Tengah malam, Joy terbangun. Merasa tidak nyaman karena belum melepas bra seperti rutinitas wajib yang dilakukannya menjelang mimpi indah. Ia menggeliat pelan, melepas pengait beserta pakaian dalam yang lumayan mengganggu kenyamanan tidurnya.
Gadis itu mengerjapkan kelopak mata saat mendengar suara getar ponsel di meja. Joy mengabaikan, ia terlalu malas dan sangat mengantuk. Akan tetapi, ponselnya tetap tidak mau diam. Memaksanya bangun merogoh meja dekat peraduan. Ada panggilan masuk dari Elang. Beberapa panggilan sempat tidak terjawab. Mau bagaimana lagi, Joy telanjur kecapekan. Selesai mandi dan ganti baju, ia bahkan belum sempat makan malam dan langsung rebah di atas kasur tadi.
"Hmm..." jawabnya masih setengah menahan kantuk. Suara paraunya malah mirip desahan yang menggetarkan jiwa.
"Keluar sekarang, atau gue yang nerobos masuk ke kamar lo."
"Hah?" Joy bingung, belum paham maksud perkataan Elang. Ia menatap jam di bagian layar atas ponsel. Sudah hampir jam satu malam. Dan pria ini masih sempat-sempatnya mengganggu waktu rehat Joy.
Akhirnya ia bangkit. Joy meneguk air minum di gelas sebentar untuk meredakan dahaga dalam kerongkongannya. Gadis itu melihat kasur Ratna, kosong melompong. Namun, Joy tidak ambil pusing. Mungkin Ratna sedang ke kamar kecil.
Di luar, Elang sudah menunggu. Punggungnya ia sandarkan pada sisi tembok. Joy menguap berusaha menghalau sisa-sisa rasa kantuk.
"Kenapa?"
"Ikut gue yok," ajak Elang tiba-tiba.
"Mau ke mana? Ini udah jam berapa, El?! Badanku juga remuk redam rasanya. Butuh pijatan kayaknya," keluh Joy.
"Yaudah ntar gue pijitin. Gue bosen dan nggak bisa tidur. Cari angin bentar ke luar."
Joy hanya menghela napas pendek. Ujungnya, tetap menuruti ajakan Elang. Ia masuk ke dalam sebentar untuk ambil jaket. Lagipula, sudah telanjur terbangun di jam segini, Joy pasti kesulitan memejamkan mata lagi.
"Kita mau ke mana sih?" tanya Joy kembali memastikan.
"Jalan-jalan aja. Keliling tanpa tujuan."
"Ckck. Kenapa gue harus ikut?"
"Sepi kalo nggak ada temen ngobrol."
"Ravi?"
"Tuh anak gak ada di kamar. Nggak tau ngilang ke mana. Gue juga baru balik dari nongkrong, tapi masih jenuh.
Tatapan Elang jatuh persis di kancing piyama Joy dengan model kerah V. Gadis itu lupa memakai kembali dalaman yang sempat ia lepas tadi.
"Lepas jaket lo."
"Dingin, El."
Pria itu mengambil sesuatu di jok belakang. "Pake punya gue aja!" katanya, kemudian menyodorkan sweater tebal bertudung warna hitam. "Gue nggak mau orang lain melototin lo pake nafsu."
Joy melirik sinis. Apa maksudnya? Sampai ia sadar akan kekhilafannya. Batinnya merutuk akibat ulahnya sendiri. Mau tidak mau, ia melepas jaket biru muda miliknya dan mngganti dengan sweater tebal hitam kepunyaan Elang.
"Gue lupa..." lirih Joy menanggung malu. Bukan sengaja ingin mengekspos atau bahkan menggoda, memang dasarnya ia kadang tak ingat memakai kembali bra yang baru ditanggalkan.
"Beruntung lo jalan sama gue. Kalo cowok laen, bisa-bisa diterkam duluan lo!"
"Ya namanya juga lupa!" Joy mengomel menyalahkan diri sendiri. "Thanks udah diingetin." Ia tetap berterima kasih atas perhatian Elang.
Suasana malam seperti ini memang paling menenangkan. Dibandingkan siang atau sore hari yang selalu hiruk pikuk. Elang mengemudikan mobil dengan santai. Sementara Joy menikmati pemandangan jalanan di sekitar. Sebuah lagu berjudul Better On My Own milik Keisya mengalun merdu dari head unit di bagian tengah mobil.
Daihatsu Rocky merah itu berhenti di satu tempat. Elang mengajak Joy singgah mencicipi menu kesukaannya di salah satu angkringan langganan. Masih banyak muda-mudi bersenda gurau atau sekadar main gitar di sana.
"Mang Ujang!" seru Elang sambil menepuk pundak sang penjual berkemeja abu.
"Eh, sendirian aja? Tumben. Mana Ravi?"
"Biasalah, paling lagi semedi dia. Nggak sendirian juga." Elang menunjuk Joy. "Sama calon..."
"Bener itu calon?"
"Calon nasabah," gurau Elang ngawur.
Pria paruh baya yang masih tampak sehat dan bersahabat itu hanya tertawa sembari geleng kepala.
"Mau pesen apa? Tinggal pilih. Di sini sistemnya touch screen," kata Elang pada Joy.
"Touch screen?" Joy mendadak linglung.
"Maksudnya, Neng, tinggal tunjuk atau ambil langsung juga boleh," timpal Mang Ujang menjelaskan. "Minum apa?" lanjutnya bertanya pada Elang.
"Biasalah. s**u cokelat anget, Mang. Nggak pake gula."
"Calon nasabahnya minum apa?"
Elang melirik Joy, menunggu gadis itu membuat pilihan.
"Ehm... jeruk anget aja."
"Oke. Siap."
Mang Ujang kembali menyibukkan diri dengan pesanan. Elang sudah mencomot dua bungkus nasi kucing beserta sate telur puyuh dan bakwan jagung. Sementara Joy mengambil satu bungkus nasi kucing dan tahu bacem.
Mereka memilih tempat duduk yang masih kosong. Bukan berhadapan, tapi bersebelahan.
"Di sini makanannya enak-enak. Lo biasa makan beginian nggak?"
"Udah lama nggak."
"Biasa makan di kafe?"
"Jarang nongkrong. Gue lebih suka makan dibungkus dan dibawa pulang. Lebih bisa menikmati."
"Menikmati kesendirian maksud lo?" ledek Elang.
"Lo sering ke sini?"
"Banget. Kalo lagi gabut ya pasti ke sini. Habis balapan, mampir dulu. Atau sebelum balapan."
"Sama siapa aja?"
"Ceritanya lo lagi interogasi gue, ya?"
"Cuma nanya."
"Palingan sama Ravi. Atau bareng anak-anak laen."
"Oh... gue kira orang kayak Ravi nggak akan bisa makan di tempat sederhana gini."
"Itulah gunanya temen. Gue yang ajarin dia. Malah ketagihan."
"Terus, soal Erika gimana jadinya? Kok dia kayak bungkam gitu? Setau gue kan, tuh orang demen banget kompor."
"Nggak ada manusia yang nggak punya rahasia, Joy. Kalo si Erika berani bongkar, ya Ravi juga bakal bales."
"Bales gimana maksudnya?"
"Erika itu karyawan modal orang dalem. Tau kan maksud gue?"
"Nggak kaget sih."
"Nggak usah bahas mereka deh. Bahas soal kita aja gimana?" Elang memulai aksi menggoda.
"Apa yang mau dibahas?"
"Apa kek, hobi, makanan kesukaan, tempat favorit, film, atau sejenisnyalah."
"Berasa lagi pedekatean ya jadinya..."
"Emang. Lo suka nggak jalan berdua sama gue?"
"Lumayan."
"Setengah hati amat jawabnya."
"Ya lo juga ngajakin keluar jam segini."
"Sengaja. Biar agak lebih tenang. Orang lain jam segini kebanyakan pada merangkai mimpi. Kalo kita kan, merangkai masa depan mungkin..."
==&BR&==