Keheningan yang berada di ruang bawah tanah begitu menyesakkan seolah menyerap seluruh suara dari dunia di atas, namun jeritan ancaman Lauren tetap menggelegar, menusuk gendang telinga Seraphina. Pistol itu, sebuah benda dingin dan mematikan, kini menyorot lurus ke perutnya yang membuncit, tempat kehidupan baru berdenyut rapuh. Jantung Seraphina berpacu, menggedor rusuknya seolah ingin melarikan diri dari sangkarnya. Rasa sakit di bahunya meradang, namun rasa takut yang membakar jauh lebih perih. "Kau tidak akan menyentuh bayiku!" Damien menggeram, suaranya parau, melangkah di depan Seraphina, menjadikan dirinya perisai. Matanya menyala, amarah dan keputusasaan bercampur menjadi kobaran api. Ia tak punya apa-apa lagi selain pistol di tangannya dan tekadnya untuk melindungi. Lauren terk

