Bab. 20 - Ciuman Mesra

1567 Kata
"Butuh bantuan lain?" tanya suara berat dari seberang panggilan. Napas Keenan terdengar agak lain dari versi normalnya. Agaknya Joy tahu apa yang baru saja dilakukan kakak tirinya itu. Biasanya, dalam sekali panggilan Joy, cukup untuk Kenan langsung mengangkat. Tapi, kalau sampai lebih dari tiga kali, artinya pria itu sedang sibuk melakukan sesuatu. Entah syuting atau hal lain. "Kecapekan?" "Lumayan. Habis olahraga." Joy mengernyit. "Olahraga apaan jam segini?" Lalu ia sadar dan ber-oh ria. "Gue paham. Jangan lupa pakai pengaman," katanya mengingatkan. Terdengar kekehan tawa dari sana. Panggilan telepon beralih ke video. Kenan memperlihatkan ruangan fitnesnya. Menunjukkan kalau dirinya tidak sedang berbohong. "Pikiranmu kotor banget sih. Lagi kangen?" "To the point aja ya, gue butuh satu lagi bantuan lagi dari lo. Kira-kira bisa nggak, lo bujuk Andina Ratu buat ikut main jadi pasangan lo?" Sebenarnya Elang dan Joy sudah berusaha menghubungi pihak manajemen artis bersangkutan, tapi selalu saja ditolak dengan berbagai alasan. Sementara Joy dan Elang sudah pusing dengan pertengkaran Ratna dan Ravi soal peran utama perempuan. Di antara pilihan lain, menurut mereka Andina Ratu memang paling sesuai. Joy punya jalan pintas lebih mumpuni, mungkin saja kakak tirinya bersedia membantu kan? Kenan tampak berpikir. "Harus banget dia?" "Why? Jangan bilang lo habis PHP-in dia? Gue kira berita itu nggak bener!" "Nggak sepenuhnya bener." "Berarti ada benernya, kan?" sindir Joy. "Lo cari yang karakternya gimana?" "Berani, agak lucu, dan smart. Tapi harus cantik natural." "Senatural apa?" "Ehm... yang kayak Isyana maybe." "Gimana kalau Nagita Aurora? Atau Sifa Riani?" "Jangan Nagita. Gue minta tolong lo buat jadi aktor, bukan nyuruh CLBK." Kenan tertawa. "Cemburu?" "Sifa Riani kayaknya oke. Kira-kira bisa nggak? Bukannya dia lagi sibuk sama promosi film terbaru yang mau tayang bulan depan?" "Film pendek aja, kan? Tenang, serahin sama gue. Tapi inget janji lo, ya?" Joy menarik napas dalam-dalam. Terpaksa mengangguk demi memuaskan hati Kenan. Untuk sementara, ia rela mengalah. Setidaknya sampai projek timnya kelar. Ia tak mau cuma menumpang dapat nilai bagus tanpa ada kontribusi juga. Semangat Ratna sepertinya mulai menular padanya. Rangkulan tangan Elang bergelayut di pundak Joy. Mengagetkan Joy atas kehadirannya. Buru-buru gadis itu menutup panggilan video, sebelum Kena sempat bertanya lebih lanjut. "Serius banget. Siapa?" tanya Elang. "Bukan siapa-siapa. Kepo banget." "Loh, sama calon pacar kepo itu perlu." "Siapa calon pacar? Gue?" "Siapa lagi? Masa tembok di samping lo?" "Inget ya, El. Kita harus fokus dengan projek. No baper-baper." "Kecuali khilaf," sahut Elang sambil mesem. Senang sekali ia menggoda Joy. Ekspresi Joy ketika digoda berbeda dengan gadis-gadis lain. Walaupun terlihat masa bodoh dan tidak tertarik, tapi pandangan matanya justru memikat rasa penasaran Elang. Suasana di balkon samping cukup hening. Langit juga sedang bersahabat. Angin malam terasa dingin membelai tubuh keduanya. Joy berdiri menyandarkan lengan di sisi pagar beton, menatap angkasa dengan sorot takjub. Di sampingnya, Elang justru berbalik melihat dirinya. "Lo bisa beneran naksir gue kalo ngelihatin kayak gitu mulu," tegur Joy. "Hati-hati..." "Nggak masalah. Belom ada aturan dilarang naksir rekan satu tim, kan?" Cengiran khas Elang benar-benar menyebalkan sekaligus memesona. "Kayaknya lo hobi banget godain cewek." "Bukan kayaknya. Memang iya. Cuma ya gue pilih-pilih kali." "Pernah gue bilang kan, gue nggak suka dijadikan pilihan. Lo mau gue kasih pelajaran berharga?" Elang terdiam, keningnya berkerut bingung. Joy berpindah. Meletakkan ponsel di atas meja kecil paling sudut. Kemudian, tepat berdiri di hadapan Elang. Satu tangan Joy merangkul leher pria itu. Tangan lainnya sudah bergerak membelai telinga, pipi, sampai ke bibir Elang. Kelopak mata Joy berkedip sesekali, bulu matanya lentik menggoda. Retinanya meluruh seolah nyaris menenggelamkam hasrat Elang semakin dalam. Pria itu bahkan tidak berkutik. Tubuhnya seolah membeku di tempat. Seperti baru saja terkena sihir sebelum sanggup mengelak. Jantungnya melonjak tiba-tiba. Namun, ia mencoba tetap tenang menghalau ketegangan batinnya sendiri. Joy tersenyum penuh kemenangan. Sadar kalau ia baru saja berhasil membalas dengan telak. Tapi sayangnya, belum sempat dirinya mundur menjauh, Elang lebih sigap menarik pinggangnya hingga tubuh mereka semakin tidak ada jarak. Giliran Joy yang terkunci tak mampu bergerak banyak. Elang memundurkan posisi keduanya sampai membentur tembok. Joy mencoba melepaskan diri tapi gagal. Ia tersudutkan akibat ulahnya sendiri. "Di sini ada CCTV," katanya mengingatkan. "Di balkon nggak ada CCTV, Joy. Kalo pun ada, nggak masalah juga. Lagian, lo duluan yang mancing-mancing. Harus berani terima resiko dong." "Maksudnya?" Perasaan Joy kalang kabut. Baru kali ini ia merasa kepayahan menghadapi seseorang. Antara nalar dan hatinya jelas berbanding tebalik. Di satu sisi pikirannya mengatakan ini salah, di sisi lain jiwa dan tubuhnya hanya bisa berpasrah. Sorot mata Elang terfokus dengan keindahan nyata di depannya. Ia tak bisa menolak fakta bahwa memang Joy begitu menarik. Tunggu, atau terlihat sangat cantik di matanya? Pria ini mulai kehilangan kendali diri. Elang memagut bibir ranum yang beberapa kali hadir mengganggu mimpi basahnya. Tidak seperti Elang yang biasanya. Ia butuh persetujuan lawan terlebih dahulu. Sekarang, keduanya benar-benar terlena dengan manisnya ciuman. "Joy..." Ratna langsung membekap bibir sebelum suaranya terdengar. Langkahnya mundur seketika begitu melihat adegan ekstrem di depan mata. Untung saja ia tidak teriak-teriak sampai mengacaukan keromantisnya dua rekan satu timnya. Ratna menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya perlahan. Badannya mendadak panas dingin tak karuan. Ia kipas-kipas dengan buku catatan yang dipegang sejak tadi. Niatnya mau mengajak Joy cari makan harus urung seketika. Pipinya merona merah tak bisa menahan geli. "Ya ampun, Joy sama Elang ternyata terlibat skandal! Aduh! Kenapa aku malah kesenengan, ya?! Apa ini efek belum pernah ngerasain first kiss?" gumamnya sambil terus kipas-kipas. Tak lama Ravi muncul dari balik pintu kamarnya. Ia berniat menuju balkon samping mencari udara segar. Jarak kamar mereka dengan pintu balkon memang tidak jauh. Karena balkon berada tepat di samping kamar keduanya yang berhadapan. Diliriknya Ratna yang terlihat seperti cacing kepanasan. "Eh! Mau ke mana kamu?!" cecar Ratna. Gadis ini spontan menahan lengan Ravi dan memelototinya. "Mau cari angin. Lo ngapain sih?!" "Jangan!" "Kenapa?" "Anginnya lagi sibuk, nggak usah dicariin." "Absurd banget lo." "Pokoknya jangan ke sana! Titik!" Ravi mencoba melepaskan cengkraman tangan Ratna. Tapi gagal. "Lo pegulat atau gimana sih?! Kuat banget kayak kuli bangunan lo!" "Hus! Mending ikut aku cari makan. Kamu mau cari angin, kan? Ayok! Ganti kamu beliin bubur, sekarang aku yang bayarin makan malem." Tanpa menunggu jawaban, Ratna langsung mengajak Ravi putar arah dan menggandeng lengannya lebih kuat. Mereka berjalan menuju tangga untuk turun ke bawah. "Lepasin gue, Rat! Sakit woi!" "Lemah banget sih jadi cowok." "Bukan gue yang lemah, tapi elo yang terlalu bar-bar! Bisa lebam nih tangan klo lo giniin!" "Lebay." Ratna melepaskan rangkulan tangannya. "Ada apaan sih di balkon?" Ravi agak kepo. "Nggak ada apa-apa." "Bohong lo! Jangan-jangan..." "Apa?" "Jangan-jangan... lo sembunyiin cowok ya di sana?!" tuduh Ravi sembarangan. Tebakannya langsung disambut pukulan buku ke pundak. Ratna berdecak sekilas. "Ngawur! Aku ini single tau! Masih jomblo tulen." "Bangga, ya?" "Iyalah. Kenapa emangnya?!" "Nggak kaget sih. Cowok mana pun bakalan kabur kalo ketemu cewek aneh dari antah berantah kayak lo!" "Heh, kalo ngomong mulutnya dijaga, ya!" Ratna tak terima. "Aku ini cuma males dandan aja, ntar kalo udah dandan dijamin semua cowok pada antri!" lanjutnya membela diri. "Males dandan aja kata lo? Ngaca lagi sana gih! Palinggan tuh cowok-cowok pada ngantri minta sembako." "Ish ish ish, ntar kalo aku tiba-tiba jadi cantik, kamu bisa bingung loh," timpalnya percaya diri. Ravi menggeleng tak percaya. "Kepedean lo." "Jangan suka menghina orang gitu, nggak baik." "Ya, lo duluan bikin gue sensi." Lagi-lagi mereka berdua terlibat percekcokan tak berarti. Bahkan hal sepele pun bisa jadi sangat besar bagi Ratna dan Ravi. Sangking fokusnya mendebat satu sama lain, Ratna yang berjalan setelah Ravi tanpa sadar tersandung rok panjangnya sendiri. Ia terjungkal. Reflek Ravi menangkap dan keduanya malah terpojok pada pegangan tangga. Parahnya, Ratna kehilangan kontrol ketika berniat menjauh. Lagi-lagi ia tersandung roknya yang memang kepanjangan. Ravi sigap memegangi tangan Ratna. Dan Ratna harus berakhir di pelukan Ravi dengan bibir mencium leher Ravi. Insiden tidak disengaja tersebut justru membuat Ravi merinding ngilu. Pasalnya, pria satu ini juga sama kolotnya seperti Ratna. Belum pernah melakukan hal-hal intens yang menggugah selera. Ratna berkedip dan menjauhkan diri segera. Untuk ketiga kali roknya menjadi sumber masalah, ia jatuh kembali ke tubuh Ravi dengan posisi sama. Ratna merutuk dalam batin, antara malu campur emosi. Sedangkan Ravi malah terbengong merasakan ada yang aneh dalam dirinya. Antara bergidik, tapi juga perasaan geli tak terbantahkan. Terpaksa Ratna mencincing rok hitamnya. Lalu mundur pelan-pelan sambil mengatur napas yang kelabakan. "Jangan ambil kesempatan dalam kesempitan kamu!" pekiknya setelah sadar dari rasa gugup sesaat. "Lo yang nempel duluan! Malah nyalahin gue!" "Gara-gara kamu bibirku yang suci jadi ternoda!" "Gara-gara lo juga, leher gue yang suci jadi ternoda!" Ratna memukulkan buku ke Ravi lagi. "Dasar m***m!" "Lo yang m***m! Gue cuma korban di sini!" "Enak aja! Kalo kamu nggak narik aku, pasti nggak akan begitu jadinya!" "Oh, terus lo bakal jatuh geluntungan gitu? Besoknya patah tulang, terus projek tim kita gagal total?" "Ya nggak seburuk itu kali." "Makanya, pake rok yang masuk akal. Lo mau kondangan apa gimana sih?!" "Aduh, rokku cuma ada tiga. Yang dua dicuci. Tinggal ini." "Beli selusin. Jangan kayak orang susah amat kenapa sih lo?! Ngenes banget perasaan hidup lo." Ratna menarik napas panjang. Ia harus ekstra sabar menghadapi ketusnya kata-kata Ravi. Tanpa sadar, Ratna melihat sesuatu yang aneh di celana Ravi. "Kamu ngompol, Rav?" Seketika Ravi ikut melihat bagian celananya yang dirembesi sesuatu. Keduanya saling pandang sekilas. Ratna yang tak habis pikir mengira kalau Ravi ngompol. Dan Ravi yang berusaha menyembunyikan malu karena tanpa sadar sesuatu dalam dirinya menyembur keluar. 's**t! Tengsin gue kalo sampe si Ratna sadar!' umpatnya membatin. ==&BR&==
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN