Tubuh Seraphina terasa mengambang dalam kabut. Ia tidak merasakan sakit, tidak ada rasa dingin dari air yang seharusnya menggenangi sekitarnya, tidak ada keputusasaan yang merayap. Hanya ada kekosongan yang damai, seolah-olah ia tertidur di atas awan yang lembut. Namun, di tengah kedamaian itu, ada sesuatu yang tidak wajar, sebuah denyut samar yang bergema di dadanya, bukan dengan irama jantungnya sendiri, melainkan seperti detak mesin. Bunyi itu asing, mekanis, dan terasa jauh. Kemudian, kabut mulai mencair. Samar-samar, bau antiseptik yang tajam menusuk hidungnya. Ia merasakan sentuhan kain lembut di kulitnya dan kehangatan yang merata di bawah tubuhnya. Ia membuka mata. Cahaya putih yang terang menyilaukan pandangannya, butuh beberapa saat bagi matanya untuk beradaptasi. Ia terbarin

