh. Namun Rena menarik tangannya dengan cepat, melihat reaksi kaku Zane.
"Maaf. Aku hanya ingin mengatakan, kadang-kadang… aku lelah berpura-pura kuat di sini." Rena menoleh ke belakang, matanya berkaca-kaca.
"Mereka membenciku hanya karena aku berani menjadi diriku sendiri. Karena aku punya penampilan ini, mereka berpikir aku lemah, atau mungkin, aku seorang pemangsa yang menunggu untuk menarik pria-pria lugu ke dalam permainanku." Rena tertawa kecil, tawa yang tidak lucu. "Aku hanya ingin merasa aman, Zane. Aku berpikir ini akan menjadi tempat yang menerimaku, tapi aku tetaplah target yang mudah untuk diserang. Setidaknya, aku merasa aman di dekatmu."
Zane diam. Wajar jika seseorang akan merasa kasihan jika mendengar cerita semacam ini. Rena benar-benar menempatkan dirinya sebagai korban, dan Zane memang melihatnya sendiri.
"Aku bisa memahaminya, walau apa yang kita alami berbeda," jawab Zane.
"Tugasmu juga bukan untuk terus menyendiri di balik garis isolasi itu. Kamu trauma. Aku trauma. Bukankah trauma yang sama seharusnya membuat kita... setidaknya bisa saling menguatkan?"
Zane menatap Rena. Wajah yang dipahat halus, rambut panjang hitam yang mengilap, mata yang samar berkaca-kaca. Zane bukan lagi melihat monster, tapi seseorang yang tersesat dan sendirian. Rasa kasihan mengalir ke dalam dirinya.
Dia tidak mungkin yang melakukannya. Orang yang dilecehkan tidak akan menjadi peleceh. Dia terlihat tulus, dan aku tidak mungkin salah membaca trauma. Setidaknya itulah yang dipikirkan Zane.
Mungkin... mungkin memang aku yang gila. Mungkin semua sentuhan di malam hari itu hanyalah sisa-sisa ingatan dari bus sekolah.
Zane mulai terbelah. Rasa curiga malam hari bersaing dengan simpati hari ini. Dan simpati itu terasa begitu mudah diterima karena mengizinkan Zane melepaskan rasa waspada barang sejenak.
"Aku tidak tahu kenapa aku harus bercerita padamu, Zane, tapi sejak kamu membuat garis hitam itu, aku sadar kamu orang yang paling menghormati batas. Dan ironisnya, kamu adalah orang pertama yang melindungiku hari ini."
Rena mundur dua langkah. Dia tersenyum.
"Jika kamu membutuhkan teman. Untuk bicara. Untuk lari dari batas-batas itu sejenak, aku selalu ada. Bahkan walau aku hanyalah seorang trans, setidaknya aku tidak berpura-pura."
Zane memandang Rena. Kata-kata Rena telah membalik narasinya.
Mungkin Rendi benar. Aku harus mencari teman. Aku tidak bisa membiarkan lingkungan dan trauma ini menghancurkanku. Dan jika Rena tidak seburuk yang kupikirkan, mungkin ia adalah kuncinya.