Seminggu ini, Adam dan Naya sudah kembali bekerja seperti biasanya, merelakan waktu untuk berduaan lebih lama lagi karena pekerjaan yang menuntut kehadiran mereka. Dan sama seperti sebelum menikah, Adam juga kembali disibukkan hingga tengah malam, sampai membuat Naya tertidur ketika menunggunya pulang. Karena sudah ada sosok suami, justru membuat Naya merasa asing dengan berada di rumah sendirian, meskipun sebenarnya ia terbiasa sendirian di kontrakan kecilnya itu.
Selama seminggu ini, ia selalu menyibukkan diri dengan memperlajari materi yang akan ia ajarkan pada siswanya atau menilai tugas yang dikumpulkan padanya dan ia bawa pulang, atau justru setelah larut, ia menonton drama korea atas rekomendasi adik Axel. Ia juga akan menyibukkan diri dengan membaca novel percintaan atau fantasi yang sangat menarik perhatiannya.
“Bosen banget nggak ada Mas Adam” ringisnya sambil melihat jam begitu menyadari ia sudah membaca buku ke halaman yang cukup jauh.
Dengan kesal, diambilnya ponselnya dari sisi ranjang yang kosong lalu mencari nomor Adam untuk mengirimkan sms. Ia takut telponnya tak diangkat karena kesibukan pria itu yang tak terduga.
Naya : Mas jam berapa pulang?
Belum sampai lima menit menunggu, akhirnya ponsel Naya bordering menandakan ada panggilan masuk yang ternyata berasal dari sang suami dan langusng ia angkat dengan senyum semangatnya.
“Halo, Nay”
“Mas, jam berapa kamu pulang?” tanya Naya tanpa basa-basi.
“Tunggu bentar lagi ya, ini aku lagi di parkiran. Kamu udah makan malam?”
“Udah. Mas sendiri udah makan atau belum?”
“Belum, Mas tadi sibuk banget. Kamu mau Mas bawain makanan apa?”
“Terserah Mas aja, aku bakalan makan apapun yang Mas bawa, tapi aku tiitp es atau jus ya Mas”
“Udah malam kok minum yang dingin-dingin, nggak bagus loh”
“Nggak apa-apa Mas, aku lagi pengen, lagian kan bukannya sering banget” kekeuh Naya yang akhirnya diangguki Adam dengan setuju.
“Yaudah, nanti Mas bawain”
“Mas hati-hati ya pulangnya”
“Oke. Mas tutup ya terlponnya”
Setelah itu, Naya memeriksa ponselnya yang menunjukkan adanya pesan dari nomor asing. Naya mencoba mengingat-ingat, apakah ia pernah memberi nomor teleponnya pada orang yang tak dikenal? Atau ia lupa menyimpan nama kontak orang itu hingga tak ada dalam daftar kontaknya yang tersusun rapi.
Dengan ragu, dibukanya pesan yang ternyata ada lima dari nomor asing itu.
X : Hai Anaya. Masih mengingatku kah?
X : Aku tidak menduga bahwa kamu menikah dengan mudah meski sudah pernah ku sentuh.
X : Pelet apa yang kamu pakai untuk menarik perhatian Adam Glevino?
Naya tersentak kaget saat orang yang mengiriminya pesan itu mengenalnya juga Adam. Ia mencoba menduga-duga orang yang mungkin mengirimkan sms itu padanya, namun ia teteap tak mendapat jawabannya. Saat melanjutkan membaca pesan yang keempat, jantung Naya seolah berhenti bergerak cepat.
X : Aku tau kalau kamu pasti masih ingat dengan kakaknya mantan tersayang kamu.
X : Sepertinya kamu lupa. Biar aku ingatkan kembali dengan sebuah foto yang akan membantumu mengingatnya, Anaya sayang.
{A Picture}
Jantung Anaya terasa diremas oleh banyak tangan saat melihat fotonya yang dalam keaadaan telanjang d**a karena bajunya yang sudah terbuka, lalu disisi ranjang tempat Anaya berbring, ada foto pria yang mengiriminya chat itu. Ia tahu jelas siapa orang yang baru saja mengusiknya. Ia tak mungkin bisa melupakan orang yang membuatnya menjadi tak percaya diri untuk menjalin hubungan dengan pria lain saat merasa dirinya sudah tak layak lagi, meskipun kenyataan bahwa ia masih perawan, namun ia tetap tak bisa tenang sata melihat ada fotonya yang hampir telanjang ditangan pria itu.
Naya memejamkan matanya sambil memegang dadanya yang terasa sesak. Tiba-tiba matanya terasa berembun karena mengingat bagaimana ia mendapat perlakuan hina itu dari kakak Farel, mantan kekasihnya. Tubuhnya bergetar karena ketakutan kalau sampai orang itu mengirim fotonya kepada Adam, mengingat bahwa ia juga mengenal suaminya, semakin membuat Naya tak tenang sama sekali.
Naya memilih mengabaikan pesan itu sebagai jalan tengah, berusaha untuk menganggap bahwa ia tak pernah mendapat pesan semenjijikkan itu. Ia juga memblokir nomor yang masuk itu dan segera menghapus log pesan mereka agar ia tak melihatnya lagi.
Tin tin
Ia segera berlari ke pintu kontrakan dan menghampiri suaminya yang pulang. Ia menghapus setitik air matanya yang berlinang ke pipi, lalu menyambut Adam dengan perasaan lega karena pria itu membuatnya merasa lebih aman, walaupun tetap ada resah yang menghimpit dadanya.
“Hei, Sayang” Adam terkekeh menerima pelukan Naya yang membuat tubuhnya hampir jatuh karena tak siap, namun ia berusaha menahannya. Ia mengecup puncak kepala itu “Segitu kangennya sama Mas?” tanyanya menggoda.
Naya mengangguk dalam pelukan Adam “Mas lama banget pulangnya” rajuknya yang justru hal itu Membuat Adam tersenyum geli.
“Kayak nggak biasa aja”
“Mas bawa apa?” tanyanya sambil merebut plastik yang Adam pegang. Mereka berjalan masuk ke dalam kontrakan dan Adam segera duduk di kursi meja makan untuk menyantap apa yang ia bawa karena perutnya cukup keroncongan karena belum makan malam.
“Wah, martabak telur” ujar Naya antusias setelah membuka plastik yang tadi ia rebut.
“Jangan fokus martabak telurnya doang dong, Sayang” ujar Adam sambil menggelengkan kepalanya melihat Anaya yang memang sangat menyukai martabak telur. Ia segera mengambil alih kembali plastik yang tadi dibawanya dan mengeluarkan burger dan kebab yang memang sengaja ia beli untuk mengenyangkan perutnya.
“Sayang, Mas belum makan loh. Kamu nggak mau buatin teh hangat dulu?” tanya Adam ketika melihat istrinya sudah menyantap martabak telurnya ke sambal.
Anaya segera berdiri dan mencuci tangannya begitu mendengar keluhan suaminya “Maaf Mas, aku pikir kamu cuma beli makanan buat nyumpel perut aku lagi. Aku buatin teh dulu” ujar Naya pada sang suami “Lagian seharusnya Mas itu lebih mementingkan kesehatan dulu, baru pekerjaan” tambahnya sebagai nasihat.
“Iya. Tadi kamu masak apa?”
“Masih ayam sambel tadi pagi. Kamu mau aku panasin?”
“Mau dong, Mas laper banget soalnya”
“Mending Mas mandi dulu atau seengaknya bebersih muka, kaki sama tangan” saran Naya.
“Iya deh, Mas bebersih dulu” angguk Adam. Lagi pula ia sudah merasa gerah karena tubuhnya yang cukup beraktivitas banyak hari ini.
Naya kembali duduk setelah menyelesaikan makanan dan minuman untuk Adam. Ia kembali menikmati makananya dan sesekali mencolek kebab milik Adam untuk ia makan kecil-kecil. Setelah menunggu beberapa menit, Adam akhirnya muncul dengan celana pendek dan kaos abu-abunya. Pria itu segera duduk dihadapan istrinya dan menyantap makanan yang sudah terhidang begitu selesai berdoa.
“Gimana kerjaan kamu hari ini, Mas?”
“Ya gimana lagi lah, Mas juga bingung bilangnya. Capek banget” jawab Adam sambil memperhatikan istrinya yang sibuk melirik kebab beberapa kali. Ia terkekeh kemudian menggeser ke depan istrinya “Makan aja, Sayang. Kenapa juga kamu cuma ngelirik-lirik doang”
Naya menunjukkan cengiran malu “Aku pikir kamu mau makan ini, jadi aku nggak berani makan deh”
“Tadinya sih mau makan malam pakai itu aja, tapi kayaknya perut aku nggak bakalan kenyang kalau cuma makan kebab doang. Makan aja, kalau habis kamu ya bagus”
“Nanti kalau kau gendut gimana, Mas?”
“Ya mau gimana lagi” ujar Adam sambil memutar bola matanya “Mas pasrah aja”
“Ihh, jangan sampai deh” Naya bergidik ngeri “Nanti Mas nggak cinta lagi sama aku” desisnya
“Ya enggaklah, Mas tetep cinta kamu” Adam berusaha membela diri, tapi kemudian tersenyum jahil “Doain aja Mas nggak nambah istri”
“Ihh, Mas jahat banget” ambek Naya.
“Enggak lah Nay, Mas juga nggak mau kamu gendut. Nanti kalau kamu gendutan, bakalan Mas ajak olahraga terus”
“Heleh, Mas aja pulangnya malam banget”
“Ya kan Mas ngajak olahraga malam, di Ranjang” ujarnya sambil menaik turunkan alisnya dengan senyum menggoda.
“Dasar suami mesumku”
“Gimana kalau kita usaha lagi malam ini?”
“Aku mah ayo aja” jawab Naya.
“Tunggu Mas siap makan nasi, baru Mas makan kamu”
***
Karena tak ada jadwal siang ini, Adam akhirnya makan siang di kantin rumah sakit bersama dengan Ardit. Ada banyak yang mereka perbincangkan karena sudah jarang berkumpul sejak Adam sibuk menjelang pernikahannya saat itu. Adam menceritakan sedikit kebahagian kehidupannya dengan Naya sejak pernikahan mereka. Ia masih tak menyangkan bahwa ia sudah menikah dan memiliki seseorang untuk berbagi duku.
Ardit sendiri fokus mendengarkan sambil sesekali menyesap minumannya. Ia merasa ada yang aneh dengan hatinya yang seolah mengatakan padanya untuk menikah juga agar bisa merasakan perhatian seorang istri dan memiliki seseorang untuk membagikan sedikit saja kisah hidupnya.
“Dam, gue dijodohin” ujar Ardit singkat dan mampu membuat Adam terbatuk-batuk. Ardit meringis jijik saat minuman Adam menyembur padanya “Jorok banget, k*****t”
“Ya abis lo sendiri yang ngomong aneh gitu”
“Gue beneran dijodohin. Gue sendiri nggak nyangka kalau bokap gue kepikiran buat jodohin gue, padahal selama ini dia bahkan nggak pernah peduli sama kehidupan gue” desis Ardit berusaha meyakinkan.
“Sama siapa?”
“Sama anak koleganya. Gue juga belum tahu siapa orangnya, tapi yang pasti gue udah nolak. Gue nggak mungkin nikah sedangkan rasa tanggung jawab aja, gue belum punya” kekehnya, geli sendiri atas ucapannya.
“Sadar juga lo” ejek Adam.
“Iyalah, masalahnya ini menanggung beban orang lain. Menanggung beban sendiri aja gue rasa berat” keluhnya sambil menghela nafas kasar.
“Siapa tahu aja lo akhirnya bisa membagi beban sama istri lo nantinya, begitu juga denga dia. Gue sama Naya begitu kok”
“Ah, entahlah Dam. Yang jelas gue nggak bakal mau dijodohin”
“Kenapa? Karena udah ada dokter Ritha?” tanya Adam melayangkan godaan pada Ardit.
Ardit dengan tegas mengatakan “Ya enggaklah” sewotnya. Tampak jelas ia menyangkal hal itu dengan cepat dan membuat Adam semakin curiga, pasalnya Adam sering melihat keduanya terlibat percekcokan beberapa kali.
“Jujur aja sih, gue rasa dokter Ritha itu tipe yang nggak bisa ditolak sama laki-laki”
“Secara pesona sih iya, tapi gue nggak sanggup harus adu mulut mulu sama dia. Gue yang keras kepala kayak gini, nggak bakalan bisa disatuin sama orang yang nggak kalah keras kepalanya sama gue”
“Tapi gue rasa itu jadi kunci buat nakhlukin lo” kekeh Adam
“Udahlah Dam, nggak usah bahas dia, pusing kepala gue cuma inget namanya doang” omel Ardit tak terima. Ia membuang pandangan kearah lain dan tanpa sengaja ia bertemu pandang dengan seorang pria yang sedang berjalan kearah mereka. Ia melihat Adam sebentar “Dam, kayaknya itu Topan deh”
Adam memutar kepalanya ke sisi kiri dan menemukan Topan dengan wajah yang menunjukkan keheranan “Pan, lo ngapain kesini? Lo sakit?”
Topan menepuk bahu Ardit dan Adam sambil terkekeh “Bukan. Gue cuma mau ngasih selamat atas pernikahan lo sama istri lo. Gue kemarin nggak bisa datang karena ada kesibukan soal kantor, sorry banget udah menyia-nyiakan undangan pernikahan yang lo kasih”
Adam mengangguk “Nggak apa-apa sih, selo aja. Tapi, lo nggak mungkin datang cuma menyampaikan itu doang kan?”
“Enggak. Adik gue sakit dan kebetulan dirawat di rumah sakit ini. Tadi pas gue lagi jalan, nggak sengaja ngelihat lo sampai akhirnya gue mutusin buat nyamperin kalian berdua”
“Sakit apa adik lo?”
“Maag” jawab Topan dan Adam mengangguk.
“Oh ya, boleh gue tau alamat rumah lo, buat ngirimin hadiah” tawar Topan.
“Nggak perlu lah hadiah-hadiahan segala” tolak Adam dengan tak enak hati.
“Nggak apa-apa, atau kalau enggak, nanti sore gue anterin sama lo langsung aja biar lo terima dan gue juga nggak ngerasa bersalah lagi udah menyia-nyiakan undangan dari lo”
“Terserah lo aja kalau gitu, meskipun sebenarnya gue nggak maksa nih” ujar Adam.
“Oh ya, jam makan siang udah berakhir nih, gue sama Adam kayaknya harus segera balik deh. Lo nggak apa-apa kan ditinggalin?”
“Nggak apa-apa, silahkan” tanggap Topan dengan senyum kecil.
***
“Nay, Mas pulang nih” teriak Adam begitu sampai di rumah. Sejak menikah dengan Anaya, kepulangannya selalu disambut oleh wanita itu dengan senyum manisnya atau pelukan kecil, tapi kini ia bahkan tak melihat wujud istrinya setelah masuk ke dalam dengan menggunakan kunci yang ia pegang. Mungkin karena hari ini, ia pulang cukup sore dan tak seperti biasanya yang selalu menyita waktunya hingga malam.
“Nay” teriaknya lagi sambil memasuki kamar.
“Aku di kamar mandi nih Mas” balas Naya berteriak tak kalah kuat agar Adam mendengar suaranya.
Adam kembali ke depan dan mengunci pintu utama lalu membuka kancing baju dan celananya hingga hanya menyisakan celana pendek saja untuk menutupi inti tubuhnya. Ia kemudian memutar knop pintu kamar mandi dan melihat istrinya yang sedang bersabun.
“Mas kok ke dalam sih” protes Naya.
Adam mencuci tangannya sebentar dengan mata yang tak lepas dari istrinya “Mau mandi bareng nih. Sejak menikah kita bahkan belum pernah mandi bareng kayak pengantin lain”
Naya memutar bola matanya “Ya itu kan pengatin lain, Mas. Lagian Mas tahu dari mana kalau pengantin lain itu mandi bareng?” tanyanya heran.
“Dari novel, sayang” ujar Adam dengan mengedipkan sebelah matanya nakal.
“Pasti mau m***m nih” duga Naya saat Adam menelanjangi dirinya sendiri lalu membasuh tubuhnya didepan Naya.
“Kita harus coba sensasi di kamar mandi, istriku”
“Tumben Mas pulang sorean” heran Naya.
“Karena Tuhan baik sama Mas” jawabnya sembari terkekeh melihat istrinya mencebikkan bibir.
“Mau Mas sabunin nggak?” tawar Adam melihat istrinya kesulitan menyabuni bagian punggung.
“Boleh deh, selagi Mas udah di dalam juga, kenapa enggak”
Naya membalikkan tubuhnya hingga Adam berdiri di belakangnya lalu mengusap punggung itu dengan tatapan kagum. Ia memperhatikan baik-baik seluruh tubuh istrinya dari belakang dan menyadari betapa penampakan Naya yang bersabun membuatnya sudah menegang begitu cepat. Ia menyiram bahu Naya ke bawah lalu mengecupnya dengan menikmati aroma yang menguar dari tubuh itu.
“Sshh, nyabunin Mas” protes Naya saat dirinya jadi merasa geli sendiri dengan perlakuan suaminya.
“Kita coba di kamar mandi ya?” tanya Adam meminta persetujuan.
Naya memutar kepalanya ke belakang hingga melihat tatapan mata Adam yang sudah dipenuhi dengan kabut gairah yang ia dapat rasakan lewat sesuatu yang terus menyenggol kulitnya dari belakang. Sesuatu yang Naya sangat tahu apa itu karena sejak menikah, ia selalu memuaskannya. Adam memiringkan kepalanya dan langsung memagut bibir Naya saat merasakan wanita itu tak berniat menolak ajakannya. Tangannya juga berusaha memutar tubuh itu agar menghadap kearahnya hingga dengan bebas ia kini melingkarkan tangannya dipinggang istrinya yang masih bersabun.
Tangan Naya dengan gerakan menggoda meraba d**a Adam sambil menjalar keatas dan melingkari leher suaminya. Ia tak dapat menahan diri lebih lama lagi ketika ia merasakan bahwa dibawah sana sudah basah karena rangsangan yang Adam berikan lebih nikmat dari biasanya. Tubuhnya yang basah dan berkilat juga membangkitkan rasa kepercayaan dirinya bahwa dirinya sangat menarik hingga ia membalas pagutan bibir Adam jauh lebih kasar dan menuntut.
“Gimana? Suka?” tanya Adam saat melepas ciuman mereka dengan nafas terengah-engah untuk mencari oksigen lebih banyak.
Naya tersenyum malu dan mengangguk kecil.
“Berarti mau?” tanya Adam lagi untuk memastikan.
Naya mengangguk “Banget” jawabnya cepat dan langsung mendapat serangan dari Adam yang dengan segera menghimpit tubuhnya ke dinding dan memagut kembali bibir merahnya yang siap dengan terjangan Adam yang ganas dan lebih agresif darinya.
Setelah itu, percintaan mereka berlanjut hingga beberapa kali dan berhenti saat merasakan lapar yang mendera. Naya tak bisa memungkiri bahwa kini ia akan ketagihan dengan percintaan di kamar mandi dengan sabun yang melimpah dan membuat semuanya terlihat jauh lebih seksi dan menuntut.