24. Luka yang kembali

2389 Kata
“Lo nggak apa-apa Nay?” tanya Cahaya saat melihat Naya yang memijat pelipisnya ketika mereka sedang menyantap makan siang di kantor guru. Keduanya tak perlu repot-repot untuk membeli makanan di Kantin ataupun di Luar area sekolah karena mereka sama-sama membawa bekal. “Nggak apa-apa Ca, gue cuma sedikit pusing aja. Dua bulan menjelang Ujian Akhir Sekolah kelas Dua belas bikin gue sakit kepala karena tingkah mereka yang semakin menjadi” Cahaya mengangguk setuju sambil melahap makananya dengan senang hati “Gue juga begitu sih. Emang anak kelas Dua belas selalu suka cari perhatian kalau udah mau keluar dari Sekolah” “Tau tuh, bikin pusing aja” “Lo bakalan ngajar les?” tanya Cahaya. “Nggak tau tuh, katanya pihak sekolah nggak bisa nyariin guru buat les anak-anak. Kalau begitu, mau nggak mau gue pasti terpaksa banget merelakan waktu gue buat anak-anak, atau paling enggak, ngajak pak Aris gantian ngajar les juga” “Untunglah tahun ini gue bisa menghindar dengan alasan tahun lalu udah, jadi ada guru les yang dipanggil pihak sekolah buat gantiin gue. Tapi denger-denger sih katanya dia sekalian ngelamar jadi guru disini. Gosipnya ya, kalau kinerja dia bagus waktu ngajarin les, bakalan diterima” jelas Cahaya “Lagian lo kan tahu kalau Bu Irma udah mau pensium” tambahnya lagi. “Gurunya cowok atau cewek?” tanya Naya penasaran. “Cowok, dan orangnya ganteng gitu. Gue kemarin sempet lihat waktu dia datang nemuin kepala Sekolah” “Dasar jelalatan. Inget suami” tegur Naya sambil terkekeh. Cahaya mengibaskan tangannya di depan wajah “Kalau sama Mas Leo mah gue nggak bisa lupa, tapi kalau ngelihat yang bening dikit, rasanya mata ini agak gatal karena terhambat kenyataan sudah menikah” kekekhnya. Naya tertawa geli “Dasar ibu muda” ejeknya. “Gimana usaha lo sama Mas Adam? Pasti lancar kan?” “Huss, kalau ngomong lo” tegur Naya sambil melihat kearah kanan dan kirinya memastikan bahwa beberapa orang yang ada di dalam kantor guru itu tidak mendengar ucapan Cahaya yang memalukan “Itu urusan rahasia tau” desisnya. “Yaelah, nggak apa-apa kali cuma nanya gitu doang” dengkus Cahaya “Jadi, lo udah ada rencana hamil dalam waktu dekat atau enggak?” “Yaelah Ca, gue sih maunya secepatnya” ujar Naya sambil tersenyum membayangkan ia akan hamil dan memiliki banyak permintaan untuk dituruti. Dalam hati ia berdoa agar Tuhan segera mengirimkan sosok malaikat kecil itu untuk mengisi keributan antara dirinya dan sang suami. “Gue doain deh biar lo nyusul jadi mama muda kayak gue” dukung Cahaya “Oh ya Nay, udah dulu nih, gue harus balik ke meja gue buat siap-siap ngajar. Lo nggak ada kelaskan abis ini?” “Enggak, les terakhir baru gue masuk lagi” jelasnya. Satu persatu guru-guru mulai meninggalkan Naya dengan empat orang guru lainnya yang juga tak ada kelas saat ini. Mereka sibuk dengan tugasnya masing-masing, sedangkan Naya sedang mengecek ponselnya saat sebuah pesan asing masuk ke ponselnya dan membuatnya heran. X : Nay, aku ada kejutan buat kamu. Nantikan kejutan itu. Naya mengenyit dan berusaha mencari tahu pemiliki nomor itu, namun ia tak dapat menemukannya dan juga setahunya orang-orang terdekatnya tak akan bersikap sok misterius seperti orang ini. Ia mengangkat bahunya dan berusaha mengabaikan pesan yang ia pikir hanya iseng-iseng untuk mengganggunya saja. Ia bahkan tak memiliki niat untuk membalas sama sekali. Kalau pesan itu benar-benar penting, maka pasti pengirimnya akan memberitahukan identitas dirinya. Naya kembali membuka chatnya saat ponselnya bergetar lagi menandakan ada pesan masuk. X : Sampai ketemu nanti siang, sayang. Naya memainkan ponselnya untuk menduga siapa pengirim pesan itu. Ia segera menghubungi nomor suaminya untuk membuktikan apakah suaminya memiliki nomor lain yang iseng menghubunginya. “Halo, Nay, ada apa?” “Halo, Mas. Aku boleh tanya sesuatu nggak?” “Boleh dong, Nay. Emang kamu mau nanya apaan sampai izin segala” kekeh Adam. “Mas ada pakai nomor asing untuk ngejutin aku atau ngisengin aku gitu?” tanya Naya tanpa ragu. “Enggak tuh. Kenapa? Ada yang ngisengin kamu?” tanya Adam dengan suara yang cukup khawatir. Naya menggelengkan kepalanya “Ada, cuma chatnya baru sekali ini aja. Maksud aku, kalau bukan nomor Mas, biar aku blokir aja” “Oh gitu, yaudah blokir aja, dari pada nanti dia ngusilin kamu sampai bikin kamu nggak nyaman” saran Adam yang diangguki dengan setuju oleh Naya. “Yaudah ya Mas, aku mau kerja dulu. Kamu kerja yang rajin ya Mas” pesan Naya. Setelah panggilan yang ditutup oleh Adam, Naya kini fokus pada tugas yang dikerjakan oleh siswanya. Ia tak ingin membuang waktu dengan bermalas-malasan dan menunda pekerjaan yang nantinya malah menyita waktu di rumahnya untuk melayani suami. “Permisi bu, pak” seorang siswa mengetuk pintu ruang guru dan masuk setelah mengucapkan izin. Siswa tersebut mendekati Naya dan berdiri di samping meja wanita itu “Ada apa, Rey?” tanya Naya. “Kepala sekolah menyuruh saya untuk memanggil ibu” ujarnya. “Baiklah, dimana kepala sekolah?” “Di dekat gerbang sekolah, Bu” ujar Rey memberitahukan posisi kepala sekolah pada Naya yang langsung diangguki wanita itu. “Eh Rey, pak Kepala Sekolah belum pergi ya?” “Belum Bu, kayaknya mau pergi, tapi ada yang datang” “Siapa Rey?” “Aduh, kalau itu saya kurang tahu Bu” ujar Rey sambil tersenyum kecil. “Yaudah, kalau gitu makasih ya Rey” “Iya Bu, sama-sama” ujar Rey lalu kembali ke kelas. Tadinya ia baru saja disuruh mengantarkan uang sekolah bulanan ke ruang Administrasi dan karena kebetulan ruang Administrasi berada dekat gerbang sekolah, akhirnya sang kepala sekolah meminta tolong padanya untuk memanggilkan Anaya. Naya langsung berjalan menuju gerbang sekolah dan menemukan sang Kepala Sekolah sedang berbincang dengan orang yang posisinya membelakangi kedatangan Naya sehingga Naya tak dapat melihat siapa gerangan tamu itu. Kepala Sekolah yang menyadari kehadiran Naya langsung menghentikan ucapannya dan menyapa Naya. “Bu Anaya, saya minta tolong ya untuk mengantarkan Pak Topan ke ruang TU ya, soalnya saya buru-buru sekarang. Lagian pak Topan bilang kalau dia kenal sama Ibu, jadi nggak ada salahnya kan saya minta tolong sama Bu Naya. Pak Topan ini adalah guru yang akan menggantikan Bu Irma” ujar sang kepala sekolah. Naya mengangguk dengan sopan “Baik Pak” Kepala sekolah kemudian menatap Topan lagi “Kalau begitu saya tinggal dulu ya Pak Topan, saya sedang ada urusan diluar” pamitnya diangguki oleh orang yang ia sebut Topan itu. Orang yang disebut Topan oleh Kepala Sekolah itu secara perlahan membalikkan tubuhnya dan menatap Naya dengan senyum kecil yang menyembunyikan senyum picik didalamnya. Tubuh Naya menegang ketika melihat wajah Topan. Ia mundur dua langkah karena tubuhnya yang bergetar dan kakinya yang lemah untuk menopang diri. “Hai, Bu Anaya” sapa Topan dengan ramah. Ia maju dua langkah ke depan hingga membuat posisinya lebih dekat dengan Anaya yang masih tak percaya bahwa Topan adalah orang yang akan berada di sekitarnya terus. Naya berusaha mengatur dirinya dan memalingkan wajah “Mari saya antarkan” ujarnya, lalu memutar tubuhnya tanpa melihat tanggapan Topan. Dengan langkah cepat, Naya berusaha menghindari Topan, sayangnya pria itu malah dengan langkah yang lebih panjang mengejar Naya hingga posisi mereka menjadi lebih dekat. Topan menyembunyikan senyum piciknya dibelakang Naya, menyadari jelas bahwa kehadirannya membuat wanita itu takut. “Aku nggak nyangka kalau kita akan bertemu lagi, Naya” Naya tak menanggapi dan tetap fokus pada langkahnya, tak ingin terlibat dengan Topan yang akan mempengaruhi keberadaannya disini. Ia tak peduli apapun yang dilakukan pria itu nantinya, yang pasti ia akan selalu berusaha menghindar agar tak terjadi komunikasi apapun. Topan tersenyum dalam diam “Kamu udah lihat isi kado aku yang dibawa suami kamu semalam. Didalam buket bunga itu, ada surat kecil untuk kamu. Aku takutnya malah suami kamu yang baca” kekehnya. Naya meremas tangannya yang terkepal erat kemudian membalikkan tubuhnya ketika mereka sudah berada di depan ruang TU “Ini ruangan TU, Pak. Anda bisa menemukan pak Adi didalam” jelasnya kemudian pergi begitu saja. Naya segera memasuki kamar mandi di kantor guru dan menyandarkan tubuhnya ke pintu. Ia meremas tangannya dengan menyimpan genangan yang membuat embun di matanya. Kenapa hidupnya harus kembali dihadapkan dengan orang-orang yang tak ingin ia lihat. Ingatannya terputar mengenai ucapan Topan yang katanya memberikan kado. Flashback On Naya dan Adam yang baru saja selesai mandi akhirnya keluar setelah cukup lama di dalam dan segera memakai baju. Naya mengernyit melihat ada buket bunga besar serta sebuah kado yang ada disudut lemari “Ini kado dari siapa Mas?” tanyanya pada Adam. Adam menoleh dan melihat arah yang ditunjuk Naya “Oh, itu kado dari teman Mas. Katanya nggak enak karena nggak datang ke pernikahan kita waktu itu, padahal Mas nggak maksa sama sekali” “Baik banget teman Mas itu” puji Naya “Temen Naya mah kalau nggak datang cuma bilang maaf doang, lain kali kalau nikah lagi baru datang katanya. Kan k*****t” “Iya” angguk Adam setuju “Temen Mas yang lain juga gitu. Dia doang nih yang kayak gini” “Aku buka kadonya ya Mas” “Silahkan” Naya kemudian membuka penutup kado itu dan melihat didalamnya ada dua pasang piama yang sangat lucu. Naya mengangkat piama itu dan menunjukkannya pada Adam “Lihat deh Mas, kadonya imut banget. Pokoknya kita harus pakai kalau keluar” ujarnya “Ih enggak, gambar doraemon gitu, bikin Mas geli” tolak Adam sambil bergidik ngeri. Ia tak menyangka bahwa Topan memberikan hadian seperti itu padanya. Kalau untuk istrinya sendiri sih, ia tak akan masalah, tapi untuk ia pakai, ia tak akan rela menurunkan kharismanya menggunakan baju bergambar doraemon. “Lucu tau. Pokoknya lain kali kita harus pakai baju ini. Sampaikan terima kasihku sama temen Mas” “Iya” angguk Adam. Flashback Off Naya tak menduga bahwa itu adalah pemberian dari Topan. Ia hanya berharap bawa surat yang kata pria itu ia selipkan diantara bunga, belum dibaca atau bahkan disentuh oleh Adam. Ia tak bisa menduga apa yang akan Topan lakukan untuk mengganggunya. Ia hanya takut kalau sampai hal itu mempengaruhi hubungannya dengan Adam yang baru saja tebrbangun. *** “Ca, kamu belum pulang?” tanya Naya saat dirinya sudah bersiap untuk pulang, tetapi Cahaya masih sibuk dengan tugasnya. “Belum Nay, aku nanti harus ngawasin paduan suara” jawab Cahaya. “Kalau gitu aku pulang dulu ya” “Oh iya, hati-hati Nay” pesan Cahaya dan diangguki oleh Naya. Naya berjalan ke gerbang sambil memperhatikan ponselnya karena ia akan memanggil ojek online dengan aplikasi. Sebenarnya Naya agak menyesali dirinya yang tak bisa membawa kendaraan sepeda motor, sehingga membuatnya kesulitan mau kemana-mana, walupun sedikit tidaknya ia merasa terbantu dengan adanya ojek online yang kini sudah tersebar di kota-kota besar. Saat mengangkat kepalanya, langkah Naya terhenti begitu melihat Topan sedang berdiri di gerbang sekolah. Ia mengalihkan tatapannya dan tetap melanjutkan perjalananya dengan mengabaikan keberadaan Topan yang ia yakin berniat untuk mengusiknya. Tak ingin terpengaruh, Naya kembali menyibukkan diri dengan memanggil ojek online itu. “Mau pulang kan? Ayo aku antar” “Enggak” tolak Naya dengan ketus. Topan terkekeh sinis dan mengejar langkah Naya yang semakin cepat “Kamu nggak akan bisa menghindari aku, Anaya. Aku pikir kita memang jodoh sampai kita harus dipertemukan lagi dan lagi” ujarnya. Naya masih bungkam dengan segala ucapan Topan. Ia tak ingin membuat dirinya semakin kesal karena Topan yang terus memancingnya untuk marah, meski sesunguhnya ia tak bisa lagi menahan diri lebih lama karena keberadaan Topan sangat mempengaruhi pikirannya. Ia terus terbayang kejadian beberapa tahun silam saat pria itu memberi obat perangsang ke minumannya dan melecehkannya. Kehadiran Topan membuatnya seolah kembali pada masa lalu yang sangat kelam itu, seolah kejadian itu terus terulang sampai saat ini. Topan sendiri memang berniat mengingatkan Naya menganai masa lalu itu. Obsesinya pada Naya sejak Naya datang ke rumahnya bersama Farel, membuatnya semakin menggila hingga ia memberanikan diri untuk memberi obat perangsang dan melakukan sesuatu yang diluar logikanya pada pacar adiknya itu dulu. Flashback ON “Nggak kuliah lo kak?” tanya Farel pada Topan yang sedang duduk di sofa sambil menonton televisi. Farel cukup heran saat melihat keberadaan kakaknya yang di rumah, padahal biasanya pria berusia dua puluh satu tahun itu akan menyibukkan diri dengan kegiatan perkuliahan atau justru have fun bersama pacar-pacarnya. Topan menoleh kearah Farel lalu beralih kearah gadis yang memakai seragam sama dengan Farel. Ia tak menanggapi pertanyaan Farel, tapi terdiam menatap senyum yang Anaya pamerkan sebagai bentuk kesopanan sekaligus keramahannya. “Woi, jangan lihatin pacar gue segitunya dong. Gue juga tahu kalau dia cantik dan senyumnya manis” desis Farel pada Topan. Diusia yang ke enam belas itu, Farel memang tampak seperti anak-anak yang takut mainannya direbut oleh orang lain. Anaya terkekeh kecil melihat kecemburuan sang pacar yang sangat berlebihan dan merona karena pujian yang Farel layangkan untuknya didepan kakak pria itu “Jangan gitu deh Rel” “Memang cantik kok” puji Topan tanpa ragu. Anaya semakin tersipu malu, meski begitu ia tetap mengucapkan terima kasih pada Topan. Topan yang sering diceritakan oleh Farel memang sosok yang dewasa dan ramah, membuat Naya kini berani mengakui bahwa Topang memang tampak sangat bersahabat. “Duduk dulu ya Nay, aku mau ngambil buku buat belajar bareng” jelas Farel lalu meninggalkan Naya yang duduk di sofa lainnya dekat Topan. “Nama kamu siapa?” tanya Topan. Naya mengulurkan tangannya dengan ramah “Anaya Selindyna Kak” Topan merasakan lembutnya jemari itu membuatnya berfantasi liar “Topan” ujarnya cepat, tak ingin membuat Naya menghindarinya karena kesan pertama yang buruk. Setelah itu melepas salaman tangan mereka dengan tak rela. Topan tak menyangka bahwa keberadaan Naya didekatnya membuat fokusnya teralihkan begitu mudah. Ia melihat Naya sejenak “Kamu pacarnya Farel?” “Eh, i-iya kak” angguk Naya dengan malu. “Kenapa mau sama dia, padahal kan dia jelek” ejek Topan. Naya tertawa karena gurauan Topan. “Kakak bisa aja” “Lain kali kamu harus datang tiba-tiba ke rumah biar lihat segimana joroknya Farel. Sekalian mempererat tali pertemanan sama kakak, siapa tahu jadi adik ipar atau justru malah jadinya sama kakak” “Ah, kakak bisa aja” kekeh Naya tanpa mengetahui bahwa Topan benar-benar tertarik padanya. Topan tak menyangka bahwa cinta pandangan pertama benar-benar ada, karena sebelumnya, ia sendiri tak pernah semudah itu untuk mengagumi paras dan sikap seseorang. Hanya dengan senyum saja, Naya sudah berhasil mempengaruhi hatinya. Melihat rona merah yang menyelimuti pipi Naya juga membuat sesuatu dalam dirinya terasa mengganjal dan ingin memiliki gadis itu meski ia adalah milik adiknya. Pergaulan yang bebas membuat pikirannya melayang kotor membayangkan tubuh Naya berada dibawah ayunanya atau mengendalikan gerakan naik turun diatas tubuhnya. Melihat betapa polosnya wajah manis itu, ia yakin bahwa Anaya pasti belum pernah disentuh oleh siapapun, apalagi jika berpacaran dengan Farel yang gaya pacarannya hanya memegang tangan atau paling jauh mencium pipi. “Ayo Nay, berangkat” ajak Farel begitu keluar dari kamarnya. Saat itu mereka pulang ke rumah Farel, hanya untuk mengambil beberapa buku untuk belajar bersama teman-teman yang lain, jadi tidak membutuhkan waktu lama untuk dapat menemukan buku itu. “Kami berangkat dulu, kak” pamit Farel pada kakaknya. “Hm” gumam Topan singkat. Naya menundukkan kepalanya “Kami pamit ya kak” ujarnya dengan sopan. “Hati-hati” pesan Topan layaknya seorang kakak kepada adiknya. “Iya kak” angguk Naya dengan senyum yang dimata Topan lebih seperti godaan untuknya. Flashback Off Ingatan tentang pertemuan pertama itu membuat Topan tersenyum dan memilih membiarkan Naya untuk menghindarinya sejenak. Ia tak ingin terlalu gigih diawal karena akan membuat wanita itu semakin menghindarinya. Ia memilih memikirkan hari esok dan esoknya lagi untuk membayangkan pertemuan berulang kali dengan wanita yang sampai saat ini masih menjadi angan fantasinya yang liar.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN