Bab. 18 - Mulai Nyaman

1400 Kata
"Untuk tugas selanjutnya..." Bu Mega membenarkan kacamata minusnya sebentar, menatap semua para calon karyawan dengan pandangan tegas. "Masing-masing kelompok diwajibkan membuat film pendek dari hasil sinopsis dan naskah yang sudah dipresentasikan sebelumnya," lanjutnya. Semua trainee saling kasak-kusuk mendengar hal tersebut. Pasalnya ada sebagian naskah dari mereka yang masih perlu revisi dan belum mendapatkan nilai bagus untuk lanjut tahap berikutnya. "Oh ya, bagi yang sinopsis dan naskahnya harus diperbaiki, kalian tidak bisa langsung mengejar sebelum menyelesaikannya sampai dapat minimal nilai A. Ada pertanyaan?" Ratna mengacungkan tangan secepat kilat. Ia paling menggebu dan bersemangat di antara yang lain. Mungkin, efek habis dapat pujian karena sinopsis dan naskah kelompoknya dapat nilai A+. Tidak sia-sia dirinya sering begadang sampai harus bertengkar dengan Ravi juga. Minimal, perjuangan mereka membuahkan hasil maksimal. "Ya, silahkan," kata Bu Mega sambil kembali duduk, menunggu pertanyaan dari Ratna. "Maaf Bu, film pendek yang dimaksud, kira-kira durasi paling panjang dan minim berapa, ya?" "Pertanyaan bagus. Umumnya film pendek kisaran 15 sampai tiga puluh menit. Oh ya, satu lagi. Usahakan rekrut pemain yang memang menjanjikan. Kalian bisa sekalian promosi juga. Karena nilai selanjutnya, akan dipertimbangkan dari beberapa aspek. Pertama, alur cerita. Kedua, kekompakan tim. Ketiga, hasil film yang baik dan menjual. Kalian bisa dapat nilai plus, bila penonton di chanel Yitube BR semakin banyak dari film pendek tersebut. Kalian wajib menyerahkan file paling lambat dua minggu dari hari ini. Untuk ditayangkan di Yitube official BR. Selanjutnya, tugas kalian adalah mempromosikannya." "Permisi, Bu? Apa kami dibebaskan memilih pemeran? Seperti selebgram ternama mungkin?" tanya salah seorang berkemeja biru tua. Bu Mega mengangguk. "Ada pertanyaan lagi?" Erika mengangkat tangan. "Bu, saya boleh, kan, main di film pendek kelompok saya sendiri?" Gadis ini benar-benar percaya diri sekali. Ia merasa di atas angin karena punya pengikut lumayan banyak di Stagram. Tidak akan sulit bila harus bersaing dengan rival lain yang notabene menurutnya biasa saja. Seolah lupa kalau Ravi dan Elang juga punya followers lebih banyak. "Jika itu memungkinkan, silakan. Tapi sebaiknya, kalian cari pemeran di luar kelompok. Tugas ini sudah cukup berat untuk dikerjakan 4 orang dalam satu tim. Bila berkurang 1, akan lebih membebani bagi 3 rekan lainnya, kan?" Pertanyaan demi pertanyaan terlontar. Bu Mega sangat sabar dalam menjawab dan menjelaskan. Sampai kelas selesai, mereka mulai membahas projek tersebut. Yang lain memilih diskusi di kafe terdekat, sementara tiam Ratna tetap tinggal karena Bu Mega sempat menegur mereka. Kejadian beberapa kali sudah terekam di cctv, Elang dan Ravi berulang kali masuk ke kamar Joy dan Ratna. Itu jelas melanggar peraturan. Untuk sekali dua kali mereka terselamatkan. Sebab, Bu Mega diam-diam menemui Ravi dan bicara langsung dengannya. Bagaimanapun juga, orang tua Ravi adalah pemilik BR. Dan masih mentoleransi hal tersebut. Akan tetapi, karena laporan dari anak-anak lain yang agaknya iri, Bu Mega tidak bisa tinggal diam. Mau tidak mau mereka berempat dapat sanksi. Hukumannya tidak seberapa berat. Hanya membersihkan kelas dan asrama selama sepekan. Itu pun hasil negosiasi bersama. Untung saja, Bu Mega masih bisa melunak karena tidak ingin karirnya jadi korban. Kalau sampai orang tua Ravi tahu, Bu Mega menghukum putra kesayangan mereka, apa jadinya nasib Bu Mega nanti? Ratna sibuk mengelap kaca jendela sambil sesekali bersenandung riang. Suasana hatinya sedang baik, berkat nilai A+. Ia tidak ambil pusing melihat Ravi hanya duduk santai sambil mainan ponsel. Sementara Joy menyapu lantai, dan Elang merapikan letak meja kursi. "Ngomong-ngomong, kita rekrut siapa ya buat jadi tokoh di film?" Ratna tak punya pandangan khusus. Ia memang punya beberapa kenalan, tapi tidak ada yang jago akting. Sebagian besar para kutu buku dan introvert. Ia melirik ketiga rekannya dengan sorot terselubung. Jelas sekali ada maksud tersembunyi. "Kalian bertiga kan, anak-anak gaul, pasti ada dong temen yang bisa direkomendasiin buat jadi artis kita?" selorohnya lantang. "Rat, segaul-gaulnya kita, ya kali milih temen buat jadi artis segampang itu? Lo pikir nyomot kacang goreng apa?" balas Elang. Ratna berpindah haluan ke Joy, menunggu jawaban temannya dengan penuh pengharapan. "Apa? Kenapa ngeliatin gue kayak gitu?" "Temenmu nggak ada yang bisa apa?" tanya Ratna sekali lagi. "Coba aja kita bisa rekrut Kenan Adelard dan Andina Ratu. Aduh, mereka kan pasangan film yang paling cocok di zaman ini!" Ratna antusias membayangkan dua artis ternama favoritnya bersanding memerankan novel karyanya. Joy menghela napas pendek. Sebenarnya, bukan hal sulit baginya mendapatkan seseorang untuk ikut join sebagai pemeran dalam film pendek mereka. Hanya saja, Joy enggan melibatkan kakak tirinya. Ia tak sudi jika harus memohon agar Kenan mau jadi bagian dari projek pekerjaannya. Yang ada, pria itu pasti akan minta imbalan aneh-aneh seperti yang dulu-dulu. Membayangkan saja bikin bulu kuduk Joy merinding. Padahal, kesempatan bagus bila Kenan bisa bergabung. Pria tenar itu jelas akan mendongkrak jumlah penonton sampai tembus ratusan ribu, atau jutaan mungkin. Melihat Joy termenung tanpa jawaban, Ratna tak bisa berharap banyak pada teman sekamarnya ini. Beralih ke Ravi pun, agaknya lebih percuma lagi. Pria sedingin es di kutub utara, mana mungkin punya teman yang bisa dimintai tolong, selain Elang tentunya. Gadis itu pun melengos tanpa memberi kesempatan pada Ravi. "Lo nggak tanya ke gue?" Pria itu sadar baru saja diabaikan dan merasa diremehkan oleh Ratna. "Tenang aja, aku paham keadaanmu. Nggak ada yang bisa diharapkan dari kamu." Ravi kesal mendengar kalimat jujur Ratna. Sementara Joy dan Elang menahan kekehan tawa melihat raut muka Ravi yang tak terima dipandang sebelah mata. "Lo lupa atau habis kejedot tembok?! Gue yang bantuin revisi sinopsis dan naskah tim kita!" protesnya. "Oh maksud kamu, cuma benerin huruf-huruf typo gitu? Atau benerin baris paragraf yang kurang rapi?" "Gue juga kasih ide tambahan untuk penguat karakter tokoh cowok, ya!" "Ya ya, anggap aja begitu. Si paling berjasa, huuh!" Mood Ratna mulai anjlok drastis. Agaknya perdebatan sengit akan kembali dimulai. Sebelum perang makin memanas, Joy dan Elang diam-diam kabur dari ruangan. Lalu mengunci pintu dari luar. Entah Ratna dan Ravi sadar atau tidak. "Nggak bisa bayangin kalo sampe mereka jadian, apalagi nikah. Kayak apa anaknya ntar? Apa nggak migren sejak bayi?" celoteh Joy absurd. "Daripada bayangin masa depan mereka, mending bayangin masa depan kita." "Apa yang mau dibayangin? Lo sama gue? Ckck, mustahil banget." "Why? Bukannya lo nggak benci sama gue?" "Nggak benci, bukan berarti cinta, ya!" Elang nyengir. "Btw, mereka kan udah susah payah bikin sinopsis dan naskah. Gimana kalo kali ini, kita yang cari artisnya?" "Ada ide?" "Hmm... gue bisa calling beberapa temen selebgram. Siapa tau bisa jadi kandidat." "Cewek semua?" Lagi-lagi Elang mesem. Secara tidak langsung mengiyakan tebakan Joy. "Dasar pemain." "Ralat, bukan pemain. Tapi, pawangnya pemain." "Sebelas dua belas. Apa yang bisa gue bantu?" "Bantu gue bujuk mereka." "Bukannya itu keahlian lo ya? 3M." "Apaan 3M?" "Membujuk, merayu, dan menggoda." "Gue nggak semurahan itu kali." Joy tak acuh. Ia tampak sibuk mengirim pesan ke beberapa teman lama yang dulu sering ikut pertunjukan teater drama. Joy cukup sadar diri. Ratna dan Ravi memang sering bikin pusing kalau sudah berdebat. Namun, mereka berdua berhasil melakukan yang terbaik. "Chat-an sama siapa? Gebetan?" Elang mengintip ke layar ponsel gadis di sampingnya. "Gue lagi kosong." "Terus?" "Berusaha ngelobi aktor. Kita butuh berapa pemeran sih?" "Seinget gue lima. Dua tokoh utama, tiga tokoh pendukung. Sisanya paling cameo bisalah di-handle." "Tokoh utama cowok yang gentle dan berkharisma, ya? Tokoh utama cewek yang smart dan pemberani? Hmm... harus disesuaikan juga nih. Ternyata nyari artis nggak semudah bayangan, ya..." Baru kali ini Joy terlihat sangat serius. Biasanya cuek bebek tak peduli. Elang sampai terpana sangking herannya. "Awas, nanti jatuh cinta," sindir Joy. Sadar kalau Elang memperhatikannya. Pria itu garuk tengkuk. "Nggak dosa kan kalo jatuh cinta sama elo?" "Dosa sih nggak, cuma resikonya tinggi. Ada nyali?" "Menurut lo?" "Ehmm... gue bukan tipikal cewek baik-baik dan penurut. Tapi, gue juga nggak mau dibilang buruk sih. Lo nggak akan bertahan lama kalo sampe itu kejadian." "Pengalaman?" Joy mengangguk sekilas. "Nggak enak diperjuangin ala kadarnya, ujungnya diputusin pas sayang-sayangnya." "Ala kadarnya?" "Dulu gue mikir mereka perjuangin gue mati-matian. Rela ngelakuin apa aja buat gue. Tapi setelah putus, gue jadi sadar. Kalau sebenernya semua itu bisa jadi cuma rasa penasaran sesaat. Dan gue menyebutnya dengan ala kadarnya." Elang mengulum senyum tipis. Gantian Joy yang heran dengan sikap aneh pria ini. "Kenapa? Ada yang lucu?" "Nggak sama sekali." "Terus?" "Lo mulai nyaman kan sama gue?" "Maksud lo?" "Nggak sadar, ya? Makin lama lo makin terbuka sama gue." Langkah kaki Joy terhenti. Apa yang diucapkan Elang tidak keliru. Bibirnya berceloteh layaknya burung Kutilang bernyanyi dengan merdu. Padahal, sebelumnya Joy lebih banyak diam atau menjawab sekenanya, terutama masalah pribadi. Ada apa dengannya? ==&BR&==
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN