Bab. 27 - Cemburu

1714 Kata
Pintu ruangan terbuka, membuyarkan keterkejutan jiwa Ratna atas sikap Ravi yang mendadak naik satu tingkat ke level perhatian. Padahal sebelumnya, jelas-jelas Ratna sendiri yang mengurangi dan menilai karakter pria itu dengan minus sekian. Ratna merinding merasakan dadanya berdebar hebat. Seperti baru saja menghindar dari kencangnya angin tornado, yang memicu rasa kewaspadaan. Elang mempersilakan seseorang masuk dan duduk. Ratna dan Ravi berdiri sebentar untuk bersalaman sekaligus kenalan. Seharusnya Sifa Riani yang menjadi pemeran utama perempuan. Sayang, gadis itu terpaksa menolak karena jadwalnya yang masih padat merayap. Meskipun Joy sudah minta tolong agar Kenan turun tangan, tetap saja jadwal sang artis tidak bisa lagi diganggu gugat. Untung saja Elang punya inisiatif menghubungi temannya yang merupakan model. Parasnya ayu dan kulitnya terbilang eksotis, khas warna kulit penduduk negeri ini. Senyumnya juga menawan. Sekali lihat, Ravi dan Ratna langsung mengakui kejelian Elang dalam memilih artis. Sisanya, tinggal berharap gadis itu bisa diajak kompromi dan profesionalitas dalam bekerja. "Kenalin, Luna Belinda. Temen gue pas kuliah. Mungkin kalian masih agak asing sama dia. Tapi, sepak terjangnya nggak perlu diragukan lagi. Beberapa kali jadi bintang video klip dan bintang iklan." Elang sedikit menjelaskan. Mereka berbincang beberapa saat. Ravi dan Ratna kembali fokus mendiskusikan tempat-tempat yang akan dijadikan latar cerita. Sementara Elang sibuk membantu dan menjawab pertanyaan Luna mengenai skrip dalam naskah. Sesekali ia butuh bantuan Ratna menjawabnya. Karena bagaimanapun juga, gadis itu yang paling tahu jalan cerita dalam naskah. "Adegan yang ini boleh improvisasi? Misalnya gini..." Luna mencoba menunjukkan pandangannya pada mereka bertiga. "Jadi jatuhnya biar lebih natural, ya?" "Boleh, bisa juga." Ratna menjawab singkat. "Asal nggak jauh dari konsep cerita pokoknya," Ravi menekankan. "Sikap romantis yang nggak terlalu mendramatisir," lanjutnya. Ratna berdecak. Dalam hati menggumam, Ravi ini kedengaran pintar dalam berteori, padahal minim pengalaman soal asmara. Tak lama Joy muncul bersama seseorang. Kilatan matanya langsung menjurus ke satu arah. Posisi duduk Elang begitu dekat, bahkan bahunya saling menempel dengan bahu Luna. Keduanya benar-benar serius membahas skrip. Perasaan Joy kurang nyaman, tapi ia harus berusaha profesional. Tidak ada alasan baginya untuk cemburu. Toh, memang Joy sendiri yang memilih menolak pernyataan Elang sebelumnya. Sekarang, ia harus menerima konsekuensi atas sikapnya. "Halo..." sapa Kenan pada mereka semua. "Maaf telat, harus kelarin kerjaan dulu." Spontan Ratna terlonjak. Tubuhnya langsung sigap berdiri. Benar-benar bagaikan mimpi di siang bolong. Wajah gadis itu memerah bak delima matang. Sudah lama Ratna mengagumi Kenan Adelard sebagai fans. Tidak menyangka punya kesempatan berada sedekat ini dengan aktor kesayangannya. Melihat tingkah polah Ratna, entah kenapa Ravi merasa sedikit kesal. Bahkan tanpa sadar, ketika Ratna hendak menerima jabat tangan Kenan, secepat kilat Ravi yang menyambar lebih dulu. Begitu usai dengan pembahasan, mereka langsung tancap gas ke lokasi. Seharian penuh mereka berkutat dengan kegiatan. Ada beberapa kendala pun tidak terlalu berarti dan masih bisa ditanggulangi. Seperti hujan yang tiba-tiba turun saat harus ambil gambar di luar ruangan. Atau Ratna yang tersandung batu waktu memberi arahan pada Kenan. Ia hampir saja tercebur ke kolam. Beruntung Kenan sigap menarik tubuh Ratna, meski Ratna harus merasakan jatuh ke dalam pelukan Kenan untuk sesaat. Nalurinya sebagai penggemar meronta-ronta tak karuan. Terlebih, Kenan tipikal pria super ramah dan enak diajak bicara. "Makanya, lain kali nggak usah sok-sokan pake heels kalo memang nggak biasa!" sindir Ravi begitu Ratna sudah berdiri di sampingnya. "Ini bukan heels, Rav. Lihat baik-baik. Cuma sepatu hak tiga senti." "Udah bagus pake sandal jepit swallow yang biasanya lo pake!" Ravi makin ketus. Ia sebal beberapa kali mendapati gadis ini terlalu dekat dengan Kenan. Bukan hanya itu, Ratna jadi sering tersenyum malu-malu bila berhadapan dengan sang aktor. Sementara dengan dirinya, agaknya cuma ada bendera perang berkibar. "Sensi banget sih jadi orang. Masa iya mau pake sandal jepit pas lagi ngerjain tugas penting begini?" "Yang penting nyaman lo pake. Satu lagi, lo tuh bisa nggak sih, nggak usah keganjenan jadi cewek?!" "Keganjenan gimana maksudmu, Rav? Aku di sini kerja keras!" "Kerja keras sambil ha ha hi hi sama tuh cowok? Dasar centil. Ckck." Ratna sebal dikatakan demikian. Ia sengaja menginjak sepatu kets Ravi dan menyeringai tanpa dosa. Pria di sebelahnya memekik ngilu. "Bar-bar banget sih lo jadi cewek?!" "Kamu juga, labil banget jadi cowok. Sebentar ngatain aku, sebentar ngebela aku, tiba-tiba sok baik minta maaf segala. Eh, kumat lagi ngata-ngatain!" "Fakta! Memang lo ganjen, centil! Sok cantik! Pasti lo pura-pura jatoh biar dipeluk sama tuh cowok, kan?!" tuduh Ravi ambigu. Ratna tertawa geli bercampur emosi. "Tolong ya, Rav, bedakan antara mencoba ramah, dengan istilah ganjen, centil, atau sok cantik seperti yang kamu bilang barusan! Sembarangan aja kalo ngomong. Didengar orang nggak enak tau!" Ravi melengos. Rasa kesal makin menyelimuti tanpa mampu dipahami apa maksud hatinya. Ratna tak mau ambil pusing dan lebih memilih menikmati pemandangan di depan sana. Di sisi lain, Joy memperhatikan dengan serius intensitas kedekatan Elang dan Luna. Jiwanya nyeri bukan main. Antara menahan api kecemburuan yang kian berkobar dalam relungnya, sekaligus mengusahakan pertahanan diri agar tetap bersikap biasa saja. Susah payah ia mengatur napas, mencoba terus fokus pada lensa kamera. Joy berada di balik layar, membantu merekam setiap momen demi mengabadikan kelangsungan jalan cerita. Kameramen utama mulai memberi arahan untuk kembali bersiap. "Cameonya mana nih?!" seru Reza, sang kameramen utama. "Cari orang lagi?" Ratna mengurut kening. Seharusnya adegan ini dipotong. Tapi setelah dipertimbangkan matang-matang, agaknya sayang bila dibuang begitu saja. Karena cukup mempengaruhi jalan cerita. "Nggak perlu. Kayaknya lo sama Ravi bisa kalo sepintas aja." Joy memberi saran. "Tanggung juga kan cuma satu scene doang. Dialognya juga nggak panjang-panjang amat." "Kenapa bukan lo sama Elang aja?" Ravi protes. "Lo nggak lihat kita berdua sibuk ngurusin kamera dan pencahayaan?" balas Joy telak. "Gimana?" Reza menunggu. "Oke deh." Ratna mengiyakan, demi menuntaskan segalanya dengan segera. Seharusnya adegan tersebut tidak terlalu sulit, dan diprediksi cepat kelar. Nyatanya, malah hampir empat puluh menit semua orang dibuat pusing dengan ulah Ravi dan Ratna. Padahal sekadar perkara cium kening dan berpelukan. Tapi mereka harus terlibat cekcok dulu sampai mengulang beberapa kali. "Kita harus bersikap profesional, Rav." "Gue udah berusaha yang terbaik!" "Apanya?! Lo nggak pernah cium kening cewek dengan bener apa? Masa cium kening mulut monyong-monyong kayak bebek angsa?!" "Apa lo bilang?! Enak aja! Gue cuma berusaha menghayati peran!" Ravi berkilah, faktanya ia tengah dilanda perasaan aneh yang tiba-tiba membara dalam d**a. Entah gugup atau grogi, sama saja artinya. "Kayak gitu namanya bukan menghayati, tapi menghancurkan peran! Ini jidat gue yang belum pernah terjamah jangan sampe ternodai dengan percuma!" "Bibir limited edition gue juga nggak mau ternodai dengan sia-sia tau!" Ratna tertawa mengejek. Semua orang urut kening. Akhirnya cameo terpaksa digantikan oleh Joy dan Elang. Sementara Ratna dan Ravi mengambil alih pekerjaan mereka sebentar. Sekali take keduanya sukses menghipnotis penonton. Kenan menatap intens sambil mengepal tangan. Ia mencoba tetap melayangkan senyum serta memuji, meski dalam hati ada rasa tak suka melihat kemistri Joy dan Elang. Adegan demi adegan diambil. Perdebatan juga beberapa kali terjadi antara pemain dengan kru. Dan semua berhasil dilewati dengan cukup baik. Pukul sepuluh malam lewat akhirnya kegiatan pun selesai. Mereka menyempatkan makan bersama dan berterimakasih pada Kenan dan Luna. Berkat akting keduanya yang baik, tenggat perkiraan waktu dua sampai tiga hari mampu dikikis menjadi satu hari saja. Joy baru saja keluar dari toilet. Membasuh tangan dengan air kran sambil menggosoknya perlahan. Seseorang muncul dari pintu toilet lain. Luna tersenyum menyapa Joy. "Gimana hari ini?" tanyanya mencoba berbasa-basi. "Cukup menyenangkan. Akting lo juga bagus." "Seminggu lalu gue habis ikut casting buat salah satu film. Doain gue dapet salah satu peran, ya?" Joy hanya mengangguk sekilas. Meski ia tidak terlalu suka menanggapi, Joy tetap harus bersikap sopan pada Luna. Bagaimanapun, gadis ini sudah bersedia meluangkan waktu membantu timnya, di saat sekian banyak pilihan menolak dengan berbagai alasan. Karena menganggap kerja keras Joy dan kawan-kawannya hanya sebatas persaingan nilai. Meski dibayar pun, juga tidak seberapa. Bisa merekrut aktor sekelas Kenan saja Joy dan yang lain sudah sangat bersyukur. Ditambah Luna yang notabene juga sibuk sebagai model. "Good luck," balas Joy seadanya. "Btw, gue harus kasih tau sesuatu ke elo... sebelum lo makin nggak suka sama gue." "Maksudnya?" Luna tersenyum. "El udah cerita ke gue sebelumnya. Kalo dia naksir seseorang di tim kalian. Sekali lihat sih gue langsung bisa nebak, orang yang dimaksud pasti elo." "Ternyata dia memang agak ember, ya. Apa-apa diceritain ke orang." Joy menghela napas dalam-dalam. Tak habis pikir dengan watak ceplas-ceplos Elang. "Nggak seember itu juga sih. Oh ya, hari ini harusnya gue ada jadwal pemotretan buat endorse. Gue undur dua tiga hari lagi." "Karena Elang?" "Ya bisa dibilang sebagai bentuk balas budi. Dulu, dia sempet bantu gue di kampus. Awal-awal gue merambah dunia modeling, gue sempet tersandung kasus. Ada berita nggak enak gitulah. Buat nutup berita jelek itu, El pura-pura jadi cowok gue." "Lo nggak perlu cerita ke gue juga sih." "Biar lo nggak salah paham sama hubungan gue dan El. Kami cuma temen." "Lebih juga bukan urusan gue." "No. Gue nggak suka cowok." Pernyataan Luna berhasil menampar pemikiran Joy. "Nggak suka cowok dalam artian?" Ia masih berusaha positif thinking. "Ya gitu deh. Skandal gue dulu ya gara-gara hal itu. Makanya gue berterima kasih banget sama El. Karena dia udah bantu memulihkan nama baik gue. Bahkan kalo ntar gue udah jadi artis sukses pun, gue akan siap kalo dia minta bantuan lagi." Joy terdiam. Bingung harus merespon dengan kosakata apa. Antara percaya dan tidak. Dilihat dari sudut pandang manapun, Luna benar-benar cantik dan punya tubuh semampai yang ramping. Cara bicaranya pun tidak arogan atau songong. Layaknya gadis idaman lelaki pada umumnya. Tidak ada tanda-tanda seperti yang dikatakan barusan. "Semoga berhasil dengan hubungan kalian," kata Luna tulus. Kemudian berlalu meninggalkan Joy yang masih termenung. Barulah ia bangun dari lamunan, saat mendengar ponselnya berdering. Ada panggilan masuk dari seseorang. Rupanya Kenan mencari Joy sejak tadi. "Lo langsung balik aja." "Habis manis sepah dibuang," ujar suara di seberang panggilan. "Gue nggak mau ada yang curiga soal hubungan kita." "Oke. Lo nggak lupa sama janji, kan?" "Iya, iya. Inget banget." Joy keluar dari toilet sambil mematikan ponsel. Seseorang berlarian menghampiri dengan langkah tergopoh. "Lo nggak apa-apa?!" tanya Elang menahan kepanikan. "I'm fine." "Kata Luna, lo jatoh kepleset dan nggak bisa jalan?" Pria itu masih berusaha mengatur nafas yang terengah-engah. "Maybe, lo dikerjain sama dia. Gue nggak kenapa-kenapa." Elang merutuk. "s**t! Lama-lama gue bener-bener bisa kena serang kalo kayak gini!" "Kena serang?" "Iya kena serangan jantung gara-gara mikirin lo!" ==& BR &==
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN