Bab. 15 - Gara-Gara Tamu Bulanan

1227 Kata
Joy tidak bisa mendesak Ratna dengan gedoran pintu dramatis. Ini salah keduanya yang belum juga memberi alasan kenapa bertindak sejauh ini. Dengan segera, Joy memutuskan duduk di aula tengah sambil menikmati tontonan TV. Untunglah di saku celananya tersimpan selembar uang. Joy bisa membeli camilan dan minuman sebagai kawan ngemil. Tidak ada tontonan yang menarik. Namun, Joy bertahan sambil memaksakan diri tetap sibuk. Beberapa jam lagi, dia akan coba lagi mengetuk pintu kamar. "Bagi dong!" Elang tanpa permisi menjejalkan tangannya ke kantong keripik kentang. Dia mengambil tanpa dikira-kira. Lumayan banyak untuk makhluk yang minta-minta. Apalagi keduanya terlalu dekat untuk duduk berdampingan. Ada banyak kursi lain yang bisa menampung bokongnya yang penuh otot itu, tetapi dengan sengaja memilih di sebelah Joy. Maklum, AC di asrama terlalu dingin. Dia cuma mengenakan kaos singlet hitam saja. "Lo ngerampok gue?" tanya Joy semakin keberatan. "Enggak." Suara renyah bersumber dari mulut Elang yang asik memamah biak camilan. Joy sengaja menjauhkan kantong keripiknya dari jangkauan Elang. Sama sekali tidak ingin membagi makanan. Sebab, dia juga lapar. "Pedes amat keripiknya, Joy." Elang tersedak bubuk bumbunya. Tanpa sungkan maupun izin pada empunya, Elang menyambar sebotol minuman yang tersaji di meja. "Woi, punya gue!" Elang mengabaikan. Dia menelan air itu banyak-banyak dan akhirnya tenggorokannya lega. "Lo tega ngebiarin temen lo mati keselek?" tanya Elang. "Lo sengaja ngebiarin gue mati dengan perut keroncongan gara-gara makanannya diambil paksa?" Joy tidak mau kalah. "Kalori keripik sama dengan semangkok nasi, Joy. Nggak akan bikin mati malnutrisi." Elang membantah. "Oke, minuman gue kalo gitu. Gue dehidrasi gara-gara pasokan minumannya kurang." "Lo nggak akan mati," ulang Elang seraya menyengir. "Lo punya virus menular kagak? Gue ga mau minum bekas punya lo." "Lha emang lo pikir lo sehat sampe gue numpang nempelin mulut botol bekasnya lo?" "Gue sehat." "Sama. Gue juga sehat walafiat, Joy. Kita berbagi liur pun, lo bakalan aman dari segala penyakit." Cengiran Elang semakin lebar. "Apanya bagi-bagi liur? Jangan ngaco!" "HM.... Pikiran lo kotor banget. Pikir lo, kita berbagi liur karena ciuman? Ini yaaaa... Botol yaaaa. Bukan bibir!" Elang monyong-monyong memamerkan bibirnya yang penuh, berisi dan menawan di depan Joy. Joy mengerang semakin risih. Menggoda Joy memberikan getaran yang menyenangkan. Elang kembali menatap layar 45 inchi. "Lo nonton apa sih, Joy? Dari tadi ganti-ganti channel terus," protes Elang semakin pusing. "Gue nggak tahu apa yang harus ditonton. Nggak ada yang asik." "Ya udah gue aja yang nonton." Elang merebut pengendali jarak jauh. Dia menyembunyikan benda persegi itu di belakang punggungnya, antisipasi Joy mengganti channel seenaknya saat sudah seru untuk dilihat. "Serah lo." Joy sibuk memakan sisa keripiknya. Dia memang kepedasan, tetapi menahan api di mulutnya agar padam dengan sendirinya. Erangan cewek itu terus bergema. Lantas matanya terpaku pada adegan luar biasa spektakuler. Dua tokoh itu berenang di sebuah danau dalam kondisi minim benang. Matanya yang saling mengunci dan salah satunya mencumbu pasangannya. Adegan itu diiringi musik romantis dari film, serta erangan kencang Joy yang pas dengan klimaksnya si tokoh cewek saat o*****e di tengah air. Joy melirik ke Elang, mengamati reaksi cowok waktu filmnya diselipi adegan panas. Elang sedang menelan ludah. Jakunnya naik turun dan terpengaruh dengan adegan itu. "Siapa kini yang otaknya kotor?" serang Joy dengan sengaja menyenggol bahu Elang. "Sssttt. Ganggu aja lo!" Elang teralihkan. Dia menoleh tajam ke Joy dan semakin frustrasi saat kembali ke layar, adegan berenangnya telah berakhir. Joy terbahak-bahak. Senang bisa mengusik konsentrasi Elang. Entah apa yang akan terjadi selanjutnya kalau filmnya menjadi lebih e****s. Sesudahnya, alur kembali menjadi ke genre thriller misteri. Adegan tadi jauh lebih ringan dari batas toleransi Joy. "Joy, mau coba nggak? Kayaknya kalo renang aja nggak kerasa dingin. Apalagi di tempat full AC gini. Bawaannya pengen meluk yang anget-anget." "Terus ambil kesempatan buat sentuh gue? Ke cewek ganjen tadi aja deh." "Nggak cukup." Elang mencibir. "Erika terlalu kuat dan gue nggak suka sosok yang blak-blakan. Sesama pemain, gue kenal dia kayak apa. Jadi, nggak deh." "Oh, gue makin enggak sudi minum botol yang udah lo tandain." Joy semakin jengkel. Dia sudah tidak tahan dengan level kepedasannya. Tetapi duitnya sudah habis untuk belanja camilan tadi dan menyisakan sekeping emas saja. "Beliin gue minuman sekarang! Huh, hah!" Joy mengibaskan tangannya ke udara, berharap tidak ada asap menyembur dari mulutnya. Pedas sekali sampai kedua matanya basah, serta hidung yang meler. Joy menarik ingusnya, semakin menggila. "Ya ampun, Joy. Mana bawa dompet gue. Gue aja dikunciin sama Ravi." "Gara-gara lo sih. Gue kena getah!" Joy menyalahkan. Cewek itu kabur ke kamarnya, memohon Ratna membukakan pintu. Setelah membangunkan separuh penghuni asrama gara-gara Joy, Ratna muncul sambil mengucekkan mata. Ratna kembali terkapar di ranjang sambil memegangi perutnya. Dia meringkuk seperti janin. Joy meneguk banyak air sampai perutnya begah. Lalu dia menyipitkan mata, memindai apa yang terjadi pada Ratna. "Rat, lo oke?" tanya Joy, mendekati ranjang Ratna dan pahamlah bahwa bercak lebar di tempat itu adalah darah. "Heem." Ratna bergumam pelan. "Eh, lo abis diapain sama Ravi? Sampe pendarahan gini, hah?" Joy dengan panik menarik Ratna. Tindakan itu membuat perut Ratna semakin nyeri. Mustahil makan romantis hasil reservasinya membuahkan hasil? Elang harus diberitahu proges hebat ini. Cinta yang hot sekali. Diam-diam cinta kedua makhluk ini panas membara, melebihi adegan berenang di film yang dilihat Elang. "Ravi ambil keperawanan lo, kan? Dia bilang apa aja? Kalian jadian apa cuma partner seks doang?" Sekarang Joy paham kenapa Ratna sangat lama bisa membukakan pintu. Pasti buat jalan saja menyakitkan. Joy tidak menyadari itu karena fokus mencari air minumannya yang disimpan di dekat koper yang belum selesai dibongkar. Bukannya menjawab, Ratna malah menangis terisak-isak. Dia semakin membungkuk akibat kram yang didera. Mulutnya bungkam, tidak punya tenaga untuk menjawab. Selain itu, dia butuh obat pengurang nyeri. Parahnya Ratna lupa membawa koleksi obat-obatan yang sudah disiapkan jauh-jauh hari dari rumah. "Nggak bisa dibiarin. Dia kudu tanggung jawab!" Joy berdiri dengan cepat menuju kamar di seberangnya. Dia bahkan menubruk Elang yang berjuang dibukakan pintu kamar. Namun, Ravi jauh lebih pendendam dan budeg bukan main. Tidak terpengaruh dengan ketukan pintu tanpa henti itu. "Rav, bukain pintunya sebelum gue hancurin pintu kamar lo!" Pekikan Joy memecah keheningan malam untuk kedua kalinya di asrama. Matanya berapi-api ingin membela Ratna. Sebagai teman sekamar yang baik, dia tidak tega dengan kondisi Ratna yang dibuat menangis oleh Ravi. "Ada apa sih, Joy?" "Temen sesama pemain lo itu. Ravi udah...." Joy mendekatkan bibirnya ke telinga Elang. Dia memelankan suaranya agar tidak terdengar siapapun. "Ambil keperawanan Ratna. Dia sekarang kesakitan dan pendarahan di kamar." "WHAT?" Giliran Elang yang syok berat. "Woi, lo emang banci. Nggak tahu batas juga!" "Berisik lo, Joy!" Akhirnya Ravi membukakan pintu. Sedari tadi dia tidak bisa tidur karena ketukan pintu di seberang kamarnya. "Lo itu ya. Nggak kira-kira. Lo apain Ratna?" tembak Joy tidak terima. "Apaan?" tanya Ravi kebingungan. "Dia berdarah banyak. Lo abis ajakin dia main di mana sampai keperawanan yang berharga itu lo renggut?" Joy bicara cepat, tetapi menurunkan suaranya. "Apaan yang main-main? Gue dan Ratna yang jadi mainan kalian hari ini. Jangan paksain gue bisa jadian sama dia ya. Nyusahin banget, ngerti kagak?" Joy mengerjapkan mata semakin bingung. "Maksud lo?" "Nggak usah pura-pura b**o. Lo pada kira, gue gak tahu niat lo, khususnya lo, Elang?" Elang menyengir. Rencananya telah ketahuan. "Gue nggak akan suka sama Ratna. Paham lo?" ucap Ravi semakin tajam. Namun, dia tiba-tiba berlari menerobos Joy dan Elang begitu mendengar suara jatuh yang keras dari ambang pintu seberang. Ratna telah tersungkur ke lantai, tidak kuasa berdiri demi menyusul Joy yang salah paham. ==&BR&==
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN