Malam ini, Adam bertugas bersama Dimas dan tiga dokter lainnya yang saat ini sedang ada jadwal menangani pasien, sehingga tinggal lah disana Adam dengan Dimas saja. Keduanya tampak saling lirik dalam diam karena tak ada yang kunjung buka suara untuk memecah keheningan. Satu-satunya hal yang membuat mereka sama-sama mengerti ada masalah adalah helaan nafas kasar yang bersahutan, hingga keduanya terkekeh dan saling menepuk bahu dengan geli. “Kenapa lo?” tanya Adam “Lo juga kenapa?” sahut Dimas dengan membalikkan pertanyaan. “Gue butuh alkohol dimasa berat kayak gini. Kapan kita minum?” tanya Adam dengan menaikkan sebelah alisnya. Adam dan Dimas sejak beberapa hari ini memang tak memiliki pertemuan berarti selain berpapasan karena sama-sama sibuk dengan pasien. Dimas cukup sibuk dengan

