Bab. 25 - Ditembak

980 Kata
"Sengaja. Biar agak lebih tenang. Orang lain jam segini kebanyakan pada merangkai mimpi. Kalo kita kan, merangkai masa depan mungkin..." "Bahasa lo udah kayak sastrawan lagi kasmaran." Elang hanya mesem. Sementara Joy sibuk mengaduk minuman di gelas. "Eh, Joy... lihat sana!" Elang menunjuk satu arah. Refleks gadis itu menuruti. "Apaan? Nggak ada apa-apa juga." "Coba lihat ke sini." Lagi-lagi Joy dipermainkan alam bawah sadarnya sendiri. Mengikuti apa yang disuruh Elang. "Kenapa?" "Ada gue, kan...." "Nggak jelas lo, El." "Kalo lo lihat arah lain, nggak akan nemuin apa-apa. Makanya inget, lihat ke arah gue. Gue akan selalu ada buat lo," celoteh Elang tetap dengan gaya santainya. Joy enggan menanggapi. Baginya, kata-kata yang dilontarkan Elang barusan hanya gurauan belaka. Padahal, ada keseriusan terpancar di balik retina mata Elang. Joy lebih memilih sibuk melahap makanan sampai pipinya menggembung. Sedangkan Elang menghentikan kegiatan makan. Bertopang satu tangan di dagu, dan asik memandangi gadis di sampingnya. Entah kenapa, belakangan jantungnya naik turun tak karuan, tiap kali berada di dekat Joy. Bahkan memikirkan saja sudah terasa lonjakan-lonjakan tak beraturan di dalam dirinya. "Nggak akan ilang calon nasabah, El. Sampe diliatin tanpa kedip begitu," tegur Mang Ujang sembari meletakkan dua gelas pesanan mereka di atas meja. "Buat jaga-jaga aja, Mang. Soalnya udah jam satu lewat. Kan berabe kalo tiba-tiba dia berubah jadi patung." "Ye, Roro Jonggrang kali." "Mang, Mang..." panggil Elang sebelum Mang Ujang kembali ke gerobak. "Apa dah?" "Pas nggak?" Elang menaik-turunkan alis, meminta pendapat dari Mang Ujang. Pria bertubuh kurus itu tampak pura-pura menimbang. Mang Ujang mengangkat dua jempol sambil menjawab, "Pas, tanpa salon." "Salonpas itu, Mang!" balas Elang. Mendengar obrolan absurd dua orang ini, Joy hanya bisa menahan senyum tipis. Lumayan menghibur kehampaan jiwanya. Jam di ponsel menunjukkan pukul tiga kurang lima menit. Tak terasa sudah hampir dua jam Joy dan Elang ngobrol macam-macam, sambil menikmati makanan dan minuman, yang bolak-balik diambil dari gerobak angkringan Mang Ujang. Sebelum mendekati subuh, keduanya harus segera kembali ke asrama. Mereka pamit ke Mang Ujang usai membayar lunas tanpa kembalian, yang biasa ditolak Elang. "Nggak diambil kembaliannya?" Joy agak heran. "Kembalian nggak seberapa. Kasian dia bela-belain jualan sampe pagi demi anak istri di rumah. Hitung-hitung sedekah menjelang subuh. Gue lebih suka beli dagangan orang, daripada ngasih uang cuma-cuma ke pengemis di pinggir jalan. Bukannya apa-apa, ini prinsip aja sih." "Lumayan..." "Lumayan apa?" "Lumayan keren." "Lo baru sadar?" Joy tak menggubris kenarsisan Elang. Ia memilih masuk ke mobil lebih dulu. Di tengah perjalanan, Elang mulai gelisah dan terlihat beberapa kali ingin bicara sesuatu, tapi ditahan-tahan. Sampai akhirnya ia capek sendiri. "Joy..." panggil Elang. "Hmm?" Joy masih bergeming, menatap jalanan sepi dari balik jendela. "Ehmm... Lo mau nggak jadi cewek gue?" Elang to the point. Joy menoleh. "Lo ngajak gue keluar tengah malem dengan alasan jenuh, aslinya buat nembak gue kayak gini?" Pria di sampingnya tampak kikuk. Tidak biasanya Elang yang selalu punya seribu satu jurus andalan menggoda, mendadak dilanda salting. "Terlalu cepet, ya?" "Timing nggak terlalu penting buat gue. Mau cepet atau lambat, perasaan nggak bisa dihalau. Tapi, kita harus bisa kendalikan." "Jadi?" "Sejujurnya, gue lebih nyaman kita temenan aja." Elang membuang napas sekilas, agak frustrasi atas penolakan halus yang diutarakan oleh Joy. Bermalam-malam ia berfikir untuk maju atau pura-pura bodoh dengan perasaan. Kalau bukan karena ciuman waktu itu, mungkin Elang akan menunggu lebih lama lagi demi bisa berkata jujur. Persetan jika orang mengatakan dirinya terlalu terburu-buru dalam bertindak. Ia bukan tipikal pria yang suka main tarik ulur. Baginya, hidup harus lebih disederhanakan prosesnya. Tidak suka ya jauhi, suka ya dekati. Kalau ada rasa, ya katakan secepatnya, sebelum ada tikungan tajam yang bisa saja memporak-porandakan harapannya. "Lo nggak suka sama gue?" "Suka." "Maksud gue bukan sebagai temen." "Iya, gue suka. Kita punya sedikit kesamaan. Nggak suka buang-buang waktu. Bener, kan?" Elang mengangguk. "Terus? Kenapa lo nolak gue? Takut patah hati lagi?" Jelas saja Joy menggeleng tegas. Ia sudah terbiasa dengan cobaan asmara. Tiga kali ditinggalkan di saat hatinya nyaris penuh rasa sayang. Lantas, akhirnya mereka juga yang menyesakkan dadanya. Bohong bila Joy tidak menangis ketika putus cinta. Butuh waktu berminggu-minggu untuk menyembunyikan wajah dilematis dengan muka juteknya. Ia benci menunjukkan kelemahan batinnya di hadapan siapapun. Baginya, lebih baik dibilang tidak punya hati atau mati rasa sekalian, ketimbang dikasihani. Di sisi lain, sejak tahu masalah hidup Elang, Joy jadi terpenjara dengan rasa simpati dan empati. Selain Elang memang cukup mempesona, Joy sulit menolak untuk bisa lebih dekat dengan pria jahil satu ini. "Sebagai cewek normal, gue suka elo, El. But, belum sejauh itu. Secara visual, lo di atas standar. Dan lo juga temen yang nggak ngebosenin. Tapi, hubungan spesial nggak bisa cuma berlandaskan suka secara fisik atau rasa kagum aja. Lo paham maksud gue, kan?" Elang menyeringai. Terbersit sesal dalam lubuk hatinya. Terlintas pula pemikiran buruk di kepalanya. Menganggap Joy perempuan yang terlalu mudah memberi harapan, lalu menghempaskan begitu saja. "Harusnya lo nolak dan berontak waktu gue kelewatan..." "Gue pengen nolak, tapi nggak bisa." "Alesannya?" Tak ada jawaban pasti dari Joy. Gadis itu terdiam kelu. Jawaban sebenarnya, Joy sangat kesepian. Menerima ciuman dadakan dari Elang benar-benar sangat tidak ia duga. Ada rasa bersalah hadir mengganggu relung batin Joy, karena membiarkan pria ini larut pada pengharapan. Dan Joy belum cukup berani menjadikan Elang sebagai bahan percobaan untuk move on. Mobil berhenti di area parkir asrama. Joy turun, masih diam tanpa kata. Elang menyusul langkah gadis itu dengan tergesa. Menahan lengan Joy untuk meminta sedikit penjelasan. Matanya berkilat menahan letupan emosi. Elang tidak ingin mengalami insomnia karena rasa penasaran. "Oke, gue hargai penolakan lo. Tapi tolong, kasih tau gue... kenapa lo bales ciuman gue?!" Joy menghela napas pendek, menatap Elang saksama. "Nggak semua hal bisa dijelaskan, El." Ia melepaskan pegangan tangan Elang. Berjalan pergi meninggalkan pria tersebut dengan rasa penasaran setengah membabi buta. "Gue nggak akan nyerah!" pekik Elang. Gadis bermata indah itu tidak menoleh atau menggubris lagi. Meski demikian, lukisan senyum baru saja menghias di sudut bibirnya. ==&BR&==
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN