Seraphina menjerit, mundur selangkah, rasa dingin menjalar di sekujur tubuhnya. Bukan hanya karena ancaman Lauren, tetapi karena pengkhianatan yang terpancar jelas dari mata perempuan itu. Damien, di sisi lain, merasakan darahnya mendidih. Kilatan amarah yang membakar melintas di matanya, mengubah rasa takut menjadi tekad baja. Ini bukan lagi tentang penyesalan, ini tentang bertahan hidup. "Kau!" geram Damien, menunjuk Lauren dengan jari gemetar. "Setelah semua yang telah kulakukan untukmu, kau berani mengkhianatiku?" Lauren terkekeh, tawa yang terdengar seperti gesekan logam. "Melakukan sesuatu untukku? Damien, kau selalu hanya melakukan untuk dirimu sendiri. Aku hanya memilih sisi yang menang. Tuan Vale memiliki visi. Kau hanya seorang dokter naif yang terperangkap dalam jaringannya."

