Langkah Joy terhenti sejenak, ketika retina matanya menemukan sosok tidak asing di depan sana. Elang terlihat sedang berbicara dengan seorang perempuan. Sesekali keduanya tertawa. Bahkan si perempuan berambut pendek sepundak itu menepuk-nepuk pundak Elang. Binar matanya mengisyaratkan hal lain. Sekali lihat, Joy tahu apa yang ada di mata perempuan tersebut. Kekaguman dan mencoba menarik perhatian lawan bicaranya. Bukan pertama kali Joy melihat pemandangan seperti ini. Terlalu sering dirinya dibuat menghela napas dalam, untuk memaklumi sikap bersahabat Elang ke hampir semua orang. Akan tetapi, Joy sadar hubungan mereka tidak memiliki status, meski keduanya sama-sama punya tujuan hati yang sama. Dan Joy bukan tipikal pengekang demi memuaskan ego sepihaknya. Hanya saja, makin lama dibiarkan

