Keadaan Ratna benar-benar sangat memprihatinkan saat ini. Gadis itu tersungkur memegangi perut yang nyeri seperti ditusuk-tusuk benda tajam. Tanpa pikir panjang, Ravi membopong tubuh lemah Ratna. Mencoba membaringkannya kembali ke peraduan.
"Sesakit itu, ya? Sebrutal apa temen lo merawanin anak orang?!" Joy mendumel sarkas.
Suaranya terdengar jelas oleh terdakwa, sedangkan Elang cuma bisa garuk kepala. Ravi tidak terima dituduh m*****i kesucian Ratna, ditambah dengan embel-embel bahasa yang intinya bermain sangat kasar.
"Gue nggak apa-apain dia! Lo pikir keperjakaan gue nggak berharga apa?!"
"Wow... temen lo bener-bener jujur banget kayaknya."
"Ratna itu lagi dateng bulan!" Ravi menegaskan.
"Awalnya gue percaya pas dia bilang lagi ada tamu bulanan. Tapi kok masa sebegitunya? Kan jadi menimbulkan kecurigaan." Joy menimbang ulang.
"Bener. Gue setuju sama lo, Joy." Elang berada di pihak Joy.
Ratna menggeliat pelan. Susah payah mendudukkan diri demi bisa menjelaskan kebenaran sesungguhnya. Wajahnya pucat pasi, kentara menanggung nyeri bukan main.
"Aku sama Ravi nggak ngapa-ngapain. Kalo terlalu stres dan hari pertama memang biasanya begini. Aku cuma butuh obat pereda nyeri..."
Mendengar penjelasan Ratna, Joy langsung menarik napas lega. Buru-buru ia mencari tas kecil miliknya, tempat khusus obat-obatan yang selalu harus tersedia di kamar. Efek trauma pernah beberapa kali masuk rumah sakit karena terlambat penanganan. Ujungnya sakitnya makin parah. Sekali waktu vertigo tiba-tiba kambuh di pagi hari, dan diabaikan begitu saja. Di waktu lain, asam lambung makin akut karena terlalu disepelekan. Sebab itulah Joy selalu sedia beberapa macam obat-obatan dalam tas khususnya.
"Gue nggak bawa Mefenamic, tapi ada Ibuprofen. Minum ini aja dulu. Kalo masih belum mendingan, bawa ke dokter."
Disodorkannya sebungkus obat pada Ratna. Ia melirik ke arah Elang sekilas, menginstruksi pria itu untuk mengambilkan air minum dari dispenser di luar. Entah sejak kapan, kedua sejoli ini jadi mudah memahami bahasa isyarat satu sama lain.
Keadaan Ratna mulai membaik usai minum obat dan makan sedikit roti lapis sisa kemarin. Ravi sampai menggelengkan kepala tak habis pikir. Sempat-sempatnya Ratna menyimpan sepotong roti di dekat bantal. Untung tidak ada semut yang terpancing naik. Roti lapis itu diselubungi plastik putih dan hitam. Padahal tinggal sisa separuh saja.
"Temen lo ini semiskin apa sih?" Ravi heran bukan main. Sejujurnya ia sedikit iba melihat kondisi Ratna yang terbaring tak berdaya saat sedang kesakitan begini.
"Mana gue tau. Kita aja baru kenal, kan? Lo tanya sendiri lah ke dia," balas Joy menyembunyikan rasa kasihan. "Kalo bisa, tolong bahasa lo diubah dikit. Jangan bilang miskin gitu loh. Kesannya kayak gimana gitu."
"Terus gue harus bilang apa? Gembel? Melarat? Fakir?"
Joy berdecak sinis. Ia melirik Elang seolah menyalahkan pria di sampingnya. Lalu berbisik, "Kenapa lo mau jodohin mereka berdua sih?! Temen lo kalo ngomong nggak disaring dulu, pantes aja Ratna sensi mulu kalo debat sama dia. Gue aja kesel dengernya. Pengen gue sumpel kertas koran rasanya," ujarnya geregetan.
"Walaupun gitu, sebenernya Ravi perhatian tau. Lo lihat sendiri, kan, tadi dia yang paling gercep nyamperin Ratna duluan," balas Elang masuk akal.
"Iya juga sih. Tapi gue makin nggak yakin mereka bisa saling suka. Kita bukan sutradara Disney yang bebas bikin film Cinderella dan sang pangeran jatuh cinta tau."
"Yang penting kita udah berusaha."
Keduanya bisik-bisik tetangga. Meski begitu, Ravi tidak tuli. Telinganya masih bisa mendengar jelas obrolan Joy dan Elang. Ia membuang napas kasar dan melihat Ratna yang tergolek memeluk guling. Agaknya gadis itu sudah terlelap ke alam mimpi.
"Keluar lo berdua," kata Ravi.
Joy dan Elang membuntuti langkah Ravi. Tampang mereka acuh tak acuh, tapi dalam hati ketar-ketir. Mirip anak sekolah ketahuan membolos dan akan diberi hukuman oleh guru BP.
Pintu kamar ditutup dari luar. Ravi melipat kedua tangan di depan d**a. Menatap tajam ke arah Joy dan Elang bergantian.
"Apa motifnya?" Ia menuntut penjelasan lebih rinci. Tidak mungkin temannya sampai melakukan sesuatu tanpa ada sebab tersembunyi.
Joy menyenggol lengan Elang. Menyuruhnya jujur sebenar-benarnya. Akhirnya Elang pun buka suara.
"Sorry, gue yang salah. Gue duluan yang ngajakin Joy buat sekongkol."
"Tujuannya?"
"Gue pengen..."
"Kita pengen kalian akur. Itu aja." Joy menyela kalimat Elang. Secara tidak langsung menutupi maksud terselubung Elang sejak awal. Jangan sampai hanya karena masalah sepele, semua jadi runyam ke depannya. Hanya itu yang ada di pikiran Joy saat ini.
"Kalian berdua pernah lihat langit dan bumi jadi satu? Apa nggak kiamat dunia?" tukas Ravi hiperbola.
"Kata siapa langit dan bumi nggak bisa jadi satu? Ya memang nggak menyatu sih, tapi kan langit selalu memeluk bumi." Joy membalas dengan argumennya.
"Terus, maksud lo, gue harus-"
"Ehem..."
Perbincangan serius mereka bertiga terpaksa terhenti. Erika muncul dari pintu kamarnya. Tersenyum serta melambaikan satu tangan dengan ramah ke arah Ravi dan Elang. Tentu saja mengabaikan Joy yang jelas memihak Ratna, musuh bebuyutan Erika.
"Mau ngapain lagi nih nenek sihir satu. Nggak tau orang lagi diskusi serius apa, ya?!" Joy mendumel.
"Hai, Ravi ya?" Kali ini sasarannya adalah Ravi. Ia mendekat dan memainkan rambut panjangnya dengan gemulai.
"Kayak gitu seleramu?" Joy berbisik pada Elang, lebih terdengar bagai ejekan.
"Setelah dilihat-lihat lagi, buat main-main pun kayaknya nggak seru," balas Elang.
"Kenalin, aku Erika Hanna Wibowo. Kamarku di sebelah situ." Ia menunjuk kamar nomor 5, tepat berada di sebelah kamar Joy dan Ratna.
Ravi tidak berminat membalas jabatan tangan Erika. Menoleh pun enggan. Memang dasarnya manusia kutub utara, sedingin es di Antartika. Pantas saja ibunya sampai menyuruh Elang mencarikan pacar untuknya.
"Gue dengar lo anak dari pemilik BR, ya? Bener? Kok mau sih mulai dari bawah?"
Pertanyaan Erika berhasil membuat ketiga orang di sana tersentak kaget. Pasalnya, Ravi sengaja menyembunyikan identitas dirinya agar tidak dipandang sebelah mata oleh trainee lain. Juga supaya tidak menimbulkan kesenjangan sosial, mengira Ravi memanfaatkan posisi orang tuanya untuk masuk ke BR. Ia ingin diakui atas prestasinya sendiri, bukan embel-embel lain.
"What the hell?! Elo..." Belum selesai Joy bertanya, Elang lebih sigap membungkam bibir Joy.
"Lo tau dari mana? Siapa aja yang udah lo kasi tau?" Ravi menginterogasi dengan saksama.
"Dari temen papa yang kerja di BR. Belum ada yang gue kasih tau kok."
Ravi menyuruh Erika ikut dengannya dan bicara empat mata di ruangan lantai satu. Entah apa yang mereka bicarakan selanjutnya.
Joy menepuk dan menyingkirkan tangan Elang dari bibirnya.
"Seriusan?! Ravi anaknya pemilik BR?"
"Pelanin suara lo."
"Wah... kalo Ratna sampe tau, gue rasa dia bakalan makin benci sama Ravi."
"Kenapa gitu?"
"Ratna sensi sama Ravi kayaknya gara-gara Ravi masuk jalur khusus. Jadi, dia mikir Ravi punya orang dalem, dan dianak-emaskan. Sementara Ratna, mati-matian berjuang buat dapetin posisi sebagai karyawan BR. Wajar kalo dia ngerasa nggak adil dan ada nepotisme di sini."
"Tolong lo diem-diem aja, pura-pura nggak tau." Elang mengingatkan. "Ravi nggak suka terlalu disangkutpautkan sama nama ortunya untuk hal-hal kayak gini. Sejauh ini, dia melaju dengan kemampuannya sendiri."
Joy hanya mengangguk sekilas. Toh, ia sendiri juga punya rahasia. Wajar bila orang lain juga memiliki rahasia.
"Ngantuk nggak?"
"Lumayan. Tapi perut gue masih laper banget. Gue nggak akan bisa sleep well kalo nih perut meronta-ronta minta asupan karbohidrat beserta kawan-kawannya," celoteh Joy sambil mengelus perut.
"Di belakang asrama katanya ada penjual toge goreng, denger-denger sih enak. Mau nyobain?"
"Boleh deh. Gue ambil dompet dulu."
"Nggak usah. Gue aja yang ambil dompet. Pantang gue suruh lo bayar, kan gue yang ngajakin."
"Lo traktir gue bukan supaya gue tutup mulut soal temen sekamar lo kan? Ini namanya penyogokan."
"Anggep aja gitu."
"Gue nggak ember kali. Nggak usah lo sogok juga gue nggak akan koar-koar."
"Good."
"Ngomong-ngomong, si Ravi ngapain ya ngajak Erika bicara empat mata?" Joy agak penasaran.
==&BR&==