22. Mesumnya pengantin baru

2088 Kata
"Nay" seruan itu membuat Naya menoleh ke belakangnya dan menemukan si pemanggil sedang menunjukkan deretan giginya dengan senyum polos yang membuat Anaya gemas. Baru Naya sadari bahwa suaminya itu sangat menggemaskan ketika baru bangun tidur. "Istriku, dipanggilin suaminya nyahut dong" kesal Adam. "Iya, apa suamiku?" tanya Naya menggodanya. Adam memeluk istrinya itu dari belakang. Ah, menyebut kata istri saja membuat jantung Adam melonjak bahagia. Ia tak membayangkan betapa ia semakin jatuh cinta setelah Naya menjadi istrinya. "Uekkk uekkk" Vio datang sambil muntah-muntah ke kamar mandi yang ada di dapur. Adam dengan panik melihat ke kamar mandi yang terbuka dan mendapi adiknya sedang memasang mimik mencibir karena berhasil ditipu. Dengan santainya, Vio kembali keluar kamar mandi dan mendekati Naya untuk membuat kopi atas permintaan sang papa. "Maaf, gue cuma mau melerai adegan menjijikkan didepan mata gue" jelasnya tak merasa bersalah. "Sirik aja" cibir Adam kesal "Ku pikir Naya yang udah nikah, kamu yang hamil" balasnya menyindir. Adam memang tak berbohong bahwa tadi ia berpikir adiknya itu muntah-muntah karena kemungkinan hamil, mengingat hubungannya dengan Axel yang menurut Adam terlalu overdosis. Naya memukul lengan Adam "Isss sembarangan kalau ngomong" "Ya siapa tahu gitu Nay, dia sama si kucrut itu kebablasan" "Enak aja kalau ngomong. Hubungan gue sama Axel sehat banget. Lo nggak perlu takut kalau gue bakalan hamil diluar nikah, karena gue tau caranya pake pengaman" dengkus Vio yang membuat Naya kini melotot kepada gadis itu. "Si k*****t, malah dijelasin" ujar Naya menggelengkan kepala heran. "Awas aja kalau lo sampai hamil diluar nikah atau nantinya suami lo mulangin lo karena nggak perawan, siapa lo" ancam Adam. "Gila pikiran lo, sana sekolahin" perintah Vio dengan kekehan gelinya "Gue nggak akan nikah kalau bukan sama Axel" sebelum sempat Adam kembali membalas perkataan Vio, gadis itu sudah kabur lebih dulu. "Udahlah Mas, biarin aja. Vio juga tau kok mana yang baik dan buruk" Naya berusaha menenangkan kekesan sang suami. "Dia ngeselin banget sih jadi adik" "Mas mau aku buatin teh, kopi atau kopi s**u atau s**u?" "Kopi aja, nanti susunya belakangan" bisik Adam membuat mata Naya membulat tak percaya, lalu mencubit Adam. "Ya ampun kerjaannya, romantis-romantisan mulu" dumel Dina sambil membawa belanjaan yang baru dibelinya dari tukang sayur yang setiap pagi lewat dari depan rumahnya. Naya memalingkan wajahnya dengan malu karena kelakuan Adam yang menjatuhkan citranya sebagai seorang menantu. Adam hanya terkekeh geli melihat wajah merona istrinya yang berusaha disembunyikan wanita itu, lalu menatap mamanya "Wajarin ajalah Ma, namanya juga pengantin baru" "Wajarin sih diwajarin tapi ya jangan di Dapur juga" omel Dina. "Mama bikin istriku jadi nggak nyaman aja" cibir Adam. Naya memijak kaki Adam agar pria itu berhenti bicara. "Mama bukan ngomelin menantu, tapi kamu. Udah sana, jangan gangguin disini, kalau nggak bisa bantu" usir Dina. "Siap, Ketua" Adam memberikan hormat pada Dina, lalu menatap Naya "Aku nemenin Papa dulu ya Sayang" ujarnya sebelum mengedipkan sebelah mata didepan Naya. "Maafin kami ya, Ma" ujar Naya pada Dina. "Ihh, nggak apa-apa kali, Mama juga ngerti kalau pengantin baru bawaannya pengen mesraan mulu" ujar Dina pada Naya "Mama cuma ngusilin Adam tuh" jelasnya lagi. Naya mengambil belanjaan mama mertuanya lalu membongkarnya untuk mengetahui akan masak apa pagi ini. Ia tersenyum kecil melihat ada udang di dalam plastik belanjaan itu ada ikan nila. Ah, Anaya benar-benar menyukai ikan itu. "Ikannya mau diapain Ma? Disayur atau disambel?" "Disambel cabai ijo buatan kamu ya, Nay. Papa katanya lagi pengen itu" "Aku juga lagi pengen banget, Ma" ujar Naya tersenyum kecil. "Kamu, Vio sama Papa kayaknya emang satu selera banget deh. Vio juga tadi seneng banget dibilang mau masak ikan nila" *** "Mas, kita mau kemana sih? Nanti aku salah kostum lagi" tanya Naya begitu mereka di mobil setelah selesai sarapan tadi. Adam sengaja menyuruh Naya untuk bersiap-siap dengan pakaian rapi agar mereka keluar, namun sampai saat ini, Adam tak kunjung memberitahukan kemana gerangan mereka pergi. Adam tersenyum kecil lalu menoleh kearah Naya sebentar "Kencan, Sayang. Karena aku belum bisa ngajak kamu bulan madu, berhubung libur ku juga nggak banyak banget, kita kencang sederhana dulu" "Iss, kayak apa aja nyebut kencan segala. Padahal aku mah nggak apa-apa kalau liburannya cuma sebentar" "Rugi diongkos, Sayangku. Nanti sampai sana cuma nganter lelah, liburannya bentar doang. Nanti aku cari waktu yang tepat untuk kita liburan ya" "Iya, nggak apa-apa Mas. Nanti kalau kamu sibuk dan nggak bisa juga, aku tinggal ngikutin bulan madu-nya Vio sama Axel nanti ke Jepang" "Bulan madu, nikah aja belum" desis Adam. "Yang penting kalau mereka nikah, katanya mau ke Jepang bulan madunya, jadi aku ngikut" "Jahat" "Biarin" Naya mencebikkan bibirnya. "Ayo turun" ajak Adam begitu mereka sampai disebuah pusat perbelanjaan besar yang didalamnya ada tempat bermain, belanja, nonton, makan dan lain-lain. Begitu turun, Anaya langsung meraih lengan Adam dan mengaitnya dengan mesra. Adam memasukkan tangannya ke saku celana "Ini pertama kalinya Mas kencan dan nggak nyangka kencannya sama istri" godanya. Naya tersenyum kecil sambil memperhatikan sekelilingnya "Kita mau ngapain dulu Mas?" "Beli tiket nonton dulu ya, abis itu kita belanja, gimana?" "Boleh" "Ayo ke lantai atas" ajak Adam sambil menuju lift. Saat lift terbuka, ternyata tidak ada orang di dalamnya yang membuat Naya dan Adam segera masuk dan memencet nomor lantai yang dituju. "Kita mau nonton apa, Mas?" "Nggak tau, Mas nggak ada bayangan bakalan nonton apa. Kamu emang mau nonton apa?" tanya Adam balik. Ia sama sekali tak tahu akan menonton apa karena memang ia hanya ingin melalukan kebiasaan orang berpacaran pada umumnya, untuk menggantikan bulan madu mereka yang harus ditunda. "Nanti biar aku aja yang pilihin, Mas" ujar Naya yakin. Saat sampai dilantai khusus nonton, Adam dan Naya disambut penjaga hingga mereka masuk dan ikut antri dalam pemesanan tiket. Bioskop yang ramai membuat tempat antri tiket cukup panjang, hingga mau tak mau Adam dan Naya harus menunggu cukup lama. "Udah tau mau nonton apa?" tanya Adam sambil membaca urutan film yang tayang hari ini. "Udah" angguk Naya. Saat giliran mereka, ternyata Naya memilih film bergenre romantis dan posisi duduk dibaris yang ketiga dari belakang. Naya mengacungkan tanda oke kepada Adam setelah mereka selesai membayar dan tinggal menunggu tiga jam lagi sebelum film ditayangkan. "Belanja apa dulu nih?" tanya Naya saat mereka berada di lantai khusus pakaian. Adam mendekati wajah Nay dan berbisik "Daleman dulu ya, Yank" godanya. "Mas, jangan m***m disini deh" dumel Naya kesal. Ia tak habis pikir bagaimana bisa suaminya semesum itu dan selalu tak tahu tempat membahas urusan yang kearah Delapan belas plus plus. "Aku beneran" kekeh Adam. Ia memang berniat menggoda Naya, tapi bicara soal membeli celana dalam, ia bersungguh-sungguh. "Yaudah, ayo" ajak wanita itu menarik tangan Adam. "Ukuran apa?" "Nggak tau, Mas cek dulu ya ke kamar ganti" Adam terkekeh geli sambil mengusap tengkuknya yang tak gatal. Ia benar-benar tak tahu ukuran yang ia pakai karena ia bahkan hanya memakainya saja setelah dibelikan oleh Dina. Selain itu, ia tak bisa bohong kalau ia tak pernah membeli perlengkapan untuk dirinya sendiri. Selama ini, ia hanya mengandalkan Dina dalam hal-hal seperti itu. "Udah Mas? Kalau nggak bisa biar aku yang bantu ngecek" goda Naya sambil terkekeh tanpa suara. "Jangan m***m, Yank" dumel Adam, lalu keluar dari dalam ruang ganti dan menoyor kepala istrinya dengan pelan "Nanti kalau orang lain denger gimana?" "Nggak apa-apa lagi, kita ini kan suami istri. Lagian mau ngeceknya di dalam ruangan kan, bukan di tempat terbuka kayak gini” jelas Naya. Adam merangkul bahu istrinya itu dan berjalan kembali ke box untuk celana dalam pria. Mereka sibuk memilih-milih sambil diselingi godaan m***m yang sepertinya melekat dalam diri mereka secara tiba-tiba karena masih suasana pengantin baru. Tidak hanya Naya yang heran dengan sifat m***m suaminya, Adam pun merasakan hal yang sama saat ia mengambil salah satu kotak dan memberikannya pada Naya. “Kayaknya ini deh ukurannya, Yank” Naya memperhatikan kotak itu sejenak lalu melihat ukurannya dengan mengernyit “Nggak salah nih, Mas?” tanyanya. “Enggak” yakin Adam. Naya mengarahkan tangannya untuk menyuurh Adam mendekat hingga pria itu menurut dan lebih mendekat kearah istrinya hingga Naya berbisik di telinga Adam sembari berjinjit “Ini terlalu kecil, nanti juniornya sesak” godanya. “Jangan sampai aku mesumin kamu disini” ancam Adam. Ia benar-benar harus menahan diri untuk tidak menerkam istrinya saat itu juga. Ia tak habis pikir dan banyak memikirkan soal kepolosan Naya yang ternyata hanya topeng karena wanita itu benar-benar liar dan ia menyukainya. Naya tersenyum sumringah “Mau” ujarnya menciptakan tawa Adam. Setelah selesai membeli beberapa belanjaan, Adam dan Naya akhirnya segera naik ke lantai khusus bioskop dan segera berjalan menuju studio film mereka akan ditayangkan, setelah tadi menyimpan belanjaan mereka di mobil. Begitu studio 3 dibuka, Naya dan Adam langsung memberikan tiketnya pada sang penjaga pintu masuk. “Gini rasanya pacaran di bioskop” bisik Adam saat melihat berbagai pasangan muda mengambil tempatnya masing-masing. “Lain kali kita ngedate bersama Axel dan Vio, biar Mas tau gimana serunya mereka kalau ngedate” ajak Naya sambil menaik turunkan alisnya. “Gimana kalau besok?” tawar Adam. “Ih, mana bisa. Vio udah pasti kerja lah” “Iya juga ya. Kalau gitu hari sabtu aja” usulnya lagi, “Sip, bakalan aku bilang sama Vio” Naya mengacungkan jempolnya pada pria itu. Setelah iklan selesai, lampu studio dimatikan dan Film lantas ditayangkan dengan penerangan minim yang membuat hanya layar yang tampak jelas. Adam menoleh kearah Naya dan tersenyum melihat wanitanya sangat fokus pada film, lalu dalam diam mengambil tangan Naya dan menggenggamnya. Naya menoleh kearah Adam dan juga tersenyum karena Adam bersikap seolah-olah tak tahu setelah menggenggam tangannya. Ia mengeratkan tangannya saat adegan romantis diputar dan membuatnya geli sendiri karena adegan dalam film itu menunjukkan betapa cinta itu membuat seseorang menjadi sangat kekanakan dan ia juga merasakannya dengan Adam. “Dulu, aku bilang film kayak gini itu terlalu lebay” bisik Adam pada Naya, agar tak mengganggu orang lain. Naya terkekeh dan ia juga mengangguk, merasakan hal yang sama dengan Adam, meskipun ia sudah dua kali menjalin hubungan dan sudah mengalami betapa kekanakannya itu. Ia juga geli sendiri mengingat betapa cinta bisa semudah itu merubah seseorang menjadi pencemburu, egois dan mudah marah. *** “Mas, aku capek seharian ini jalan-jalan yang bener-bener jalan” kekeh Naya sambil melakukan peregangan pada leher dan juga pinggangnya yang terasa sangat kaku. Ia tak menyangka bahwa acara mereka hari ini cukup melelahkan dengan diakhiri berjalan santai di sebuah perumahan yang sering dikunjungi banyak orang untuk melakukan olahraga karena di perumah itu sendiri ada lapangan besar dan jalanan sepi yang bisa digunakan. Setelah berjalan santai, keduanya lalu menaiki sepeda sambil berlomba satu sama lain. Adam menaiki ranjang setelah selesai memakai bajunya “Tidur yuk Yank” ajak Adam sambil menghempas tubuhnya keatas ranjang dan menatap langit-langit kamar dengan mata yang sangat berat. Naya menggeser posisi tidurnya mendekati Adam dan memeluk pria itu “Mas, peluk aku dong” pintanya. Dengan senang hati, Adam menghadap kearah Naya lalu merangkul wanita itu dalam peluknya hingga Naya semakin memajukan dirinya untuk menikmati betapa hangat dan nyamannya tubuh sang suami yang harum. Adam mengusap punggung Naya dengan lembut “Gimana tadi, senang nggak kencan sama aku?” Naya mendongak untuk menatap Adam, lalu mengangguk “Senang banget, Mas. Walaupun kamu nggak pernah kencan, tapi referensi kamu yang bikin capek banyak ya” kekeh Naya. “Mas terlalu sibuk untuk melakukan itu semua, semoga nanti kamu bisa memaklumi kesibukan-kesibukan Mas, ya Sayang” “Iya, Mas. Sebagai seorang istri, Naya akan selalu dukung Mas” “Sayang, kamu pengen kita punya anak dalam waktu dekat ini nggak?” “Nggak tau sih, Mas. Aku juga belum kepikiran banget, tapi kalau dikasih sekarang juga, aku siap” yakin Naya. “Kalau gitu, aku bakalan makin semangat buat bikin kamu hamil dalam waktu dekat. Aku nggak sabar jadi seorang ayah” “Kalau gitu, aku juga harus semangat buat meladeni nafsu kamu” Naya terkekeh geli. “Iya dong, harus” “Mas pengen punya anak berapa?” “Mas mau paling sedikit itu tiga, terus paling banyak empat” “Kok Mas nggak menerapkan dua anak lebih baik?” tanya Naya. “Nggak seru Yank kalau punya anak dua doang, harus ada pihak ketiga dan keempat yang akan melerai kalau yang dua berantem” “Dasar. Kamu pasti lagi nyeritain diri kamu kan?” duga Naya mengingat bahwa Adam adalah tiga bersaudara. Adam terkekeh dan mengangguk “Iya. Kamu mah nggak tau rasanya ribut sama adek atau kakak yang bikin emosi banget” “Kamu juga nggak tau rasanya sepi banget jadi anak satu-satunya” cemberut Naya. “Yaudah, itu artinya kita nggak boleh punya anak cuma satu atau dua” “Iya, terserah kamu aja” angguk Naya setuju. Naya menutup mulutnya yang menguap dan menatap Adam dengan mata yang memberat “Mas, aku ngantuk banget. Usapin punggung aku kayak tadi dong Mas” pintanya manja. Adam mengangguk dan mengusap punggung Naya dengan sayang. Ia dapat merasakan bahwa secara perlahan, nafas Naya menjadi teratur yang artinya wanita itu sudah mulai masuk kealam mimpinya karena badannya yang memang membuatnya terasa lebih enak untuk diajak tidur. Adam membelai pipi Naya dengan lembut, menundukkan kepala lalu mengecup kening itu dengan sayang “I love you, Istriku sayang” Ia terkekeh melihat Naya menggeliat dan mengeratkan pelukannya sambil membenamkan kepalanya di d**a Adam. Adam juga secara perlahan memilih memejamkan mata untuk menyusul mimpi Naya. Kelelahan tubuh mereka cukup terbalas karena hari ini mereka menikmati setiap momen kecil yang menyenangkan dan membuat mereka tersenyum dalam tidur mereka.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN