Bab. 19 - Satu Misi

1216 Kata
Joy merasakan desiran aneh usai mendengar pertanyaan Elang. Cowok itu memberikan perasaan baik. Hanya teman yang bisa diajak ngobrol apa saja. Namun, balasan yang Joy terima adalah Elang jauh lebih peka dan memahami dirinya. Elang tahu patah hatinya. "Mau kencan sama gue nggak?" tanya Elang, tetapi tidak ada serius-seriusnya. Pancaran mata humoris itu mengusik Joy. "Kenapa sama lo?" "Kata lo, lo kosong. Gue aja yang isi gimana?" "Mending isi cast aja deh. Kalo udah ketemu, kita serahin ke Ratna dan Elang buat seleksi akhir." Joy mengubah topik. Salah tingkah dengan pertanyaan Elang. Pesan Ratna yang muncul di pop up notifikasi mengingatkan. Harus Keenan yang bisa direkrut. Joy putus asa. Ini cuma film pendek yang dibuat sederhana dengan modal kamera, tetapi Ravi menuntut produksi film digarap serius dan profesional menggunakan peralatan kamera super lengkap. Ada kamera Job pula. Elang mengangkat bahu. Dia menggaruk dagunya. "Lo aja deh yang DM ke agensi Keenan." "Dih, kenapa nggak lo aja? Katanya tim marketing. Jadi bisa dong ngelobi Keenan?" protes Joy. "Kata lo, kosong. Kenapa nggak isi dengan Keenan aja?" Elang mengejek. Namun, d**a Joy mencelos. Terlalu tepat sasaran. Pipi Joy merona dengan sendirinya. Lalu dia menggelengkan kepala. Joy tidak ingin melibatkan kakak tirinya dalam pekerjaan. Sayangnya dorongan teman sekelompok membuat Joy mengalah. Dia bisa saja menghubungi langsung Keenan pakai WA, tetapi demi profesionalitas dan menyakinkan, Joy menghubungi via Stargam lebih dahulu. Tidak lama kemudian, pesan WA masuk dari Keenan. "Ngapain chat di Stargam? Lo bisa ngomong langsung sama gue." Inilah kenapa Joy jarang ngobrol di WA. Akun itu dikelola oleh agensi. Kadang-kadang Kenan membukanya. namun, Joy kaget karena Kenan terlalu gercep membalas. Apakah dia tidak syuting hari ini? Pikiran Joy berkelana. "Balas aja di sana. Gue butuh aktor buat tugas magang." "Apapun buat lo, Joy. Gue mau." "Makanya balas aja di Stargam. Biar bisa gue SS ke tim gue. Gue ga mau dikenal sebagai kenalan aktor terkenal. Nge-casting jalur ordal. Dimanfaatin terus gue ntar." Joy dengan cepat membalas. Tidak lama kemudian, jawaban memuaskan muncul di akun Stargam Joy. Joy berpuas diri. Dia memamerkan tanggapan Keenan ke Elang. Elang segera menjawab pesan itu di Stargam. Walaupun mereka tidak tahu, kalau Joy terpaksa menyetujui syarat dari Kenan untuk mengiyakan permintaan tolong Joy. "Aktornya udah dapat nih. Tinggal aktrisnya aja. Lo ada ide?" tanya Joy. "Wait, segampang itu aktor sekelas Kenan Adelard mau join?" Elang agak ragu, tapi juga penasaran. Joy hanya menjawab dengan alasan klise, yang bikin Elang garuk kepala. Dan tak memperpanjang rasa penasarannya. "Gue bingung. Ada beberapa kandidat, tapi gue ga bisa memutuskan." "Ya udah, lapor aja ke Ratna dan Ravi." Keduanya kembali ke ruang rapat dan membuka pintu yang dikunci. Anehnya kedua rekannya masih duduk di tempat yang sama. Dengan penampilan acak-acakan, bertengkar mengenai pilihan lokasi syuting. "Gaes, gue berhasil rekrut Kenan Adelard. Tinggal cast cewek aja. Elang, tunjukin video-video talent pilihan lo." "Serius?! Padahal aku cuma bercanda, Joy." Mata Ratna berbinar sumringah. Tidak menyangka teman sekamarnya bisa diandalkan begini. Joy hanya mencibir dengan decakan sekilas. Elang segera menyodorkan beberapa video unduhan di Stargam soal artis-artis temuannya. Ravi dan Ratna tanpa sadar nyaris menempelkan kepala demi melihat pilihan Elang di layar ponsel. Slide demi slide bergeser menampilkan belasan artis menarik. "Waaaaa, bagus. Siena bagus." "Nggak bisa!" cetus Ravi begitu nama artis yang kerap main di FTV disebut. Alasannya, wajahnya terlalu bule untuk film horor. Harus lokal, tapi juga menjual. Standar ganda yang memusingkan karena selera pasar Indonesia masih doyan bule. "Eh, Siena aktingnya bagus. Dia alumni teater Bianglala. Pengalaman teaternya hebat, meski jarang tampil di TV," sanggah Ratna semakin pening. Dari tadi kedua orang itu berdebat hebat. Ratna ingin menilai berdasar range akting yang berbobot, sementara Ravi berorientasi ke kapitalis. Pokoknya yang menarik dan menjual. Fisik dan popularitas patut diperhitungkan. Pemilihan castingnya semakin rumit karena perbedaan pandangan. "Rav, apa ini yang diinginkan BR? Sejauh yang aku kenal tentang perusahaan ini, kualitas yang diutamakan. BR menjadi sahabat karib dan batu loncatan seniman tidak dikenal. BR menjadi impian orang berbakat, Rav." Ratna berargumen. Terus menyakinkan teman sekelompoknya. "Karena itulah, BR nggak berkembang," tukas Ravi tajam. Ia berani mengkritik perusahaan orang tuanya, yang kelak bakalan diwariskan dan dimiliki Ravi sebagai satu-satunya anak. Ucapan itu mengagetkan Joy dan Elang yang tahu rahasia Ravi. Keduanya bertukar pandang, bingung harus bereaksi apa selain saling melotot saja. "BR harus punya gebrakan baru. Dengan merekrut talent-talent terkenal, juga menarik dari fisik. Sistem produksi sekarang kan, apa-apa aji mumpung. Apa-apa viral dulu. Kita adaptasi itu agar kapasitas penonton kita unggul, Ratna." Ratna menggelengkan kepala dengan tegas. "Nggak bisa. BR bakalan menolak ide kamu. Kamu lupa ya, BR cukup idealis. Mau sepopuler apapun artisnya, nggak akan memengaruhi BR. Jangan rusak naskah dengan talent jelek aktingnya." "Gini aja, Gaes. Kalian bikin skor deh sesuai standar kalian dari semua artis yang gue dan Joy ajukan. Kalo ada skor tertinggi, itu yang terbaik. Tinggal cast cewek doang, kan?" usul Elang terus menengahi. "Nggak!" Dua suara kompak menyatu. Joy dan Elang saling lirik lagi. Semakin senewen. "Kapan kita kelar kalo debat melulu, Oh My God!" seru Joy semakin frustrasi. "Kalo nggak mau menyeleksi, biar kita yang seleksi aja. Kalian siapin bahan lain. Kayak jadwal syuting, kostum, make up dan lainnya. Ok?" Meski tidak puas, Ratna dan Ravi mengangguk setuju. Mereka menelusuri video, foto, dan bahkan tentang reputasi baik para kandidat. Pilihan keduanya saling tumpang tindih, sehingga hasil rata-rata adalah skornya 50 dari 100. "Populer kayak gini dinilai jelek!" sungut Ravi tidak terima pilihan terbaiknya diberi skor 30 oleh Ratna. "Dia sempat kena skandal selingkuh via aplikasi ojol. Nggak usah deh. Ramenya karena udah asusila," balas Ratna dan tersenyum lebar sekali. "Siapa ini? Lo pilih artis yang gak pernah tampil di TV, ya? Gak buang-buang waktu kalo ntar syuting malah kikuk orangnya?" Ravi terkejut atas potret artis tidak dikenal diberi skor 100 oleh Ratna. Sementara jumlah follower di Stargam cuma 10 orang. Ravi makin stres. Bagaimana bisa mendongkrak jumlah penonton kalo artisnya tidak dikenal. Mau berbakat seperti apapun, kalau semesta tidak merestui bisa beken, ya tidak akan berhasil. "Sudah.... Sudah!" Emosi Joy tidak bisa dibendung. Capek melayani dua orang itu. Sampai dua minggu kemudian, urusan casting bakalan diam di tempat kalau keduanya debat melulu. "Rav, lo hubungi sutradara dan kameraman. Ratna, lo urus soal makeup dan kostum. Kita aja yang urus!" lerai Elang ikut menengahi. "Nggak bisa gitu, El!" Ravi tetap pada pendiriannya. "Iya gue tahu, Rav." potong Elang akhirnya. "Ayo, Joy. Kita pergi aja." Berlalulah kedua orang itu meninggalkan ruang rapat. Ikutan stres karena Ravi dan Ratna terlalu perfeksionis dalam menilai segala sesuatunya. "Anak mereka bakalan migren kalo bapak ibunya modelan gitu. Sayang nggak jadi anak buat makan bareng gini," gumam Joy sambil menelusuri lorong kantor. Elang terkekeh. "Kan, udah gue bilang. Mereka itu cocok secara kepribadian." "Berarti Ravi nggak tertarik sama Ratna cuma masalah dandanan doang ya. Kapan-kapan kalo gue make over si Ratna, bisa pangling kali ya." Terbersit ide untuk menjalankan rencana kedua. Ravi melihat dari fisik. Misinya sangat jelas. Menyulap Ratna menjadi Barbie hidup agar bisa disukai Ravi. Joy ingin mengajak Ratna ke salon. Mulai pucuk rambut sampai ujung kuku jempol harus dipermak habis-habisan. Joy harus menculik Ratna selama seharian di salon lebih dahulu. Dia memiliki banyak pilihan pakaian bagus dan bermerek untuk dipinjamkan pada Ratna. Cewek itu lumayan cakep. Hanya tidak pernah dipoles make up yang benar. "Ide bagus, Joy! Kapan mau diagendakan?" balas Elang ikutan semangat. ==&BR&==
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN