Bab. 26 - Terpesona

1540 Kata
Tubuh Joy semakin remuk redam. Dia berjingkat-jingkat menuju ranjangnya saat bayangan gelap di ranjang lain bergerak. Erangan Ratna bak kuli habis memikul satu ton batako. Dengan segera, Joy menarik selimutnya sendiri. Kehangatan di atas kasur itu membuat tubuhnya semakin rileks. Joy meringkuk seraya memikirkan pertanyaan Elang tadi. Kenapa dia membiarkan Elang menciumnya? Bukannya menolak atau menyuruh Elang berhenti, Joy membuka mulut dan balas memagut bibir Elang. Ciuman yang sangat menyenangkan itu menjadi sumber kebahagiaan kecil Joy. Dia tidak perlu memikirkan mantan-mantannya. Bahkan pria yang membuang Joy kemarin terlupakan begitu saja. Elang hadir dengan pesona lain. Kasih sayang dan kehangatan itu seperti selimut yang menyelubungi Joy. Bahkan sweater beraroma pria itu masih dipakai Joy. Joy takut kehilangan. Lebih baik Elang menjadi teman saja. Tidak perlu ikatan apapun untuk memperkuat bahwa mereka bisa menjadi pacar. Tidak akan ada kata putus bahkan andaikata kelak mereka terpisah. Jalani saja, sebagai teman yang saling menyemangati. Joy belum siap menjalin komitmen apapun dalam waktu dekat. Hatinya belum pulih, kendati Elang memang sosok yang baik. "Pagi, Joy," seru Ratna akhirnya bisa mengumpulkan seluruh kekuatan untuk duduk. "Hai, pa-gi," jawab Joy kikuk. "Dingin, kerja." Ratna bicara tidak jelas. Lalu tubuhnya kembali ambruk ke posisi sebelumnya. Sayangnya semesta enggan bekerja sama. Alarm ponsel memekik. Ratna segera mematikan dan terjaga penuh seraya mengomel. "Alarm sialan!" "Ya besok matiin aja alarm-nya." "Kalo nggak pasang alarm, bisa nggak bangun, Joy." "Barusan lo bangun sebelum alarm bunyi." Joy merapatkan selimutnya serta menyembunyikan sweater Elang agar tidak ketahuan Ratna. "Iya. Kebiasaan aja. Kalo alarm mati, aku cenderung kesiangan." Ratna akhirnya melipat selimut. Dia merapikan tempat tidur dan mengambil pakaian ganti, handuk, peralatan mandi. Meski masih pukul enam pagi, Ratna lebih suka bersiap-siap sejak awal. Dia tidak mau ada kata terlambat masuk kantor. "Mandi, Joy. Keburu antri sama yang lain," ajak Ratna. Pintu berdebam pelan, menyisakan sosok yang mencoba menebus jam tidurnya kurang. ***** Ratna datang paling pagi di kantor. Di ruang rapat yang disediakan khusus untuk kelas training itu, Ratna berjibaku dengan laptop bututnya. Mau dibuang sayang, mau dibanting kasihan, dan mau beli yang baru, dana Ratna tidak mencukupi. Meski Joy memberi cuma-cuma untuk semua pakaian dan kosmetik demi glow up, Ratna tidak bisa melupakannya. Dia tidak mengatakannya, tetapi dengan sukarela menjadikan dirinya b***k Joy. Apa yang dibutuhkan cewek tajir yang misterius itu, Ratna bakalan menyanggupi. Dia menutup mata dan telinga tentang siapa Joy. Mengapa urusan finansialnya patut dirahasiakan. Ada banyak rahasia dari Joy yang tidak ingin terkelupas. Karenanya, demi balas budi pada kebaikan Joy, Ratna tutup mulut dan berlagak punya uang dan mengarang harga baju barunya di depan yang lain. "Wiiii.... Siapa cewek cakep ini pagi-pagi?" seru Fadil sengaja bersiul. Mata gatalnya itu perlu dicolok dengan colokan charger laptop lama Ratna. "Hai, Fadil." Ratna menyapa. teringat bahwa Fadil adalah cowok yang tawanya paling menggelegar sewaktu Ratna jatuh di asrama. Cewek itu enggan bertengkar. Dia mengulum senyum sekilas dan kembali mencatat skenario film di papan komik. Rencana gambaran yang disusun bersama Ravi sejak beberapa hari lalu harus direalisasikan sesegera mungkin. Syutingnya tidak butuh lama, tetapi proses editing yang bakalan memakan waktu. "Mana tim lo?" Fadil mengedarkan pandang. "Enggak tahu. Kamu sendiri?" tanya Ratna. Dia membandingkan dialog skrip dengan papan gambar, memastikan perencanaan adegan tidak terlewat. Ratna memberi kode warna sesuai kebutuhan syuting. Agar tidak bolak-balik mengulang adegan semata ada adegan ketinggalan yang tidak tersorot. "Kacau balau." Dengan sendirinya, Fadil mengurai masalah di kelompoknya. Sangat disayangkan bahwa Fadil menerima Erika. Cewek itu dengan seenaknya memainkan perintah apapun, tapi tidak berkonstribusi apapun dalam perkembangan film pendek yang diperintahkan Bu Mega. Alhasil kerjaan Fadil jalan di tempat, padahal waktu semakin mepet dan harus segera ditayangkan. Demi kesopanan, Ratna pura-pura mendengarkan keluhan Fadil. Diam-diam dia bersyukur punya tim yang solid. Walau setiap rapat diselipi debat kusir tanpa henti bersama Ravi. "Lo gak mau gabung ke tim gue aja, Rat? Nggak kasihan apa sama gue yang jadi temen pertama lo dari wawancara pas ngelamar ke sini?" rengek Fadil. "Kita sama-sama orang susah, Rat. Mending saling bantu demi jabatan yang kita incar." Sebelum Ratna menjawab ucapan itu, Erika muncul bersama Ravi. Kedua matanya terkunci pada Ravi dan dia langsung membuang muka secepatnya. Ravi bukan siapa-siapanya, kenapa juga harus diberikan senyuman? Ratna menoleh ke Fadil yang semakin putus asa. "Lo masih belum bisa rekrut Ratna, ya, Dil?" Erika melayangkan pertanyaan. Sengaja duduk di sisi Ravi. Kalau saja Erika tahu kebenaran tentang Ravi, apakah cewek itu bakalan memuja Ravi mati-matian seperti sekarang? Hidung Ratna mengembang dan dia tersenyum kecil membayangkan insiden yang terlalu lucu. Semua pasang mata tertuju ke Ratna yang tertawa sendiri. "Lo sendiri juga belum dapat tempat yang lo mau," balas Fadil. Aroma permusuhan menggelegar di antara Fadil dan Erika. "Gue dapat." Erika menoleh ke Ratna. Tatapannya yang penuh api ingin membakar Ratna bulat-bulat sampai hangus jadi abu. "Rat, lo nggak usah kerja keras deh. Karena yang dapetin posisi itu pada akhirnya gue." cetus Erika penuh kebanggaan. Erika dapat backingan penuh. Dia tidak khawatir dengan serangkaian tes selama training. Nilainya selalu sempurna. Selain itu, dia punya bakat dalam menulis cerita. "Rav, obat migren lo cuma satu. Nggak sekelompok sama Ratna. Nggak bakalan berantem terus karena dia nggak cocok sama lo. Mending gue join sama kelompok lo. Gue bakalan dukung penuh semua keputusan Lo dalam produksi film." Erika terus mengompor. Tatapan riang penuh kelicikan itu terbaca oleh Ratna. Ratna mendidih. Apa salahnya berjuang di tempat yang dia idam-idamkan? BR memang hebat sebagai perusahaan yang menerima siapa saja. Namun, Erika tidak punya hak untuk menetapkan siapa yang bakalan lolos seleksi pada akhirnya. Dia benci orang-orang yang masuk jalur nepotisme, tetapi bertingkah arogan. Dia benci kalah. Jiwa kompetitifnya bekobar. Ravi boleh masuk jalur khusus yang dibuka oleh BR, tetapi kalau bertingkah seperti Erika, tidak ada pilihan selain bertarung menetapkan siapa calon pegawai terbaik. Kerja keras akan mengalahkan jalur nepotisme. "Ratna emang nggak cocok sama gue," tukas Ravi. Suhu ruangan telah memadat sebagai batu. d**a Ratna sesak sekali. Dia akhirnya tahu batas bahwa trainee baru di sini memiliki level berbeda. Tidak ada jaminan siapa yang lolos bertahan kecuali punya anggota tim yang solid, saling percaya dan melindungi. Memang saat ini mereka dalam kompetisi secara individualis, tetapi kerjasama juga dibutuhkan. Dia rugi mengejar Ravi ke tempat balapan malam-malam. Rugi begadang semalam suntuk. Rugi melakukan banyak hal demi tugas yang sulit. Namun, ini baru separuh jalan menuju selesainya tugas. Malah Ravi tidak membelanya. Pahit sekali. Ratna menoleh ke Erika. Seringai kemenangan terpampang dari wajah ular itu. "Tapi dia partner bedah naskah yang baik. Kalopun gue seniornya di industri literasi, gue bakalan rekrut pekerja kreatif kayak Ratna. Dia teliti dan jeli dalam mencari kelemahan cerita." "What?" Erika tidak terima. Ratna sama terkejutnya dengan Erika. Dia memang selalu berselisih dengan Ravi. Bahkan soal pemilihan casting aktris perempuan bisa memakan waktu yang lama. Hingga tidak ada keputusan yang bisa diambil. Pada akhirnya Elang memilih aktrisnya. Syuting bakalan dilaksanakan mulai sore nanti. Sekarang tim mereka bakalan kumpul di ruang rapat untuk menunggu sutradara dan aktrisnya datang, lalu melakukan pembacaan naskah bersama-sama. "Rat, telepon kabari di grup. Kita pindah ruang rapat di tempat lain." Ravi berdiri, mengambil papan cerita yang dipegang Ratna. Buru-buru Ratna mengambil laptop, tas dan peralatan tulisnya. Mereka pindah ke ruang rapat yang lebih kecil di sebelah ruang sebelumnya. "Eh, gak papa kita pakai ruangan ini? Nanti dimarahin senior gimana?" tanya Ratna diliputi kekhawatiran. "Kita nggak akan dimarahi siapapun," ujar Ravi akhirnya menarik kursi. "Tapi...." "Udah, sampe mana lo susun papan gambarnya?" tanya Ravi sambil mengamati gambar-gambar yang menyerupai draft komik, diikuti balon kata-kata berisi dialog dan gerakan adegannya. Ravi terkesan dengan kejelian Ratna. "Lo itu penulis apa sih, Rat? Penulis novel apa skenario?" Kejar Ravi. "Dua-duanya. Dulu aktif di klub teater. Jadi paham beginian dan belajar jadi sutradara juga." Ratna duduk di sebelah Ravi. Dengan hati-hati menata kembali laptopnya. "Kita kelarin papan ceritanya sambil nunggu yang lain datang." Pekerjaan itu berakhir lebih cepat karena ada Ravi yang mendikte potongan adegan, sementara Ratna menggambar papan. Tidak terasa kepala mereka nyaris bersentuhan seiring asiknya menatap papan gambar. Sesekali Ravi mengoreksi kesalahan tulisan Ratna. "Omong-omong, gue minta maaf soal ucapan gue yang lalu," ucap Ravi tiba-tiba. "Hah?" Ratna menoleh. Kesambet apa si Ravi sampai mau minta maaf? Padahal mereka belum pernah berbaikan. Selalu adu mulut tiap bertemu. Tidak ada yang mau mengakui kesalahan, sampai akhirnya Ratna maklum. Mungkin itu gayanya Ravi bicara. Tidak pernah difilter. "Soal pakaian lo. Gue cuma takut aja ada orang-orang nggak baik manfaatin tubuh lo. Lo cewek baik-baik, jadi jaga diri lo. Jangan sampai rusak karena gue juga gak bisa melindungi lo." "Kenapa nggak bisa melindungi aku?" Ratna kelimpungan dengan topik di luar dugaan satu ini. Ravi, yang doyan mengkritik minta maaf? Ratna tidak percaya kalau ini halusinasi. "Karena kayak kata lo. Gue bukan siapa-siapa lo. Jadi jaga diri lo sendiri. Apalagi kita tinggal bareng. Nggak ada yang tahu kejahatan apa yang dilakukan oleh seseorang di kesempatan apapun. Jadi, gue lebih tenang kalo lo menggunakan pakaian tertutup. Lo boleh dandan kayak apapun, tapi jangan sama pakaian lo. Mending yang tertutup aja. Itu udah oke." Jantung Ratna seketika luruh. Kupu-kupu telah menggelepar seiring dekatnya wajah mereka satu sama lain, yang masih terpaku pada gambar abstrak buatan Ratna. Cewek itu kesulitan bernapas. Dia tidak kuat dengan aroma pasta gigi yang menyeruak dari Ravi. "Nggak. Nggak bisa! Aku nggak mau terpesona cuma gara-gara omongan Ravi barusan!" ==&BR&==
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN